
Rasanya baru beberapa menit yang lalu usai aku mandi dan duduk anteng diatas ranjang sambil membaca novel yang baru saja kubeli minggu lalu ketika kudengar mama berteriak dengan lantang dari balik pintu kamarku. "Bona? Kamu di dalam kan?" seru mama berikut terdengar gedoran bertubi-tubi di daun pintu kamarku.
Aku menurunkan buku keatas pangkuanku dan menatap kearah pintu dengan cat putih gading itu. "Iya, maaa! Masuk aja, pintunya nggak Bona kunci kok." sahutku tanpa mau repot membukakan pintu. Tak lama, mama lantas masuk setelah sebelumnya menutup pintu kamarku. Mama menghampiriku, duduk ditepian ranjang lalu tanpa dapat kuduga, mama menarik tanganku dan mengusap punggung tanganku sembari tersenyum ganjil. Diperlakukan demikian, aku justru kebingungan sendiri. Aku menelengkan kepala sembari membalas tatapan mama, sedikit banyak aku mulai menaruh curiga pada mama. Sikap mama yang terbilang cerewet dan suka marah-marah kali ini entah kemana, mama dihadapanku sekarang selayaknya orang yang sedang menyembunyikan sesuatu dariku.
"Kenapa?" tanyaku menaikkan kacamata baca yang kupakai keatas kepala. Mataku menyipit begitu melihat mama malah cengar-cengir sambil memperhatikanku dengan pandangan seolah sedang menilai penampilanku, "Ih, kenapa sih?" desakku tak sabaran, perpaduan antara perasaan keki ditatap demikian dan juga penasaran.
Mama menyengir, "Gimana sama temen kamu yang laki-laki itu?" tanya mama dengan kilat mata penuh harap.
"Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan Bio? Emang kamu punya temen yang lain?"
Rahangku benar-benar jatuh ketika mama menyelesaikan perkataannya, yang tak kusangka pertanyaan tersebut langsung mengenai ulu hatiku dengan tepat sasaran. Dan percaya atau tidak percaya, topik tentang Bio yang mama bahas kali ini justru membuatku terserang migrain. Sehingga membuatku refleks memegang tengkuk dan mendesah, "Ma, bisa nggak sih jangan nanya itu." ujarku kemudian menghela nafas. Jujur saja, aku sedang menghindari laki-laki itu saat ini dan kurasa tidaklah benar kalau membicarakannya disaat aku malah mengabaikan puluhan chat yang dikirimnya padaku. "Dan kami nggak seperti yang mama pikirin. Kami cuman temenan, jadi stop mikirin yang enggak-nggak." tuturku bersungguh-sungguh.
Dengan senyum menggoda mama malah mencolek daguku, "Tapi kamu suka kan? Mama nggak bisa dibohongin lho. Udah jujur aja, toh cuma ada kamu sama mama disini." ujar mama mencondongkan badannya kearahnya dengan nada yang diturunkan diakhir kalimat.
Aku mencebik, "Nggak."
"Masih nggak mau jujur to." gumam mama masih bersikeras, tak tanggung-tanggung mama malah menggelitiku sehingga membuatku bergerak tak karuan karena kegelian. Mama baru menghentikan aksinya begitu aku tergulai lemah dengan deru nafas tak beraturan karena kehabisan tenaga, "Mama seneng, soalnya udah lama kamu nggak bawa temen cowok kesini, terakhir pas kelas sepuluh itu kan? Itupun nggak sering." ujar mama dengan kepala meneleng mengingat-ingat.
Aku yang setengah berbaring memutar bola mata malas mendengar ucapan mama, "Serius, maa! Bona nggak suka, kita cuma temen, owes ngono ae." jelasku mencoba untuk tetap sabar. Aku membenahi posisiku dan duduk sambil bersandar pada kepala ranjang.
"Yaudah. Oh ya, coba kamu undang dia makan malam disini ya. Siapa tahu..."
"Siapa tahu apa?" tanyaku begitu mama menggantungkan perkataannya sembari menatapku dengan senyum menggoda. Aku lagi-lagi menghela nafas lelah, "Siapa tahu dia jadi pacarnya Bona, kan?" tembakku tepat sasaran karena mama saat itu juga terkikik sambil menutup mulut menggunakan telapak tangan. "Dengerin ya ma, itu nggak bakalan kejadian, percaya deh. Lagian dia juga sudah punya pacar." tegasku, terpaksa membuat pernyataan palsu supaya mama tidak berharap terlalu banyak pada orang yang tidak seharusnya digantungi harapan. Lagipula perkataanku tidak sepenuhnya salah karena walaupun Bio tidak punya pacar tapi perasaan laki-laki itu sudah berlabuh pada seseorang yang enggan aku sebut namanya dan yang jelas itu bukan aku.
