Lovesick Girls

Lovesick Girls
Lovesick: Kalian Jadian?



Benar kata meme yang sering muncul di timeline twitter kalau kelas kosong itu bagai oase di padang pasir, bagai surga dunia yang tiada tara. Apalagi jika kosongnya disiang bolong begini, prakiran cuaca yang mencapai suhu 35° celcius membuat kebanyakan dari kami tak henti-hentinya mengeluh, bahkan tak ayal memanfaatkan kesempatan ini untuk pergi ke kantin demi segelas thai tea yang nyegerin dahaga. Dan, sebagian lagi memilih untuk tetap di kelas, ada yang ketiduran, ada yang push rank, ada juga yang duduk bergerombol di depan kipas angin yang di set paling deras, salah satunya adalah aku. Sebenarnya, tak ada yang penting dari apa yang kami bicarakan, tidak ada yang berbobot, unfaedah. Ya tahu sendirilah bila abg zaman now kalau lagi kumpul, paling mentok main, truth or dare, uno, tik tokan, selfie, dll. Atau enggak aib temen sendiri yang diungkit buat dijadiin bahan. Itu sih paling lumrah dan entah kenapa asyik buat diangkat, beneran deh.


Seperti yang dilakukan perempuan satu ini, Cia yang sedang mengunyah keripik kentang tiba-tiba nyeletuk gini; "Kalian ngerasa ada yang aneh nggak sih sama Bon?" ujarnya, sambil melirik kearahku, dengan senyum anehnya. Yang lain, Fei dan Jo turut memandang kearahku penasaran, sementara Bio nampak fokus mengotak-atik ponselnya. Aku melihat mereka bergantian dan memasang muka seolah 'Oh ayolah, jangan mulai' karena kalau sudah begini tandanya aku berada dalam bahaya. Mereka itu termasuk kedalam kategori teman terkampret, mereka nggak pandang bulu buat mengulik kebobrokan teman sendiri. Tiga tahun bareng, aku paham banget sisi buruk mereka yang satu ini. Ya meski seingatku, aku tidak memiliki satupun skandal yang bisa bikin temen-temenku yang suka nyinyir bakal megap-megap kehabisan nafas. "Ngaku deh, Bon, kalau kamu jalan sama Bio kan sekarang?"


Seketika aku langsung memasang wajah dungu. Menatap mereka sambil mengerjap beberapa kali. Herannya, aku tidak tahu maksud kalimatnya barusan. Aku melirik Bio yang duduk disampingku, rupanya laki-laki itu masih fokus memegang ponsel dengan wajahnya yang cengengesan. Segera ku sikut lengannya, menarik atensinya kearahku kemudian. Aku memberinya kode yang seketika membuatnya kebingungan. "Kenapa deh?" ujarnya, nggak mudeng. Aku sontak menepuk dahi.


Fei berdehem, sementara Cia serta Jo kompak menatap menyipit begitu melihat interaksiku dan Bio yang terbilang normal, kami–maksudku, aku ke Bio, bahkan ke yang lain–sudah biasa begini. "Kalian in a relationship ya?" tanya Cia tak sabaran.


"Maksudnya siapa nih?" sahut Bio kalem, laki-laki itu membalas tatapan mereka satu persatu. Sementara aku menghela nafas pasrah, enggan mengkonfirmasi, karena sejauh ini mereka nggak pernah percaya omonganku. Katanya, wajahku itu pas ngomong rada polos gitu jadi nggak meyakinkan buat dipercaya, ya gitu deh pokoknya, asem, temen sendiri padahal. Bahkan, sampai saat ini aku tidak mengerti kiblat mereka itu mengarah kemana, sesat bukan main. Sejak kapan wajah polos dijadiin patokan suka bohong kalau ngomong? Sableng!


"Nggak, tapi upil naruto. Ya iyalah kalian berdua, Bi. Makanya kalau lagi kumpul itu jangan main hp dong. Kebiasaan sih." ujar Fei menunjuk kearahku dan Bio bergantian, nadanya nge-gas kebangetan. Perempuan itu melipat tangan di dada dan dengan wajahnya yang angkuh melirik malas kearah Bio yang tergelak, tak merasa bersalah sama sekali. Laki-laki itu lantas mengantongi ponselnya, setelahnya baru mengangkat dua tangannya keatas, tertanda kapok.


