Maya Adisti

Maya Adisti
Untukmu



Lagi, jika Akash tidur bersamaku aku pasti tidak bisa tidur. Gara-gara kelakuan Akash aku jadi lebih waspada. Aku takut pria itu macam-macam saat aku tidur. sejujurnya bukan tak ingin, tapi aku tidak mau menjadi orang bodoh dan melanggar kontrak.


Aku menggeser tubuh Akash lalu segera membersihkan diri. Saat sudah berpakaian kulihat jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Aku memutuskan keluar dari apartemen, jenuh sekali jika hanya diam.


Aku menaiki angkot yang melintas di depan hotel menuju pasar tradisional. Aku ingin sekali memasak, bosan dengan makanan restoran rasanya begitu-begitu saja.


Aku membeli cukup banyak bahan makanan agar aku tidak harus bolak-balik ke pasar. Sudah ku putuskan, mualai hari ini aku akan memasak setiap hari. Toh pekerjaan rumahku tidak banyak, hanya membereskan tempat tidur saja.


Saat aku kembali ke apartemen, Akash masih terlelap. Apakah setiap bos bersikap seperti ini? Bebas masuk kantor jam berapa pun semaunya?


Aku mengeluarkan toples-toples yang ada di lemari, menyusun semua belanjaanku pada toples tersebut lalu menyimpannya di lemari es. Aku menyisakan beberapa bahan untuk dimasak pagi ini.


Bosan dengan suasana yang hening, aku menyetel lagu dari speaker ruang tamu dan mulai memasak. Tak banyak menu yang aku buat karena aku pun tidak tahu apakah Akash akan menyukainya atau tidak.


"Hmmm, berisik sekali." Tiba-tiba Akash memelukku dari belakang dan menyesap leherku pelan.


"Dasar kebo! Lihat ini udah jam berapa. kamu gak akan ke kantor?" tanyaku seraya memukul pelan tangannya.


"Aku malas, mau di sini saja." Akash semakin mengeratkan pelukannya.


"Kamu mau masakanku gosong Akash? Mandi sana, kau bau!"


Akash mengalah, ia melepaskan pelukannya lalu menjauh. Saat aku menoleh dia kembali ke kamar. Seteah itu kudengar pintu kamar mandi yang ditutup.


Saat aku selesai mencuci piring, Akash duduk di meja makan. Dia memandangi semua masakan yang aku buat.


"Kenapa? Kamu gak suka semua ini?" tanyaku.


"Aku bisa memakan apapun termasuk kamu," jawab Akash.


Aku memutar mata, bisa-bisanya dia berkata seperti itu pagi-pagi. Dasar mesum!


Akash mengangguk-angguk saat makan. "Enak," katanya.


"Kamu mau aku masakin tiap hari?" tawarku.


"Boleh, kalau kamu tidak keberatan."


"Baiklah. Kalau aku tidak malas, pasti aku masak. Aku sudah membeli bahan-bahannya di pasar tadi," jelasku.


"Kau ke pasar?"


Aku mengangguk lalu beranjak membuka kulkas. Menunjukkan apa yang sudah aku beli. Pria itu mengacungkan jempolnya seraya menyuap.


"Maya, kenapa matamu hitam begitu? Apa kamu tidak tidur semalam?"


"Bagaimana aku bisa tidur kalau Ranbir Kapoor sialan ini terus saja memelukku," keluhku.


"Kau! Kau menyebutku sialan?"


Aku tertawa melihat ekspresinya yang dibuat seolah-olah sedang Marah.


"kau tidak bisa tidur karena aku memelukmu atau karena apa yang kita lakukan sebelum tidur?" tanya Akash jahil.


"Dua-duanya Akash."


Tawa kami pun menggema. Selesai makan, Akash membantuku mencuci piring. Aku memperhatikannya dari meja makan. Ah, siapa yang bisa membuat Tuan Direktur ini mencuci piring, sepertinya hanya aku.


"Akash," panggilku.


"Iya, Maya?"


"Boleh aku pergi ke distro? Sepertinya oleh-oleh kita dari swiss masih ada. Aku ingin memberikannya pada Nia dan A Agung."


"Tidak Maya, hari ini aku sibuk di kantor sampai malam. Kamu di sini saja ya?" Akash berbalik dan melipat tangannya di dada.


"Aku bosan di sini terus Akash. Skripsiku saja sudah kamu urus. Aku benar-benar pengangguran sekarang." Aku memasang wajah paling menyedihkan agar Akash merasa iba.


"Yasudah, aku akan menyuruh seseorang mengantarmu."


"Aku naik angkutan umum saja. Aku tidak nyaman pergi dengan orang lain. Apalagi jika dia harus menunggu. Gak enak aku," tolakku.


