Maya Adisti

Maya Adisti
Kecelakaan



#POVAkash


Aku mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Setelah mendengar kabar Maya kecelakaan, aku menunda semua pekerjaanku. Salahku mengizinkannya pergi membawa motor.


Saat tiba di rumah sakit ponselku berdering. Aku mengurungkan niat pergi ke ruang oprasi dan diam sejenak di lobi.


"Kau sudah urus semuanya?" tanyaku pada Reza.


"Sudah Pak, motornya rusak parah di sebelah kiri. Ibu Maya ditabrak oleh sebuah mobil bak berukuran cukup besar. Sopirnya sudah ada di kantor polisi untuk dimintai keterangan. Menurut sopir tersebut, ia tidak sengaja menabrak Ibu Maya karena Ibu Maya tiba-tiba muncul dengan kecepatan tinggi. Saya kirim video CCTVnya Pak," jelas Reza.


"Baiklah, urus semuanya sampai selesai."


"Bagaimana pelakunya Pak?" tanya Reza.


"Kumpulkan dulu bukti-bukti, kita tunggu keterangan Maya. Tahan dulu si pelaku sementara."


"Baik Pak." Reza memutuskan sambungan telepon.


Aku kembali bergegas menuju ruang oprasi. Setibanya di sana Ibu Mertua dan ibuku tengah menunggu dengan cemas.


"Sudah lama Maya di dalam, Bu?" tanyaku pada ibuku.


"Iya. Kamu ini gimana sih Akash, kok Maya dibiarkan pergi sendirian? Kamu kan bisa nyuruh sopir buat antar jemput Maya!" hardik ibuku.


"Maaf, Bu."


Satu jam kemudian seorang perawat keluar dan memintaku masuk, menemani Maya di ruang observasi. Hatiku rasanya tercabik-cabik melihat Maya tidak sadarkan diri. Salah satu kakinya dipasangkan gips. Tangan juga tak jauh beda. Banyak memar di wajah dan beberapa bagian yang lain.


Menurut penjelasan dokter, kaki dan tangan kanan Maya patah akibat hantaman yang sangat keras dan tertimpa benda berat. Dokter tersebut pun tahu Maya telah mengalami kecelakaan saat berkendara menggunakan motor besar. Maya juga mendapat luka di bagian kepala yang harus dijahit bebedapa jahitan.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Maya dibawa ke ruang rawat inap. Sengaja kupilihkan ruang VVIP agar Maya bisa tenang saat beristirahat.


Ibuku pulang setelah malam mulai larut, sedangkan Ibu Mertuaku menginap bersamaku. Aku tidak bisa tidur karena Maya belum sadar juga. Dini hari, aku memutuskan untuk kembali ke apartemen.


Bukan karena aku tidak berperasaan meninggalkan Maya begitu saja, namun Ibu Mertuaku yang bersikukuh memaksaku pulang untuk beristirahat. Sesampainya di apartemen, aku memasukan barang-barang yang Maya butuhkan. Mungkin ini maksud mertuaku memintaku pulang, ia segan memerintahku begitu saja.


Menunggu fajar tiba, aku menyelesaikan beberapa pekerjaanku lalu menyerahkan semuanya kepada Reza. Biar dia yang mengurus sisanya. Paginya, aku meminta staf membungkus beberapa makanan yang akan aku bawa ke rumah sakit.


Tepat pukul delapan pagi, mertuaku menelpon. Mengabari Maya sudah siuman. Aku tak membuang waktu lagi, segera aku berangkat ke rumah sakit.


Setibanya di ruang rawat inap aku mendapati Maya tengah makan disuapi oleh ibunya.


"Oy, Ranbir Kapoor!" Maya menyapaku dengan semangat seperti tidak terjadi apa-apa.


"Hus! Sama suami yang sopan!" tegur mertuaku pelan.


Aku mendecak kesal saat menyimpan barang yang kubawa sedikit kasar.


"Ibu sudah makan? Aku bawa maknan." Aku berjalan menuju ke arah Maya.


Ibu mertuaku menyingkir, ia segera membuka tootebag berisi makanan.


"Sudah makan Nak?" tanya Ibu Mertuaku.


"Sudah Bu."


Aku melipat kedua tanganku di atas dada. "Aku kan sudah bilang, jangan kebut-kebutan. Itu jalan raya Maya, bukan sirkuit balap. Sekarang lihat kaki dan tanganmu, sebentar lagi kamu sidang skripsi!" Aku tidak tahan untuk tidak mengomel pada Maya.


