Maya Adisti

Maya Adisti
Aku Bukan Peliharaan!



Akash melajukan motornya cukup kencang entah ke mana dia membawaku. Namun, sekilas yang aku lihat motor bergerak ke arah Taman Sari. Di lampu merah aku merasa punggungku pegal sekali, saat aku akan duduk tegap tiba-tiba tangan Akash menarikku kembali. Mengembalikan posisiku yang memeluknya sejak tadi.


Dia terus saja menggenggam tanganku, baru saat lampu lalu lintas berubah hijau dia melepaskan tautan jemarinya dan kembali fokus pada jalan raya.


"Akash, kita mau ke mana?" teriakku.


Dia tidak menjawab, Akash malah membelokkan motornya ke arah Dago. Sesampainya di sebuah hotel Akash mengajakku masuk. Ternyata dia mengadakan sidak pada seluruh karyawan hotel.


Kedatangan Akash membuat semua staf kalangkabut. Aku terus mengekori Akash tanpa bertanya. Baguslah Akash tidak membahas soal kepergianku. Sepertinya dia tidak keberatan.


"Mana laporannya?" tanya Akash pada seorang laki-laki berjas hitam. Pria itu memberikan sebuah map kepada Akash.


Akash terlihat serius memeriksa laporan, ia lalu berbicara panjang lebar kepada pria itu. Entah apa yang mereka bahas. Cukup lama kami berada di hotel tersebut, setelah menjelajahi beberapa sudut hotel Akash meraih tanganku, menggenggamnya seraya berjalan menuju keluar.


Dia memakaikan helm padaku. Perhatian Akash padaku ternyata tidak membuatku lega. Diamnya Akash menjawab semua pertanyaan-pertanyaan di kepalaku. Dia marah besar.


Kami kembali menyusuri jalan raya, sepertinya kali ini kami akan pulang. Benar saja, tak lama kemudian kami sampai di apartement. Jarak dari hotel di Dago ke apartemen kami ternyata tidak begitu jauh. Hanya sepuluh menit kini kami sudah berjalan melewati lobi.


Akash menyerahkan helm kami dan kunci motornya kepada salah satu staf lalu kembali meraih tanganku, kali ini genggamannya sedikit erat. Aku menoleh, memperhatikan wajahnya yang berubah menjadi lebih serius dan memerah.


"Mati aku!" batinku.


Saat masuk ke apartemen Akash membuka jaketnya, aku pun melakukan hal yang sama. Akash membuka kulkas, meraih botol air mineral dan memberikannya padakau. Aku duduk di sofa dan meminumnya.


Akash mendekatiku, dia beriri menjulang di hadapanku. Tatapannya begitu tajam dan melihatku dengan pandangan tidak suka. Dia tersenyum miring lalu mendengus.


"Jelaskan padaku, apa-apaan tadi?" tanya Akash.


"Aku kan udah bilang di chat kalau aku pinjam motornya," jawabku.


"Kau bisa meminta sopir mengantarkanmu Maya, tidak usah pergi sendiri. Apalagi naik motor itu, kamu ingin apa? Ingin terlihat keren? Kamu gak takut kecelakaan lagi? Kamu juga merokok lagi, tidak bisakah kamu menurut padaku? Kamu itu baru sembuh. Sudah kubilang tunggu aku, aku akan mengantarkanmu ke mana pun!" cecar Akash.


"Aku tidak ingin terlihat keren Akash, kau tahu sendiri aku tidak bisa menyetir. Aku cuma bisa motor. Ya aku pakai saja yang ada," elakku.


Aku tidak terima Akash menyebutku hanya ingin terlihat keren. Ya Tuhan, aku sama sekali tidak bermaksud pamer!


"Sudah aku bilang tunggu aku atau kau minta antar sopir. Apa kamu tidak mengerti?" jawab Akash.


"Apa salah aku punya waktu untuk diriku sendiri Akash? Aku jenuh! Aku bukan kamu yang terbiasa ke sana ke mari diantar sopir, membuat mereka menunggu. Aku tidak nyaman jika harus seperti itu. Aku juga gak bisa kalau cuma terus-terusan duduk di sini tanpa mengerjakan apa pun. Makan, tidur, nonton, apalagi? Aku bukan tipe orang yang seperti itu! Aku bisa gila jika hanya duduk diam sepanjang hari! Aku bukan peliharaan Akash!" balasku sengit.


