
Setibanya di rumah Karrie,gadis itu mengeluarkan kotak obat.
"Di dalam itu ada salep luka bakar." Ucap Karrie menyodorkan kotak obat.
"Kemarilah!" Hendry menarik paksa lengan Jovano yang tidak terluka.
"Aku bilang tidak apa apa." Ketus Jovano.
"Sudah diam!" Ujar Hendry.
Dengan kasar Hendry membalurkan salep itu di atas kulit Jovano yang melepuh.
"Sshh! Aw!!" Pekik Jovano kesakitan.
"Pelan sedikit!!" Ketus Jovano menarik lengan nya dari tangan Hendry.
"Kau lemah sekali!" Bentak Hendry.
"Berikan pada ku!" Ujar Alana tiba tiba mengajukan diri.
"Tidak usah!" Ketus Jovano.
"Sudah berikan! Kalau cewek yang buat akan lebih lembut.Tenang saja tidak akan sakit."ucap Alana sambik merebut salep itu dari tangan Hendry.
"Aku akan buat minum dulu." Pamit Karrie yang tidak ingin melihat Alana mengobati pria itu.
Dengan perlahan Alana mengoleskan salep itu di atas kulit Jovano.Alana menggigit bibir bawah nya merasa ngilu melihat luka itu.Dan Jovano terkesiap menatap wajah Alana dari dekat.
"Bagaimana bisa gadis menyebalkan ini memiliki paras yang cantik,," gumam Jovano tanpa sadar memuji Alana.
Hendry hanya tersenyum malu malu melihat sahabat nya menatap dengan dalam Alana.Arka hanya meperhatikan saja.
"Yedha dalam posisi gawat,," batin Arka melihat Jovano seperti nya memiliki perasaan pada Alana.
"Sudah." Ucap Alana sambil menutup kembali salep yang di pegang nya.
"Terima kasih." Ucap Jovano dengan nada ketus.
"Kalian tidak perlu repot repot.Aku dan Hendry tadi hanya kebetulan lewat saja." Ucap Jovano.
Pemuda itu bangkit dari duduk nya dan menyambar tas yang berada di bawah sofa.
"Aku pergi.Terimakasih obat nya." Ucap Jovano lagi kali ini menatap ke arah Arka.
"Iya sama sama." Sahut Arka.
"Kau pergi sekarang?" Tanya Hendry lesu.
"Kau tinggal saja kalau tidak mau ikut." Lalu Jovano berjalan menuju pintu keluar.
"Haish,bocah ini." Gerutu Hendry yang iku bangkit.
"Hen,sekali lagi terimakasih ya,," ucap Alana.
"Apa kalian memang dekat?" Ucap Arka tiba tiba.
"Ah? Tidak kok." Sahut Alana.
"Benarkah?" Arka menelisik ekspresi wajah Alana.
"Kemana mereka?" Tanya Karrie yang muncul dengan membawa nampan berisi minuman.
"Sudah pergi," sahut Arka bangkit dan menyambar nampan itu dari tangan Karrie.
"Seperti nya,lain kali saja kita merayakan pesta nya." Ucap Karrie.
"Kenapa?" Tanya Alana sedikit kecewa.
"Lebih baik kau pulang dulu.Kau pasti syok tadi mengalami hal seperti itu." Jawab Karrie.
"Benar,akan ku antar ke rumah mu."timpal Arka.
"Tidak perlu.Aku akan minta di jemput saja." Tolak Alana.
"Seperti itu lebih baik." Sahut Karrie.
Alana mengirim pesan teks pada ibu nya,lalu setelah itu ia kembali menyimpan ponsel nya.
"Kira kira mereka tadi itu siapa ya?" Gumam Arka sambil mengunyah cemilan.
"Entah lah.Apa kau sedang punya musuh Alana?" Ucap Karrie menoleh ke arah Alana di sebelah nya.
"Tidak tahu." Sahut Alana tidak yakin memiliki musuh.
Ting! Detik kemudian masuk pesan balasan dari ibu.
"Ibu sedang ikut ayah survei ke lapangan baru.Mungkin agak malam pulang nya.Pesan taksi online saja ya nak.Tidak ada supir yang tinggal di rumah." Balas ibu.
Alana mendengus pelan.
"Kenapa?" Tanya Karrie yang melihat Alana mendengus.
"Ayah dan ibu ku sedang pergi." Jawab nya lesu.
"Oh,kalau begitu tunggu saja.Akan ada yang mengantar mu."ujar Karrie.
"Siapa?" Tanya Alana penasaran.
"Seperti nya sebentar lagi di sampai." Sahut Karrie.
Dan benat saja,baru beberapa detik Karrie menyelesaikan perkataan nya terdengar suara bel yang di tekan dari luar.Karrie pun bangkit untuk membukakan pintu.Sesaat kemudian Karrie masuk bersama seorang pemuda yang raut wajah nya terlihat khawatir.
"Dia,," lirih Alana terkejut.