Maya Adisti

Maya Adisti
Sidang Skripsi



Beberapa bulan kemudian...


"Apa ibu benar-benar akan pulang?" tanyaku pada Ibu yang tengah mengemasi barang-barangnya.


"Tidak mungkin ibu terus-terusan ada di sini Maya, tak enak sama suamimu. Kondisimu juga sudah jauh lebih baik kan?"


Aku berjalan ke arah ibu. Dia benar, kesehatanku memang berkembang pesat. Aku sudah bisa beraktifitas tanpa menggunakan alat bantu lagi. Hanya tetap saja Akash masih membatasi ruang gerakku dan itu membuatku jenuh. Diam di apartemen sepanjang hari dan tak mengerjaan apapun membuat kepalaku rasanya mau pecah.


"Sudah selesai Bu?" Akash muncul di ambang pintu kamar. Dia sudah rapi memakai jas dan dasi.


"Kamu mau ke kantor?" tanyaku pada Akash.


"Setelah mengantar ibu tepatnnya," jawab Akash.


"Boleh aku jalan-jalan ke luar?"


"Tidak." Akash menatap tajam ke arahku.


"Ayolah Akash, aku bosan."


"Tunggu aku pulang, aku akan antar kamu ke mana pun yang kamu mau. Ayo Bu!" Akash mengambil tas milik ibu dan pergi lebih dulu.


"Jaga diri baik-baik ya?" Ibu mencium pucuk kepalaku lalu pergi menyusul Akash.


Aku menghela napas lalu meraih ponsel. Saat melihat tanggal aku baru teringat sidang skripsiku tinggal beberapa hari lagi. Cepat-cepat kubuka chat grup teman-teman kuliah memastikan tidak ada info perubahan jadwal.


Sebenarnya aku sudah melewatkan jadwal yang pertama. Beruntung kampus membuka pendaftaran sidang skripsi kloter dua. Akash mengurus semua hingga akhirnya aku bisa ikut sidang di kloter kali ini tanpa harus membayar administrasi lagi. Sungguh kebetulan yang menguntungkan.


Aku membawa laptop dan rokok serta beberapa buku dari lemari lalu duduk di balkon kamar. Lebih baik aku belajar dari pada bosan.


Kubaca satu demi satu bab yang sudah kutulis dan revisi yang Akah buat. Jauh sekali bedanya, sudah pasti tulisan Akash lebih bagus. Hal ini sempat membuatku khawatir, aku takut dosen pengujiku menyadarinya.


Beberapa kali aku mengeluh pada Akash tapi menurutnya tidak akan terjadi apa-apa. Toh sebenarnya Akash hanya merevisi bagian pendahuluan dan kajian teoritis. Ya memang, sumber bagian itu mudah sekali ditemukan di berbagai buku dan jurnal. Tiga bab terakhir tak ada yang Akash ubah.


Menunggu Akash pulang rasanya lama sekali. Entah berapa batang rokok yang aku habiskan hari ini. Segera aku membuang bekas-bekasnya, kalau tidak pria itu pasti marah-marah. Kesal menunggu akhirnya aku memutuskan membereskan rumah. Sekalian saja aku mengganti sprei dan selimut. Penciuman Akash itu terlalu sensitif.


Hari sudah mulai sore aku segera membersihkan diri lalu memasak. Aku tidak pernah melupakan janjiku untuk memasak. Hanya saja, sejak kecelakaan itu Akash selalu saja melarangku. Padahal aku bisa belajar banyak pada ibu, meski akhirnya aku hanya bisa memperhatikan. Aku Mencoba mengingat-ingat resep yang ibu masak sebisaku.


Saat masakanku hampir selesai kudengar suara pintu terbuka. Akash pulang dengan wajah yang sedikit kusut.


"Maya, kau masak?" tanya Akash.


"Iya," jawabku seraya tersenyum.


"Sudah kubilang kalau lapar pesan saja."


"Aku bosan Akash. Kamu mau istrimu ini tiba-tiba membeku karena terlalu banyak diam?" Aku berbalik, meneruskan pekerjaanku yang belum selesai.


Sekian detik kemudian aku baru tersadar dengan apa yang aku ucapkan.


"Sial kau Maya! Ngomong apa kamu ini?!" rutukku dalam hati. Semoga saja Akash tidak menyadari sikapku yang gelagapan.


Telingaku menangkap dengan jelas bagaimana Akash menyimpan tasnya sedikit kasar di atas sofa. Hal itu membuatku berdebaran tak karuan. Aku yang bicara tapi aku pula yang salah tingkah.


"Ish!" Aku melempar busa pencuci piring yang kupegang agak kasar ke westafel.


Aku mencuci tangan dan ketika berbalik, aku terkejut karena Akash sudah berdiri di belakang.


"Kenapa?" tanya Akash seraya tersenyum.


