
"Akash, apa kau serius?" seruku kegirangan.
"Iya."
"Ah! Terima kasih, Akash!" Aku berlari kecil ke arah Akash, memeluk dan menciumi wajahnya beberapa kali dengan cepat. Kulihat Akash kewalahan.
Tiba-tiba dia menghentikanku. Aku membelalakkan mata karena tiba-tiba Akash memeluk tubuhku lebih erat. Sekian detik kemudian ku rasakan ia mengecup bibirku pelan.
"Sial!" umpatku dalam hati. Aku mendorongnya agar menjauh.
"Aku senang kamu bahagia Maya." Akash mengecup keningku pelan.
"Kau harus ke kantor," ucapku mengingatkan.
"Okay, kamu hati-hati. Jangan kebut-kebutan. Satu lagi, jangan pernah pakai motor ini untuk balapan."
"Siap Bos!" Aku memberikan hormat kepadanya. Akash terlekeh, ia mengelus kepalaku pelan lalu berjalan menjauh menuju mobilnya.
Aku memakai helm dan naik ke atas motor. Aku mengelus-elus motor tersebut dan menciumnya lagi. Siapa yang tidak bahagia diberi BMW S 1000 RR warna putih?
Sumpah demi apapun! Si Putih seribu kali lipat lebih ganteng, lebih gagah dan lebih keren dari pada Ranbir Kapoor itu. Aku menjalankan motor itu pelan, kulambaikan tanganku pada Akash yang masih diam dibalik setir mobilnya.
Rasanya hari ini adalah hari kemerdekaan!
Dengan penuh senyuman aku melesat, membelah jalanan Kota Bandung. "Ah, Maya kamu benar-benar beruntung," batinku pada diri sendiri.
Aku mampir ke pom bensin untuk mengisi bahan bakar. Kurasakan banyak sekali mata yang memperhatinkanku. Mungkin bukan padaku, tapi pada motor ini. Setelah selesai segera ku bergegas menuju distro.
Tepat saat aku memberhentikan motorku di depan distro. Sebuah mobil hitam juga ikut parkir di sebelahku. Awalnya aku acuh saja, sampai akhirnya seorang pria berkemeja hitam menghampiriku dengan dua buah paperbag di tangannya.
"Bu Maya," sapanya.
Aku membuka helm dan turun dari motor. "Siapa ya?" tanyaku.
"Ini dari Bapak Akash. Katanya untuk teman-teman ibu." Pria itu menyerahkan paperbag yang ia pegang.
Saat ku lihat, isinya adalah coklat dan beberapa barang yang Akash beli di Zurich. Baru aku yakin kalau pria itu salah satu anak buah Akash.
"Terima kasih, bagaimana kamu tahu saya di sini?" tanyaku penasaran.
"Bapak Akash menyuruhku mengikuti ibu," jelasnya.
"Oh, terima kasih."
Pria itu mengangguk lalu kembali ke mobilnya lalu pergi meninggalkanku. Aku mengambil ponsel dari saku jaket lalu menelpon Akash.
"Akash, kau menyuruh orang membuntutiku?" protesku.
"Hanya memastikan apakah kamu benar-benar bisa menbawa motor itu atau tidak. Oleh-olehnya sudah?" jawab Akash sambil sedikit tertawa.
"Sudah, terima kasih."
"Maya!"
Aku menoleh pada Nia yang keluar dari dalam distro. Aku melambaikan tangan. Dia berlari lalu memelukku erat.
"Sudah dulu ya? Bye." Aku menutup sambungan telepon dengan Akash.
"Nia, apa kabar?" tanyaku bersemangat.
"Astaga, ini beneran kamu May? Gila! Keren ya sekarang. Si Matic juga sudah berubah wujud jadi gede begini." Nia menepuk-nepuk motor putihku.
"Biasa, disulap Jin!" timpalku.
"Jin ganteng!" Maya tertawa.
"Masih boleh masuk gak nih?" tanyaku memastikan.
"Boleh dong! Kerja lagi juga boleh! Apa mau borong?" canda Nia.
Aku menyerahkan dua paperbag yang ku pegang pada Nia lalu masuk ke distro. Tak ada yang berubah di sini. Hanya saja sudah ada karyawan baru yang menggantikan posisiku. Ku lihat dia sedang membereskan etalase celana.
"Eh, May?" A Agung menghampiriku, aku memeluknya dengan erat. Baru beberapa minggu tapi rasanya sudah rindu.