"Oh, padahal mama nggak berpikir sampai sejauh itu juga. Tapi boleh juga usul adek itu, kalau dilihat-lihat kalian serasi lho. Walau dia sudah punya pacar, selama janur kuning belum melengkung, kita masih bisa merebutnya. Cinta sejati itu bisa ditukar kalau kamu berani merebutnya, dek." ujar mama menatapku dengan semangat yang berapi-api. Sejenak aku menatap mama dan bertanya-tanya dalam hati bahwa apakah yang kudengar itu salah? Terlebih yang kutahu mama itu sosok yang antipati sama pelakor. Namun ucapan mama kemudian membuatku nyaris kehilangan kesadaran, "Selagi dia belum mengucap janji sehidup semati di depan pendeta, kamu masih bisa merebutnya kok, dek. Mama siap bantuin kamu supaya Bio bisa jadi mantu mama."
Itu tadi yang ngomong mamanya siapa ya? Duh, capek deh! Dan tolong, perkataan mama barusan benar-benar tidak baik untuk di dengar apalagi sampai ditiru. Aku sendiri bahkan sampai bergidik ngeri mendengarnya, "Ih, mama kok ngomongnya gitu sih! MosokĀ marahi seh ra apik kanggo anak'e." *(masa ngajarin yang nggak baik buat anaknya) ujarku sambil mengetuk-ngetuk dahiku menggunakan kepalan tangan, amit-amit!
"Mama cuma bercanda." ujar mama dengan gelak tawa yang membuatku menatap mama tak habis pikir. "Undang dia kerumah ya. Mama kepengen tahu dia cowok baik-baik apa bukan. Papa juga bilang pengen ketemu, pengen tahu dia itu jenis cowok yang gimana."
"Iyadeh, nanti Bona undang deh." sahutku dengan setengah hati tak ikhlas, "Emangnya mama mau ketemu sama dia kapan?"
"Lah, kan Bona cuman nanya."
"Kapan ya?" tatapan mama nampak menerawang memikirkan sesuatu, tak lama kemudian mama berseru heboh. "Gimana kalau besok malam aja? Kebetulan tuh malam minggu, mas mu kan juga ada. Jadi biar sekalian aja mereka juga liat calon kamu itu gimana." ujar mama.
Aku langsung mengoreksi, "Temen, ma."
"Iya, temen bahagia."
Aku menggeleng-geleng tak habis pikir, "Jangan malam minggu dong, ma. Bio juga pasti ada acara." ujarku. Sejujurnya aku tidak tahu ucapanku itu benar atau tidak, hanya saja aku benar-benar tidak (akan pernah) siap jika makan malamnya dilakukan besok atau malam-malam selanjutnya sekalipun jika mas Io ikut serta di dalamnya. Sebab itu sama halnya dengan aku melompat dari atas pesawat dengan ketinggian 3800 kaki dari permukaan laut tanpa memakai parasut. Jika Bio bertemu mas Io, aku berani menjamin kalau laki-laki itu keesokan harinya akan menjauhiku karena illfeel, baik itu kepadaku atau bahkan pada keluargaku. Jujur saja, aku tidak pernah siap dengan itu semua bahkan memikirkannya pun aku tidak berani, ditinggalkan dan diperlakukan layaknya orang asing oleh orang yang berarti masih terdengar begitu menyeramkan bagiku.
"Tanya dulu, kalau nggak bisa baru nanti cari waktu yang tepat." ujar mama, "Oh ya, nanti sekalian aja adek tanya makanan kesukaannya temen kamu apa biar nanti mama masakin." lanjut mama yang membuatku mengangguk malas sebab sepanjang aku hidup mama tidak pernah seperhatian itu padaku sampai mau repot-repot membuatkan makan, jika aku minta dibuatkan sesuatu mama langsung saja menyemprotku 'makan aja yang ada di bawah tudung meja, jangan kebanyakan ngeluh. Untung bisa makan'. Selama ini malah dapat dihitung menggunakan jari ketika mama memperhatikanku; ketika aku berada sekolah dasar itupun karena saat itu aku menjuarai lomba lompat karung saat acara 17an, yang lainnya hanya ketika aku wisuda sekolah. Membuatku justru bertanya-tanya 'siapa anak mama sebenarnya?' meski hanya dalam hati. "Ojo manggut ae, dek. Sauri lak dijak ngomong kui." *(jangan ngangguk aja, dek. Dijawab kalau di ajak ngomong itu).
Aku menghela nafas, "Iyo, iyo, nanti Bona tanyain kok, percaya deh." jawabku, kali ini dengan nada yang lebih serius.
"Ojo sampek dtakoi lho."
"Iyo, iyo, ma, cerewet banget sih."
"Yowes, kalau gitu mama tidur dulu." ujar mama kemudian bangkit dari ranjang. Mama sempat melempar senyum sebelum akhirnya keluar dari kamarku.
[]
Yang punya emak tipe-tipe diatas gmn perasaannya?
Wkwkwk ada ya mak yg ngedukung banget anaknya jd pelakor :v
(jangan ditiru btw!)
Biuuuu~