Maya Adisti

Maya Adisti
Sehari



Aku bergegas menuju lift, sepanjang lorong aku hanya berharap motor itu sudah diperbaiki dan ada di tempatnya. Jika tidak ada, aku berniat pergi ke kampus menggunakan angkutan umum. Ah, rasanya bahagia sekali bisa pergi sendirian.


Saat tiba di bassement mataku semakin berbinar, BMW S 1000 RR itu terparkir cantik di tempatnya. Tidak ada bekas-bekas kecelakaan, motor itu mulus seperti pertama kali aku melihatnya.


Tak kusangka Akash langsung memperbaiki motor ini. Aku naik ke atas motor dan langsung menyalakan mesin. Ku lihat indikator bahan bakar terisi penuh. Aku mengecek rem dan yang lainnya. Bagus.


Aku meraih ponselku lalu memfoto bagian dashboard motor dan mengirimkannya pada Akash via aplikasi chat.


[Aku pinjam sebentar. Mau ke kampus ngambil surat kelulusan,] tulisku dalam pesan.


Tanpa berpikir panjang lagi aku meninggalkan apartemen. Lega rasanya bisa melihat jalanan Kota Bandung, berbulan-bulan diam di kamar layaknya burung dalam sangkar benar-benar membuatku penat luar biasa.


Susah payah aku menahan diri untuk tidak melesat terlalu kencang karena saking senangnya. Kapan lagi aku bisa seperti ini? Aku lelah terlalu lama memainkan peran sebagai puteri dalam istana.


Aku sedikit cemas memikirkan bagaimana respon Akash tentang apa yang aku lakukan kali ini, namun aku yakin pria itu pasti paham. Anggap saja ini adalah hadiah kelulusanku, satu hari menjadi diri sendiri.


Di lampu merah Samsat Carefour aku berhenti. Matahari yang mulai tinggi membuat seluruh tubuhku terasa panas dan gerah. Ingin sekali aku melepas helm dan menyulut sebatang rokok.


Aku membuka kaca helm, saat asik memandangi sekitar seseorang menepuk lenganku agak keras.


"Ish, beneran gening. Maya!?"


"Eh, Brig!. Kirain siapa?" sahutku.


Dia Andri salah satu teman sekelasku yang biasa dipanggil Jabrig karena rambutnya yang panjang.


"Rek ka mana?"


"Ka kampus nyokot surat kelulusan," jawabku


"*Hayu*lah bareng. Mawa korek teu?" tanya Andri.


Aku pun menyerahkan pemantik padanya. Kulihat dia menyalakan sebatang roko, menghembuskan asapnya pelan. Terlihat kelegaan pada ekspresi wajah temanku itu.


"Kawin jeung CEO mah atuh udah gak ngerokok?" tanya Andri.


"Masih, tapi gak sering. Nya jang naon aing mamawa korek, Brig!" jawabku.


"Gaya May! Motorna ge duh! Bisa dong ya pinjem duit...," Andri tertawa lepas.


"Berisik!"


Selanjutnya aku dan Andri diam karena takut mengganggu pengendara lain. Traffict Light berubah hijau, Andri mengangguk padaku lalu melesat. Aku mengikutinya di belakang.


Jalanan cukup lengang setelah melewati perempatan Cileunyi-Sumedang. Aku menambah kecepatan, mencoba mensejajari Andri. Laki-laki itu salah satu teman dekatku. Dulu aku sering meminjam motor bersarnya jika motorku sedang pilek minta dielus-elus Kang Bengkel. Andri anak orang kaya, wajar kalau dia punya motor beberapa.


Aku dan Andri memasuki area kampus, angin sejuk khas kampusku mulai terasa. Dingin menyeruak saat memarkirkan motor dan melepas helm. Memang kampus ku ini sangatlah asri. Selain taman, banyak sekali pohon-pohon besar yang sengaja tidak ditebang.


"Hayu May!" ajak Andri. Aku mengikutinya memasuki Fakultas Ilmu Budaya.


Kami berdua menuju loket fakultas dan segera menyebutkan keperluan kami. Aku dan Andri sama-sama sidang kemarin.


"Untuk pengambilan ijazah kalian isi ini ya, minta tanda tangan pada setiap bagian." Staf Administrasi memberikan lembar penyerahan skripsi baik fisik maupun digital.


"Banyak banget," ucapku saat melihat kepada siapa saja skripsi harus diserahkan.


"Definisi buang duit May!" timpal Andri.


Beberapa saat kemudian staf tersebut menyerahkan dua buah amplop berisi surat kelulusan. Setelah memeriksanya aku dan Andri keluar fakultas.


