
The beginning of the story...
Weekend di rumah aja menurutku udah liburan paling valid buat kaum mageran kayak aku. Apalagi kalau di rumah sendirian, rasanya bebas banget mau ngapain aja. Nggak ada yang ngomel kalau aku belum mandi, nggak ada yang marah-marah liat tumpahan kuah pop mie diatas karpet, nggak ada yang ngomong panjang kali lebar tentang pentingnya PHBS sama aku, pokoknya nggak akan ada yang nyeramahin aku kalau lagi jorok begini. Sebab, bonyok lagi kondangan di luar kota, sementara Mas Io lagi pergi car free day sama crush-nya. Sehingga, aku punya niat kalau hari ini aku akan gunain kesempatan yang ada buat ongkang-ongkang di rumah, rebahan, makan, nonton tv, makan, tidur, repeat. Sangking niatnya, aku bahkan menonaktifkan data seluler untuk mencegah sekiranya nggak ada annoying people di tengah-tengah aku menikmati me time begini. Kapan lagi kan ya?
Namun sayangnya, pas lagi mantengin tayangan ulang doraemon, apa yang kukhawatirkan beneran kejadian. Ponsel yang kuletakkan di bawah bantal tiba-tiba saja memekik nyaring, membuatku kontan terperanjat kaget. Aku mengelus dada, sumpah, jantungku melenting-lenting hendak copot. Ya gimana nggak kaget coba, lagi serius-seriusnya menghayati film eh tiba-tiba nada dering bayi ketawa bunyi. Huhh, ingatkan aku untuk mengganti nada dering panggilan itu nanti. Begitu aku memerika ponsel, rupanya Bio yang menelpon. Eh? Kok nggak biasanya ya. Aku menggeser tombol berwarna hijau dilayar ponselku dan menggunakan mode loudspeaker. "Hal–"
"Bon, aku diluar."
Aku cengo dong, lah maksudnya apaan dah? "Apaan?" tanyaku tak mengerti arah bicaranya yang spontan.
"Aku di depan rumah kamu, Bon."
"Hah?"
Sontak aku diserang panik, tanpa berpikir panjang aku bangun dan melepaskan sheet-mask yang kuaplikasikan di wajah lalu melemparnya sembarangan. Aku memakai sandal rumah dan dengan tergopoh-gopoh berlari kearah pintu depan untuk memastikan kebenaran ucapan Bio barusan. Begitu pintu kubuka, cengiran Bio langsung menyambutku. Lagi-lagi aku kaget, lebih ke nggak nyangka kok dia kesini? Dengan gayanya yang luarbiasa tengil, Bio ngomong "Dih, ketahuan belum mandi. Ilernya tuh masih ada."
Aku mendelik mendengar ucapannya. Jelas saja dia ngawur, meski aku belum mandi tapi aku sudah cuci muka kok tadi. Aku menatapnya malas, dia malah tersenyum nggak jelas. "Nah, mau ngapain?" tanyaku, mengangkat wajah sengit.
"Nggak disuruh masuk dulu nih?"
"Nggak." sahutku ketus, kesal bukan main sebenarnya karena waktuku diganggu makhluk nggak penting kayak dia. Udah kayak jelangkung aja, datang nggak diundang, eh pas datang malah bikin jantungan. Namun, sebagian dari hatiku malah bersyukur nggak ada entitas bonyok, mau ditaruh dimana mukaku kalau mereka tau aku didatengin cowok ke rumah, ya meski labelnya teman tapi tetap aja dibercandain masalah cowok oleh keluarga sendiri itu bikin keki. "Serius nanya, kamu ngapain kesini?"
"Aku udah wa kamu padahal." jawab Bio enteng. Aku mendesah, antara kesal dan menahan kesabaran. "Tapi kamu nggak aktif, makanya aku langsung nyamperin kerumah. Mau ngajakin kamu nonton."
"No-nonton?" beo ku, mencoba mencerna ucapannya agar tak salah paham. Tak berapa lama, aku tersenyum salah tingkah begitu berhasil menelaah maksudnya, yang mana dalam sekejap saja aku merasa perutku penuh dengan kepakan sayap kupu-kupu. Oalah, begini toh rasanya diajakin nge-date sama cowok? Ih, kok tiba-tiba semriwing gini ya? Terus, terus kayak ada denyutan yang aneh gitu di sudut dada kiriku. Huaaaaa, aku masih normal kan ya?
Bio menjentikkan jari tepat di depan wajahku, "Jangan geer dulu wahai jomblo." ujarnya, membuat senyumku kontan tertekuk turun, cemberut. Sialan! Nggak ikhlas banget liat orang lagi senang. Aku lupa fakta kalau Bio tetaplah Bio, kalau nggak tengil mungkin itu tanda-tanda kiamat. Dih, herannya, kenapa juga aku berharap lebih sama nih cowok ya? Duh, aku!
"Minggat kamu!" gerutuku diikuti dengan tanganku menggeplak lengannya.
Bio malah tergelak sambil memegangi perutnya. "Eitss, bercanda Bon. Elah, gitu aja baper." ujarnya begitu tawanya mereda.
"Nggak lucu."
Aku mengatupkan mulut, duh, nyaris saja aku ngiler mendengar ajakannya. "Ya, ajak yang lain aja kan ada. Kenapa harus ngajak aku sih? Aku lagi mager nih." kataku, mencoba biar nggak keliatan murahan banget didepannya Bio. Padahal di dalam hati merapal doa supaya Bio nggak menyetujui ucapanku. Kan, kan, jadi cewek susah ya? Lain dihati, lain dimulut emang.
"Kan yang jomblo cuman kamu, Bon."
Rahangku terlanjur jatuh mendengar ucapannya. Jadi aku cuman ban serep? Hanya karena yang lain udah pada taken makanya ngajak aku gitu? Kok tiba-tiba jantungku mencelos ya mendengar perkataannya. "Seandainya mengumpat itu nggak dosa." ujarku mendesis menahan amarah. Bio hanya menyengir tak merasa bersalah padaku. Karena kesal, aku berniat menutup pintu tepat di depan laki-laki itu tapi buru-buru ditahan oleh Bio.
"Bon?"
"Nggak, aku lagi sibuk."
"Kamu paling cuman rebahan aja."
"Itu lebih berfaedah."
Bio mengacak-acak rambutnya, frustasi, yang sialannya keliatan mempesona sekali menurutku. "Heran, gimana nggak jomblo coba." gumamnya yang masih dapat ku dengar dengan jelas.
"Aku masih bisa denger." ujarku, memasang wajah jutek.
"Pulangnya aku traktir sushi tei deh."
Bagai mendengar siraman rohani, senyumku kontan terbit. Bio hanya memutar bola mata malas melihat kelakuanku, murahan memang, toh siapa yang peduli? Kata mama sih, rezeki itu nggak boleh ditolak. "Ok, tunggu 30 menit ya." ujarku, lalu berlari tunggang langgang menuju kamarku yang ada di lantai dua.
[]
***Tes ombakkk duluh...
Aku sumpahin para siders jarinya kepeleset neken tombol bintang wkwkwk
Salam kenal
Biuu***~