
#POVAkash
Aku tengah sibuk dengan laptopku saat perawat masuk mengantarkan makanan. Maya masih tertidur pulas. Setelah semalaman ia mengeluh pegal karena sulit memiringkan badannya.
"Terima kasih Sus," ucapku saat perawat tersebut selesai mengerjakan tugasnya.
Sepeninggal perawat Aku menghampiri Maya, ibu mertuaku sudah pulang pagi-pagi buta karena harus mengurus perizinan. Aku memandangi Maya sebentar lalu mengelus kepalanya.
"Maya," panggilku pelan.
Kulihat kelopak mata gadis itu bergerak-gerak, perlahan Maya membuka matanya. Ia melotot sebentar saat melihatku lalu mendengus. Sepertinya ia kesal karena kubangunkan.
"Masih ngantuk?" tanyaku.
"Iya, tapi pegal. Punggungku panas," keluhnya.
Aku menghela napas, memang patah tulang yang diderita Maya tidak terlalu parah. Hanya retak di bagian pergelangan kaki dan siku tangan, namun hal itu sangat membuat Maya tersiksa. Memang pada dasarnya gadis itu tidak bisa diam.
"Sebentar." Aku menekan salah satu tombol yang berada di bawah ranjang. Seketika tubuh bagian atas Maya terangkat.
Kulirik urine bag yang hampir penuh. Segera aku ambil pispot dan mengosongkannya.
"Akash kau sedang apa?" tanya Maya. Mungkin ia heran mengapa aku tiba-tiba jongkok di pinggir ranjang pasien.
"Mau buang ini," jawabku sekenanya.
"Apa?"
"Urine."
"Hah!? Ibu ke mana?" Maya sedikit terhenyak.
Bisa-bisanya dia baru sadar ibunya sudah pergi.
"Ibu pulang, mau izin dulu." Aku berdiri dan bergegas ke kamar mandi.
Wajah Maya terlihat memerah saat melihatku kembali dengan handuk basah di tangan. Segera aku mengelap wajah Maya, leher dan sedikit rambutnya.
"Bisakah kamu minta tolong perawat saja?" protes Maya.
"Memang kenapa?"
"Itu menjijikan Akash, kau tidak seharusnya melakukan itu."
"Memang kenapa?" Aku berlalu untuk menyimpan handuk.
"Kamu malu dan sungkan?" sambungku seraya menyodorkan segelas air putih padanya. Kulihat kepalanya mengangguk pelan.
"Aku suamimu Maya, sudah seharusnya aku melakukan ini. Makan?" tawarku pada Maya.
"Tapi pernikahan ini hanya kontrak."
Jawaban Maya menghentikan pergerakanku. Apakah hati gadis ini tidak tersentuh? Aku bahkan membuang air seninya tepat di depan matanya.
Aku tidak mengindahkan perkataan Maya. Fokusku beralih pada piring keramik berisi berbagai macam makanan.
"Akash," lirih Maya. Bukannya membuka mulut dia malah menatapku bingung.
"Shut up! Apa kamu mau sidang skripsi dengan kondisi seperti ini?"
Ragu-ragu Maya menerima suapanku. Ah Maya, kalau saja aku tahu hatiku berbelok secepat ini. Aku tak akan pernah memberikanmu kontrak sialan itu.
Maya tak berkata-kata lagi. Ia menerima suapan demi suapan yang kuberikan. Baru habis setengahnya tiba-tiba pintu terbuka. Anindhita berlari memburu Maya.
"A-Anin." Maya meringis karena lukanya tersentuh oleh Anindhita.
"Hati-hati Anin," tegur Yash seraya menjauhkan Anin.
"Tidak apa-apa Yash," kilah Maya.
Aku dan Yash membiarkan Aninditha menemani Maya. Meski tak banyak bicara, Anindhita benar-benar menunjukkan kasih sayangnya. Ia terus saja menatap lekat Maya dan ingin dekat-dekat. Beberapa kali Maya melotot karena takut tiba-tiba Anindhita memburunya seperti tadi.
Aku menoleh kepada Yash, ia tersenyum memperhatikan interaksi Anindhita dan Maya.