"Kita ini apa ya, Bon?" ujar Bio malah bertanya dengan ekor mata melirik kearahku, aku turut meliriknya sambil menahan nafas. Dengan kepalanya yang perlahan berputar, laki-laki itu menyengir pada Cia, Fei dan Jo yang menunggu jawaban kami sedari tadi. Jiwa-jiwa penasaran mereka agaknya makin terusik mendengar ucapan Bio yang bukannya mengklarifikasi malah menyatakan pertanyaan. Ya, maklum, Bio kalau nggak tengil itu aneh banget.


"Apaan? Ngaku sekarang sebelum sesi ini semakin memanas!" seloroh Cia menggebu-gebu. Perempuan itu mencodongkan badannya, bersiaga, dengan mata menatap nyalang kearahku dan Bio. Seolah sekali saja dia berkedip, maka dia akan kecolongan satu saja interaksi kami. Aku menghela nafas, ternyata tidak semudah yang aku bayangkan.


Nampak bahu Bio mengedik, sikapnya acuh tak acuh. "Tanya sama Bona gih."


Aku mengerjap, "Lah? Kok jadi aku sih?" ujarku tak terima dengan jawabannya yang tiba-tiba, seketika kulayangkan tatapan kesal kearahnya.


"Jangan bikin penasaran kenapa?"


Jo tiba-tiba saja nyeletuk, "Bon, kamu nggak bakat buat boong tau nggak." ujarnya. Tuuuh kan, kubilang juga apa. Susah ya ngomong sama mereka, makanya aku lebih sering diam. Karena diam itu emas, kalau aku ngomong malah jatohnya jadi taik, nggak dihargain. Huuuu, ngeselin emang.


Namun jawaban Bio kemudian membuatku seketika ingin membenturkan kepala ke dinding, ngeselin, bikin perkara pokoknya, "Jadi, selama ini kamu anggep aku gitu?" ujarnya dengan watados yang pengen aku ajak gelut di atas ring tinju. Huh, Bio kalau nggak gini bakal masuk dalam daftar 7 keajaiban dunia kayaknya. Bona kalem, Bona selow!


Cia berdecak, "Udah deh, nggak usah banyak drama. Kami itu cuman mau jawaban iya atau enggak. Ribet banget elah." gerutu Cia dengan wajah masamnya yang melengos begitu melihat interaksiku dan Bio. Fei dan Jo mengangguk berjibaku, membuatku ketar-ketir tak karuan antara; marah, gemas, dan frustasi. "Jadi, kalian berdua pacaran?"


Aku menggeleng berusaha meyakinkan, "Nggak, aku bilang enggak ya. Emang kalian maunya apa sih? Aku ngaku? Udah jelas daritadi aku bilang kalau nggak pacaran." tandasku, menginterupsi Bio yang hendak bersuara. Laki-laki itu menatapku sekilas, kemudian mengangguk membenarkan. Serta merta aku tersenyum senang. Namun, percayalah, tak semudah itu membuat Cia cs mengamini jawabanku, pembelaanku barusan tetap tak membantahkan persepsi mereka yang entah bagaimana bisa berasumsi demikian, aku hanya geleng-geleng kepala memikirkan keabsurdan imaji mereka yang mulai berada di taraf tak tertolong lagi.


Cia berdeham, menarik perhatianku seketika. "Kalau kalian nggak ada hubungan-" Tatapannya yang tajam bergulir kearahku dan Bio secara bergantian, sementara sudut-sudut bibirnya tertarik begitu saja. "Kenapa kok weekend kemarin aku ngeliat kalian berdua di sushi tei? Jangan kasih alasan kalau kalian nggak sengaja ketemu disana, karena aku nggak akan percaya."


"Kalian sering berduaan akhir-akhir ini. Dan, itu bukan sesuatu yang normal menurut kami."


[]


Next yaaaaaa...


Spoiler mulu nih si mimin tapi ga kelar-kelar.


Bodo amat sih😂