Maya Adisti

Maya Adisti
Menjaga Anin



Yash menutup panggilan. Aku menoleh pada Akash yang memasang wajah penuh pertanyaan.


"Antar aku ke rumah Yash."


"Apa? Kenapa?" Yash mengikutiku yang berjalan ke kamar dengan terburu-buru.


"Anin, sakit. Dia tidak mau makan." Aku mengambil setelan cenala dan kaos panjang.


Aku membuka dressku, tak sadar Akash sudah berdiri di belakang. Sudah kepalang tanggung terlihat aku mengganti bajuku dengan cepat.


"Kenapa malah bengong di situ?" tanyaku pada Akash yang mematung tanpa berkedip.


Akash berdeham, ia membuka lemari lalu mengambil pakaian. Baru ia berjalan sampai pintu Akash berbalik.


"Kamu gak akan mandi dulu?" tanya Akash.


"Nanti saja sepulang dari rumah Yash. Kalau kamu mau mandi aku tunggu, tapi jangan lama-lama," jelasku.


Kukira Akash akan pergi ke kamar mandi, nyatanya ia masuk ke ruang kerja dan menutup pintu. Saat ia keluar, ia sudah berganti pakaian meski masih tetap memakai kemeja dan celana panjang.


"Astaga Akah, kita mau ke rumah Yash. Bukan ke kantor." Aku menepuk keningku pelan.


Aku membuka lemari, mengambil celana jeans dan kaos lengan pendek lalu menyerahkannya pada Akash.


"Ganti," ucapku seraya mendorongnya kembali masuk ke ruang kerja dan menutup pintu.


Aku berjalan ke luar kamar, mengikat rambut lalu membuka kulkas. Saat aku menenggak botol air mineral, kulihat Akash keluar dari ruang kerja.


"Bagus. Ayo!" Aku mengacungkan jempol ke arah Akash.


Akash mengikutiku menuju bassement. Aksh membuka kunci mobil dari kejauhan. Membiarkanku masuk lebih dulu.


"Dari kapan kamu dekat dengan Yash?" tanya Akash sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Aku tidak dekat dengan Yash, tapi sepertinya Anindhita membutuhkanku. Kenapa? Cemburu?" ejekku.


Akash tidak menjawab. Sepanjang jalan aku memperhatikan deretan pedagang yang berjejer di pinggir jalan. Sejujurnya aku lapar.


"Aku akan memesan makanan, agar saat kita sampai kamu tinggal makan." Akash meraih ponselnya lalu sibuk dengan benda pipih itu. Lampu lalu lintas sedang merah, aku membiarkan Akash dan kembali menatap jalan raya.


Cukup jauh kami berkendara. Akash berhenti di sebuah gerbang sebuah rumah yang tertutup. Akash menekan klakson beberapa kali, seorang berpakaian hitam muncul lalu membukakan gerbang.


"Terima kasih Pak," ucap Akash.


Matahari sudah tenggelam. Aku terpana melihat rumah besar di depanku. Sepertinya luas rumah ini sama seperti rumah orang tua Akash.


"Apa ini rumah Paman Dhika?" tanyaku.


Akash keluar lalu membukakan pintu untukku. "Bukan, ini rumah Yash sendiri."


"Benarkah? Besar sekali. Apa mereka hanya tinggal berdua?"


"Tidak. Ada satu orang tukang kebun dan pembantu," jelas Akash.


"Sama aja itu. Mereka tinggal berdua," sergahku.


Akash menekan bel rumah, tak lama kemudian seorang wanita paruh baya membuka pintu dan mempersilahkan kami masuk.


"Akhirnya kamu datang May, ayo ikut aku." Yash yang baru menuruni setengah tangga rumahnya berseru. Aku yang sudah melihatnya dari sebelum ia berbicara pun mengikuti.


Kamar Anindhita terletak di lantai dua. Yash membuka pintu lalu mempersilahkanku masuk. Aku terkejut saat melihat Anindhita yang tertutup selimut. Aku menyingkapnya dan ternyata gadis itu memakai jaket juga. Aku tahu Anin tidak tidur.


Cepat-cepat aku membuka jaket gadis itu. Anindhita memberontak menolak sentuhanku seraya memejamkan matanya.


"Anin. Ini Tante. Om Akash juga ada di sini," bujukku.


