Maya Adisti

Maya Adisti
Kunjungan Ibu



Aku berjalan kesal meninggalkan unit apartemen Akash. Bisa-bisanya dia menelantarkanku begitu saja. Aku terus berjalan menuju ke bagian hotel. Senyumku mengembang saat mengingat tempat ini adalah milik Akash.


Baru aku sadari maksud perkataan Akash. "tidur di mana pun? Baiklah," batinku.


Aku berjalan menuju resepsionis. Seorang wanita berdiri lalu membungkuk saat melihatku. Sialan! ternyata begini rasanya jadi orang kaya? Cukup menyenangkan.


"Ada kamar kosong?"" tanyaku.


"Ini Bu." Resepsionis tersebut memberikanku sebuah acces card.


Aku merasa aneh. Seorang pria berseragam hitam menghampiriku dan mempersilahkanku mengikutinya. Apa ini rencana Akash?


Setelah menaiki lift pria itu menunjuk sebuah pintu. Aku mengangkat sebelah alis, memastikan apakah serius ini kamarnya? Pria itu mengangguk lalu pergi meninggalkanku.


Aku meraih ponsel lalu menghubungi Akash, tidak ada nada sambung. Suara operator memenuhi gendang telingaku, ponselnya tidak aktif. Dari pada banyak protes dan berujung aku yang sial, terpaksa aku masuk ke dalam kamar.


"Baru pulang nak? Sini, ibu masak banyak untukmu dan Akash."


Aku terkejut dan berlari memburu ibu dan memeluknya erat. Tak terasa aku menangis haru.


"Kok ibu ada di sini? Aku kangen ibu," ucapku.


"Lepas May! Kamu mau bunuh ibu?" protes ibu karena aku memeluknya terlalu kenncang.


"Ish, Ibu!"


Aku menjauh lalu membiarkan ibu menyelesaikan pekerjaannya menata makanan di atas meja.


"Kok ibu tahu aku tinggal di sini?"


"Memang Akash tidak memberitahumu? Tadi pagi dia telpon suruh ibu masak banyak. Katanya nanti ada yang jemput dan bawa ibu ketemu kamu. Eh, malah dibawa ke hotel," jelas ibu.


"Apartemen Akash di sini bu. Di lantai atas." Aku menghempaskan tubuhku di atas sofa.


"Gimana liburanmu? Menyenangkan?"


"Sepertinya tidak bu. Kalau Maya senang tidak mungkin dia ingin cepat-cepat pulang." Tiba-tiba Akash masuk dan menimpali obrolan kami.


"Bukan gitu! Kamu tahu kan aku harus cepat-cepat daftar sidang? Skripsiku saja belum selesai," sanggahku.


Aku tidak mau ibu curiga dengan hubungan kami, satu-satunya alasan yang masuk akal hanyalah skripsi. Aku tertawa dalam hati, sepertinya aku berdusta tapi tidak berdusta.


"Makan Nak." Ibu mengambil piring dan mengisinya dengan makanan lalu menyerahkannya kepada Akash yang duduk di sampingku.


"Kamu sengaja melakukan ini?" Aku berbisik pada Akash. Pria itu mengangguk.


"Terima kasih," ucapku liirih.


"Kamu bawa apa Nak?" tanya ibu kepada Akash.


Aku menoleh pada beberapa paper bag yang akash simpan di pinggir sofa seraya menerima piring yang ibu sodorkan.


"Oleh-oleh buat ibu, kalau yang itu baju Maya." Akash menunjuk paper bag yang berbeda.


"Bajuku?" Aku mentap Akash meminta penjelasan.


"Sepertinya aku akan membiarkan Maya tidur bersama ibu malam ini." Akash menatap ibu dengan serius.


"Benarkah?" tanyaku bersemangat.


"Ya, tapi ingat besok kamu bimbingan. Jangan bangun kesiangan. Aku yang akan print semua, kamu di sini saja temani ibu."


Aku menatap Akash, tak percaya dengan apa yang ia katakan. ternyata Ranbir Kapoor ini baik hati dan penuh pengertian. Pria itu pergi setelah menghabiskan makan malamnya. Dia pergi membawa tas berisi laptop dan buku yang tadi kubawa. Membiarkanku dan ibu berdua.


"Jadi, Akash benar-benar bersikap baik padamu May?"


"Sepertinya ibu sudah tahu." Aku menghempaskan tubuhku ke kasur.


"Apa kamu menyukainya?"


Aku termenung menatap kosong langit-langit kamar. Aku menyukainya bu, hanya saja terlalu rumit.


