
Aku menoleh ke asal suara. Terlihat Akash, Yash, Anindhita dan ibu berdiri di parkiran fakultas. Sepertinya mereka baru datang karena Akash nampaknya baru keluar dari mobil.
Tiba-tiba Anindhita memburuku, tangan kecilnya membawa balon warna-warni yang cukup banyak.
"Buat Tante Maya," ucap Anindhita seraya menyerahkan balonnya padaku.
Ibu, Akash dan Yash menghampiriku. Melihat Yash dan Akash yang masih rapi memakai kemeja membuatku kikuk, karena seketika perhatian orang-orang berpaling ke arahku.
"Sini tasnya." Akash meraih tas yang kupegang lalu kembali ke mobil.
Aku memperhatikan gerak-geriknya. Kurasakan tangan Anindhita menarik-narik bajuku karena merasa tidak diperhatikan, tapi fokusku tetap pada pergerakan Akash.
Tak terasa aku menangis terharu, tak kusangka ia ingat dan mengajak ibu. Dia juga pasti mengajak Yash dan Anindhita.
Akash kembali seraya menatapku lekat dan tersenyum. Melihat Akash yang berjalan ke arahku di antara orang-orang yang lewat membuat waktu di sekitarku seakan berhenti.
Bagai salah satu scene film bollywood, lagu-lagu romantis tiba-tiba berputar di kepalaku. Pesona Akash bagai magnet yang tidak bisa aku hindari.
"Tante Maya!" Tiba-tiba semua buyar seiring tarikan tangan dan teriakan Anindhita.
"Ya sayang?" Aku mengerjap lalu menoleh ke arahnya. Ku usap air mataku dengan cepat.
"Ini buat Tante." Anindhita menyerahkan kembali balon yang belum sempat aku ambil dari tangannya.
"Makasih sayang," ucapku seraya mencium kening gadis itu.
Aku menggendong Anindhita, badannya yang mungil membuat bobot tubuhnya tidak terlalu berat. Akash berdiri di sebelahku, menarik kepala dan mencium keningku dengan cepat.
"Lulus kan?" tanya Akash.
"Ya luluslah!"
"Kalau gak lulus ngapain kita capek-capek datang ke sini," timpal Yash.
"Kemari." Akash menarikku sampai ke teras fakultas. Dia meminta beberapa orang yang berkumpul di sana menjauh sebentar.
Tentu saja mereka menurut, aku tahu pasti siapapun yang melihat Akash pasti merasa segan karen memang auranya sangat berwibawa.
"Pak, tolong fotokan." Akash menyerahkan ponselnya pada satpam yang biasa berjaga di pintu masuk.
Mendengar itu ibu dan Yash segera merapat. Setelah beberapa jepretan Akash tak langsung berterima kasih, ia malah mengisyaratkan satpam tersebut untuk menunggu.
"Anin sekarang giliran Om sama Tante Maya ya?" pinta Akash kepada Anindhita. Bukannya meringsut turun Anindhita malah mengeratkan pelukannya kepadaku.
"Sebentar saja ya? Boleh?" Aku menatap lekat mata Anindhita, gadis itu pun menurut dan aku menurunkannya.
Anindhita mendekati Yash dan menggenggam tangan pria itu.
"Terima kasih Anin," ucap Akash.
Akash menarikku lebih erat. Dia melingkarkan tangannya di pinganggku. Setelah selesai berfoto baru dia menerima ponselnya kembali dan berterima kasih pada satpam. Ia juga memberikan satu lembar uang seratus ribuan saat bersalaman dengan satpam itu. Aku tahu karena Aku melihat jelas bgaimana Akash mengambil uang di saku celananya.
"Baiklah, ayo!" ucap Akash pada semua orang.
"Ke mana?" tanyaku.
"Merayakan kelulusanmu."
Akash merangkul pundakku berjalan beriringan menuju mobil.
"Anin mau sama Tante Maya," ucap Anindhita.
Aku menoleh ke belakang, tempat di mana mobil Yash terparkir.
"Sama papa aja ya?" tawar yash.
Aku menatap Akash, meminta persetujuan darinya. Setelah Akash mengangguk, aku melambaikan tanganku pada Anindhita.
Ibu duduk di samping kemudi bersama Akash, sedangkan aku duduk di belakang bersama Anindhita. Sengaja aku memilih jok di belakang agar tidak pegal memangku Anindhita.
Saat mobil bergerak aku menoleh ke belakang, memastikan Yash mengikuti kami. Sepanjang jalan Anindhita bersikap tenang. Ia lebih seibuk dengan balon-balon yang tadi dia.
Aku tersenyum geli, tadi dia semangat memberikan balon-balon itu padaku. Sekarang malah dia yang bersikap seolah-olah balon-balon itu miliknya.
"Anin suka balon?" tanyaku.