"Astaga Akash! Gak punya perasaan banget sih? Gak lihat ini? ini? ini? Sakit tahu!" Maya menunjuk-nunjuk bagian tubuhnya yang dibalut perban.


"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu bisa ada di sana? Itu bukan arah jalan pulang Maya." Aku menarik kursi dan duduk di sampingnya. Ku serahkan botol minum padanya.


"Aku gak tahu, gak ngerti. Ada mobil tiba-tiba ngikutin aku. Aku kabur, dia ngejar. Ya aku paniklah Akash, aku gak bisa mikir lagi. Ngegas aja, eh tau-taunya udah di sini," jelas Maya.


"Mobil apa? Ingat plat nomornya?" tanyaku menyelidik.


"Gak kepikiran sampai ke situ, aku gak tahu."


"Warna mobilnya?"


Aku terkejut dengan penuturan Maya. "Apakah mobil itu memang berniat jahat? Atau hanya perasaan Maya saja?" batinku.


"Kenapa kamu ada di sana? Memang mau ke mana?"


"Rumah Yash."


"Yash?" Aku mengerutkan kening.


Baru saja aku mengucapkan namanya. Tiba-tiba Yash muncul dari balik pintu. Dia menyalami mertuaku lalu mendekati kami.


"Yash, Bu. Sepupuku," ucapku pada ibu.


"Sarapan Nak Yash?" tawar ibu.


"Iya bu, terima kasih. Siapa?" bisik Yash padaku.


"Mertua. Bisa tolong jelaskan?"


"Maaf Maya, karenaku kamu jadi celaka begini," ucap Yash.


"Gak apa-apa Yash. Ini kecelakaan, bagaimana kabar Anin?" tanya Maya.


"Anin sudah baikan, dia ingin ikut ke mari tapi aku melarangnya. Maaf, Akash. Kemarin sore aku menelpon Maya dan memintanya datang, karena Anin terus-terusan menanyakan Maya," jelas Yash.


"Dari mana kamu tau nomor Maya? Kalian bertukar nomor?" Aku menatap tajam Yash.


"Dari dokumen rapat tempo hari saat ... Maya jatuh karena tidur."


"Ah sial! Jika ingat itu aku masih merasa kesal. Benar-benar memalukan!" gerutuku dalam hati. Bisa kulihat Yash menahan tawanya.


Cukup lama Yash menemani kami. Ia juga melaporkan beberapa pekerjaan. Aku tak menyangka dia akan datang sepagi ini.


Aku dan Yash menikmati secangkir kopi di kantor rumah sakit. Sebenarnya kami tidak terlalu dekat, hanya sebatas pekerjaan saja. Posisinya sebagai Direktur Keuangan tidak membuat kedekatan kami berubah, meski Yash kerap kali bolak-balik ke ruanganku saat bekerja.


"Yash, bisakah kau membantuku?" ucapku Serius.


Sepertinya aku harus melibatkan Yash dalam hal ini. Tidak ada anggota keluarga lain yang dapat aku andalkan. Tidak mungkin semua urusan diserahkan pada Reza, dia hanya sekretaris bukan asisten pribadi.


"Apa?"


"Tolong cari tahu orang yang mengikuti Maya sebelum kecelakaan." Aku menatap Yash dengan serius.


"Maya diikuti?"


"Menurut pengakuan Maya begitu, namun hasil rekaman cctv yang Reza berikan tidak kendaraan lain di belakang Maya. Bukankah kejadiannya di perempatan? Harusnya kita bisa melihat rekaman dari berbagai arah," jelasku.


"Reza? Sekretarismu itu?" Yash terlihat kaget.


"Tidak ada orang lain lagi yang bisa aku andalkan Yash. Terpaksa aku meminta Reza. Kalau kau mau mengurusnya, itu akan sangat terbantu."


"Baiklah, aku akan berusaha sebisaku. Boleh aku membawa Aninditha ke mari?" Yash menyesap kopi di gelasnya.


"Tentu saja. Asal dia sudah sembuh benar," jawabku.


"Tenang saja, aku sudah menemukan pengasuh yang baru untuk Anindhita. Kau tidak usah khawatir."


"Benarkah?" tanyaku memastikan.


Yash mengangguk. "Yah, meski Anin terus-terusan merengek ingin bertemu Maya, tapi sepertinya dia akan cepat beradaptasi dengan pengasuhnya. Sebaiknya kau mencari PA Akash, kau tidak bisa mengurusi segala sesuatu sendirian sekarang. Perhatianmu sudah terbagi pada Maya."


Yash benar.


"PA ya?" gumamku.


***