Maya Adisti

Maya Adisti
Wisuda



Mobil Akash berhenti tepat di depan butik milik seorang desainer ternama di Jalan Burangrang. Aku sering sekali lewat ke mari dan sudah tahu butik ini sejak lama. Banyak sekali mobil mewah yang terparkir di sini, tak kusangka hari ini aku menjadi salah satu orang yang keluar dari mobil mewah itu.


"Ayo," ajak Akash seraya meraih tanganku.


Saat aku masuk seseorang bertubuh gempal menghampiri ku dengan wajah yang begitu ramah.


"Bapak Akash?" Pria itu menyalami Akash.


"Apa kabar Ibu Maya?" tanya pria itu seraya mengulurkan tangannya. Aku menoleh pada Akash, merasa heran kenapa pria tersebut bisa tahu namaku.


"Dia Ivan. Desainer langganan keluarga kami Maya. Dia yang membuat gaun pernikahan dan lehenga yang kamu pakai saat pernikahan," jelas Akash. Aku mengangguk.


"Kalau boleh jujur ya Pak, mending yang ini dari pada yang dulu itu. Yang dulu judesnya gak ketulungan, mana banyak maunya. Suka ngatur-ngatur lagi," cerocos Ivan.


Aku terkesiap. Otakku bingung siapa yang sedang diceritakan Ivan, namun sedetik kemudian aku mengerti, yang sedang dibicarakan Ivan adalah Ruth. Aku melirik Akash, dia tengah menatap Ivan dengan pandangan tak suka.


"Aduh, maaf. Keceplosan. Masuk yuk," ajak Ivan.


Aku hanya bisa tersenyum kecut. Kulihat Ivan masuk ke sebuah ruangan sebentar lalu melongokkan kepalanya.


"Yuk Bu Maya, cobain dulu kebayanya," ajak Ivan.


"Aku?" ucapku heran.


"Kebaya untuk wisudamu nanti." Akash menggerakan dagunya agar aku ikut bersama Ivan.


"Kok kamu gak bilang sih pesan kebaya buat aku?" protesku.


"Sudah, masuk sana."


Aku menurut. Saat aku masuk Ivan keluar, ternyata ruangannya cukup besar ada dua orang pegawai yang menyambutku dengan ramah. Salah satu pegawai itu mengambil kebaya berwarna rose gold yang sepertinya baru selesai mereka kerjakan. Aku pun memakai kebaya itu dibantu oleh mereka.


Saat sudah selesai aku keluar, kulihat Akash yang tengah mengobrol dengan Ivan menoleh ke arahku. Ia menatapku lekat-lekat.


"Ish! Ngapain lihatin aku kaya gitu?" gerutuku dalam hati. Aku pun memalingkan wajah.


"Cantik," ucap Akash.


Aku menoleh, melihat dia tengah berjalan ke arahku.


"Sandalnya?" tanya Akash pada Ivan.


Ivan berjalan ke sana ke mari sambil terus berbicara tiada henti.


"Nah, ketemu. Coba ini Bu Maya." Ivan memberikanku sebuah heels yang senada dengan kebaya yang aku pakai.


Tanpa banyak bicara lagi aku mencobanya.


"perfect!" ucap Ivan.


***


Hari-hati berlalu, banyak sekali yang harus aku urus. Berkali-kali aku pulang-pergi ke kampus hanya untuk menyerahkan bundelan skripsi dan meminta tanda tangan form penyerahan.


Aku tidak lagi menggunakan Si Putih. Setelah berdebat lagi dengan Akash, akhirnya aku memutuskan menurut. Ke sana ke mari diantar sopir atau menunggu jadwal Akash sedikit longgar ternyata bukan hal yang begitu buruk. Meski aku masih merasa tidak enak bila sopirku itu menunggu terlalu lama. Aku masih tidak tega, padahal kutahu mereka dibayar dengan gaji yang tidak murah.


Pagi-pagi sekali Akash membangunkanku dan menyuruhku cepat mandi. Hari ini wisudaku digelar, rasanya bahagia dan haru campur aduk menjadi satu. Akhirnya aku bisa mengangkat satu beban ibu, ia pasti lega melihat anaknya berhasil menyelesaikan pendidikan meski tidak tepat waktu.


"Loh? Kok ada kalian?" tanyaku heran.