"Gila May! Ke Swiss ya? Susah banget dihubungi sekarang. Dm instagram juga gak pernah dibuka. Padahal update feed terus," protes A Agung.
"Kok bisa?" batinku. Rasanya terakhir kali post foto setelah pulang dari opernhouse.
"May!" A Agung menanggilku pelan. Aku menoleh ke arahnya masih dengan ekspresi bingung.
"Malah ngelamun, kamu mau bakso gak?" tanya Nia.
"Boleh, udah lama banget aku gak ngebakso di Si Emang. Ke sana yuk? Sambil beli kopi," ajakku pasa Nia.
"Yaudah, nih uangnya." A Agung menyerahkan selebar uang seratus ribu.
"Gak usah, hari ini aku yang bayar." Aku menarik Nia ke luar dari distro.
"Gaya Euy! Si May jadi orang kaya!" teriak A Agung.
Aku dan Nia bergandengan menyebrang jalan. Tukang Bakso yang sejak dulu jadi langgananku terkejut melihat perubahanku. Padahal yang berubah hanya pakaian saja, aku tetap sama.
Sambil menunggu pesanan baksoku selesai dibuatkan, aku dan Nia menju kafe milik A Diki. Sungguh, aku benar-benar rindu kehidupanku sebelumnya.
"Kamu ketemu suamimu di sini ya?" tanya Nia.
"Serius? Emang May udah nikah?" A Diki sedikit terperangah.
"Udah A. Emang Aa gak tahu cowok yang Maya kasih kopi di sini?" jawab Nia.
"Cowok yang mana? Banyak cowok yang udah Maya kasih kopi."
"Serius May?" Nia memastikannya padaku.
Memang benar, aku sering memberikan kopi secara gratis secara random. Tidak hanya laki-laki, perempuan juga banyak. Aku mengangguk kepada Nia sebagai jawaban pertanyaannya.
"Gila! Untung gak kamu kawinin semua!" Temanku itu tertawa terbahak-bahak.
***
Aku menghabiskan waktuku hampir setengah hari di distro. Benar-benar hari kemerdekaan, aku bebas melakukan apapun. Tidak ada yang melarangku merokok di sini karena A Agun dan Nia sama saja.
Saat sedang asik mengobrol tiba-tiba ponselku berdering. Ku kira Akash, tapi ternyata Yash.
"Hallo?"
"May, bisakah kamu dan Akash ke rumah?" tanya Yash dari seberang panggilan.
"Akash di kantor sampai malam, ada apa?"
"Kau sedang tidak bersama Akash?"
"Tidak," jawabku.
"Bisakah kamu ke sini? Anin merengek terus ingin ke tantenya."
Aku baru ingat, hari ini Akash melarang Yash bekerja.
"Baiklah, aku ke sana sekarang." Aku memutuskan panggilan, kulihat jam menunjukkan pukul lima sore.
Aku segera berpamitan pada A Agung dan Nia. Mereka mengantarkanku sampai ke depan. Jalanan Bandung pasti padat di jam-jam segini. Tidak akan nyaman bagiku jika ikut bermacet-macetan, apalagi aku mengemudikan motor besar.
Aku memutuskan mengambil jalan pintas, berbelok ke arah jalan desa yang biasanya tidak terlalu ramai. Aku melajukan motorku dengan kecepatan sedang. Untuk apa buru-buru? Toh tidak ada hal yang urgent.
Tiba di pertigaan, sebuah mobil hitam muncul di belakangku. Awalnya aku biasa saja, tapi sepertinya mobil itu menyamakan kecepatannya denganku. Aku sudah memberi jalan agar mobil itu melaju lebih dulu tapi dia abaikan.
"Apa aku diikuti?" batinku.
Aku ingin memastikannya. Aku menambah kecepatan dan ternyata benar. Mobil itu pun menambah kecepatan.
"Apa itu begal?" gumamku.
Aku terus melaju dengan kecepatan tinggi, mencoba meninggalkan mobil tersebut. Sepertinya pengemudi itu tidak menyerah, hampir saja ia mensejajari motorku.
Aku menoleh ke belakang sekilas untuk memastikan. Aku terheran karena mobil itu melambat, namun saat aku menoleh kembali ke depan. Tiba-tiba ku rasakan tubuhku oleng.
Aku tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi, yang ku lihat hanya jalanan dan ban besar. Samar-samar aku kulihat dua atau tiga orang mendekatiku lalu gelap.
***