"Tidak apa-apa, aku lupa belum bawa piring buat makan," jawabku seraya bergerak menjauh, namun Akash menghentikanku dengan cara memegang ujung westafel dengan kedua tangannya.


"Katakan lagi. Aku suka itu," ucap Akash.


"Yang mana?" tanyaku pura-pura tak mengerti.


"Kau bilang, kau istriku."


***


"Kau cantik Maya, jangan ngaca terus nanti kita terlambat." Akash masuk lalu menarik tanganku ke luar kamar. Kulihat Akash berlalu lebih dulu.


Aku bergegas memakai sepatu dan menyusulnya keluar. Dia berdiri menenteng tas berisi satu bundelan skripsi milikku. Kami menyusuri lorong dan ketika sampai di lobi seorang staf menyerahkan kunci mobil kepada Akash.


"Terima kasih," ujar Akash dan dijawab dengan anggukan oleh staf tersebut.


"Kamu mau nunggu atau ke kantor?" tanyaku saat mobil mulai menjauh dari kawasan hotel.


"Ke kantor."


Mendengar jawaban Akash hatiku agak sedikit kecewa, tapi dia benar. Dia tidak mungkin membuang waktunya begitu saja. Mengapa aku harus sedih?


"Kamu tidak keberatan kan?" Akash menoleh padaku sebelum ia kembali fokus pada jalan raya.


"Tidak, toh lama juga kan. Bisa seharian," jawabku.


"Nanti kalau sudah mau pengumuman, telpon aku."


Mobil Akash berhenti tepat di depan fakultas. Akash membuka pintu di sebelahku dari dalam. Aroma parfumnya semakin tercium dari dekat. Tak sadar aku tersenyum.


Baru saja aku hendak keluar tiba-tiba Akash menarikku. Ia mengecup keningku pelan. Hal itu membuatku sedikit terkejut dan mengerjap. Cepat-cepat aku menetralkan diri agar tidak terbawa perasaan.


Aku keluar. Menunggu sampai mobil Akash benar-benar menghilang, namun baru saja mobil itu bergerak teman-temanku berlarian ke arahku. Baiklah, saatnya menghabiskan waktu untuk diriku sendiri.


Setelah mengikuti acara pembukaan aku dan beberapa teman menunggu di lobi fakultas. Saat memandang ke sekitar yang ada hanya orang-orang yang tengah membolak-balik lembar skripsinya. Tak sedikit dari mereka tengah menghapal, sedangkan aku? Bingung bagian mana yang harus kubaca.


Waktu berjalan cepat, entah sudah berapa orang yang keluar masuk ruang dosen. Akhirnya namaku dipanggil juga. Awalnya aku memang santai, tapi ketika masuk ruangan nyaliku sedikit menciut.


Tiga orang penguji duduk di belakang meja dengan serius. Di depan mereka terdapat satu meja dengan proyektor yang sedang menyala.


"Oh, begini rasanya sidang skripsi? Apa bedanya dengan presentasi?" batinku.


Menyadari hal itu perlahan rasa gugupku menguap. Aku bisa menyelesaikan penjelasanku dan menjawab pertanyaan-pertanyaan penguji dengan baik.


Aku menunggu waktu yudisium di kantin kampus bersama teman-temanku, tapi yang kulakukan hanya mengecek ponselku berkali-kali. Tidak ada pesan dari Akash di sana. Dia bahkan tidak bertanya apakah proses sidang skripsiku berjalan lancar atau tidak.


Menjelang sore, semua mahasiswa tingkat akhir berkumpul di aula fakultas untuk pengumuman kelulusan dan yudisium. Ditengah acara, diam-diam aku menelpon Akash namun tak dia angkat.


[Acaranya sudah hampir selesai, Akash. Kamu jadi menjemputku atau tidak?] tulisku dalam pesan.


Fokusku segera teralihkan pada pengumuman nama-nama mahasiswa yang lulus hari ini. Suasana yang tadinya hening menjadi riuh saat satu persatu nama disebutkan.


"Maya Adisti."


Aku bersyukur dalam hati saat namaku disebutkan. Akhirnya setelah satu setengah tahun bergelut dengan skripsi dan kehidupan, aku lulus juga.


Acara telah selesai, semua mahasiswa keluar dari aula. Mereka disambut oleh keluarga dan kerabat mereka. Gemuruh tawa riang dan tangisan haru memenuhi fakultas. Kuamati wajah bahagia temanku satu persatu.


"May! Sini foto!" teriak salah satu temanku.


Aku menghampiri mereka dan bergabung dalam beberapa jepretan.


"Suamimu gak ke sini May?" tanya temanku.


"Katanya nanti jemput," jawabku.


"Sibuk ya May? Kan Direktur!"


Aku tidak menjawab, mungkin memang hari ini Akash sibuk. Aku berjalan keluar. Mencoba menghirup oksigen banyak-banyak karena di dalam fakultas terlalu banyak orang. Naas, di luar pun sama saja.


"Maya!"


***