
"Tidak, apa kau sudah tidak punya pikiran Yash?"
Akash menolak mentah-mentah permintaan sepupunya. Aku mnegernyitkan kening melihat respon Akash. Kenapa dia seperti itu?
"Memang kenapa? Kamu juga bisa menginap di sini Akash," timpalku.
Kulihat Akash menghela napas panjang. "Kita bisa ke sini lagi besok. Anindhita juga sepertinya sudah membaik. Kamu tidak usah ke kantor dulu Yash. Jaga Anindhita dengan baik. Kami pulang dulu."
Akash menarik tanganku keluar dari rumah ini. Tanpa kata dan sedikit tergesa Akash menjalankan mobilnya. Aku yang melihat perubahan mood dan raut wajah Akash hanya bisa diam. Takut salah bicara dan membuat pria itu marah. Dasar pemarah!
Sesampainya di apartemen, Akash melepas sandal lalu memasukkannya dengan gerakan sedikit kasar ke dalam lemari. Ia juga menutup pintu lemari dengan keras. Aku terkejut, Akash lebih menyeramkan dari pertama kali kita bertemu.
"Akash! Kamu ini kenapa sih?" tanyaku seraya mengekorinya.
Pria itu berbalik lalu mendengus. "Aku hanya tak habis pikir dengan Yash. Bisa-bisanya dia memintamu menginap!"
"Memang kenapa? Kan biar aku bisa urus Anin. Kasihan anak itu, bagaimana jika dia bangun tengah malam lalu mencariku? "
"Kamu bukan baby sitternya Anin, Maya. Aku juga tidak suka kamu dekat-dekat dengan Yash. Apalagi sampai suap-suapan. Apa-apaan itu?" Akash berjalan memasuki kamar.
Aku tak bisa menahan tawaku. Pia itu berbalik setelah mengambil handuk. Tawaku terhenti, karena Akash menatapku dingin.
"Apa itu lucu Maya?"
"Iya, kamu cemburu pada sepupumu sendiri?" ucapku sambil menahan tawa.
"Lucu?"
Aku gelagapan, Akash benar-benar marah. Sorot matanya berubah, ia terus maju sampai belakang kakiku terkantuk ranjang. Aku terduduk dengan wajah yang masih menengadah menatap matanya yang berkilat penuh intimidasi.
"Akash," panggilku lirih.
"Kenapa kamu begitu peduli pada Yash dan anak kecil itu?"
Akash berdiri menjulang di hadapanku. Membuatku semakin menengadah. "Aku hanya kasihan pada Anindhita, kau sendiri yang bilang ibunya meninggal saat dia masih bayi. Tidak lebih, tidak ada yang aneh Akash."
"Tapi bukan berarti kau harus bersikap seperti ibunya, May."
"Aku tidak sepert itu. Aku memang menyukai anak kecil Akash, tapi bukan berarti aku menganggap Anin itu anakku. Kamu terlalu berlebihan," sergahku seraya berusaha berdiri.
Tiba-tiba Akash mendorong pundakku agak keras hingga terlentang. Aku panik dan mencoba bangkit. Kurasa Akash kehilangan akalnya hanya karena melihat Yash meyuapiku. Astaga Apa-apaan ini? Dasar orang aneh!
"Akash! Kamu terlalu berlebihan! Tolong jangan keterlaluan!" ucapku penuh penegasan.
Melihat perlawananku Akash segera menangkap tanganku dan menguncinya agar tidak bisa bergerak. Apa-apaan ini?.
"Kau suka anak kecil? Bagaimana kalau kita buat saja mereka?" pria itu menyeringai.
Ya Tuhan! Akash benar-benar hilang akal! Tak bisa kupungkiri dia tampan sekali. Handuk yang menyampir di pundaknya terjatuh ke samping tubuhku. Jiwaku rasanya kalangkabut. Aku ingin memberontak tapi pesonanya membuatku membeku. Astaga Maya, kau ini mikirin apa? Sudah tahu posisimu itu sedang terjepit.
Pelan sekali, Akash mendekatkan kepalanya. Menyentuh bibirku dengan bibir lembutnya. Aku mengerjapkan mata, berusaha mengembalikan kesadaran. Aku membuka bibirku, niatnya ingin menyuruh Akash menjauh. Sialnya, dia malah semakin menjadi-jadi.
