
Alana berjalan lesu memasuki kelas.Ia sudah tidak menghiraukan bahkan menganggap ada setiap murid yang berbisik tentang nya.Alana dengan lesu duduk di kursi milik nya.
"Duduk lah di sini." Ujar Jay tanpa menatap Alana.
"Tidak usah.Aku lagi membenci sinar matahari." Lalu Alana menenggelamkan wajah nya di balik dua tangan yang berlipat dia atas meja.
"Seperti nya semakin buruk." Batin Jay sedih.
Tak berselang lama Jovano masuk dan duduk tepat di belakang mereka.Ia juga melakukan hal yang sama dengan Alana,melipat kedua tangan nya lalu tunduk menenggelamkan wajah nya.
"Apa yang sudah ku lakukan? Kenapa aku terus kepikiran dia,," batin Jovano resah.
Ia sedikit mengintip ke arah Alana yang duduk tepat di hadapan nya.Tapi gadis itu terlihat tak bergerak sedikit pun.
"Kira kira dia kenapa ya?" Gumam nya dalam hati.
Tapi gengsi nya kembali datang.
"Apa apaan aku memikirkan itu!" Ketus nya dalam hati sambil mendengus kesal.
Baru saja memejamkan mata,Hendry datang menepuk pundak nya yang membuat Jovano terperanjat.
"Ugh!" Kesal Jovano geram.
"Hey,ada berita." Bisik Hendry di telinga Jovano.
"Apa?!" Dengus Jovano kesal kembali menunduk kan kepala nya.
"Lihat ini dulu,," rengek Hendry sambil menyodorkan ponsel nya dan memutarkan sebuah vidio.
Jovano mengangkat kepala nya sedikit lalu mengintip layar ponsel itu.Ia langsung menegakkan kepala nya melihat rekaman vidio itu.
"Ini,,," gumam nya pelan melihat durasi awal vidio yang menampilkan Ayumi sedang mencurahkan sisa makanan ke atas milik Alana.
"Apa dia bersedih karena ini,," pikir Jovano yang belum melihat secara lengkap vidio itu.Sekilas ia melirik punggung wanita itu.
Lalu ia lanjut melihat vidio yang sedang menjadi topik hangat di sekolah itu.Betapa terkejut nya Jovano melihat kelanjutan vidio itu.Dengan wajah datar dan flat Alana membalas Ayumi yang terkenal suka memperlakukan orang seenak nya saja hanya karena ia memiliki orang tua yang kaya.
Jovano mengukir senyum tipis di wajah nya.Entah mengapa ia merasa Alana sangat menarik.
"Hey,hey,hey,,,Kau tersenyum ya,," ejek Hendry menatap geli wajah Jovano.
"Apa? Siapa yang tersenyum,," elak Jovano.
"Barusan itu.Jangan jangan,," Hendry menutup mulut dengan kedua tangan nya sambil bertingkah seperti banci yang terkejut.
"Kau ini,,," Jovano berdecak kesal.
Lalu ia bangkit dari duduk nya.
"Kau mau ke mana?" Tanya Hendry heran.
"Mood belajar ku hilang." Ucap nya lalu pergi berlalu.
"Hey,guru sebentar lagi masuk." Teriak Hendry tapi tidak di hiraukan oleh Jovano.
"Tunggu aku!!" Teriak Hendry sambil berlari menyusul Jovano.
Jovano dan Hendry berjalan menuju atap sekolah.Ia tidak sengaja berpapasan dengan Dyfan di depan toilet.
Jovano sekilas menatap jengah Dyfan dan tetap berjalan tanpa menghiraukan pemuda itu yang menatap nya lekat.
"Aku duluan ya,," bisik Hendry yang tidak ingin mendengar apa pun.
Hendry pun segera pergi lebih dulu.
"Aku harap kakak tidak muncul nanti malam.Kakak pasti tahu kan hari ini hari penting bagi ku." Ucap Dyfan dengan lembut.
Dyfan berjalan mendekati Jovano yang tetap berdiri di tempat tadi.
"Jangan menampakkan diri dan merusak suasana.Mengerti." lirih Dyfan sambil tersenyum licik.
"Kau tahu sifat busuk mu ini seperti wanita ular saja.Aku baru tahu ada pria se manipulatif diri mu.Tenang saja,aku tidak akan hadir melihat perayaan kelahiran si bodoh ini." Balas Jovano.
Lalu Jovano berjalan lagi.Baru saja beberapa langkah ia bergerak,Dyfan mengatakan sesuatu yang membuat nya geram.
"Siapa yang kau bilang bodoh?!! Dasar tidak tahu diri,jika bukan karena aku menyetujui ayah ku menikahi ibumu pasti ibumu tidak akan hidup seenak ini! Dan kau juga tidak akan bisa bersekolah kan." Sarkas Dyfan.
"Ibu mu dan kau hanya menumpang hidup pada kami.Yang ibu bisa berikan pada ayah ku hanyalah tubuh nya!" Dyfan menyeringai.
Jovano menggenggam erat jemari nya dan ia mulai naik pitam.Dengan cepat ia sudah bergerak menarik kerah baju Dyfan dan menatap nyalang pada pemuda itu.
"Kau ingin pukul aku? Kau ingin semakin tidak tahu diri?" Ujar Dyfan masih menyeringai jahat.
"Cuihh!!" Dyfan meludahi wajah Jovano yang masih mencengkram kerah baju nya.
Bugh!!bugh!!bugh!!!
Jovano menghajar wajah dan perut Dyfan hingga pemuda yang babak belur itu tersungkur ke bawah.
Lalu Jovano mendekati Dyfan yang sedang meringis kesakitan itu.
"Cuihh!" Jovano meludahi Dyfan balik.
"Aku tidak suka berhutang." Ucap nya dingin lalu pergi meninggalkan Dyfan yang sudah babak belur.
"Bagus Jovano,,," lirih Dyfan menyeringai jahat lagi.Seperti nya Dyfan memang sengaja memancing amarah Jovano agar pemuda itu memukul diri nya.
Di sisi lain,Ayumi merasa frustasi.Vidio itu bahkan sudah menjadi viral di dunia maya.Ia tak habis pikir Alana yang awal nya ia pikir polos akan membalasnya seperti itu di hadapan banyak siswa.
"Awas saja kau jal*ng!!" Geram Ayumi sambil meremas ujung rok nya.Ia sedang duduk di atas toilet.
Saat ia bangkit dan ingin keluar dari sana,terdengar suara orang masuk sambil berbincang membicarakan tentang vidio itu.
"Aku tidak percaya akhir nya Ayumi menemui lawan yang bagus."
"Aku juga.Dia selalu semena mena hanya karena keluarga nya kaya.Padahal prestasi apa pun ia tidak punya." Ucap teman satu lagi.
"Alana terlihat keren ya tadi." Puji satu nya lagi.
Mendengar 3 suara yang berbeda beda seperti nya mereka masuk bertiga,pikir Ayumi.
"Ya mungkin karena sudah biasa menjadi jal*ng kecil makanya dia senekat itu." Sahut teman nya.
"Bagaimana jika Ayumi melaporkan pada ayah nya dan membalas Alana?" Gumam satu nya.
"Wah,akan menjadi drama seru pasti,,"
Terlintas di benak Ayumi akan sesuatu yang membuat nya tersenyum smirk.
"Kau tunggu saja Alana,,"