Gadis itu mengangguk.
Anindhita mengangguk kembali.
"Siapa yang beli balonnya?" Aku tetap mengajak Anindhita mengobrol karena dia belum mau bersuara.
"Papa," ucapnya.
Kudengar Akash menahan tawanya.
Mobil Akash berbelok ke sebuah rumah makan sunda. Aku tahu persis ini tempat apa karena membaca nama tempat itu.
Kami semua keluar setelah mobil berhenti. Aku menoleh pada Akash karena merasa tidak yakin dengan restoran pilihan Akash.
"Kenapa?" tanya Akash.
"Kamu gak salah pilih tempat kan?"
"Kamu lupa? Ibuku juga orang sunda. Memang kamu mau diajak makan steak? Biasanya kamu yang ngeluh gak kenyang," jawab Akash.
Memang Akash ada benarnya juga. Setelah Yash bergabung kami berjalan memasuki restoran. Menempati salah satu gazebo yang ada di pinggir kolam ikan. Terdapat satu buah meja besar berkaki pendek dan beberapa tempat duduk terbuat dari busa.
Anindhita terlihat bersemangat. Dia mendekati kolam dan memperhatikan ikan-ikan dari dekat. Beberapa kali ia memasukkan tangannya ke kolam. Aku mendecak kesal karena tempat ini tidak memiliki pagar pembatas
"Hati-hati Anin," ucapku seraya mendekati Anindhita.
Anindhita tersenyum. Khawatir Anindhita kenapa-napa akhirnya aku menemaninya bermain. Saat aku menoleh pada Yash, pria itu tengah menatapku sambil tersenyum.
"Mau makan apa Maya?" tanya Akash.
"Apa aja. Eh, ada iga bakar gak? Aku mau dong," jawabku.
"Oh, ya. Pesanan Anin samain aja sama aku Akash," sambungku.
Kulihat Akash mengernyit heran. Aku memberi isyarat agar Akash menurut saja. Saat aku menoleh pada Yash, pria itu juga tengah menatapku heran.
Saat makanan datang Anindhita terlihat sumringah, mungkin anak itu juga merasa lapar. Apalagi saat ia tahu makananku dan makannya sama, Anindhita malah duduk di pangkuanku.
"Anin, sama Papa aja yuk? Tante Maya makan dulu," ucap Yash. Gadis itu menggeleng.
"Yasudah, Anin duduk di sebelah Tante ya? Kita makan sama-sama," bujukku.
Anindhita turun, dia benar-benar menurut padaku. Aku mendekatkan piring Anindhita padanya. Aku heran karena tak ada pergerakan dari Anindhita, dia hanya diam memandangi makanannya.
Aku punya firasat buruk tentang ini, karena beberapa waktu yang lalu anin melakukan hal yang sama. Benar saja, saat aku menyuap Anindhita menatapku dengan tatapan iba.
Aku mengerti. Aku menyingkirkan piringku dan meraih piring Anindhita lalu mulai menyuapinya. Aku melirik ke arah Yash yang menggeleng dengan pandangan tidak suka.
"Makan sendiri Anin," tegur Yash.
Anindhita menggeleng sebentar lalu menikmati makannya kembali seraya menggerakan tangannya ke kanan ke kiri. Aku menghela napas panjang karena sebenarnya aku juga sangat lapar.
"Bisa kamu kondisikan Anin Yash? Kau tidak lihat Maya kelelahan?" tegur Akash.
Yash hendak beranjak tapi aku isyaratkan dia agar tetap duduk. "Tidak apa-apa," ucapku pada Akash dan Yash.
"Anin, mau makan sepiring berdua gak sama Tante? Anin makan sendiri, kan Tante juga makan sendiri." Aku mecoba bernegosiasi dengan Anindhita.
Tak kusangka Anindhita mengacungkan jempolnya. Aku menurunkan piring dari meja dan duduk berhadapan dengan Anindhita. Gadis kecil itu terlihat sangat senang saat aku memotong daging menjadi bagian-bagian kecil dan memberitahu bahwa itu adalah miliknya.
"Terima Kasih Tante," ucap Anin.
Setelah makan aku masih disibukkan dengan Anindhita. Kali ini Yash ikut bergabung bersamaku di pinggir kolam ikan. Tak sengaja pandanganku dan Yash bersirobok. Lagi-lagi dia tersenyum dengan tulus.
"Terima kasih," ucap Yash.
"Untuk?"
"Karena kamu sudah baik kepada Anindhita. Sepertinya kamu berhasil mengambil hati anak ini." Yash mengelus kepala Anindhita pelan.
Aku tak menjawab, karena tidak tahu apa yang harus katakan. Akhirnya aku hanya bisa tersenyum saja.
Saat aku menoleh pada Akash, kulihat pria itu menatap tajam ke arahku.
"Kenapa dia?" batinku.
***