Entah bagaimana ceritanya, mataku ikut terpejam. Tanganku kini sudah terbebas dan mengalung di lehernya. Bunyi decakan menggema di seluruh ruangan. Membuatku membuka mata dan spontan mendorong Akash agar menjauh.
Napasku terengah, aku menatap Akash intens dan menggelengkan kepala.
"Kontraknya Akash. Kontraknya," ucapku tersengal.
"Kenapa kontraknya?" jawab Akash seraya menelusupkan wajahnya di leherku.
"Poin nomor dua Akash, kita tidak boleh melakukan ini."
"Sudah kubilang, aku membatalkan kontrak kita Maya. Aku ingin kamu menjadi istriku sepenuhnya," jawab Akash.
"Kamu tidak menyukaiku, tapi kamu tidak pernah menolak saat aku sentuh. Apa kamu sedang membohongi diri sendiri? Kenapa?" Akash kembali mendekat lalu memelukku.
Aku menghembuskan napas panjang. "Aku hanya takut dan ragu Akash. Aku takut kamu hanya membodohiku agar kamu tidak rugi mengeluarkan uang."
"Apa aku terlihat seperti itu?"
"Entahlah."
"Baiklah. Aku tidak akan memaksa, tapi beritahu aku jika kamu sudah jatuh cinta. Aku pastikan keyakinanmu padaku tidak akan pernah membuatmu kecewa." Akash merenggangkan pelukannya lalu mencium keningku.
Dia berjalan mengambil handuk lalu menghilang di balik pintu. Aku melirik jam dinding, malam sudah mulai larut. Aku membuka laci mengambil rokok dan pemantik lalu pergi ke balkon kamar.
Otakku sepertinya mulai korslet, deru detak jantungku tak kunjung berhenti. Tanganku gemetar saat menghisap rokok yang sudah aku sulut. Ini lebih gila dari kejadian di mobil. Ya Tuhan aku menyukainya! Aku menyukai semua yang Akash lakukan padaku!
Hampir saja aku hilang akal. Jika tidak mengingat uangnya, mungkin aku akan hilang kendali. Aku menghembuskan asap rokokku dengan kasar.
Tubuhku berangsur normal. Belum habis satu batang rokok yang ku hisap, aku menaruh rokokku di asbak tanpa mematikannya. Aku mencari ponselku dan kembali ke balkon.
Aku terkejut saat membuka aplikasi chat, kulihat ada sebuah nomor baru mengirimkan sebuah pesan.
[Terima kasih sudah menjaga Anin, May. Maaf aku tidak sempat berterima kasih,] tulis seseorang di dalam pesannya.
"Maya, kau merokok?" Akash tiba-tiba berdiri di pintu balkon.
"Satu batang, cepat sekali kamu mandi. Akash apa kau memberikan nomorku pada Yash?" tanyaku seraya mematikan rokok.
"Tidak, memang kenapa?"
"Coba lihat ini, apa ini nomor Yash?" Aku menyerahkan ponselku pada Akash.
"Iya, ini nomor Yash. Apa kalian bertukar nomor?" selidik Akash.
"Tidak. Biarlah, aku mandi dulu." Aku mengambil handuk dan bergegas mandi.
Di kamar mandi aku benar-benar terganggu. Dari mana Yash mengetahui nomor ponselku?
Selesai membersihkan diri aku kembali ke kamar. Kudapati Akash sudah tertidur di kasur. Aku membuka lemari, meraih piyama tidur lalu berjalan keluar kamar. Tak lupa aku menutup pintu pelan-pelan agar Akash tidak terbangun.
Dengan cepat aku memakai baju di ruang kerja. Tiba-tiba pintu terbuka, kulihat Akash berdiri dengan mata yang mengantuk dan wajah yang sedikit kusut.
"Ada apa?" tanyaku.
"Ayo tidur," rengek Akash.
"Ya tinggal tidur. Bukannya tadi kamu sudah tidur?"
"Cerewet sekali. Ayo tidur." Akash menarik tanganku agak keras lalu menuntunku ke kamar utama.
Akash menghempaskan dirinya lalu menarikku hingga aku terjatuh di atasnya.
"Akash! Apa-apaan ini?" protesku.
"Tidur denganku. Aku ingin tidur di sini." Akash menggulingkanku ke samping lalu memelukku erat.
Aku menghela napas panjang lalu berusaha bangkit.
"Diam! Tidur di sini!" Akash kembali memeluk tubuhku hingga kembali menyentuh kasur.
***