
Tidurku sedikit terusik ketika aku merasakan seseorang sedang mengusap pipiku berikut beberapa suara seperti sedang berbisik saat berbicara. Awalnya aku mengabaikannya karena kelopak mataku masih terasa berat akibat mengantuk namun karena frekuensi orang berbicara semakin lama semakin ramai, maka aku dengan sangat terpaksa membuka mataku. Pelan-pelan aku mulai bisa membiaskan cahaya masuk ke dalam netra mataku hingga kentara. Dan ketika aku berhasil membuka mataku, hal pertama yang aku lihat adalah wajah Bio yang berada persis di hadapanku. Laki-laki itu menyunggingkan senyum lebarnya padaku. Kupikir apa yang kulihat sekarang hanyalah halusinasi akibat terbawa suasana pikiran ruwetku tapi ketika aku mengerjapkan mata beberapa kali ternyata wajah Bio nyata adanya.
"Kamu udah bangun?" Laki-laki itu mengamatiku, "Ada yang sakit nggak?" tanyanya lagi dengan ekspresi khawatirnya.
"Ka-kamu kok disini?" tanyaku yang masih tak percaya melihatnya berdiri di hadapanku. Dan lagi-lagi aku dibuat kaget saat menemukan eksistensi teman-temanku yang lain yang tiba-tiba sudah berdiri bergerombol mengelilingiku yang berbaring di atas bangsal. Wajah-wajah campur aduk mereka membuatku semakin yakin kalau aku tidak sedang bermimpi saat ini.
"Udah bangun?"
"Kok bisa sih sampai keserempet begini?"
"Jahat banget sih nggak ngabarin kalau lagi sakit."
Aku meringis mendengar pertanyaan yang mereka ajukan padaku. Mungkin akibat mereka bertanya bertubi-tubi disaat separuh nyawaku masih berlanglang buana, jadi terdengar tumpah tindih ditelingaku saat ini. "Tunggu, tunggu, kalian kalau mau nanya satu-satu dong." kataku masih terdengar serak.
Mereka saling bertatapan, "Oke, jadi pertanyaannya gimana bisa kamu sampai keserempet gini?" tanya Fei dan diangguki yang lainnya.
Aku diam, masih memproses perkataan Fei. "Ah, itu, kemarin aku–"
Cia langsung menyela ucapanku, "Jadi kejadiannya pas kita pulang nonton?" ujarnya terbelalak tak menyangka. Perempuan itu menatapku penuh penyesalan. "Ya Tuhan, maaf ya Bon? Harusnya tadi malam aku nggak biarin kamu pulang sendirian naik ojol."
"Apa kamu bilang?!"
Semua mata langsung menatap heran kearah Jo yang mendadak berteriak tanpa alasan yang jelas. Sementara aku langsung mendelik padanya saat tatapannya mengarah padaku.
Cia yang berada persis disamping Jo spontan memukul bahu laki-laki itu, cukup kencang sehingga mampu membuat Jo saat itu juga mengerang kesakitan seraya mengusap bekas pukulan Cia. "Apaan sih Jo? Tiba-tiba teriak gitu?" protes Cia sambil memelototi Jo. Fei langsung mengintervensi mereka sebelum mereka melakukan baku hantam karena sikap egosentris masing-masing dari mereka yang cenderung berlebihan. Setelahnya, Cia kembali menatapku, "Harusnya kemarin aku maksa sampai kamu mau pulang sama aku. Sorry banget ya, Bon?"
Aku tersenyum rikuh, "Nggak apa-apa, udah kejadian juga. Lagian aku juga nggak kenapa-kenapa kan?" kataku menenangkan. Pandanganku bergulir kearah Jo yang hendak mengeluarkan suara dan mengirimkan ancaman melalui tatapan mataku yang cepat dipahaminya. Sehingga laki-laki itu kembali mengatupkan bibirnya lalu dengan wajah datarnya, Jo melenggang kearah framing sofa yang ada di kamar inapku.
Fei bersungut-sungut, "Nggak kenapa-napa apaan kalau sampai patah tangan gini?" ujarnya seraya menunjuk kearah tanganku yang memakai gips.
"Jangan lebay deh." sahutku lalu tertawa kecil.
"Yang harusnya kamu katain lebay itu sebenarnya Bio. Asal kamu tau ya, Bon. Sejak tau kamu masuk rumah sakit, dia nggak henti-hentinya ngekhawatirin kamu sampai-sampai ditegur ibu Yessi karena ketahuan buka hp selama jam pelajarannya." timpal Cia kemudian tergelak diikuti Fei. Aku melirik kearah Bio yang sedari tadi bergeming dan pandangan kami seketika bersitegang. Karena tidak berani berlama-lama menatap matanya aku memutuskan kontak mata terlebih dahulu kemudian menyorot kearah Cia dan Fei bergantian.