"Tidak bisakah kamu membawa Anindhita ke sini setelah pulang dari kantor?" tanyaku dengan kesal. Kuharap Yash mengerti aku tidak suka melihatnya menatap Maya seperti itu.
"Anindhita need her," ucap Yash.
"Don't act as if maya is the 'nanny'! I don't like Anindhita depending too much on Maya."
Yash menoleh ke arahku. "You're jealous of a child? Wait, what happened with Ruth? Why you suddenly married with Maya?" katanya.
"Bukan itu. Maksudku kenapa Ruth menghilang?" Yash terlihat sangat penasaran.
"Aku tidak tahu."
"Kau tidak ingin mencarinya?"
Pertanyaan itu membuatku tertohok. Tentu. aku ingin sekali mencari Ruth, namun hatiku tidak siap jika sesuatu terjadi dan membuatku kehilangan Maya.
"Do you love her?" sambung Yash.
"Who?"
"Maya of course!" jawab Akash.
Aku memilih diam. Mendengar dua nama disebut hatiku menjadi tak karuan. Susah payah aku menekan nama Ruth agar kembali ke tempatnya. Menyadarkan diri bahwa wanita itu telah menyakiti meski aku penasaran luar biasa.
"Aku mencintai Maya," ucapku dalam hati.
Setengah jam kemudian Yash pergi dengan drama Anindhita yang tidak mau meninggalkan Maya. Beruntung Maya selalu mempunyai cara membujuk gadis kecil itu.
Beberapa hari kemudian Maya sudah boleh pulang. Aku mengajak ibu mertuaku untuk ikut tinggal bersama kami sampai Maya benar-benar membaik. Itupun setelah diskusi yang cukup panjang akhirnya Ibu bersedia mengajukan cuti.
"Ibu dan Maya tidur di sini. Biar aku tidur di ruang kerja," ucapku saat kami tiba di apartemen.
Aku menjelaskan beberapa cara menggunakan barang-barang elektronik kepada ibu terutama peralatan dapur. Aku yakin wanita paruh baya itu pasti tidak akan nyaman jika harus memesan makanan di hotel terus-terusan.
"Ibu mau dibeliin apa? Biar aku mampir ke supermarket besok," ucapku.
Kulihat ibu mertuaku mengecek semua yang ada di dapur.
"Maya! Kau tidak pernah masak?" Sengaja ibu berteriak karena Maya tengah berada di kamar.
"Akash melarangku Bu!"
Sial! Kenapa dia malah menyalahkanku! Detik berikutnya aku setia mendengarkan omelan ibu mertua.
***
Aku duduk di sofa ruanganku di kantor. Membaca tumpukan dokumen yang diberikan Reza tadi pagi. Baru lima hari aku tidak bekerja, apa yang harus kuperiksa sudah segini banyaknya.
Satu jam berlalu Reza masuk dengan membawa satu buah map lagi ditangannya, dan itu sukses membuatku menghela napas panjang.
"Kau tidak berniat membantuku Za?" sindirku.
Tanpa membantah Reza duduk tak jauh dariku lalu mengambil map yang baru saja ia simpan.
"Apa Bapak tidak akan mencabut laporannya?" tanya Reza tiba-tiba.
"Laporan apa?"
"Si pelaku," jawab Reza cepat.
Aku tahu maksud Reza adalah orang yang telah menabrak Maya.
"Biarkan saja," jawabku.
"Tapi Ibu Maya juga salah," sergahnya.
"Aku tidak peduli."
Aku dan Reza menoleh pada pintu yang tiba-tiba terbuka. Yash masuk lalu meletakkan dokumen di atas meja.
"Kau sendiri? Ke mana Anindhita?" ucapku dengan nada mengejek.
"Sudah kubilang Anin sudah dapat pengasuh. Kau sudah mengecek ponselmu? Aku mengirimkan beberapa video cctv," ujar Yash.
Aku meraih ponselku, benar saja. Beberapa chat kuterima dari Yash.
"Tidak ada yang aneh, tidak ada mobil hitam yang mengikuti Maya waktu itu," sambung Yash.
Aku termenung sejenak. Tidak mungkin Maya berbohong padaku.
"Jadi? Laporannya akan dicabut?" tanya Reza.
"Tidak."
Aku tetap kukuh pada pendirianku.
***