Sepertinya Akash tersentak dengan ucapanku, pandangannya melembut seketika. Ia duduk di sampingku.


"Aku tidak menganggapmu seperti itu. Aku hanya khawatir, bisakah kamu menurut?" tanya Akash.


"Tapi aku jenuh Akash, kamu juga tidak pernah lagi mengajakku ke kantor. Padahal kau tahu aku sudah lama sembuh," keluhku.


"Bukankah kamu tidak menyukainya? Meeting dan bertemu dengan beberapa klien?"


"Ya karena aku gak ngerti, aku cuma diem gak jelas kaya obat nyamuk! Kalau kaya gitu aku bosan," jelasku.


"So? What do you want?"


Aku termenung sejenak, apa Akash akan mengabulkannya?


"Izinkan aku berteater kembali," ucapku.


"Tidak, cobalah melakukan hal yang lebih bermanfaat."


Aku mendelik. "Jadi menurutmu, terater tidak bermanfaat?"


"Tidak, tidak. Bukan begitu, tapi carilah sesuatu yang lebih–"


"Izinkan aku bekerja!"


"Apa?" Akash menatapku heran.


"Ke distro? Tidak, tidak boleh." Akash menggeser duduknya sedikit menjauh.


"Teater gak boleh, kerja gak boleh. Terus aku harus apa?" Aku beranjak lalu menuju ke kamar. Akash mengikutiku di belakang.


"Ya, kau boleh bekerja. Tapi, tidak di distro," sergah Akash.


"Baiklah, karena surat kelulusanku sudah ada jadi aku akan mencari pekerjaan yang lain." Aku membuka lemari dan meraih baju ganti.


"Tidak boleh," ku rasakan Akash memelukku dari belakang.


Sontak aku mendorongnya dengan punggungku dan berbalik. "Teater gak boleh, kerja di distro gak boleh, cari kerja gak boleh, lantas aku harus apa Bapak Akash yang terhormat?"


Akash terkekeh mendengar ucapanku yang sedikit ketus dan penuh penekanan. Memangnya itu lucu?.


"Kamu akan bekerja denganku Maya Adisti," ucap Akash kembali mendekat.


"Jangan mengada-ada!"


"Tidak Maya. Kamu akan bekerja di kantor yang sama denganku, di Praharsa."


"Serius?" ucapku meminta kepastian.


"Nanti, setelah kamu wisuda. Sekarang, nikmati saja sisa waktumu untuk berleha-leha."


***


Aku mematikan televisi karena bosan lalu mencuci piring setelah makan. Entah piring ke berapa yang sudah aku habiskan hari ini. Memang nafsu makanku sedang naik, mungkin karena tubuhku sudah jauh lebih baik, moodku juga ikut meningkat.


Suara kunci yang ditekan dari luar menghentikan aktifitasku sejenak. Saat ku lihat Akash masuk aku kembali menyelesaikan pekerjaan.


"Loh? Kok udah pulang?" tanyaku pada Akash yang berdiri tak jauh dari pintu.


"Cepat ganti baju, kita pergi!" perintah Akash tanpa melepas sepatunya.


"Ke mana? Apa kamu sudah makan?" Aku menghampiri.


"Aku sudah makan, ganti baju. Kutunggu di lobi, jangan lama-lama." Tanpa menunggu jawabanku, Akash kembali keluar.


Cepat-cepat aku berganti baju dan menyusul Akash ke lobi. Aku membawa pouch make up dan ponsel di tanganku. Saat melihatku, Akash membukakan pintu.


Aku mengambil cermin dan lipstick dari pouch make up yang ku bawa lalu mengoleskannya sedikit di bibirku. Aku juga menyisir rambutku agar terlihat lebih rapi.


"Kenapa gak dandan di dalam saja?" protes Akash.


"Takut lama. Nanti ada yang ngomel," jawabku sekenanya.


Akash menggelengkan kepala lalu menjalankan mobilnya.


"Kita mau ke mana?" tanyaku.


"Fitting,"


"Kamu bikin baju? Bikin ya bikin aja Akash, kenapa aku harus ikut?" protesku.


"So that you don't keep complaining about being bored," jawab Akash.


"Ngomong naoh sih? Teu ngarti! Tong make Bahasa Inggris Akash. Aing mah dahar ge kejo, lain keju," gerutuku.


Akash tertawa, dia mengacak rambutku penuh perasaan.


"Kamu ngerti?" ucapku terkejut.


***