***


Aku menggerakkan tubuhku, tapi kenapa rasanya berat sekali?


"Bu! Berat!" seruku pelan. Sepertinya ibu memelukku. Tidak biasanya ibu memelukku seperti ini.


"Bu!" rengekku.


"Ibu sudah pulang diantar Reza."


"Kenapa ibu tidak pamit dulu?" Aku menghela napas panjang karena merasa sedih.


"Suruh siapa susah bangun, kau lupa ibu harus kerja?" Akash menggerakkan tangannya, memelukku lebih erat.


"Kau sendiri? Bukannya kerja malah di sini. Kau berat Akash!" Aku mendorong pelan tubuh pria itu.


Bukannya berpindah, dia malah semakin merapatkan tubuhnya. Sebenarnya aku merasa nyaman, namun entah kenapa semakin baik sikap Akash membuatku semakin bimbang.


Aku menghela napas panjang lalu balas memeluknya. Sepertinya apa ku lakukan membuat Akash terkesiap. Ia mendongak dan menatapku intens.


"Kenapa? Baru ya dipeluk perempuan? Apa Ruth tidak pernah melakukan ini padamu?" tanyaku asal.


Terdengar suara helaan napas Akash. Mungkin pertanyaanku terlalu menohok baginya. Maaf Aash, aku hanya ingin kamu ingat pernikahan kita hanya kontrak.


"Jadi kau masih tidak mau menerimaku?" tanya Akash. Kurasakan dia mengendus-ngendus leherku.


"Hentikan Akash! Aku bau!" Aku kembali mendorong pria itu menjauh lalu duduk seraya mengikat rambutku.


"Gak kok! Aku suka." Akash memelukku dari belakang.


"Kamu gak kerja?" Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Kita ke kantor setelah bimbingan skripsimu selesai. Cepat mandi, aku tunggu kamu di restoran." Akash mencium pipiku, mengambil jas yang tersampir di kursi lalu keluar.


"Memulai hidup baru ya?" pikirku.


Aku terdiam, tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Akash menciumku?


Ya Tuhan, Ranbir Kapoor itu berhasil membuatku belingsatan!


***


Aku keluar dari kamar dan bergegas menuju restoran. Kulihat Akash tengah memainkan ponselnya di sudut ruangan. Di hadapannya sudah terhidang berbagai macam makanan.


"Kau bisa makan lebih dulu Akash. Tidak usah menunggu," ucapku seraya duduk di salah satu kursi di depannya.


"Sudah kuduga, baju itu cocok untukmu."


Aku memutar mata. Kadang aku merasa seperti boneka, segalanya dipilihkan Akash. Jadi orang kaya ternyata ribet dan terlalu banyak aturan. Palsu.


Aku menghabiskan sarapanku dengan cepat. Aku membuka tas dan mengambil ponselku dengan tergesa. Aku lupa belum membuat janji dengan dosen pembimbingku.


"Astaga, Maya! Kau teledor sekali!" gumamku.


"Kenapa?"


"Aku belum chat dospem," jawabku cepat.


"Aku sudah menelponnya, dia tidak akan pergi dari kampus sebelum kita datang menemuinya."


"Apa?" Aku terkejut.


Aku membuka aplikasi chat dan memeriksa histori panggilan. Benar, ada panggilan keluar di sana.


"Kamu telpon Pak Zay?"


Akash mengangguk, ku lihat baterai ponselku juga penuh. Aku memeriksa tasku kembali, satu bundelan kertas-kertas skripsi juga sudah ada di dalamnya. Aku tersenyum lalu melirik Akash sekilas.


Selesai sarapan, aku dan Akash menuju bassement.


"Bagaimana kamu tahu dospemku Pak Zay?" Aku menutup pintu mobil.


"Tidak sulit bagiku mencari informasi Maya." Akash menghidupkan mesin mobilnya. Perlahan mobil mulai bergerak.


Pikiranku tiba-tiba tertuju pada Pak Zay. Dosen pembimbing yang paling tak jelas sepanjang masa. Aku menoleh pada Akash, dan aku baru menyadari sesuatu.


"Kau! Kau mau ke kampus berpakaian seperti ini?" Aku memekik tidak percaya.


Bagaimana tidak?


Akash memakai kemeja, lengkap dengan dasi dan jasnya. Apa-apaan ini?


"Memang kenapa?"


"Asataga, tidak bisakah kau sedikit saja berpakaian santai? Kita ke kampus Akash bukan pergi meeting!" protesku.


Sial! Aku malu kalau sampai bertemu teman-teman.


***