
"Kita di sini dulu." Bisik Arka pada Alana yang berada di belakang nya.
Terdengar derap kaki yang semakin mendekat di tempat mereka bersembunyi.Alana dan Arka semakin mundur ke belakang perlahan.Tak sengaja Alana menyenggol sebuah balok kayu yang tersandar di tembok.Dan jatuh nya balok itu menghasilkan suara yang membuat persembunyian mereka ketahuan.
"Kena kalian!!" Ucap pria itu tiba tiba.
Terlihat 2 orang pria berbadan kekar mendekat.
"Pergi!!" Teriak Arka sambil mengayunkan sebuah kayu ke udara agar mereka tidak mendekat.
Tapi salah satu pria itu maju tanpa ragu sehingga kayu yang Arka layangkan patah mengenai lengan pria itu.
Dengan cepat pria itu menarik kerah baju Arka dan menyuntikkan sesuatu secara paksa sehingga detik setelah jarum suntik itu tercabut Arka sempoyongan terkulai lemas jatuh ke tanah.
"Tinggal kau,," lirih pria itu menyeringai.
Salah satu dari mereka menyeret Arka entah kemana.
"Kalian siapa?! Aku tidak punya urusan dengan mu!!" Teriak Alana.
"Aku lebih suka melihat mu ketakutan seperti ini.Teriak lah sekuat mu!!" Ucap pria itu menyeringai.
Alana benar benar ketakutan hebat.Bahkan badan nya gemetar.
Pria itu mencengkram erat bahu gadis malang itu.Alana meringis kesakitan karena cengkraman itu.
Tapi detik itu juga,ketika Alana merasa riwayat nya akan tamat di situ,sebuah pertolongan datang.Seseorang menendang keras pria yang mencengkram Alana hingga terhuyung jatuh.Sedangkan Alana juga terjatuh karena tarikan tangan pria itu belum terlepas.
Tapi belum sempat penjahat itu bangkit,pemuda yang kehadiran nya tidak terduga itu mengunci leher penjahat itu hingga penjahat itu melepaskan cengkraman Alana.
Alana segera mundur ketika terlepas dari cengkraman pria itu.Melihat pria itu sudah tidak berdaya,pemuda yang dia anggap Alana menyebalkan itu melepaskan pria itu.
"Kau,,kenapa bisa di sini?" Lirih Alana masih dalam keadaan ketakutan.
"Sudah ayo cepat pergi!" Ajak pemuda yang bernama Jovano.
"Teman ku dua orang di bawa oleh mereka." Adu Alana sambil berjalan mendekati Jovano yang mengulurkan tangan nya.
Alana menyambut tangan itu dan menggenggam nya tanpa ia sadari karena merasa ketakutan.
Tapi sebuah kecepatan kaki yang menyandung kaki Alana membuat nya tersungkur.Jovano segera menoleh ke belakang.Pria itu bangkit lagi dan memegang botol seperti ingin menyiramkan ke arah Alana.Dengan sigap Jovano meringkuk memeluk Alana agar tidak terkena air yang keluar dari botol itu yang Jovano tahu adalah air keras.
Melihat salah sasaran,pria itu menyerang Jovano.Penjahat itu memuk*ul kepala Jovano hingga ia terhuyung ke samping.
"Jovano!!" Teriak Alana.
"Giliran kau!!" Hardik pria itu yang akan melayangkan tinj* ke wajah Alana.Namun,lagi dan lagi Jovano berhasil melindungi Alana.
Jovano bangkit dan melakukan penyerangan bertubi tubi hingga pria itu babak belur dan kalah di hajar oleh anak muda yang masih duduk di bangku SMA.
"Sial*n!!" Rutuk Jovano sambil menendang bahu pria yang sudah terkapar di atas tanah.
"Jovano bahu mu,,," pekik Alana.
Jovano hanya meringis pelan merasakan sensasi terbakar akibar air keras itu.
"Ayo pergi!" Ajak Jovano meraih tangan Alana dan membawa nya pergi.
"Kita ke rumah sakit ya,luka mu terlihat parah." Ujar Alana.
Mereka pun bertemu dengan Hendery,Karrie dan Arka yang berdiri di dekat 3 orang pria yang sudah pingsan terkapar.
"Ayo pergi!!" Ajak Hendery.
Mereka pun segera pergi dari tempat itu.
"Jovano,tangan mu kenapa?" Tanya Hendery khawatir yang menyadari tangan Jovano melepuh.
"Hanya luka kecil." Sahut Jovano santai.
"Dia menghadang air keras untuk ku.Kita harus membawa nya ke rumah sakit." Ujar Alana yang sedari tadi cemas karena sesekali ia mendengar Jovano meringis pelan.
"Apa?!" Pekik Hendery terkejut.
"Air! Apa kalian punya air minum?!" Tanya Hendery menatap mereka satu per satu.
"Aku punya!" Sahut Alana sambil mengeluarkan sebotol air mineral dari tas nya.
"Buka baju mu!" Perintah Hendery dengan wajah serius.
"Ini hanya luka kecil,," Jovano menolak perintah Hendery.
"Ku bilang buka!!" Ucap Hendery dengan penuh penekanan.
Melihat sahabat nya sangat serius Jovano pun hanya menurut.Ia melepaskan baju sekolah yang berwarna putih itu dan hanya menggunakan kaos singlet berwarna putih.
Hendery pun mengalirkan air mineral itu perlahan ke atas kulit Jovano yang terlihat seperti luka bakar.
"Sshhh,,," ringis Jovano merasakan air yang mengalir dia atas kulit nya yang melepuh.
Alana menggigit bibir bawah merasa ngeri melihat luka itu.
"Lebih baik ke rumah ku saja.Aku punya obat untuk luka seperti itu." Ujar Karrie.
"Iya benar.Itu harus di obati." Timpal Alana.
"Tidak perlu." Tolak Jovano.
"Kami akan memasak dan membuat pesta kecil.Kalian ikut lah sebagai tanda terima kasih karena sudah menolong kami." Ujar Arka.
Seketika wajah Hendery terlihat berbinar.
"Tidak perlu.Kami hanya tak sengaja lewat saja." Tolak Jovano terlihat angkuh.
Plakk!!!
Hendery memukul kan botol yang sudah kosong itu ke kepala Jovano.
"Kau harus di beri obat.Ayo kita ikut!!" Ujar Hendery terlihat bersemangat.
"Aku tid,,,," ucapan Jovano tersela oleh Hendery.
"Ayo pergi!!" Hendery merangkul Jovano dan membawa nya berjalan.
Alana tersenyum kecil.Arka juga terlihat bersemangat.Lain hal dengan Karrie,ia seperti memikirkan sesuatu.