
"Ayah,besok jangan antar aku dengan mobil ini.Aku tidak ingin terlihat mencolok." Ketus Alana sambil memanyunkan bibir nya.
"Iya,iya.Ayah juga tadi buru buru." Si ayah tertawa kecil melihat kegemasan putri nya cemberut.
"Ya sudah kalau gitu aku masuk dulu." Alana mencium punggung tangan kanan ayah nya lalu turun dari mobil.
"Semangat ya anak ayah!" Ayah nya menyemangati Alana.
Alana hanya membalas dengan senyuman lalu berlalu dari pandangan ayah nya.
Ia meminta ayah nya untuk tidak mengantar nya di dekat gapura sekolah karena tidak ingin mencolok dengan mobil mewah itu.
Hari ini dia agak mengubah penampilan nya.Ia memakai sepatu yang harga nya sangat sederhana.Begitu juga dengan tas nya.
Leher nya masih terasa sedikit sakit jika ia terlalu banyak bicara.
Saat memasuki gapura sekolah ia berpapasan dengan Jovano.
Mereka saling lempar pandang tak suka.
Alana berjalan dengan cepat agar ia tidak berjalan di belakang Jovano.
"Pagi yang sial jika harus melihat wajah itu." Batin Alana.
"Kenapa dia dia terus?" Ketus Jovano dalam hati.
"Sebenar nya anak seperti dia ngapain sih sekolah?buang buang uang saja tapi tidak belajar dengan benar." Batin Alana masih mengutuk Jovano.
Tiba tiba dari belakang Jovano berjalan lebih cepat dan dengan sengaja menabrak bahu Alana.
"Aww!!" Jerit Alana.
Tapi Jovano terus berjalan tanpa menghiraukan Alana.
Alana mencoba mengimbangi langkah kaki Jovano dan ingin mendahului nya.
Karena fokus mengejar langkah Jovano mereka pun sampai di depan kelas secara bersamaan.Di saat itu juga karena Alana melihat celah ia pun memotong Jovano memasuki pintu kelas duluan.
Sambil melewati Jovano di depan pintu kelas Alana melemparkan senyum jijik pada Jovano sekilas.
Merasa jengkel dengan Alana Jovano menarik tas Alana yang menyebabkan tubuh nya mundur ke belakang ketika Alana hampir sampai di kursi nya.
Jovano kembali mendahului Alana dan ia lah pemenang sampai di meja milik nya duluan.
Alana hanya mendengus kesal.Alana duduk di kursi nya sambil membantingkan tas nya di atas meja dan menghasilkan suara keras yang membuat Jovano jengkel karena mendapat pembangkangan dari Alana.
Dengan sengaja Jovano menendang kursi Alana dari bawah kolong meja nya.
Alana sedikit tersentak karena tendangan itu.Spontan ia melihat ke belakang.Tapi Jovano sudah tunduk memejamkan mata nya.
"Parasit!" Celetuk Alana.
***
Saat jam istirahat Alana tidak ke kantin karena ia dan Dyfan berjanji akan ke perpustakaan bersama sambil menceritakan kejadian semalam.
Ketika Alana sudah sampai di perpus ia tidak melihat sosok Dyfan.
"Mungkin dia belum datang." Guman nya sambil menyusuri rak buku mencari buku yang akan ia baca.
Alana mencari kursi yang nyaman.Dan ia memilih kursi yang dekat dengan jendela yang memancarkan cahaya matahari dan suasana damai yang di lengkapi tiupan angin sepoi sepoi.
Kebetulan Jay sedang mencari buku ensiklopedia tumbuhan,ia menangkap sosok mengagumkan Alana yang berada di dekat jendela.Cahaya matahari yang menyorot nya seperti malaikat.Dan angin yang bertiup sepoi sepoi menerbangkan beberapa helaian rambut Alana.
Detik itu juga ia melihat Alana tersenyum cantik.Ia terlihat seperti bidadari yang bermata indah.
Tapi hal yang membuat nya jengah adalah kepada siapa Alana tersenyum.Alana tersenyum pada Dyfan pria yang menghampirinya.
"Sebenar nya aku kenapa?" Ia memegang dada bagian dimana jantung nya terletak dan berdegup begitu kencang.