
Aku mendesah lega ketika film yang kami tonton akhirnya berakhir, "Wah, aku kecewa banget sama filmnya." ujar Cia, aku dapat melihat dengan jelas bagaimana wajah masamnya begitu lampu studio mulai dinyalakan. Aku menyambar pergelangan tangan perempuan itu dan menariknya keluar bersama penonton lainnya. Disepanjang langkah kami meninggalkan studio, Cia yang berjalan disebelahku tak henti-hentinya mengomentari jalan cerita yang tidak begitu memuaskan baginya, padahal aku ingat dengan jelas bagaimana studio dipenuhi gemuruh tepuk tangan saat film tersebut berakhir. Alhasil aku harus menebalkan muka ketika berjalan di sampingnya, bagaimana tidak, dengan suaranya yang terbilang nyaring itu membuat beberapa pasang mata jadi melirik kearah kami.
Aku mengulum senyuman, "Kalau menurutku sih filmnya nggak buruk." jawabku sekananya.
"Kamu sadar nggak sih kalau filmnya itu nggak natural, kayak dialognya sok quotable dan justru malah kaku. Terus aku juga susah ngertiin alurnya, kayak ini film apasih? Kok tiba-tiba jadi begini?" cerocos Cia bertubi-tubi. Sementara aku tidak memberi komentar apapun, namun aku sepenuhnya setuju dengan pendapat Cia barusan. Itulah mengapa sejak dulu aku tidak pernah tertarik menonton per-filman tanah air karena takut tidak memenuhi ekspektasiku. Hanya karena tidak mau membuat Cia ngambek sebab tidak kutemani akhirnya untuk pertama kalinya aku mengorbankan waktuku menonton dengannya. "Pokoknya aku nggak suka sama filmnya."
Aku mendorong tubuhnya, "Dasar aneh, padahal yang ngotot mau nonton karena ada Abimana Aryasatya siapa to?" aku mencibir sinis.
"Iya, kalau nggak ada dia dilayar mungkin aku bakal ngajak kamu pulang daritadi." dumel Cia dengan sewot. "Oh ya, kita jadi ke Guardians kan?"
Aku mengangguk antusias, "Jadi dong." seruku bersemangat. "Habis itu kita ke foodcourt yuk sebelum pulang, tiba-tiba aku lapar nih."
"Aku sih yes."
Karena banyaknya antrian di depan lift dan diantara kami sama-sama tidak ingin membuang-buang waktu. Maka kami pun sepakat turun melalui eskalator dan aku senang keputusan yang kami ambil tidak salah sebab kami tidak perlu desak-desakkan di dalam lift. Cia mengartikannya lain, perempuan itu bilang dia senang mereka tidak turun lewat kotak besi itu, soalnya dia bisa menikmati dengan jelas ketika serbuk berlian melintas di depan mereka.
Aku menatap Cia dengan ekspresi penuh tanda tanya ketika perempuan itu mendadak menahan langkahku, "Bon, coba deh kamu lihat kearah jarum jam sepuluh." ujar Cia sambil menggoyang-goyangkan tanganku, membuatku otomatis mengikuti perintahnya. Dan betapa kagetnya aku saat melihat entitas Bio dan Fei sedang berjalan bersisian dengan tangan Bio merangkul mesra bahu Fei.
Aku tersenyum kecut, tidak dapat kupungkiri sejak kami pulang dari Duta Rasa kemarin, sikap Bio cenderung berubah padaku. Sikap yang ditunjukkannya padaku bisa dikatakan berbanding terbalik dengan dia yang biasanya, meski kami tetap berbicara di sekolah namun dia seolah memberi batasan pada komunikasi kami sehingga terasa hambar. Dan frekuensi chat yang kami lakukan pun tidak se-intens biasanya karena responnya yang kelewat cuek. Aku ingat dengan jelas, kalau tadi aku sempat mengirim chat padanya dan meminta ditemani pergi ke Guardians tapi laki-laki itu menolakku secara halus dengan alasan sedang ada kesibukkan. Alhasil aku mengajak Cia lalu disinilah kami pada akhirnya. Jujur saja, aku sangat-sangat berterimakasih pada Tuhan sekarang karena mengizinkanku memergoki kebohongannya melalui ketidaksengajaan seperti ini kendati terasa menyakitkan buatku.
"Mereka ngapain deh berduaan gitu, mana nempel banget lagi. Serakah banget emang si Bio, enggak kamu, enggak Fei. Dua-duanya diembat." sambung Cia berapi-api yang sontak saja membuat perasaanku kian memanas. "Kamu sakit hati nggak? Kita labrak mereka berdua yuk biar viral?" Cia menangkup kedua bahuku agar menatapnya. Aku hendak memprotes namun belum sempat aku membuka mulut, Cia buru-buru menyambar, "Alah kelamaan nunggu jawaban kamu, Bon. Ayo kita samperin mereka sekarang."
Aku panik bukan main ketika Cia tanpa ancang-ancang menarik tubuhku menghampiri Bio dan Fei yang baru saja masuk kesalah satu toko sepatu. Berkali-kali aku memohon supaya Cia mengurungkan niatnya namun tak ditanggapi perempuan itu sama sekali. "Ci, Ci, berhenti." pintaku dengan susah payah membuka buku-buku jarinya yang mencekal pergelangan tanganku. Dan aku nyaris menangis karena tinggal beberapa langkah lagi kami akan masuk ke dalam toko tersebut dan mungkin akan bertemu mereka juga. "Ci, berhenti sekarang atau kita nggak temenan lagi!"
