Maya Adisti

Maya Adisti
Pulang



Aku membuka mata dan mengerjap, kuedarkan pandangan ke sekeliling ternyata aku masih ada di kamar mandi. Setelah duduk dengan tegap aku baru menyadari air di bathtub yang kugunakan sudah tak lagi hangat. Entah berapa lama aku tertidur saat berendam.


Saat keluar dari bathtub kurasakan jari-jari tanganku sudah mengeriput, dengan santai aku meraih handuk dan bathrobe. Kalau bukan suara Akash yang sejak tadi menggedor-gedor pintu mungkin aku tak akan bangun.


Setelah mengeringkan rambut aku membuka pintu kamar mandi. Kudapati Akash yang berdiri cemas tak jauh dari pintu.


"Syukurlah kau sudah keluar."


"Jangan berlebihan, aku hanya berendam," jawabku.


"Bagaimana mabukmu?" tanya Akash.


"Sepertinya membaik, aku ketiduran di dalam." Aku duduk di salah satu kursi dan meraih piring berisi makanan. Nampaknya Akash juga belum sarapan.


"Pakai bajumu dulu May, baru makan," protes Akash yang bergerak duduk di sampingku.


"Kenapa? Aku lapar, lagian bathrobe ini sama sekali tidak seksi." Aku mulai menyuapkan makanan.


Ini tidak benar, jika aku terus berada di sini dan satu kamar dengan Akash bisa-bisa pria itu tidak bisa menahan diri. Baru tidur satu ranjang dua kali saja ucapannya sudah ngawur ke mana-mana.


Apa katanya tadi? Melupakan Ruth?


Omong kosong apa itu?


Kemarin-kemarin dia yang sangat bersemangat ingin mencari wanita sialan itu. Cepat sekali dia berubah pikiran. Apa laki-laki memang seplin-plan itu?


"Ada apa?" tanya Akash.


Aku menarik napas panjang. "Aku mau pulang. Hari ini juga."


"Apa!? Kenapa? Bukankah kau sangat menikmati liburan ini?" Akash nampak terkejut.


"Memang, tapi sepertinya lebih cepat pulang lebih baik. Aku tidak mau terus-terusan satu kamar denganmu." Aku menympan piring yang sudah kosong di atas meja.


"Tapi kita belum mengunjungi tempat lain. Kalau kamu keberatan satu kamar denganku, aku bisa memesan kamar lagi."


"Tidak usah Akash, buang-buang uang. Kita pulang saja lalu kita selesaikan semua masalah ini." Aku beranjak lalu berjongkok di depan koper yang terbuka.


"Kau tidak menyukaiku Maya?"


Aku menghela napas panjang. Ingin rasanya aku teriak bahwa aku pun menyukainya, tapi otakku masih berfungsi dengan baik. Ini hanya perasaan suka bukan cinta. Lagi pula aku tidak ingin gegabah. Jika aku menuruti hati dan perasaanku, bisa-bisa aku kehilangan sumber uangku.


"Untung di dia," batinku.


"May?" Akash kembali memanggilku.


"Hmm?" Aku berbalik.


"Kau belum menjawab pertanyaanku."


Aku tersenyum. "Kita berteman, benar? Tidak mungkin aku menjadikan musuh atau orang yang aku tidak suka sebagai teman bukan?"


"Jadi kau benar-benar ingin pulang?" Akash kembali memastikan.


"Baiklah, aku akan menemui Paul di bawah."


Akash keluar dari kamar, aku duduk di pinggiran ranjang. Sebenarnya aku masih mau di sini. Bukankah seharunya aku bahagia? Dengan Akash yang ingin membuat hubungan ini menjadi jauh lebih baik, bukankah itu sebuah kemajuan? Bahkan keuutungan?


Bagaimana tidak?


Menjadi istri pria kaya raya, tampan adalah impian semua perempuan, tapi mendengar kata cinta dari Akash, bukannya senang aku malah takut. Orang kaya selalu bisa berbuat apapun dengan uang mereka.


Aku bergegas berpakaian lalu duduk di balkon. Menikmati sisa-sia waktuku di sini. Kapan lagi aku bisa ke luar negeri? Bahkan setelah hubunganku dan Akash berakhir pun rasanya tidak mungkin.


Kudengar pintu kamar terbuka, sepertinya Akash sudah kembali.


"Maya aku tidak bisa menemukan tiket penerbangan hari ini. Kita pulang besok saja." Akash tiba-tiba berdiri di sampingku. Aku mengangguk.


"Mau ke mana hari ini?" sambungnya.


"Aku gak mau ke mana-mana, bagaimana kalau kita keliling hotel saja?" tawarku.


Akash mengangguk, ia masuk lalu sibuk dengan ponselnya. Bosan hanya duduk di balkon akhirnya aku merebahkan diri kembali di ranjang. Ku lihat Akash menoleh padaku sekilas lalu kembali fokus pada ponselnya.


***


Tak banyak aktifitas yang kulakukan di hotel. Ah, ingin rasanya aku hidup seperti ini setiap hari. Segalanya sudah tersedia, ada yang kurang pun tinggal angkat telpon lalu yang diinginkan akan datang sendiri.