"Kan memang kerjaannya kaya gitu Maya."


"Gak mau." Aku bersikukuh menolak. Kulihat Akash tengah berpikir sejenak lalu menghembuskan napas panjang.


"Kau punya motor?"


"Tentu, tapi aku jarang memakainya. Kapan kamu berangkat?"


"Sekarang boleh? Kan aku gak tahu motornya yang mana. Kamu bisa tunjukin dulu," jawabku cepat.


"Ganti baju sana! Masa naik motor pakai dress begitu?"


Tanpa banyak protes, aku bergegas berganti baju. Memakai celana jeans dan kaos lengan pendek juga jaket. Aku tak membawa apapun. Ponsel dan dompet aku masukkan ke saku jaket.


Saat sedang mengikat rambut, Akash masukke kamar. Ia mengambil tas dan juga jasnya. Ia memandangku dari atas ke bawah lalu menggelengkan kepala. Sungguh aku merasa jati diriku kembali. Perbedaannya hanya aku tak lagi memakai pakaian lusuh seperti dulu.


"Serius? Kamu mau pakai serba hitam begitu?" tanya Akash.


"Memang kenapa?" Aku memasukkan rokok dan pemantik ke saku jaket.


"Kemarikan," ucap Akash dingin.


"Apa?" Aku pura-pura tidak mengerti.


Akash membuka resleting saku lalu mengambil rokok dan pemantik dari sana. Aku tak bisa mengelak. Toh aku bisa beli lagi nanti. Akash mengacungkan kedua benda itu di depan wajahku seraya memandangku dengan tatapan tidak suka. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


"Ayo capat, aku sudah terlambat." Akash berlalu, sedangkan aku mengikutinya dari belakang.


Saat keluar apartemen kulihat semua staf yang sedang bekerja memperhatikanku. Aku tidak mengerti mengapa mereka seperti itu. Aku dan Akash masuk ke dalam lift lalu menuju ke bassement.


"Kenapa semua orang lihat aku kaya gitu? emang ada yang aneh?" gumamku.


Dari pintu pantulan pintu lift iba-tiba aku melihat raut wajah Akash berubah. Spontan aku menoleh ke arahnya.


"Kenapa?" tanyaku.


"Berbalik."


Aku menurut sambil menoleh ke belakang. Kulihat Akash melepas handtag pada jaket dan celanaku. Tawaku seketika lepas begitu saja.


"Dasar bodoh!" umpat Akash.


"Kamu juga gak sadar kan? Sama-sama bodoh gak usah teriak bodoh!" jawabku seraya tertawa.


Pintu lift terbuka, Akash mengelus kepalaku sambil tersenyum lalu berjalan lebih dulu. Aku berjalan mengikutinya. Saat melewati mobilnya Akash menyimpan tasnya di jok belakang lalu menggenggam tanganku berajalan ke arah lain.


Pria itu mendekati sebuah kendaraan yang ditutup oleh sebuah cover warna hitam.


"Kamu bisa motor besar?" tanya Akash.


"Pernah bawa punya teman, memang kenapa?"


Tanpa menjawab pertanyaanku Akash membuka cover tersebut dan merapikannya. Aku membelalakkan mata tak percaya dengan yang aku lihat. Pria itu menyerahkan helm padaku, namun aku tetap berdiri mematung.


"Tolong pegang, May."


Aku meraih helm tersebut dengam mata yang tak lepas dari motor, ini luar biasa. Akash menyalakan motor tersebut, deru mesinnya menggema di seluruh bassement. Kulihat dia mengecek motor tersebut.


"Masih bagus. Terakhir aku pakai sebelum kita menikah, tapi bensinnya tinggal setengah. Kamu isi ya nanti?" ujar Akash.


"Hah?" Aku menoleh ke arahnya.


"Kamu dengerin aku gak? Nanti isi sendiri bensinnya. Kamu kenapa May?"


"Akash, kamu beneran ngijinin aku pakai ini?" tanyaku memasikan.


"Iya, kenapa? kalau kamu gak bisa aku panggilin supir."


"Bisa! Aku bisa kok! Astaga, mimpi apa aku?" Aku melangkah memeluk motor tersebut. Aku senang sekaligus terkejut sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Kucium motor tersebut beberapa kali.


"Kamu suka?" Akash menggelengkan kepalanya melihat kelakuanku. Aku megangguk cepat. Aku bukan pecinta motor, tapi diizinkan membawa motor sekeren ini siapa yang akan menolak?


"Yasudah, buatmu saja. Nanti aku urus surat-suratnya."


"Hah!?"


***