Maya Adisti

Maya Adisti
Pengakuan



"Aku mencintaimu Maya."


Aku membisu. Seluruh sarafku membeku. Akash menatapku sangat dalam. Ada binar yang berbeda di matanya. Lagi, dia mengecupku dengan lembut sampai akhirnya bunyi klakson mobil mengagetkan kami.


"Akash. kita lagi di jalan," Aku mendorong dadanya pelan. Ia pun menjauh lalu kembali ke posisinya.


Akash kembali memegang kemudi, bisa kulihat dia tersenyum bahagia. Kenapa? karena aku tidak menolak sentuhannya?


Aneh, Akash sama sekali tidak peduli dengan jawabanku. Ah, dia tidak menanyakan apapun. Jadi, apa sekarang statusku dan Akash sudah naik satu level?


Biarlah Akash menganggap hubungan ini apa. Aku tetap tidak akan melanggar isi kontrak itu untuk jaga-jaga. Kontrak itu masih berlaku karena aku tidak akan pernah menyetujui jika kontrak itu berakhir begitu saja.


Ah, Akash. Andai hubungan kita dimulai dengan cara yang berbeda. Mungkin aku akan dengan senang hati menerima kata cintamu. Baiklah, mari kita lihat. Apa dia sungguh-sungguh?


Mobil Akash berhenti di depan kantor. Dari jauh aku lihat Reza berjalan tergesa menghampiri Akash. Dia bebisik pada Akash.


"Kamu tunggu di ruanganku Maya." Akash memegang pipiku lalu pergi setelah aku mengangguk.


Aku mengedarkan pandangan ke seluruh lobi, tak ada yang menarik. Aku berjalan menuju lift tapi samar-samar aku mendengar suara dua orang perempuan sedang bertengkar.


"Seperti suara ibunya Akash," pikirku.


Aku berjalan pelan mengikuti arah suara. Kudengar ibu memaki seseorang. Aku hampir sampai menemukan ibu. Bisa kulihat punggungnya yang bergerak-gerak.


"Ibu bicara pada siapa?" batinku.


Aku kembali berjalan, tapi tiba-tiba seseorang menarik-narik bajuku.


"Anin?" Aku berbalik dan mendapati Anindhita berada tak jauh di belakangku. Gadis itu tersenyum.


"Ya Tuhan, apa ayahnya masih belum mendapatkan pengasuh?" Aku celingukan karena tidak mendapati Yash atau orang lain di sekitar sini.


"Anin sama siapa ke sini?" tanyaku.


"Papa."


"Mana papamu?" tanyaku lagi. Anindhita menggeleng.


Aku menghela napas, bisa-bisanya Yash meninggalkan anaknya sendiran. Aku menggenggam tangan Anindhita lalu mengajaknya pergi.


"Anin, apa kamu lapar?"


Anindhita mengangguk. Aku pun membawanya menuju kantin.


"Anin mau makan apa?"


Tak kunjung memilih, akhirnya aku menunjuk beberapa makanan yang sekiranya Anindhita suka. Aku mendengus kesal dan menggaruk kepala yang tak gatal karna Anindhita terus saja menggeleng.


"Ni anak katanya lapar tapi segala gak mau," batinku.


"Bu sop iga aja satu sama nasi ya." Akhirnya aku memesan untukku sendiri.


Aku duduk di salah satu kursi dan Anindhita duduk di sampingku. Benar kata Akash, Anindhita sangat pendiam. Ia ingin bersamaku tapi malah asik sendiri. Kadang melihat jendela, memainkan tisu, tusuk gigi atau mengamati sekitar. Dia sama sekali tidak mengajakku bicara.


"Anin, umurnya berapa tahun?" tanyaku.


Anindhita menjawab dengan menunjukkan angka empat dengan jarinya. Mataku tertuju pada sebelah tangan gadis itu yang sejak tadi memegang bajuku.


Makananku datang, karena sudah lapar sekali aku pun mulai menyantapnya. Anindhita diam, tiba-tiba aku merasa risih karena Anindhita memperhatikanku terus menerus.


"Anin mau?" tawarku.


Gadis itu mengangguk. Aku menggeser piring dan mangkokku ke hadapan Anindhita. Bukannya makan gadis itu malah kembali memandangku dan mengerjapkan mata.


Aku mengambil sendok dan menyodorkan makanan ke mulut Anindhita. Ajaib, dia membuka mulutnya.


"Bilang kek kalau mau disuapin," gerutuku dalam hati.


Aku tersenyum, Anindhita makan lahap sekali. Yah, meski sebenarnya yang jadi korban adalah lambungku yang kelaparan.


