Maya Adisti

Maya Adisti
Rumah Mertua



Aku membuka jendela mobil saat supir membawaku dan Akash masuk ke halaman sebuah rumah yang sangat besar.


"Apa ini benar rumahmu?" tanyaku pada Akash.


"Rumah ibu," jawab Akash dengan tegas.


"Kenapa? Sama saja kan? Rumah orang tuamu ya rumahmu juga."


Akash tidak menjawab, raut wajahnya berubah lebih serius dari sebelumnya. Rumah ini memang terasa mengintimidasi siapapun yang melihatnya. Rasanya aku terlalu kerdil dan tidak pantas masuk.


"Kenapa dia?" ucapku dalam hati. Akash tidak seperti anak kebanyakan yang bahagia saat menyambangi orang tuanya. Ekspresi wajahnya sulit dijelaskan.


Pintu mobil dibuka. Akash mengajakku masuk. Rumah tampak sepi sekali seperti tidak ada orang. Saat kami hendak ke lantai dua seorang perempuan paruh baya menghampiri kami.


"Ibu dan ayah ke mana bi?" tanya Akash pada perempuan itu.


"Ke luar Pak. Katanya pulang nanti sebelum makan malam."


"Bangunkan kami saat mereka pulang ya bi?"


"Baik Pak." Wanita itu pergi entah ke mana.


"Siapa itu?" Aku menoleh sekilas kepada Akash seraya menapaki tangga.


"Bi Nung, asisten rumah tangga."


Aku mengangguk-anggukan kepala. Kami terus naik ke atas dan masuk ke salah satu kamar. Aku terkesiap melihat kamar itu, jauh lebih besar dari kamar Akash di apartemen. Benar-benar mirip kamar-kamar CEO di film-film.


"Ini kamarku. Kita istirahat di sini, besok baru pulang ke apartemen," ucap Akash.


"Kita?" Aku mendelikkan mata.


"Ya, kau keberatan kita satu kamar?"


"Iya. Kamu gak harus bayar kan kalau tidur di kamar lain."


"Seriously Maya?" Akash mengangkat sebelah alisnya.


Aku mengangguk pasti


"Baiklah, aku akan istirahat di ruang tamu." Akash pun ke luar.


Aku menghela napas panjang. Baguslah Akash tidak banyak protes!


Aku berjalan menuju walk in closet, melihat betapa banyaknya jas dan kemeja di ruangan itu. Koleksi-koleksi jam, dasi dan sepatu pun tersusun sangat rapi.


"Apa ini semua milik Akash?" batinku.


Aku bergegas membersihkan diri, nyaman sekali rasanya saat air hangat mengguyur tubuhku yang lengket. Selama perjalanan aku tidak sempat mandi, lebih tepatnya malas mandi.


Saat kembali ke kamar, aku mendapati koper-koper milikku dan Akash sudah berjejer di pojok ruangan. Aku membuka koper itu dan segera memakai baju.


Ah, ini sangat nyaman. Berbaring pada ranjang besar dan empuk milik Akash. Wangi sprei yang sepertinya baru diganti sangat memanjakan indera penciuman. Rasa kantuk datang tiba-tiba. Mataku berat.


***


"Maya.... Maya...."


Sayup-sayup kudengar seseorang memanggilku. Saat membuka mata yang pertama aku lihat adalah Akash yang sedang duduk di pinggir ranjang.


"Masih mau tidur," ucapku seraya membalikan badan.


"Makan malam May. Ibu dan ayah sudah menunggu di bawah." Akash menarik tubuhku hingga aku kembali terlentang.


"Ayah dan ibu? Maksudnya wanita bernama Mega itu?" batinku.


Aku segera duduk dan bangkit menuju kamar mandi. Langkahku sedikit sempoyongan, hampir saja kakiku terkantuk meja.


"Gak usah buru-buru gitu May!" seru Akash padaku.


Tentu saja aku harus cepat. Ini adalah saat yang tepat meminta kejelasan pada Tante Mega. Aku menyisir rambutku, dari cermin aku bisa melihat jelas wajah lelahku.


"Ayo." Ajakku pada Akash yang sedari tadi tidak beranjak.


"Habis makan kamu boleh tidur lagi, kita gak perlu pulang malam ini jika kamu masih lelah." Akash membuka pintu kamar.


Aku memilih diam, siapa suruh pulang ke sini kan?


Aku dan Akash berjalan beriringan menuju dapur. Di sana Tante Mega dan seorang pria paruh baya duduk di meja makan.


Akash menarik kursi untukku lalu mengambil piring dan mengisinya dengan makanan. Kukira itu untuk dirinya sendiri, ternyata piring itu malah di simpan tepat di hadapanku. Aksi itu membuat Tante Mega memicingkan mata ke arahku.


"Jadi, kau sudah menerima May sebagai istri?" Tante Mega berkata seraya menyuapkan makanan.


"Makanlah," ucap Akash padaku. Sepertinya dia memilih mengabaikan ibunya.


"Bagaimana bulan madunya May? Menyenangkan?" Tante Mega menatapku intens.


"Iya, Tante."


"Aku harus segera menyelesaikan skripsiku tante. Sebentar lagi pendaftaran sidang dibuka," jawabku.


Aku tidak berbohong, memang grup chat kampusku sedang heboh membahas ini. Jika aku tidak mendaftar sidang bulan ini. Aku harus menunggu enam bulan lagi.