"May!"


Aku menoleh ke arah pakiran yang tak jauh dari fakultas. Tepat di bawah pohon beringin beberapa teman-teman komunitas teaterku duduk di sana. Ada Romi, Robi, Muhsin, Lisna dan Echi. Mereka tengah menikmati semangkok chuanki. Seorang bapak-bapak dengan tanggungan berwarna silver duduk tak jauh dari mereka.


Aku mengajak Andri lalu bergabung dengan mereka.


"Chuanki May?" tawar Romi.


"Boleh, satu Mang. Pakein mie ya," ucapku pada Bapak Penjual Chuanki.


"Tah, ieu karak Maya! Kenal yang ini mah! Pakai celana levis, kaos, pakai jaket! Nu kamari mah saha? Teu wawuh!" ucap Robi.


"Nu kamari mah jurig jarian Bi!" timpal Echi.


"Traktir atuh May," rengek Lisna.


"Sok, aku yang bayar," jawabku


"Urang hayang jus ah, menta duit May!" Muhsin menyodorkan tangan kanannya padaku.


Aku mengeluarkan dompet dan memberinya selembar uang seratus ribu.


"Alpuket ya!" ucapku.


Sontak teman-teman yang lain menyebutkan pesanannya. Muhsin mengangguk lalu berlalu menuju gerbang yang tak jauh dari parkiran. Ada sebuah kedai jus di belakang kampus kami. Hal ini memang sering kami lakukan, saling mentraktir satu sama lain.


Setelah makanan kami habis aku mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jaket. Aku ambil rokok itu sebatang lalu mengangkat rokok itu agak tinggi sebagai isyarat bahwa rokok itu boleh diambil siapa pun.


Aku segera membayar makanan dan kembali duduk lalu mulai menyalakan pemantik.


"Beuh! Maya! Masih ngerokok? Era sia teh ku salaki! Suami kamu ngerokok gak?" tanya Echi.


"Ngga! Akash gak ngerokok, matak aing euweuh batur! Hulang-huleng sorangan mun ngarokok teh," keluhku.


Semua orang tertawa. Tak lama kemudian Muhsin kembali dengan membawa jus dan membagikannya. Kami pun mengobrol ke sana kemari. Kebanyakan yang kami bahas tentang persiapan garapan mereka yang akan dimulai sebentar lagi.


"Ikut yuk May! Garapan Lagi, gak rame gak ada kamu," ajak Echi.


"Udah blocking belum?" tanyaku pada Romi.


"Belum. Baru reading, berjalan aja sambil casting."


"Nahkah apa?" Aku semakin penasaran karena memang minatku pada teater sangat luar biasa.


"Rucah. Ceweknya kurang nih," jawab Romi.


"Bahasa Sunda?"


"Iya, kan ikut festival sejawa barat nanti di Rumentang Siang," Lisna menimpali.


Aku menghela napas panjang, ingin rasanya aku ikut mereka. Merasakan kembali hingar bingarnya pertunjukan. Menjadi bagian dari festival tahunan yang biasa aku ikuti entah itu jadi panitia atau peserta.


"Gak mungkin kayaknya. Akash gak akan ngijinin," jawabku seraya menyesap rokokku kembali.


Lama kami mengobrol sampai akhirnya Muhsin menyenggolku agak keras. Aku menoleh padanya karena heran.


"Itu! Mobil salaki kamu bukan tuh?" Muhsin menunjuk dengan ujung daguna.


Aku menoleh, benar saja. Aku tahu betul itu mobil Akash. Aku mematikan rokokku saat melihat Akash keluar dari pintu mobil bagian belakang. Aku mengernyit, saat dia membawa helm di tangannya dan berjalan ke arahku. Akash membiarkan mobilnya berlalu dibawa oleh sopir.


"Suami kamu gak kerja May? Kok jam segini ada di sini?" tanya Robi.


"Paeh aing!" umpatku pelan. Ku dengar teman-temanku menahan tawa. Sialan!


Akash berhenti di depanku dengan tatapan tajam.


"Where's your graduation letter?" tanya Akash.


Aku menyerahkan surat kelulusanku pada Akash. Pria itu memeriksa lalu memasukan surat itu ke dalam saku di balik jasnya.


"Are you smoking again?"


"Smoking Mister! Smoking! Habis satu bungkus!" jawab Romi.


"Gandeng kompor!" umpatku pada Romi. Masa iya aku ngerokok sebanyak itu?


"Ayo pulang!" Akash menarik tanganku, menjauh dari teman-temanku yang terkekeh-kekeh. Sial!


***