Rasa lelah dan penat akan kehidupan yang aku jalani beberapa tahun ini tiba-tiba menyeruak keluar. Baru aku ingat, aku tidak pernah membiarkan tubuhku bersantai seperti ini. Andai ibu juga di sini dan menikmati semua. Pasti perempuan itu jauh lebih lelah dariku.


"May, kau mau makan siang?"


"Kau bosan Akash?" tanyaku tanpa menoleh kepadanya.


"Ya. Seharian di kamar membuat kepalaku pusing."


Aku menoleh ke arahnya, andai dia tahu sesuatu hari nanti hal-hal membosankan itulah yang akan dia rindukan.


"Yasudah, ayo makan siang." Aku beranjak dari kasur lalu menyisir rambutku.


Selanjutnya yang aku dan Akash lakukan adalah pergi dari kamar. Aku mengitari berbagai sudut hotel yang ternyata indah sekali. Aku mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan.


Langkah kami berhendi di restoran, kami mengambil tempat dekat kolam renang. Suasana cukup ramai, aku mengamati setiap tingkah orang-orang yang ada di sana. Rasanya seperti melihat sisi lain potongan-potongan kehidupan.


"Kau tidak apa-apa Maya?" tanya Akash sambil menghabiskan makanannya.


"Memang kenapa?"


"Kamu banyak melamun hari ini, ada apa?"


"Semuanya baik-baik saja Akash, aku hanya sedang merekam dengan baik suasana hotel ini. Membuat sebuah kenangan," jelasku.


Ku lihat Akash tertawa kecil.


"Apa itu terdengar lucu?" tanyaku.


"Ya. Kau memang aneh," jawabnya.


Aku tidak menjawab lagi. Biarkan saja Akash berpikir seperti itu. Bagiku membuat kenangan bukan hanya dengan membuat banyak foto. Kenangan berupa pikiran dan perasaan lebih berharga dari pada sebuah gambar.


***


Keesokan harinya aku sengaja memakai pakaian yang kami beli di Bhanhostrasse, setidaknya dengan cara ini aku tidak membuat Akash merasa mengeluarkan uangnya dengan percuma.


Tadi pagi kami menyempatkan berjalan-jalan kembali di daerah luar hotel. Menunggu fajar menyingsing sambil berjalan melihat pemandangan kota bersama teman, mengobrol banyak hal rasanya cukup menyenangkan dari pada harus ke sana ke mari dengan pemandu wisata.


Paul menjemput kami tepat sesudah makan siang. Dia membantu Akash membawa koper-koper kami ke mobil. Beberapa kali kudengar Paul sangat menyayangkan kepulangan kami yang sangat mendadak.


Padahal menurutnya dia dan Akash sudah berencana membawaku pergi ke Diavolleza. Katanya sih ada salju di sana, tapi mendengar lama perjalanannya aku bersyukur memutuskan untuk pulang.


Di bandara, Akash mengajakku berbelanja ke beberapa toko. Membeli beberapa oleh-oleh yang tidak sempat kami cari. Aku tidak mengerti produk-produk apa yang dijual di sini. Ku biarkan saja Akash mengambil apapun yang dia mau.


"Belikan untuk ibu, Nia dan A Agung ya?" pintaku pada Akash.


"Apa segini cukup? Kita bisa membaginya nanti di rumah." Akash memperlihatkan keranjang belanjaannya.


"Sepertinya cukup," jawabku.


Setelah membayar kami menuju ke lounge dan tak lama kemudian menuju pesawat. Menurut Akash perjalanan pulang kali ini jauh lebih lama dari pada saat berangkat karena kami menaiki maskapai yang berbeda.


Kami transit di Dubai sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Indonesia. Sungguh perjalanan yang teramat sangat melelahkan. Saat tiba di bandara Indonesia rasanya semua sendiku sudah patah semua.


Ternyata aku dan Akash sudah ditunggu jemputan. Aku tidak tahu kapan Akash menghubungi orang-orangnya. Pandanganku tertuju pada logo yang terdapat pada name tag pria berjas yang membukakan pintu. Aku mendekat memastikan logo perusahaan apa itu.


"Cepat masuk May!" Tiba-tiba Akash mengagetkanku.


Aku mendongak dan kulihat pria berjas itu bergerak dengan kikuk. Aku tersenyum lalu masuk ke mobil.


Akash duduk tepat di sampingku. Aku menoleh padanya.


"Sebenarnya dia bekerja di perusahaan apa? Kenapa bisa sekaya ini?" batinku.


Perjalanan terasa sangat lambat. Aku berusaha tidur namun tidak bisa. Akash yang melihatku sangat kelelahan memutuskan untuk berhenti beberapa kali di rest area. Ia terus saja menawarkan makan dan minum, tapi entah kenapa sejak turun dari pesawat aku kehilangan selera.


Aku merasa lega ketika mobil keluar dari jalan tol dan mulai menyusuri jalanan Kota Bandung. Tunggu, ada yang aneh. Ini bukan jalan menuju apartemen Akash.


"Kita mau ke mana?" tanyaku pada Akash.


"Rumah ibu."


Jawaban Akash berhasil membuatku mematung.


***