"Anin, papa cari kamu kemana-mana." Tiba-tiba Yash muncul dan menghampiri kami berdua.


"Wah, luar biasa!" Yash duduk di kursi seberang kami.


"Kenapa? Tadi Anin menghampiriku di lobi. Kirain papanya udah gak peduli lagi," sindirku.


"Anindhita itu susah makan. Pengasuh-pengasuhnya saja sampai kewalahan. Terima kasih sudah menjaga Anin. Ayok Anin, kita ke ruangan papa sekarang."


"Tunggulah sebentar. Kamu gak lihat anakmu ini lagi makan?" protesku.


Yash tersenyum. Aku merasa risih karena Yash terus saja memperhatikanku. Kulihat matanya sedikit berkaca-kaca.


"Tidak apa-apa. Aku hanya senang Anin makan tanpa drama."


Aku tak menjawab lagi, fokusku hanya pada Anindhita saja.


"Habis! Sekarang ikut papa ya?" bujukku.


"Tidak mau, aku mau sama tante Maya aja. Sama papa itu bosan," rengek Anindhita.


"Tante ada pekerjaan sama Om Akash. Kalau gak dikerjakan nanti Om Akash marah. Anin ikut papa dulu ya? Nanti kita main kapan-kapan," jelasku.


Anindhita mengangguk, ia beranjak lalu mendekati Yash. Pria itu pamit setelah berterima kasih berkali-kali. Setelah kepergian Yash, aku memesan kembali satu mangkuk sop iga dan juga nasi.


Baru beberapa suap Akash datang dan duduk di depanku.


"Kau makan sebanyak ini?" tanya Akash.


"Aku baru makan? Kamu mau?" tawarku.


"Biar aku pesan sendiri saja." Akash bangkit dan pergi memesan makanan.


Tak lama ia kembali dengan dua buah minuman dingin di tangannya.


"Apa pelayan di sini lupa membersihkan meja? Kau bisa makan di meja yang lain Maya, di sini kotor." Akash memberi isyarat pada salah satu pelayan agar membereskan piring dan gelas kosong di sebelahku.


"Itu bekas Anin."


"Anin? Yash membawa anaknya lagi? Dia itu, sudah ku bilang titip saja ke daycare saat jam kerja. Kasihan Anin ditinggal terus," gerutu Akash.


"Kenapa Yash tidak mencari pengasuh?"


"Bukan tidak mencari, tapi dia saja yang terlalu banyak kriteria. Pilih-pilih cari pengasuh. Makanya belum dapat," jelas Akash.


"Kalau aku jadi pengasuh Anin gimana? Sepertinya Anin menyukaiku. Kan lumayan dapat gaji," usulku.


Akash tidak menjawab, ia membiarkan pelayan menyimpan makanannya di atas meja.


"Apa uang dariku kurang?" tanya Akash setelah pelayan itu pergi.


"Bukan begitu Akash. Aku jenuh kalau harus di rumah terus. Makan, tiduran, nonton tv, benar-benar seperti pengangguran." Aku menghabiskan suapan terakhir makananku.


"Fokus saja pada sidang skripsimu, jangan pikir yang lain dulu."


***


Senja menjelang malam, aku dan Akah baru tiba di apartemen. Aku menghempaskan tubuhku di sofa, lelah sekali rasanya.


"Mau aku siapkan air hangat?" tanya Akash.


"Ya, sepertinya berendam ide yang bagus. Kakiku pegal pakai heels terus. Sialan!"


"Lama-lama kau akan terbiasa Maya." Akash berlalu. Ku dengar gemericik suara air dari dalam kamar mandi.


Aku memejamkan mata, nyaman sekali rasanya bisa meluruskan pinggang. Akash yang kerja, kenapa aku yang kerepotan menemaninya ke sana ke sini?


Cukup lama aku menunggu Akash mengisi bathtub. Sampai tiba-tiba aku merasakan seseorang duduk di sampingku. Pasti Akas duduk di karpet. Benar saja, saat aku menoleh Akash sedang memperhatikanku.


"Akhir-akhir ini kamu sering tersenyum Akash," ucapku.


"Itu karena kau."


"Aku?" Aku mengerutkan kening.


Tiba-tiba ponsel Akash berdering. Ia mengambil ponselnya dari saku celana.


"Siapa?" tanyaku.


"Yash!"


"Angkat saja."


"Ada apa?" tanya Akash pada sepupunya.


Tiba-tiba Akash menyodorkan ponselnya padaku. Ragu-ragu aku menerimanya.


"Hallo, Yash?"


"Maya? Bisa kau bantu aku?" pinta Yash dari seberang panggilan. Suaranya terdengar panik.


***