
"Tidak, untuk apa? Tidak penting."
"Serius? Lalu pa ini?"
"Buka saja." Akash masih berdiri di tempatnya.
Aku membuka kotak itu dan isinya membuatku termenung, Sebuah laptop keluaran terbaru.
"Akash apa maksudnya ini?"
"Sebuah hadiah pertemanan." Akash tiba-tiba memelukku dari samping.
"Ini terlalu berlebihan, Akash."
"Aku tahu laptopmu sudah rusak, May." Akash menempatkan dagunya di pundakku.
"Jadi kau memeriksa barang-barangku?" Aku menoleh padanya. Tak aku sadari ternyata jarak antara Aku dan Akash begitu dekat.
"Tidak, hanya saja barang-barangmu ada di kamar kita jadi ya ... aku tahu semua yang ada di sini."
Tiba-tiba saja udara disekitarku menjadi panas. Jantungku berpacu dengan cepat. Ya Tuhan, ada apa dengan Ranbir Kapoor ini? Kenapa dia senang sekali bersikap manja akhir-akhir ini?
Apa katanya tadi? Kamar kita?
"Tunggu, apa maksudnya kamar kita? Kau mau tidur di sini?" Aku melepas pelukan Akash dan berbalik menghadapnya.
"Di mana lagi? Bukankah saat bulan madu kita sudah tidur bersama, jadi apa salahnya?" ucap Akash seraya mengedikkan bahu.
"Tidak bisa, di sini ada dua kamar Akash. Jadi tidurlah di tempatmu. Okay?"
"Baiklah, tapi biarkan aku menemanimu malam ini. Sepertinya kau tidak akan tidur cepat." Akash beranjak menuju lemari dan mengganti kemejanya dengan kaos.
"Kau yang menyuruhku mengerjakan skripsi di kantor kan? Aku harus mempersiapkan bahan-bahannya."
Aku ambil laptop lamaku dari lemari kecil dekat jendela. Aku membuka pintu balkon kamar, membiarkan angin malam masuk dan berusaha menetralkan perasaanku yang semakin tidak karuan saat melihat Akash.
Aku keluar dan melihat sekeliling. Pemandangan hotel di malam hari benar-benar indah. Entah itu di Zurich atau di tanah kelahiranku sendiri, aku sangat senang melihat kelap-kelip lampu kota.
Saat diriku sudah mulai rileks, aku terkejut merasakan sebuah tangan melingkar di perutku.
"Astaga Akash!"
"Memikirkan apa?"
"Tidak ada," jawabku.
Kurasakan kembali hembusan napas Akash di leherku. Tiba-tiba ia menyibakkan seluruh rambut panjangku ke satu sisi. Jantungku berderu lebih kencang kali ini.
Sial! Apa maunya laki-laki ini?
Cepat-cepat aku melepaskan diri dan kembali ke dalam. Merasa semakin kacau, akhirnya aku membuka laci. Mengambil sebatang rokok dan pemantik.
"Tidak May, aku sudah bilang tidak usah merokok." Akash menahanku, entah kapan ia masuk.
Aku berbalik, menatap manik hitam matanya dengan tajam.
"Baiklah, tapi berheti menyentuhku. Kalau kau mau menemaniku silahkan. Tidurlah, apa kau tidak lelah?"
"Deal," jawabnya.
"Kapan kau membeli laptop itu?"
"Tadi sore aku menyuruh anak buahku membelinya dan membawanya ke sini." Akash menjauh dan merebahkan diri menyamping ke arahku.
"Terima kasih," ucapku tulus.
Pria itu tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan terus saja memperhatikanku. Dasar manusia aneh!
Akhirnya sepanjang malam aku habiskan dengana memindahkan beberapa file penting dari laptop lama ke laptop baru pemberian Akash. Aku juga menyiapkan beberapa buku dan memasukkannya ke dalam ransel berukuran sedang. Tak lupa laptop pun aku masukkan.
Setelah menyelesaikan semua, aku menoleh ke arah Akash. Pria itu sudah terlelap. Aku menutup pintu balkon dan seluruh gorden. Menyelimuti Akash lalu pergi ke ruang kerja.
***
Pagi-pagi saat aku terbangun dan ke luar kamar aku tidak menemukan Akash di mana pun. Saat aku masuk ke kamar utama ternyata pria itu masih tidur bergelung selimut.
Aku mengambil satu setel pakaian dan handuk dan kembali ruang kerja untuk membereskan kasur. Ku lihat jam dinding ternyata masih pukul enam pagi.
"Jam berapa ke kantornya kalau jam segini Akash masih tidur?" batinku.
Mataku mendadak tertuju pada sebuah berkas dengan sampul sebuah logo yang rasanya pernah aku lihat. Aku mengerutkan kening dan meraih berkas itu. Mataku seketika membelalak melihat nama Akash tertulis di bawah jabatan Direktur Utama Praharsa Grup.