"Maaf Ayah tidak bisa hadir di pernikahanmu Akash." Pria paruh baya yang sedari tadi diam akhirnya mengangkat suara.


"Memang kapan Ayah hadir di acara penting anaknya?"


Aku menoleh pada Akash, bisa-bisanya dia bersikap acuh tak acuh pada orang tua.


Kulihat Tante Mega menghela napas panjang. "Kau baru ketemu ayahnya Akash kan Kenalkan ini Aditya, ayah mertuamu."


"Aditya Praharsa. Panggil saja Adi, tidak. Ayah saja." Pria itu tersenyum dan mengangguk padaku.


Aku tak bisa berkata-kata, hanya tersenyum dan berusaha menghabiskan makananku dengan cepat. Bukan karena tegang tapi aku benar-benar lapar. Sepertinya Ayah Adi orang yang baik. Aku ingin mengajukan beribu pertanyaan, tapi melihat Ayah Adi nyaliku ciut.


"Apa Akash memperlakukanmu dengan baik Nak?" Ayah Adi kembali menoleh ke arahku.


"Aku tidak mungkin bersikap buruk pada istriku Ayah, meski pernikahan ini dilangsungkan tanpa persetujuanku." Akash menimpali dengan cepat.


Makan malam keluarga macam apa ini?


Meja makan dipenuhi dengan berbagai macam menu. Ruang makan mewah, keluarga lengkap, tapi malah bersitegang. Tidak ada hangat-hangatnya.


Selesai makan Akash mengikuti Ayahnya entah ke mana, sedangkan aku dan ibu duduk di taman belakang. Bi Nung menyuguhkan teh dan camilan lalu meninggalkan kami berdua.


"Tante, kenapa Tante lakukan ini padaku?" Aku memberanikan diri berbicara.


"Apa maksudmu May? Oh, ya. Panggil saja ibu, aku mertuamu bukan?"


"Ini melanggar kesepakatan. Ibu bilang aku hanya perlu menyapa tamu, bukannya malah jadi istri sungguhan. Apa Tante tidak memikirkan perasaan ibu? Bukankah kalian bersahabat?" protesku.


"Justru karena kami bersahabat aku nekat melakukan ini semua. Awalnya ya. Aku hanya berniat menjadikanmu pengantin bayaran, tapi saat melihatmu aku berubah pikiran. Lebih baik kalian menikah saja."


"Kenapa? Bukan begitu caranya Tante...,"


"Ibu, panggil aku ibu."


"Ya. maksudku...," karena perkataanku disela aku jadi bingung melanjutkannya.


"Ibu mengerti Maya, menikah dengan pria yang tidak kamu kenal memang sulit. Percayalah, Ibu tidak bermaksud jahat padamu. Lagian seandainya, jika Ibu meminangmu untuk Akash secara baik-baik apa ibumu akan setuju. Tidak Maya, ibumu pasti berpikir kesenjangan sosial antara kita terlaku jauh, bagaimana caranya meyakinkan ibumu di saat-saat genting? Hmm?"


Aku termenung mendengarkan penjelasannya. Memang masuk akal tapi tetap saja janggal.


"Tapi bu, Akash bilang...,"


"May, kau mau menginap atau pulang malam ini?"


Aku menoleh ke belakang dan tak sempat meneruskan kalimatku. Kulihat Akash berdiri dengan tangan terlipat dan memandangku tajam.


"Terserah kamu aja," jawabku.


"Kita pulang, besok kamu ikut aku ke kantor."


"Aku? Aku mau ngerjain skripsi, gak akan ke mana-mana."


"Kerjakan saja di kantor. Kami pulang dulu Bu," ucap Akash.


Setelah pamit kepada ibunya Akash menarik tanganku dengan cepat. Aku menoleh ke arah Tante Mega dan dia hanya tersenyum seraya melambaikan tangan.


"Akash, kamu gak lihat aku lagi ngobrol?" protesku saat sudah sampai teras rumah. Kulihat beberapa orang memasukan koperku ke bagasi. Benar-benar merepotkan.


"Mau bilang apa? Kontrak kita?" Aksh kembali menarikku sampai kami pun duduk di mobil.


"Kenapa kamu ajak aku ke sini kalau mau cepat-cepat pulang? Langsung aja pulang ke apartemen. Merepotkan." Aku menyandarkan punggung sambil melipat tangan di dada.


"Ayahku tidak akan lama di sini. Ini kesempatanmu berkenalan dengannya. Tidak mungkin nanti kau tidak tahu siapa mertuamu bukan? Apalagi kau akan mulai dikenalkan secara resmi di perusahaan."


"Apa itu perlu?" tanyaku memastikan.


"Tentu saja."


Aku tidak bisa membantah lagi, berdebat dengan Akash tidak akan ada habisnya.


Cukup lama kami menempuh perjalanan, akhirnya tiba juga di apartemen. Aku membiarkan Akash mengunci pintu depan dan berjalan menuju kamar.


Tiba-tiba perhatianku tertuju pada sebuah kotak hadiah dengan pita berwarna biru yang tergeletak di atas kasur.


"Itu untukmu," ucap akash.


Saat aku menoleh dia tengah tersenyum dan berjalan ke arahku.


"Diam di tempat, apa kau tidak bilang pada ibumu kalau pernikahan kita hanya kontrak Akash?"


***