Memories For You

Memories For You
Pergi dari rumah



Saat makan malam bersama,sesekali Alana melirik ke arah ayah nya.Namun tidak ada tanda tanda ayah nya mau mengatakan soal Yedha tadi.


"Ekhem,,,ada yang mau Alana sampaikan?" Tanya ayah tanpa menatap ke arah anak nya itu.


"Ti,tidak,yah" sahut Alana.


"Katakan saja." Desak Ayah.


"Itu,,,tentang teman ku yang tadi sore,," lirih Alana.


"Oh,dia.Ada apa?" Tanya ayah kini menatap ke arah Alana.


"Apa ayah mengatakan sesuatu pada nya?" Ucap Alana.


"Tentu saja ada.Tapi itu adalah percakapan pribadi ayah dan dia." Tukas ayah.


"Bukan begitu,,maksud Alana apakah ayah mengancam nya atau semacam itu,,," ucap Alana ragu ragu.


Ayah terkekeh kecil.


"Kalau kau begitu penasaran liat saja reaksi nya besok." Ujar ayah lalu bangkit dari duduk nya.


"Ayah masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan." Pamit ayah lalu pergi.


Alana hanya tertunduk lesu.Ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.


"Sudah jangan di pikirkan lagi.Selesaikan makan mu lalu segera ke kamar." Ujar ibu.


"Baik,bu." Sahut Alana.


****


Makan malam keluarga Addison terlihat sangat suram dan canggung.Tidak ada obrolan kecil apalagi canda tawa kehangatan. Empat orang yang duduk di sana begitu sibuk dengan pikiran masing masing sambil menyelesaikan makanan nya.


Jovano yang semakin merasakan bahu nya tak nyaman pun menjadi tidak fokus memegang garpu.Sehingga garpu yang ia pegang jatuh ke lantai dan bunyi itu membuat semua mata tertuju pada nya.Perlahan Jovano meraih garpu di bawah.


"Kau sedang tidak enak badan?"tanya ibu yang duduk hadapan nya.


"Tidak." Sahut Jovano singkat.


"Jika sakit katakan sakit.Jangan membuat nya semakin parah nanti nya.Siapa yang akan mengurus mu nanti kalau sampai harus di rawat di rumah sakit." Ujar Ayah nya tanpa menatap orang yang sedang di ajak bicara.


Jovano mengepal erat sendok yang ia pegang sampai sedikit bengkok.


"Tahan Jovano.Jangan sampai ibu mu kesulitan tinggal di sini." Batin Jovano menguatkan diri nya.


Dyfan yang berada di samping Jovano tersenyum tipis.Jovano tiba tiba saja bangkit dari duduk nya.


"Kamu mau kemana,nak?" Tanya ibu nya cemas.


"Aku sudah kenyang." Jawab Jovano.


"Sudah biarkan saja dia.Seharus nya bersyukur masih bisa makan seperti ini." Ketus ayah tiri nya itu.


Jovano semakin geram.Ia pun mengayunkan kaki nya menuju kamar nya.Ia semakin muak berada di sini. Setelah masuk ke dalam kamar nya,Jovano memasukkan beberapa baju nya ke dalam tas besar dan tas sekolah nya.Ia berencana akan tinggal di rumah Hendry sementara.


Jovano dengan santai tanpa harus mengendap endap keluar dari rumah itu.Dan tidak ada yang tahu tentang kepergian Jovano itu.Jovano berjalan kaki sampai di halte bus terdekat.Beberapa menit menunggu akhirnya bus datang.Ia segera naik.


"Aku harus segera mencari cara agar bisa mencukupi ibu dan membawa nya pergi dari sana." Pikir Jovano.


"Tapi apa yang harus ku kerjakan?" Pikirnya lagi bingung.


Tiba tiba Jovano teringat akan sesuatu.


"Oh,iya kami kan masih punya rumah makam kecil itu.Aku bisa tinggal di sana setelah membersihkan nya."Jovano tersenyum tipis.


Rumah makan itu satu satu nya peninggalan ayah kandung nya yang tersisa setelah banyak harta mereka yang habis untuk membayar ganti rugi kebakaran di perusahaan milik ayah nya.


Akhir nya Jovano tiba di halte bus depan gang rumah Hendry.Ia turun dan berjalan menyusuri jalan itu.Saat sedang asik berjalan sambil berpikir tentang rencana nya ke depan,tak sengaja ia melihat sosok Alana sedang duduk bermain ayunan di taman yang sedang ia lewati.


Terlihat sosok pria berjas hitam berjaga di belakang gadis itu.


"Kenapa aku bertemu dia di sini sih?" Gerutu Jovano.Jovano terus melangkah kan kaki nya menyusuri gang itu.


Namun belum terlalu jauh dari taman itu,Alana memanggil nya.


"Hei,Jovano!!" Teriak Alana.


Jovano terus berjalan tanpa memperdulikan panggilan Alana.Tapi gadis itu berlari menghampiri Jovano.


"Hei!" Tegur Alana sedikit kesal karena Jovano tidak mau mendengarkan nya.


"Apa?" Ucap Jovano cuek tanpa melihat ke arah Alana yang terengah engah karena mengejar nya.


"Bahu,,bahu mu,,masih terasa sakit,," tanya Alana dengan nafas yang terengah.


"Tidak." Jawab nya pendek.


"Benarkah?" Alana menyentuh di bagian bahu nya yang tidak terluka.


"Eh,kenapa tidak ada luka?"Alana malah menekan nekan memeriksa kenapa tidak ada benjolan luka.


Pipi Jovano memerah.


"Hentikan!" Ketus Jovano lalu menarik diri nya agar menjauh dari Alana.


"Kau ini!" Alana memukul kesal bahu Jovano yang ia pegang tadi.


"Jangan menganggu ku! Pergilah " usir Jovano.


"Dasar menyebalkan!" Ketus Alana.


Tapi Alana terus mengikuti langkah Jovano.


"Sampai kapan kau akan mengikuti ku?" Tanya Jovano dingin.


"Aku juga sedang jalan pulang.Kau yang mau kemana?" Tanya Alana balik.


"Bukan urusan mu," ketus Jovano.


"Dasar,,," gerutu Alana kesal.


"Kau ingin mampir?" Tawar Alana ketika sudah berada di depan gerbang rumah nya.


Jovano melirik sedikit ke dalam gerbang itu.Di sana berdiri rumah mewah.


"Itu rumah nya?" Batin Jovano.Jovano berhenti sejenak.


"Hei! Kau mau mampir tidak?" Tanya Alana lagi.


"Tidak." Jovano kembali melangkah.


"Ya sudah,," sahut Alana lalu berdiam diri di tempat sambil menatap langkah Jovano yang terus berjalan.


"Sampai jumpa besok!" Teriak Alana.


"Kenapa dia sok dekat?" Gerutu Jovano yang terus berjalan.