
Setelah mengantar ibu sampai rumah Akash kembali masuk ke dalam mobil dengan pintu yang sedikit dibanting. Aku yang menunggu di samping kemudi terkejut. Kulihat ia menghela napas dan menghembuskannya kasar.
"Ada apa?" tanyaku.
Akash tak menjawab. Ia langsung menjalankan mobil menuju arah pulang. Sepanjang perjalanan ia hanya diam. Wajahnya memerah dan terlihat kesal.
"Akash," panggilku pelan.
Sesampainya di apartemen Akash masih mendiamkanku. Dia berlalu menuju kamar lalu meraih handuk.
"Akash kamu kenapa?" tanyaku.
"Kenapa? Kamu tanya aku kenapa? Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan Anindhita." Akash berjalan keluar kamar.
"Astaga Akash, dia hanya anak kecil. Keponakan mu apa salahnya?"
"It's not just his daughter, but her father too! The way Yash looks at you feels different! I don't like that!"
Akash berlalu ke kamar mandi dan membanting pintu tak bersalah itu dengan keras. Tunggu, apa yang dia katakan tadi?
Yash? Akash cemburu pada Yash? Ya Tuhan, yang benar saja!
Aku mengambil baju dan handuk lalu memutuskan untuk menunggu Akash di sofa. Saat pintu kamar mandi terbuka, aku segera bangkit dan menuju ke sana.
Akash menatapku sekilas lalu melewatiku begitu saja. Sepertinya dia benar-benar marah. Aku bergegas membersihkan diri dan saat aku selesai Akash sedang duduk di ruang tengah dan fokus pada laptopnya.
Aku menghampirinya, dengan handuk masih terikat di kepala. Aku duduk di sebelahnya lalu mulai menggosok-gosok rambutku.
"Akash. Ayo kita bicara," ucapku.
Akash mematikan laptopnya lalu pergi ke kamar utama. Ya. Kamar utama, bukan ruang kerja tempat biasa dia tidur. Tidak ada amarah yang aku lihat pada Akash, namun kesedihan yang begitu mendalam.
Aku mengikuti Akah, kubiarkan dia tidur menelungkup. Dari pada mengganggunya dan membuat mood Akash semakin berantakan. Aku meraih hair dryer dan mengeringkan rambutku.
Aku menoleh pada Akash beberapa kali, pria itu nampak tidak terganggu sedikit pun oleh suara bising yang menggema di seluruh ruangan. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuak kotak kecil berwarna merah yang sudah dibungkus oleh pita.
Penasaran, aku membuka kotak itu. Sebuah cincin yang sangat indah tersimpan di sana. Lebih indah dari cincin pernikahan yang aku pakai. Aku tersenyum, sudah kutebak Akash pasti membelinya sebagai hadiah kelulusan.
Aku membawa kotak itu di tangan lalu merebahkan diri di samping pria itu. Sengaja aku sedikit bersandar pada kepala ranjang agar posisiku lebih tinggi. Aku tahu, Akash belum benar-benar tidur meski matanya terpejam.
Aku mengamati wajahnya yang tampan. Kulit putih, hidung bangir, jambangnya yang tidak terlalu tebal, kerutan di ujung matanya, semua tampak mempesona. Ekspresi wajahnya masih sama ada sedikit kesal dan marah yang masih tersisa.
"Kamu beli ini untukku, Akash?" tanyaku seraya mengusap rambutnya.
Dia tidak menjawab. Baiklah kalau Akash tidak mau bicara, aku tidak akan memaksa. Aku memakai cincin itu lalu merebahkan kepalaku pada bantal. Baru saat aku akan membelakanginya tangan Akash bergerak menahan. Dia merangsek maju lalu menyimpan kepalanya di bahuku.
"Kamu baik-baik saja?" tanyaku saat Akash memelukku semakin erat. Dia masih diam.
"Kenapa kamu tidak suka pada Yash?" tanyaku lagi.
Aku menunggu beberapa menit namun Akash masih tak berbicara.
"Baiklah. Tidur saja," ucapku seraya membalas pelukannya.
Kurasakan hembusan napas kasar Akash tepat di leherku. Aku mengusap rambutnya, biarlah malam ini dia tidur di sini. Asal sumber uangku tidak marah lagi. Bisa gawat urusannya kalau Akash marah terus-terusan.
"Jangan tinggalkan aku, Maya. Jangan pergi," ucapnya.
"Aku tidak akan ke mana-mana Akash!"
