Memories For You

Memories For You
Perpustakaan



"Siapa ya?" Tanya Alana bingung pada pemuda yang tak lain adalah Yedha.


"Kamu gak ingat aku?" Tanya Yedha balik.


Alana hanya menggeleng.Yedha terdiam sejenak.


"Berarti kabar dia hilang ingatan benar adanya." Batin Yedha.


"Aku tidak boleh memaksa dia ingat apalagi kalau aku sampai kehilangan lagi," sambung nya.


"Oh,begitu ya.Kita memang hanya berjumpa sekali wajar kamu gak ingat." Ungkap Yedha sambil tersenyum.


Alana merasa deja vu melihat senyuman pemuda itu.


"Seperti nya kami memang pernah bertemu.Dia seperti tidak asing.Tapi dimana ya kami bertemu?" Batin Alana.


"Kalau begitu nanti jam istirahat aku tunggu di kantin ya," Ujar Yedha buru buru karena melihat guru mata pelajaran Alana keluar dari kelas.


Yedha segera pergi menuju kelas nya lagi.


"Sok jual mahal," ketus Jovano pelan.


"Eh? Apa ini? Kau cemburu?" Ejek Hendry bercanda.


"Ngapain aku cemburu?" Jovano tersenyum sinis.


"Tapi dia itu terlihat imut tau." Ucap Hendry sambil terkekeh menggoda Jovano.


"Kau dekati saja sana," Jovano mendorong pelan Hendry.


"Ngomong ngomong kalian sebenarnya terlihat cocok tau.Dia sedikit garang dan kau si manusia ketus." Ejek Hendry masih mengganggu Jovano.


"Kalau kalian menikah,aku takut anak kalian nanti jadi ksatria tak terkalahkan." Ucap Hendry masih dengan kekehan nya itu.


"Hey! Aku masih bisa mendengar kalian ya." Batin Alana kesal dengan ocehan itu.


"Tutup mulut sialan mu itu.Siapa juga yang berharap dekat sama wanita begituan." Ucap Jovano acuh tak acuh.


"Wanita begituan apa maksud nya?!!!" Kesal Alana dalam hati.


Klotak!!!


Jovano dan Hendry mendapat masing masing satu sentilan di jidat oleh pak guru.


"Asik sekali ya obrolan kalian.Betah ya berdiri di sini." Ucap pak guru yang sedari tadi menyimak ocehan mereka.


"Kalau diem diem aja,takut kesambet,pak." Sahut Hendry.


Klotak!!


Hendry kembali mendapat sentilan di jidat nya.


"Pande sekali mulut mu menjawab!" Bentak pak guru.


"Mubajir pak kalau mulut gak di gunain semesti nya." Sahut nya lagi tapi menggerutu pelan.


"Kamu!" Kini bukan sentilan yang ia terima,tapi cubitan di bahu nya yang di berikan pak guru.


"Alana! Ayo masuk.Jangan ulangi lagi kelakuan kamu ya." Ucap pak guru memberi peringatan.


"Baik pak." Sahut nya.Lalu pak guru masuk ke dalam kelas di ikuti oleh Alana.


Ketika melewati Jovano yang masih di hukum Alana menyunggingkan senyuman mengejek ke arah nya.Jovano pun memanas.


"Hey,nanti lama lama bisa jatuh cinta lho." Goda Hendry lagi.


Jovano menendang kaki Hendry kesal.


"Kalau kau masih bicara,ku pastikan kaki mu ini nanti kena gips." Ancam Jovano oada Hendry yang meringis kesakitan.


"Aww,takuuuttt,,," Hendry bersikap seperti banci.


Jam istirahat pun tiba.Alana sedang menghindari ajakan Yedha tadi.Ia tidak pergi ke kantin.Melainkan ke perpustakaan.Alana tidak ingin rumor nya bertambah buruk jadi ia memutuskan bersembunyi.


Tapi saat ia sedang dalam perjalanan menuju perpustakaan,tak sengaja ia mendengar suara Dyfan dari bawah tangga.


"Suara Dyfan,,," lirih Alana.Awal nya ia bersikap biasa biasa saja,tapi begitu mendengar sedikit pembicaraan Dyfan yang menyebut namanya,ia mengurungkan langkah nya dan menguping.


"Aku tidak serius dengan nya kok.Hanya ingin bermain main saja.Lagi pula setelah rumor nya bersama dengan om om itu membuat ku jijik." Ucap Dyfan.


"Kau yakin? Tapi aku merasa kalian terlalu dekat.Aku sempat cemburu." Terdengar suara seorang gadis yang berbicara dengan Dyfan.


"Bagaimana kalau nanti kita kencan setelah pulang sekolah." Ajak Dyfan.


"Baiklah." Sahut gadis itu.


"Aku ingin cium,," pinta Dyfan merengek manja.