"Bapak Akash memintaku turun tangan langsung Bu, sepertinya dia tidak percaya kalau pegawai-pegawaiku sudah cukup kompeten," jawab Ivan. Dia memang seperti itu. Sedikit ketus, namus sebenarnya baik, perhatian dan sangat detail.


Ternyata fitting baju kebaya itu tidak hanya satu kali. Aku masih harus bertemu dengan Ivan beberapa kali sampai akhirnya kebaya yangku siap dipaaki. Aku heran, bagaimana bisa Akash mengira-ngira ukuran bajuku padahal sebelumnya tidak diukur. Ivan hanya mengoreksi beberapa bagian saja. Apa postur tubuhku terlalu pasaran? Entahlah.


Dua orang staf yang dibawa Ivan mengurusku dengan telaten. Selain membantuku memakai kebaya, mereka menata rambutku sedemikian rupa atas arahan dari Ivan, sedangkan Ivan meriasku. Pria itu nampak lebih serius saat membubuhkan produk-produk make up di wajahku. Entah kemana mulut cerewetnya itu pergi.


Aku salut pada Ivan, dia bisa menempatkan diri. Kapan harus serius bekerja dan kapan waktunya bergurau.


"Ke mana Akash?" tanyaku.


"Siap-siap di kamar sebelah, kamu belum sarapan ya? Sebelum pakai lipstick makan dulu deh." Ivan meninggalkan kamar lalu kembali dengan sepiring nasi goreng di tangannya.


"Aku makan sendiri aja," tukasku saat Ivan menyodorkan sendok ke mulutku.


"Rambutmu belum selesai Bu, tidak usah sungkan. Kayak yang baru kenal aja! Aku memang seperti ini pada semua langgananku. Repot nanti kalau sudah susah payang didandani tapi malah pingsan," jawab Ivan.


"Ya memang baru kenal kan?" batinku.


Setelah riasanku selesai, aku menghampiri Akash yang sedang sarapan di ruang tamu. Pria itu terlihat lebih tampan. Padahal setiap hari aku melihat dia memakai jas dan dasi, namun hari ini sedikit berbeda.


"Sudah selesai?" tanya Akash. Pria itu menyuapkan sendok terakhir nasi gorengnya.


"Sudah bagus, cantik pakai kebaya. Eh, malah pakai jubah hitam begini," gerutu Ivan.


"Ya namanya juga mau wisuda. Bukan kondangan," timpalku.


Selesai dengan semua persiapan aku, Akash, Ivan dan kedua stafnya keluar apartemen. Kami berpisah di lobi. Aku dan Akash memasuki mobil yang sudah di siapkan oleh staf apartemen.


"Aku menyetir sendiri saja," ucap Akash pada sopirnya.


"Kamu cantik Maya," puji Akash saat kami berdua sudah berada di dalam mobil.


"Cepat jalan, nanti terlambat."


Akash tersenyum lalu menjalankan mobilnya. Acara wisuda dilaksanakan di sebuah ballroom hotel ternama di Kota Bandung. Anehnya banyak karangan bunga ucapan selamat atas namaku terpajang di pelataran hotel.


Saat aku keluar, aku lebih dikejutkan karena karangan bunga itu ternyata tidak hanya satu dua buah saja. Beberapa nama perusahaan terangkai dalam karangan bunga itu sebagai pengirimnya.


"Akash ini–"


"Ini salah satu hotel milik praharsa, sepertinya kolegaku sengaja mengirimkan bunga-bunga itu ke mari," jelas Akash.


Benar saja, saat aku dan Akash masuk bebedapa staf yang berpapasan dengan kami menunduk sekilas sebagai rasa hormat. Hal itu sontak menyita perhatian banyak mahasiswa dan wali murid yang berada di sana. Sebagian dari mereka berbisik entah membicarakan apa.


Di depan ballroom aku mendapati ibu yang tengah menunggu. Aku berlari memeluknya. Ibu menatap haru dan matanya nampak berkaca-kaca. Setelah beberapa saat mengobrol baru kusadari ternyata ibu memakai kebaya dengan warna dan motif yang sama denganku.


"Akash yang membelikannya," jelas ibuku.


"Terima kasih," ucapku pada Akash.


"Karena di undangan wisudawan hanya boleh diantar satu orang, Ibu saja yang masuk ke dalam ya?" ucap Akash.


***