"Janji?" ucap Akash memastikan.
"Astaga Akash, siapa yang mau pergi di jam seperti ini?"
Akash mengangkat kepalanya. Dia menatapku dengan tatap aneh dan itu berhasil membuatku gelagapan. Tiba-tiba aku merasa atmosfir di tempat ini berubah. Dadaku berdeban tak karuan.
Aku memalingkan muka, mencoba mengalihkan perhatianku ke arah lain. Sialnya, pesona Akash sulit aku tampik. Aku menoleh lagi padanya hanya dalam waktu beberapa detik.
"Jangan lihatin aku kayak gitu!" tegurku.
"Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan Anindhita. Aku takut Yash tertarik padamu karena melihat interaksi kalian berdua. Aku sudah melihatnya, cara Akash memandangmu itu berbeda." Akash berkata dengan sungguh-sungguh. Tatapannya terasa menghujam sampai ke ulu hati.
"Jadi, kau benar-benar cemburu pada Yash?"
"Menurutmu?" Akash
"Maya," panggil Akash.
"Tidurlah, aku tidak akan ke mana-mana," jawabku seraya mengeratkan pelukan. Hanya itu yang bisa aku lakukan.
***
Aku terbangun lebih dulu. Akash masih di posisi yang sama. Saat aku hendak turun tiba-tiba Akash menahannya.
"Kamu udah bangun?"
"Dari tadi," jawab Akash.
"Ngapain masih di sini. Mandi sana, bukankah kamu harus ke kantor?" protesku.
"Sebentar saja."
"Nanti kamu telat akash," protesku lagi.
"Kamu lupa perusahaan itu punya siapa?"
Aku mendelik, tak percaya dengan apa yang barusan aku dengar. Apa semua bos seperti ini?
Perusahaan memberikan peraturan ketat untuk karyawannya. Kapan jam masuk, kapan jam istirahat tapi atasannya malah leha-leha. Kukira semua bos yang terlambat itu seperti di film-film. Mereka sibuk dengan urusan di lapangan sehingga terpaksa mengabaikan pekerjaan kantor. Ternyata aku salah.
"Aku mau masak Akash," keluhku.
"Pesan saja."
"Jadi kau lebih suka masakan orang lain dari pada masakanku?" tanyaku cepat.
Pelukan Akash merenggang, ia beranjak duduk. "Biar aku saja yang masak, kamu mandi saja."
Akash berlalu, terdengar suara gemericik air lalu hening. Saat aku mengikat rambut Akash terlihat melewati kamar, berjalan ke arah ruang tengah. Aku beranjak lalu bergegas membersihkan diri.
Aroma masakan tercium saat aku keluar dari kamar mandi. Aku mendekati Akash dan duduk di meja makan.
"Pakai baju dulu, Maya." Akash menyimpan dua piring nasi goreng.
"Aku lapar," jawabku seraya menyuapkan makanan.
Bukannya bergabung bersamaku, Akash malah menjauhi meja makan.
"Kamu mau ke mana?" tanyaku.
"Mandi."
Aku mengedikkan bahu lalu fokus pada nasi goreng di hadapanku. Akash keluar kamar mandi saat aku baru selesai mencuci piring. Kulihat Akash menuju kamar. Aku mengambil nasi goreng yang tadi Akash buat lalu menyusulnya.
"Biar kusuapi, nanti kamu terlambat," ucapku seraya duduk di pinggir ranjang yang sudah kubereskan sebelumnya.
Akash menoleh lalu tersenyum mendekatiku, menerima suapan pertama. Ish! Udah kaya bocah aja!
Sepeninggal Akash dua orang staf datang ke unit kami untuk beres-beres. Tentu saja aku sudah berpakaian. Aku duduk di sofa memperhatikan mereka bekerja, tiba-tiba ponselku berdering.
"Hallo?" Aku menjawab saat ku lihat nama salah satu teman kuliahku.
"May, mau ke kampus gak?"
"Emang ada apa?" tanyaku.
"Surat kelulusan udah ada nih."
"Wah, cepet banget. Baru kemarin sidang," ucapku bersemangat.
"Iya! Buruan sini!."
"Oke." Aku memutus sambungan panggilan.
Saat aku hendak menghubungi Akash, aku termenung sebentar. Tidak mungkin Akash mengantarkanku. Aku berjala ke kamar dan membuka laci. Aku tersenyum karena barang yang aku cari ada di sana. Aku mengambil benda itu, kunci motor BMW S 1000 RR. Si Putih.
***