
"Apa kita tidak bisa parkir di tempat lain?" protesku saat Akash memarkirkan mobilnya tepat di depan fakultas.
"Memang kenapa?"
Aku tidak menjawab, dari dalam mobil bisa aku lihat beberapa teman sekelasku berdiri tepat di depan pintu masuk. Aku mengurungkan niatku untuk turun.
"Akash, kita cari tempat parkir lain...," belum sempat aku menyelesaikan kalimatku. Akash keluar lalu berdiri tak jauh dari mobil.
Aku sedikit merasa lega, setidaknya Akash tidak membukakn pintu mobil untukku. Aku ke luar, dengan kondisi semua orang tengah fokus pada Akash.
"May!"
Aku menoleh ke samping, beberapa teman baikku menghampiri.
"May! Susah banget kamu dihubungi!" protes salah satu dari mereka.
"Maaf," jawabku.
Tiba-tiba mereka mengangguk pada Akash. Aku mengerutkan kening. kenapa mereka sesopan itu pada Akash?
"Kamu ke sini sama suami May? Ternyata aslinya lebih ganteng!"
Apa? Dari mana mereka tahu kalau Akash adalah suamiku?
"Ayo Maya. Pak Zay sudah menunggu." Akash mengulurkan tangannya padaku. Belum tanganku meraih tangannya tiba-tiba Akash menariknya.
Teman-temanku yang sedang mengobrol di depan pintu menyingkir. Aku menoleh pada mereka saat aku melewatinya. Mereka tetawa cekikikan. Entah apa yang mereka bicarakan.
Aku menunduk, malu menjadi pusat perhatian. Penampilan Akash benar-bear terlalu mencolok. Ia menanyakan letak ruang dosen kepada salah satu mahasiswa, sedangkan aku?
Aku sudah seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Harusnya aku yang menunjukkan di mana ruang dosen pada Akash, namun aku terlalu malu. Aku sudah seperti orang asing di sini.
Di depan pintu ruang dosen yang terbuka, Akash menyuruhku masuk lebih dulu. Terlihat Pak zay tengah duduk di salah satu sudut seraya memainkan ponsel. Aku menghampiri Pak Zay, sedangkan Akash duduk di kursi yang lain tak jauh dari tempat Pak Zay.
"Permisi Pak," ucapku pada pak Zay.
"Bimbingan? Gak tahu malu juga ya kamu. Masa suami disuruh nelpon dosen malam-malam. Mana skripsinya?"
Aku diam, malu dan tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Akash. Dari pada urusannya semakin panjang, aku menyerahkan lembaran-lembarn skripsiku pada Pak Zay. Kulihat dia membuka beberapa halaman lalu menyodorkannya kembali padaku.
"Revisi," ucap Pak Zay.
Sudah kuduga. Pasti seperti ini. Malas sekali aku bertemu dosen tua bangka ini. Benar-benar tidak jelas.
"Jadi begitu cara Anda bimbingan dengan mahasiswa? Berapa yang biasa mereka berikan? Apa dengan buah tangan saja cukup?" Tiba-tiba Akash beranjak dan mendekati kami.
"Siap kau? Bisa-bisanya berlagak congkak di sini?" jawab Pak Zay, kilatan emosi terlihat di matanya.
Akash menyerahkan kartu nama pada Pak Zay. Ku lihat raut wajah Pak zay berubah, ia melihat Akash dengan tatapan tidak percaya.
"Aku sudah memeriksa skripsi milik istriku. Sepertinya sudah tidak ada yang harus diperbaiki lagi. Baca dengan teliti. Apa mungkin kau menunggu Maya memberikan hal lain? Oh ya, putra sulungmu bekerja di salah satu hotel milik Praharsa bukan?" Akash menatap tajam penuh ancaman.
Aku terkesiap dengan apa yang dikatakan Akash. Dari mana dia tahu hal itu?
"Oh, itu. Anu–" Pak Zay nampak gelagapan.
Akash menggerakan alisnya. Meminta jawaban pasti dari pak zay.