Aku berdecak, "Ada-ada aja sih kalian." sahutku.
"Dia yang paling ngotot kesini dan sempat marah-marah juga sama Jo gara-gara nyasar." tambah Fei dan tangannya mampir menepuk bahu Bio yang berdiri disebelahnya. Aku hanya mengulum senyuman sementara diam-diam aku mengelak perkataan yang mereka lontarkan semampuku.
"Kamu percaya sama mereka?"
Aku menatap Bio lama lalu menjawab, "Enggak."
Refleks tatapan kami terputus saat mendengar Cia berdeham, "Yah terserah kalau nggak percaya. Iya nggak, Fei?" katanya yang segera diangguki perempuan diseberangnya.
"Kalian sudah makan?"
"Tadi kami udah makan sebelum kesini." jawab Fei sambil berjalan kearah framing sofa yang ada dipojok ruangan lalu duduk disamping Cia yang lebih dulu duduk disana, "Oh ya, Bio beliin buah buat kamu." lanjutnya sambil menunjuk kearah almari kecil di samping ranjang yang kutempati. Aku mengikuti arah telunjuk Fei dan menganggukkan kepala begitu mendapati satu keranjang buah di atas almari.
"Mau dikupasin nggak buahnya?" tanya Bio membuatku seketika menoleh kearahnya.
Aku menggeleng, "Nggak mau." seolah tidak mendengar jawabanku sama sekali, Bio mengambil salah satu dingklik di dekat almari dan meletakkannya di samping ranjang. Aku tidak tahu dari mana dia mendapatkan piring dan pisau buah, tapi laki-laki itu tetap mengupas buah yang ada dikeranjang tanpa mempedulikan penolakanku sebelumnya. Aku menghela nafas dan memalingkan muka darinya. "Kalian kok tau aku disini?" tanyaku menatap yang lainnya.
"Tante yang ngabarin aku."
Aku menatap lurus ke depan, tepatnya kearah Jo yang saat ini sedang mengotak-atik ponselnya. "Terus sekarang mama aku kemana?" aku mengedarkan pandanganku kesekeliling lalu kembali menatap Jo.
"Katanya kerumah dulu mau ngambil baju."
Aku hanya ber-oh ria mendengar jawaban Jo. Bio menyodorkan seulas jeruk ke mulutku tapi aku menghindarinya dengan cepat. Aku mengernyit tidak suka, "Aku nggak suka jeruk." kataku mendorong tangannya menjauh.
"Kenapa?"
Aku menggeleng, "Nggak bisa nelen."
Aku cemberut ketika mendengar Bio malah terkekeh ketika mendengar alasan yang kuberikan, "Kalau buah mangga suka nggak?" tanyanya sambil menyodorkan potongan mangga kehadapanku.
Aku menatapnya lama sebelum akhirnya mengangguk, "Aku suka apapun kecuali jeruk." jawabku lugas, setelah itu aku membuka mulut ketika Bio mendorong potongan mangga tersebut ke arahku. "Manis." ujarku begitu mencecap rasanya. Bio membalas tatapanku sambil menyunggingkan senyum.
"Berasa dunia cuma milik berdua sementara yang lain ngontrak ya?"
Aku menoleh kearah Cia dan Fei yang saat ini menatap kearahku. "Eh, tadi nggak ada pr kan?" tanyaku menyembunyikan jantungku yang kebat-kebit antara salah tingkah karena melihat senyum mematikan Bio sekaligus malu karena kepergok yang lain.
"Ngalihin topik nih ceritanya?"
Aku melotot, "Ciaaaa!" teriakku kesal hingga membuat mereka semua langsung menyemburkan tawa tak terkecuali Bio yang ada di hadapanku. Aku merengut, disamping itu aku dapat merasakan aliran darah di wajahku memanas dan aku yakin efeknya akan berpengaruh pada warna pipiku saat ini.
"Iya, iya, bercanda doang." kata Cia ketika tawanya berangsur reda. "Oh ya, mas kamu kok nggak ada?"
Aku menatapnya kaget, "Kamu tau?"
"Mereka yang cerita." ujarnya sambil menunjuk kearah yang lainnya menggunakan dagu. "Parah, kayaknya disini cuman aku deh yang nggak tau apa-apa tentang kamu, Bon." lanjutnya lagi diakhiri dengan decakan sinis. Sedangkan aku hanya terkekeh geli ketika melihat ekspresinya.
[]
🙃
Semakin kesini kalian greget nggak sama Bio? Selama itu pula gimana sih karakter Bio menurut kalian?
Biuuu~