Maya Adisti

Maya Adisti
Anak Kecil



Aku mengerjapkan mata, saat kumenoleh yang pertama aku lihat adalah wajah kesal Akash. Astaga sepertinya aku terjatuh dan Akash menangkapku.


"Bisa-bisanya kamu tidur di saat seperti ini?" gerutu Akash dengan suara yang nyaris tidak terdengar.


"Maaf," ucapku lirih.


Akash membantuku duduk, perasaan aku hanya memejamkan mata tapi tidak benar-benar tidur. Aku membenarkan posisi duduk dan merapikan rambut. Jika ada cermin, wajahku saat ini pasti sudah merah karena malu.


"Za, tolong antarkan Maya ke ruang kerjaku. Sepertinya dia masih kelelahan," ucap Akash kepada Reza.


Aku menatapnya dan mminta kejelasan, tapi ia malah mengisyaratkan aku agr ikut bersama Reza. Mau tidak mau akhirnya aku menurut. Aku ke luar ruangan lalu berjalan di depan Reza. Sekretaris Akash itu menunjukkan jalan dengan sopan meggunakan tangan kananya.


"Apa Akash marah?" tanyaku pada Reza.


"Tidak Bu. semua orang diruangan itu sudah tahu Ibu dan Bapak baru saja pulang bulan madu," jelas Reza.


Reza membawaku naik ke lantai yang lebih tinggi lalu membukakan pintu salah satu ruangan.


"Silahkan istirahat di sini Bu." Reza menutup pintu asal. Ia sangat tergesa, mungkin ia takut tertinggal dalam rapat.


Aku merebahkan diri di sofa. Mencoba tidur, tapi kejadian di ruang rapat tadi benar-benar membuat kantukku enyah entah ke mana.


Aku membuka ransel dan menghidupkan laptopku. Beberapa buku pun aku keluarkan. Bisa bahaya jika Akash tahu aku di sini hanya malas-malasan dan tak mengerjakan apapun.


Asik dengan skripsiku, tak terasa waktu cepat berlalu. Tiba-tiba pintu yang tak tertutup rapat itu terbuka. Aku menoleh, ku kira Akash tapi setelah ku tunggu beberapa menit tidak ada seorang pun yang masuk.


Aku beranjak dan membuka pintu semakin lebar. Tak kusangka itu adalah seorang anak kecil, kutebak mungkin umurnya baru empat tahun tersenyum ke arahku. Aku terkejut dan yang pertama aku lakukan adalah menyentuh wajah anak itu. memastikan apakah dia manusia atau bukan.


"Siapa dia?" batinku.


Aku melongokkan kepala ke luar, tak ada siapapun. Bahkan meja kerja di samping pintu masuk pun kosong.


Aku pun berjongkok di depan anak itu dan memegang kedua bahunya.


"Hai nak, siapa namamu?"


"Anindhita Tante," jawab anak itu pelan.


Suaranya begitu lucu, ditambah wajahnya yang cantik membuat gadis itu sangat menggemaskan.


"Kenapa bisa ada di sini? Ke sini sama siapa?" Aku mengajak gadis kecil itu masuk dan duduk di sofa.


"Mau?" Aku menyodorkan satu bungkus coklat yang Akash beli di Zurich. Gadis itu mengangguk.


"Anin kok bisa ada di sini? Sama siapa?" Aku menyerahkan bungkus coklat yang sudah aku buka. Aku pun membuka bungkusan yang lain untuk diriku sendiri.


"Sama Papa," jawab Anindhita.


"Sekarang Papamu ke mana?"


Aninditha menggeleng. Aku termenung sesaat, jika ada di lantai ini berarti dia adalah anak atau kerabat salah satu petinggi perusahaan. Kata Reza lantai ini dihuni oleh orang-orang penting.


Anindhita duduk diam, dia memperhatikanku yang kembali sibuk dengan skripsi.


"Tante. Anin mau minum," pintanya dengan sopan.


"Sebentar ya?" Aku beranjak lalu meraih gelas yang tersedia di rak dekat dispenser dan mengisinya dengan air.


Aku menyerahkan gelas itu kepada Anin, sayup-sayup ku dengar suara Akash dari kejauhan. Benar saja, Akash masuk bersama dengan pria yang tidak aku kenal.


"Papa!"


Anindhita meletakkan gelas dan lari ke arah pria itu.


"Anin, kok ada di sini? sudah Papa bilang tunggu di ruangan Papa."


Wajah gadis itu berubah murung. Tiba-tiba Akash menggendongnya, hal itu sukses membuatku semakin terkejut.


"Hai Anin. Kau sudah berkenalan dengan Tante Maya sayang?" tanya Akash kepada gadis itu.


Anindhita mengangguk, padahal aku sama sekali belum sempat mengenalkan diri. Dasar bocah!


Akash dan pria asing itu mendekat ke arahku. Aku baru ingat pria itu ada di antara orang-orang yang duduk di ruang rapat.