Segera aku mengambil ponsel, mencari nama perusahaan dan nama Akash di internet. Dan yang pertama kali aku lihat adalah foto pernikahan aku dan Akash yang menjadi headline berita.
Aku menyimpan kembali ponselku lalu membuka tirai jendela. Memangdang ke luar dengan perasaan frustasi. Apa semua yang ku lakukan ini benar?
"Kau sudah bangun? Tidur di sini?"
"Stop Akash! Aku duluan!" Dengan cepat aku meraih baju dan handuk lalu berlari kecil mendahului Akash yang berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai, sambil menunggu Akash aku membuka lemari dan memilihkan baju yang akan Akash pakai lalu menyimpannya di atas kasur.
Aku terhenyak saat bel rumah berdering, ketika pintu ku buka ternyata beberapa pelayan mengantarkan sarapan. Sepertinya Akash memesannya saat aku mandi. Ku biarkan mereka menyimpan makanan dan menata piring. Mereka pun pergi setelah menyelesaikan tugas mereka.
Dari pada hanya dim meunggu, aku sarapan lebih dulu. Ku lihat Akash ke luar hanya memakai bathrobe dan menuju ke arahku.
"Kau tidak menungguku?" tanya Akash seraya menyendok makanan ke piringnya.
"Kau juga tidak pernah menungguku kalau aku kesiangan. Cepat pakai baju, bukannya kita harus meeting hari ini?"
"Kau benar." Akash membawa piringnya ke kamar.
Satu sisi Akash yang baru aku ketahui. Dia bisa makan sambil melakukan aktifitas yang lain. Kalau aku mana kenyang kayak begitu.
Lama sekali Akash di kamar sampai-sampai aku sempat merokok setengah batang di balkon ruang tengah.
"Ayo May!"
Kudengar teriakan Akash dari dalam. Cepat-cepat ku matikan rokok dan menghampirinya. Ia sudah menenteng tasku.
"Kau merokok?" tanya Akash.
"Sedikit, nanti aku pakai parfum kalau sudah sampai di kantor."
***
Saat memasuki pelataran kantor ternyata yang aku lihat sama persis dengan foto yang ada di internet. Gedung perkantoran yang tinggi, megah dan mewah. Aku jarang sekali main ke daerah ini, jadi baru tahu ternyata ada perusahaan bernama Praharsa Grup di tempat ini.
Di lobi utama seorang pria nampak terburu-buru menemui Akash. Pria itu meraih tas yang Akash bawa.
"Yang lain sudah menunggu Pak," ucap pria itu.
"Maya, ini Reza. Sekretarisku. Kau pasti sudah mengenal Maya kan? Bisa tolong simpan tas itu ke ruanganku, lalu segera susul aku ke ruang rapat."
"Baik Pak," jawab Reza.
Sepeninggalnya Reza, Akash mengajakku menuju lift.
"Apa aku benar-benar harus ikut?"
"Ya, Maya."
"Untuk apa? Kan aku gak ngerti," keluhku.
"Simak saja."
Pintu lift terbuka, Akash kembali mengajakku menyusuri lorong. Suara langkah kaki kami terdengar di seluruh ruangan.
Benar, saja. Saat salah satu pintu ia buka, beberapa orang sudah berkumpul duduk melingkari sebuah meja yang cukup besar. Mereka berdiri seketika saat melihatku dan Akash masuk.
Akash menarik salah satu kursi dan mempersilhkanku duduk, sedangkan Akash duduk di kursi lain tak jauh dariku. Orang-orang di sana baru duduk kembali setelah melihat Akash duduk. Sungguh, ini semua seperti di dalam film saja.
Selama rapat berlangsung, tak ada satu pun pembahasan mereka yang aku mengerti. Aku mulai bosan dan mengantuk. Baru aku mengeluarkan ponsel dari saku, Akash mendelik ke arahku dan menggerakkan alisnya.
Aku benar-benar jenuh. Akash pun melarangku memainkan ponsel. Aku menutup mulutku dan menguap pelan.
Kulihat Akash meraih botol air mineral dan menyodorkannya ke arahku. Aku meminumnya berharap rasa kantuk ini pergi, tapi nihil. Mataku malah semakin berat. Air dingin itu sama sekali tak berpengaruh padaku.
Aku melipat tangan di dada, saat menoleh ke arah kanan aku baru sadar ternyata Reza duduk tepat di sampingku.
"Apa Anda baik-baik saja, bu?" tanya Reza.
"Aku ngantuk," jawabku seraya kembali menunduk.
Beberapa menit berlalu. Kelopak mataku semakin berat saja dan tak bisa di tahan. Baru saja akan terlelap, tapi ku rasakan badanku oleng ke sebelah kiri.
"Maya!"
Kudengar seseorang menyebut namaku dan kurasakan badanku terkantuk sesuatu.
***