Alana yang mendengar itu merasa jijik.Dengan segera ia menuruni anak tangga dan sengaja ingin menampak kan diri agar mereka tahu keberadaan Alana,diri nya bersiul siul.


"Alana,,," panggil seorang pemuda sambil berlari kecil ke arah nya dan tak lain adalah Yedha.


"Astaga,,," batin Alana kesal.


"Aku mencari mu ke kelas tadi,tapi tidak ada.Kau mau kemana?" Tanya Yedha.


"Aku mau ke perpustakaan.Ada apa?" Tanya Alana canggung.Belum lagi Dyfan masih berada di sana.


"Ayo pergi bersama," ajak Yedha.


Alana hanya mengangguk karena tidak enak menolak.Apalagi ia merasa seperti memiliki perasaan mendalam dengan pria ini.Ia merasa sangat nyaman.


Mereka pun pergi berjalan ke perpustakaan.Sedangkan Dyfan yang bersembunyi sedikit terkejut Alana dekat dengan idola cewek cewek itu.Selain seorang atlet renang muda,Yedha terkenal dengan ketampanan nya yang luar biasa.Hanya saja ia jarang berada di sekolah karena sering latihan renang.


Alana dan Yedha sedang mencari buku yang akan di baca di rak buku.Lalu Yedha datang mendekati Alana membawa sebuah buku.Dan menyodorkan ke hadapan Alana.


"Kau sudah baca jilid terbaru komik ini?" Tanya Yedha sambil menunjukkan komik bergenre fantasi timur yang sebenarnya adalah komik favorit Alana.


"Wah,bukanya ini jilid terbaru nya ya,,," Alana menerima buku itu sambil terkagum.


"Bagaimana bisa kau menemukan ini? Aku tidak pernah melihat nya di sini." Alana terheran heran.


"Aku selalu menyimpan setiap jilid terbaru dari komik ini." Ujar Yedha.


"Berarti kau sangat menyukai nya." Sahut Alana.


"Ya begitu lah.Komik ini selalu menjadi obat kalau aku merindukan seseorang." Ucap Yedha.


"Ah,begitu yaa,,,," Alana merasa canggung.


"Boleh aku baca ini?" Izin Alana.


"Tentu saja boleh." Yedha tersenyum puas.


Alana pun berjalan menuju meja membaca.Sesuai tempat favorit nya,ia selalu memilih meja yang berada di dekat jendela yang terkena sinar matahari yang masuk.


"Kau tidak berubah ya?" Lirih Yedha.


"Ha?"Alana terkejut.


" Kau akan selalu duduk di meja yang terpapar sinar matahari.Di mana pun berada kau seperti itu."Ujar Yedha.


Yedha mengeluarkan sunscreen dari saku nya.


"Tidak baik untuk kulit cantik mu." Yedha mengoleskan sunscreen itu ke tangan kiri Alana yang duduk di hadapan nya.


Alana hanya bisa terdiam.Karena sekali lagi ia merasa Deja vu.


"Kenapa diam? Ayo baca." Tegur Yedha melihat Alana melamun.


"Ah,iya,," sahut Alana.


Alana membaca komik itu tapi lain hal dengan Yedha,ia fokus menatap wajah yang sangat ia rindukan itu.Sebenarnya ia ingin memeluk erat gadis itu,tapi Yedha harus hati hati karena tidak ingin membuat Alana tidak nyaman.


"Kau sedang apa?" Tanya Alana yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Yedha.


"Sudah kau lanjut membaca saja.Jangan hiraukan aku." Balas Yedha.


Tiba tiba dari belakang Yedha muncul seorang pemuda dan gadis yang terlihat tomboy datang merusak suasana.


"Ternyata si Yedha bod*h di sini."ucap gadis itu.


Alana menatap bingung Yedha.


" Mereka teman teman ku."ucap Yedha menyadari kebingungan Alana.


"Oh," Paham Alana.


"Hey nona koin! Kau tidak ingat aku ya?" Pekik pemuda yang datang bersama gadis itu.


Alana menatap wajah pemuda itu dan berusaha mengingat nya.Lalu detik kemudian ia teringat tentang pemuda yang mengejar koin menggelinding.


"Ah,rupanya kau,,," ujar Alana.


Pemuda yang bernama Arka itu cengengesan.


"Kalian sudah kenal?" Yedha menatap bingung kedua nya.


Alana mengangguk pelan.


"Kami bertemu saat dia sedang mengejar koin yang menggelinding." Ucap Alana jujur tanpa melihat ke arah Arka yang mengkode nya untuk diam.


"Koin?" Yedha menatap bingung ke arah Arka.


"Ah,itu,,,," Arka bingung mencari alasan apa.


"Kau di ganggu lagi?" Tanya Yedha dengan wajah serius.