"Kenalkan May, ini sepupuku Yash. Putera Paman Dhika dan ini keponakanku Anindhita," ucap Akash.


"Maya," ucapku seaya menjabat tangannya.


"Maafkan Anin jika sudah merepotkanmu. Aku belum mendapatkan pengasuh jadi terpaksa aku bawa ke kantor," ucap Yash.


"Tidak apa-apa, sepertinya Anin anak yang baik. Iya kan Anin?" Aku menatap gadis itu dan tersenyum tulus.


"Anindhita sedikit pendiam dan jarang berbicara Maya." Akash menurunkan gadis itu.


"Baiklah, aku akan kembali ke ruanganku. Ayo Anin?" Yash merentangkan tangannya, tapi tak disangka Anindhita malah sembunyi di belakangku.


Aku bingung tapi langsung berjongkok menghadap pada Anindhita.


"Kenapa?" tanyaku.


"Anin mau sama Tante Maya aja. Tante Maya punya coklat," ucap gadis itu sambil menunduk.


"Nanti kapan-kapan kita main ya? Sekarang ikut Papa dulu ya?" bujukku.


Anindhita mengangguk lalu ikut keluar bersama Yash.


"Wah? Kau apakan Anin sampai nurut begitu?" tanya Akash.


"Cuma dikasih coklat satu, memang kemana ibunya? Kenapa dibawa ke kantor?" tanyaku penasaran.


"Ibunya meninggal saat melahirkan Anindhita. Dia dibesarkan oleh Yash, Paman Dhika dan pengasuh. Pengasuhnya yang lama sudah habis kontrak, Yash belum menemukan pengasuh yang baru. Bagaimana skripsimu?"


"Masih belum selesai. Bimbingannya besok. Aku bisa menyelesaikannya nanti di apartemen." Aku mematikan laptopku.


"Baguslah, kalau gitu kita pergi ke kampusmu sekarang."


"Aku capek Akash," protesku.


***


Aku sudah berusaha keras minta pulang pada Akash, tapi pria itu tetap pada pendiriannya. Sesampainya di kampus kami lagsung menuju Gedung Rektorat. Akash sudah memberitahuku tujuan kami ke kampus adalah untuk melunasi semua tagihan yang menunggak.


Awalnya aku mnolak. Toh uang di kartu debit yang dia berikan padaku tempo hari sudah lebih dari cukup, tapi bukan Akash namanya jiga tidak seenaknya sendiri.


Sepanjang jalan aku berharap tidak bertemu dengan orang-orang yang ku kenal, namun sialnya teman-teman komunitas teaterku malah sedang berkumdul di samping Gedung Rekotrat.


Aku tidak bisa menghindar dari mereka, tapi melihat penampilanku yang berubah mereka jadi lebih banyak diam. Tidak serandom biasanya, hal itu membuatku merasa kikuk.


Yang paling menyebalkan adalah Akash. Dengan percaya diri memperkenalkan dirinya sebagai suamiku. Memang tidak ada yang salah, tapi aku tahu pengakuan Akash akan membuat beribu pertanyaan muncul di pikiran mereka. Apalagi gaya Akash yang terlihat perlente.


"Kapan mau ikut garapan lagi May?" tanya salah satu dari mereka.


"Maya tidak akan ikut terater lagi. Dia sudah harus fokus menyelesaikan kuliahnya agar tidak menganggur seperti kalian," jawab Akash penuh kesombongan.


Wajah teman-temanku pun berubah, sepertinya mereka marah tapi aku berusaha meminta mereka agar mengabaikan Akash dengan isyarat wajah.


Takut masalahnya lebih runyam, aku menarik Akash masuk dan menuju loket administrasi. Akhirnya tunggakan kuliahku lunas dengan sekejap.


"Terima kasih," ucapku setelah urusan kampus selesai dan kembali ke mobil.


Dari kampus kami tak langsung pulang, Akash mengajakku bertemu beberapa klien di beberapa tempat. Baru setelah matahari terbenam kami kembali ke apartemen.


"Kenapa kamu melibatkanku di setiap pertemuan bisnis?" Aku bertanya saat kami menyusuri lorong menuju unit paling atas hotel.


"Agar kamu bisa belajar May," jawab Akash.


"Pria itu benar, aku harus banyak belajar. Apalagi saat kontrak pernikahan ini berakhir dan mendapat uang banyak. Aku harus sudah bisa mengelolanya agar uang itu tak lenyap begitu saja.


Akash membuka kunci unit lalau masuk lebih dulu, namun baru aku akan masuk Akash menahan pintu tersebut.


"Buka Akash, aku mau masuk!" protesku seraya berusaha membuka pintu.


"Tidur di manapun kau suka Maya asal jangan ke luar dari gedung ini. Anggap saja ini hukuman karena kau tidur saat rapat." Akash bergegas menutup pintu, sedangkan aku hanya bisa menggedor karena lupa tidak membawa access card.


"Akash!" teriakku.


***