"Jadi apa yang kau mau? Aku pasti memenuhinya agar dia cepat lulus dan tidak lagi dipersulit. Anda ingin apa Pak? Sebutkan saja. Mobil? Uang?" Akash berbicara sambil tersenyum miring. Sudah jelas pria itu sedang menyindir.
"Tidak, tidak. Skripsimu sudah bagus Maya. Kau boleh daftar sidang." Pak Zay mencari lembar ACC dan menandatanganinya. Ia tersenyu padaku dan Akash lalu pamit meninggalkan kami.
Aku memandang Akash meminta penjelasan, tapi pria itu hanya mengedikkan bahu. Beberapa dosen dan mahasiswa yang kebetulan ada di sana memperhatikan kami.
"Besok saja. Aku tidak membawa berkas-berkasnya." Aku membuka tasku, niatku ingin menyimpan kembali skripsiku, tapi ternyata aku malam menemukan berkas-berkas yang lain.
"Sudah kubilang, sana daftar sidang!"
"Kau menyiapkan ini untukku Akash?" tanyaku.
"Menurutmu?"' Pria itu meninggalkan ruangan. Aku mengikutinya di belakang.
Aku langsung menuju loket depan dan menyerahkan berkas-berkas yang deiperlukan untuk daftar sidang.
"Ini." Akash menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah saat staf adminisrasi menagih uang pendaftaran.
Setelah selesai, aku dan Akash kembali menuju mobil. Aku tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia. Aku menoleh pada Akash yang tengah sibuk menyetir.
"Jangan dilihatin terus. Nanti kamu jatuh cinta," gurau Akash.
Ah, Akash. Asal kau tahu, mungkin aku jatuh cinta sejak pertama kali aku melihatmu di kafe. Apa? Apa barusan?
Aku berdeham, mencoba menetralkan perasaan agar tidak terlihat salah tingkah. Akash ternyata tidak seperti yang aku bayangkan. Kukira selama pernikahan ini dia akan bersikap semena-mena. Ternyata tidak.
Ruth, wanita seperti apa yang tega mencampakkan laki-laki sebaik ini?
"Akash," panggilku.
"Hmmm...."
"Terima kasih."
"Berapa kali lagi kamu akan mengucapkan itu Maya? Bosan sekali aku mendengarnya," keluh Akash.
Aku diam. Akash mengacak rambutku pelan. Aku mematikan AC dan membuka kaca jendela.
"Mau merokok?" tanya Akash.
"Ya." Aku mengambil rokok dan pemantik dari tasku. Sepertinya ia lupa tidak membuangnya atau memang sengaja? Tidak mungkin dia tidak mengecek isi tasku.
Kulihat Akash tidak menghentikanku. Tumben sekali ia tidak protes dan berkata macam-macam.
"Hanya kali ini May. Terakhir. Setelah ini tidak ada rokok lagi."
"Kenapa? Aku tidak menyetujui apapun. Kau tidak bisa mengaturku," elakku.
"Setuju atau tidak kau harus terima. Aku sudah memutuskannya. Aku membatalkan kontrak pernikahan kita."
"Apa!? Jangan ngaco kamu Akash!" Aku mulai panik. Bagaimana bisa Akash memutuskan secara sepihak. Bagaimana dengan uang itu? Imbalannya?
Aku mendecak kesal. "Kau lupa Akash, kontrak hanya bisa berakhir jika kedua pihak menyetujuinya dan aku tidak setuju!"
Akash memberhentikan mobilnya secara mendadak. Membuatku hampir saja terkantuk dashboard.
"Akash! Kamu apa-apaan sih?"
Akash melepas sabuk pengamannya. Ia menarikku lebih dekat lalu dalam sepersekian detik ia menekan kepalaku dan menyentuhkan bibirnya padaku.
Aku terkesiap, otakku tiba-tiba terasa kosong. Setelah mencerna apa yang terjadi aku mendorong Akash. Melihat penolakan dariku Akash tidak tinggal diam. Dia mengeratkan pelukannya. Membuat gerakan-gerakan sensual yang membuat pikiranku semakin kacau.
Apa ini nyata? Dia menciumku!
"Akash...," ucapku lirih saat pagutan kami terlepas.
***