Anindhita membuka matanya, ia melirik ke arah pintu. Aku mengikuti arah matanya. Gadis itu tersenyum kepada Akash dan ayahnya. Anindhita tidak lagi menolak saat aku membuka jaketnya.


"Anin belum makan?"


"nggak mau," jawab Anindhita.


"Sedikit saja," bujukku. Anindhita menggeleng. Aku melirik obat penurun panas di samping mangkuk sup. Benar, anak ini harus minum obat.


"Anin mau roti? Tante punya satu roti, kita makan berdua. Tante setengah, anin setengah. Mau?"


Anindhita mengangguk. Sudah kuduga, Anindhita pasti mau apapun yang aku makan. Aku melirik ke arah Akash, dia mengerti maksudku. Akash keluar meninggalkanku dan Yash.


Yash mndekatiku, ia mengelus kepala putrinya yang bersandar padaku. Tak lama kemudian Akash kembali dengan sebungkus roti dan memberikannya padaku.


Aku membuka bungkusan itu lalu memotong isinya menjadi dua bagian. Separuhnya ku berikan pada Anindhita dan separuhnya lagi kumakan.


Anindhita memakan rotinya dengan lahap, sesekali ia menoleh ke arahku. Memastikan apa aku ikut makan atau tidak. Sayangnya gadis itu tidak menghabiskan makanannya.


"Gak apa-apa, sekarang minum obat ya?" Aku memberikan segelas air pada Anindhita.


Lagi, gadis itu tidak menolak obat sirup yang aku sodorkan. Dia meminumnya tanpa protes. Yash bilang anaknya penuh drama. Baik begini, drama apanya?


"Tante Maya tidur di sini?" tanya Anindhita.


"Tidak Anin, Tante harus pulang."


"Tapi aku mau sama Tante Maya." Anindhita memelukku erat.


"Baiklah, tante temani tidur ya." Aku naik ke atas ranjang.


Anindhita merebahkan kepalanya di pahaku. Tangannya yang kecil berusaha memeluk pinggangku. Aku yang memang sudah lelah hanya bisa pasrah bersandar pada kepala ranjang.


Akash dan Yash ke luar. Entah sedang apa mereka. Mataku mulai berat, perutku juga berbunyi. Kantuk dan lapar menggulung membuat tubuhku mulai tidak nyaman. Yash masuk ke kamar, dia membawa sepiring makanan dan air minum.


"Makan dulu," ucap Yash.


Aku menggeser kepala Anindhita, tapi gadis itu merengek dan semakin mengeratkan pelukannya. Dia belum benar-benar pulas. Yash menggelengkan kepala, dia menyendok makanan dan menyodorkannya kepadaku.


"Aku bisa sendiri Yash." Aku berusaha meraih piring dan sendok itu tapi Yash menghindar.


"Biarkan aku melakukannya, anggap saja sebagai rasa terima kasihku karena kamu sudah mau mengurus Anin," jawabnya lembut.


Aku pun menurut, hanya disuapi. Tidak apa-apa kan? Dari pada aku mati kelaparan.


Baru beberapa suap ku lihat Akash berdiri di ambang pintu kamar. Tangannya mengepal, wajahnya masam dan memerah. Ia memandang tak suka ke arah kami. Aku hendak memanggilnya tapi Akash berlalu begitu saja.


"Apa dia marah?" pikirku.


Aku menoleh ke arah Anindhita. Dengkurannya terdengar halus. Sepertinya ia sudah tidur. Yash keluar membawa semua piring dan gelas di atas nampan.


Pelan-pelan Aku mengubah posisi Anindhita. Menyelimuti gadis itu dan mengganti lampu dengan lampu tidur. Aku beranjak, pandanganku tertuju pada berkas yang tergeletak di atas meja belajar Anindhita.


Aku meraih berkas itu nama Yashoka Prawiranegara terpampang jelas di sana.


"Oh. Namanya Yashoka," gumamku seraya meletakkan kembali berkas itu ke tempatnya.


Aku keluar dan menutup kamar. Aku mengedarkan pandangan, tak ada Akash dan Yash di manapun. Akhirnya aku memutuskan untuk turun.


Benar saja, Yash dan Akash nampak duduk di ruang makan. Mereka sepertinya baru selesai makan malam.


"Anin sudah tidur?" tanya Akash padaku.


Aku mengangguk lalu menutup mulut karena menguap.


"Akash, bisakah kau mengijinkan Maya menginap di sini?" pinta Yash tiba-tiba.


***