Cia kontan menghentikan langkahnya persis di depan toko yang dimasuki oleh Bio dan Fei sebelumnya. Perempuan itu menoleh kearahku dengan raut wajah bingungnya, "Lho? Katanya kamu mau ngelabrak mereka? Cepetan makanya, keburu mereka hilang nanti." katanya dengan telunjuk teracung kearah toko yang ada di hadapan kami.
"Siapa yang bilang? Dan daripada ngurusin mereka, mending kita pulang sekarang aja."
"Kamu nggak sakit hati ngelihat mereka berdua?"
Mataku yang semula mengawasi pintu keluar masuk seketika berpusat pada Cia. Perempun itu saat ini berkacak pinggang di depanku dengan kelopak mata menyipit. "Sakit hati apaan deh. Kamu ini ngada-ngada aja, Ci." ujarku sambil tertawa kecil. "Pulang sekarang aja yuk. Aku takut dicariin nyokap soalnya tadi nggak ijin dulu pas keluar."
"Lho? Bukannya kamu bilang mau beli cetaphil ya ke Guardians? Kok mendadak berubah pikiran?"
Aku mengambil ponselku dan membuka aplikasi ojol dengan tangan gemetar. "Nggak jadi, aku baru ingat kalau minggu lalu udah beli." kataku disela aku memesan layanan. Dan jujur saja jawabanku sepenuhnya bohong tapi demi menyelamatkan diri sendiri aku mewajarkan aksiku diam-diam.
"Nggak, kita pulang sekarang aja ya?"
Alih-alih bertanya macam-macam padaku karena mendadak berubah labil, Cia justru mengangguk saja. Kami lantas masuk ke dalam kotak besi di hadapan kami ketika pintu lift akhirnya terbuka. Aku mencekal tangan Cia ketika perempuan itu hendak menekan tombol lantai, "Sekalian pencet tombol lobi. Ojol orderanku udah nunggu disana soalnya." ujarku dan perempuan itu menekan tombol lantai satu untukku.
"Tadi kamu kesininya juga naik ojol?" tanyanya dengan sebelah alis naik.
Aku mengangguk, "Lagian aku baru nginstal aplikasinya, kan sayang kalau nggak dipakai." ujarku sambil menyengir lebar pada Cia.
"Batalin aja orderannya, biar aku yang nganterin kamu pulang ke rumah."
Aku melipat tangan di dada, "Yang ada aku nggak enak sama bapaknya yang udah nyetir jauh-jauh kesini." jawabku benar adanya. Apalagi ketika kuamati dari foto profilnya, pengendara ojol itu cukup berumur. Mengingat udara malam disini lumayan dingin dan tidak terlalu baik untuk kesehatan orang tua membuatku semakin tak enak hati jika tiba-tiba membatalkan orderanku.
"Tapi aku lebih nggak enak lagi ngebiarin kamu naik ojol malam-malam gini."
Aku tersenyum melihat wajah enggannya, "Lagian ini baru jam tujuh, nggak terlalu malam kok." kataku dan menunjukkan lockscreen ponselku pada Cia tapi perempuan itu tetap menatapku dengan ekspresi memelasnya. "Udah, jangan lebay gitu. Aku bukan princess Syahrini."
Begitu pintu lift berhenti di lantai satu aku langsung menyelinap keluar diantara kerumunan. "Yaudah, kalau gitu hati-hati ya." ujar perempuan itu yang masih dapat aku dengar ketika aku berjalan keluar.
Aku bertemu pengemudi ojol pesananku persis di lobby dan kami meninggalkan pusat perbelanjaan tak lama kemudian. Awalnya aku baik-baik saja da masih bisa mengatasi tubuhku yang mendadak panas dingin dengan mensugesti diri kalau aku akan sampai dengan selamat tapi lama-kelamaan semakin parah hingga tangan dan kakiku mengalami tremor belum lagi pikiran buruk yang sudah aku tepis berkali-kali kini mulai mengambil alih kewarasanku. Aku dengan panik berteriak menghentikan pengemudi ojol. Mulanya bapak itu tidak menggubrisku tapi aku tanpa berpikir panjang berteriak kalau aku akan loncat dari sepeda motor seandainya bapak itu tidak menghentikan kendaraannya. Alhasil, bapak itu melambatkan laju motornya dan menepi ditrotoar sambil mendumel kesal. Aku mengeluarkan uang dari dompetku tergesa-gesa, ketika aku melihat ada halte bus diseberang jalan raya aku memutuskan menyebrang dengan perasaan dihantui ketakutan ketika dipanggil berkali-kali oleh pengemudi ojol tadi.
Aku kaget bukan main dan refleks berhenti ditengah jalan ketika tiba-tiba sebuah sedan hitam mengklaksonku tak sabaran. Aku menunduk meminta maaf dan setengah berlari melewatinya namun yang tidak aku duga sebelumnya, ternyata ada sebuah sepeda motor juga melaju dengan kecepatan tinggi dari arah yang sama. Aku tidak ingat apa-apa setelah itu selain bagaimana sakitnya tubuhku yang dihantam badan sepeda motor dengan keras dan teriakan panik orang-orang.
[]
😎🍿
Krenyes-krenyes.
Kasihan ya, si nona Bong.
Ngerasa dekat eh tapi ada yang lebih dekat.
Biuuu~