Lovesick Girls

Lovesick Girls
Lovesick: Ambil Kulit Ayamnya Bukan Hatiku



"Kamu mau beli apa?" tanya Bio begitu kami memasuki toko buku. Aku memilih tak mengindahkannya sama sekali saat melihat buku-buku yang berjejer rapi terpajang di depan mataku seolah memanggil-manggil namaku untuk menjemput mereka segera. Karena tak sabar maka aku mengambil satu-dua langkah lebih cepat untuk menghampiri rak berisi kumpulan novel dan meninggalkan Bio yang mendadak bergeming ditempatnya. Aku memekik tertahan begitu menemukan wishlist bacaan yang hendak kubeli berada tepat dihadapanku. "Dih, dih, kalap ketemu tumpukan novel." ujar Bio persis dibelakangku yang sedang membaca sinopsis dari novel yang saat ini kupegang.


Aku mengedik acuh, "Biarin."


Otomatis aku menoleh kearahnya ketika laki-laki itu menepuk bahuku, "Kenapa nggak beli ini aja? Kan ujian tinggal beberapa bulan lagi." katanya sambil mengangkat sebuah buku dengan judul berkapital 'kisi-kisi ujian nasional' kehadapanku. Dengan senyum lima jari laki-laki itu menaik-turunkan alisnya.


Aku melirik tanpa minat buku yang diacungkannya kemudian memalingkan wajah darinya, "Nggak ah, kalau kamu mau beli aja sendiri." ujarku mengabaikan tawarannya begitu saja dan memilah-milih beberapa novel yang ada di rak dengan teliti. Aku terpaku pada salah satu buku yang memiliki sampul sederhana namun membuatku menaruh perhatian lebih. Kemudian aku mengambilnya diantara deretan novel yang lain dan ketika aku membaca sinopsisnya tak ayal sudut-sudut bibirku tertarik jadinya. Mengetahui kalau jalan ceritanya tak jauh tentang friendzone sontak membuatku memutuskan membawanya kedalam dekapanku sehingga bergabung dengan novel lain yang sudah lebih dulu kuambil.


"Nah, kenapa kok senyam-senyum gitu?" ujar Bio tepat disamping telingaku, yang sontak saja membuatku mengusap dada sangking kagetnya saat mendengar suaranya yang tiba-tiba. Aku memberinya delikan tajam, sementara yang diberi pelototan tidak peka sama sekali. Laki-laki itu justru menyerobot novel yang baru saja kuambil dari dekapanku. "Emang ada yang lucu ya?" gumamnya sembari membolak-balikkan buku tersebut dengan alis mengernyit. Laki-laki itu menatapku setelahnya diiringi dengan kepala yang menggeleng.


Aku merampas kembali novel yang ada ditangannya dan mendorongnya menjauh, "Ih, udah sana! Cari buku yang mau kamu beli sana, yang penting jangan disini." ujarku.


"Kok malah sewot sih?"


Aku mengabaikannya dan memilih menyusuri sepanjang rak-rak yang berisi kumpulan novel dengan seksama. Namun ketika tanganku terulur hendak mengambil salah satu novel kategori teen, Bio lagi-lagi mengangguku dengan menyerukan namaku dari jauh. Laki-laki itu tampak melambai kepadaku ketika aku menoleh kearahnya, yang mana aksinya itu justru membuatku ingin menenggelamkan diri kedasar laut sangking malunya karena diperhatikan pengunjung lainnya. Aku melayangkan tinju di lengan atasnya saat laki-laki itu menghampiriku dengan wajah tanpa dosa. "Bon, gimana kalau kamu beli ini aja?" ujarnya lantas mengangkat buku tebal ke hadapanku dengan santainya.


Bola mataku nyaris menggelinding kelantai mendapati buku yang ditawarkannya, "Resek!" desisku kemudian berlalu dari hadapannya dengan rasa kesal sekaligus malu yang bercokol dibenakku. Bagaimana tidak laki-laki itu baru saja mengajukan buku tentang tips rumah tangga tetap harmonis untuk pengantin baru padaku dengan seringai lebarnya. Lama aku mencari novel disepanjang rak dengan berbagai kategori namun tidak ada satupun yang mampu membuatku kecantol. Aku mencari keberadaan Bio ketika kurasa aku sudah cukup dengan buku yang saat ini kupegang.


"Udah semua ini?" tanya Bio ketika aku menghampirinya, "Kok cuman ngambil dua? Tadi katanya mau ngeborong satu toko."


"Aku kan cuma bercanda." Aku menyengir malu, "Lagian novel lain nggak ada yang menarik menurutku." Sambungku beralasan. Aku menunjuk buku yang dipegangnya dengan daguku. "Kamu beli buku juga?" tanyaku yang membuat laki-laki itu menatap buku yang ada ditangannya kemudian menunjukkannya padaku. Yang mana membuatku berjengit ngeri ketika tahu buku yang dipilihnya ternyata buku terakhir yang tadi sempat ditawarkannya padaku.


"Iya nih, biar nanti kita bisa baca sama-sama."


Aku segera memalingkan wajah darinya, "Dih, ogah. Situ kan yang beli jadi baca aja sendiri!" jawabku cepat tanpa menatap netranya. Kemudian aku memutuskan menyembunyikan wajahku yang tiba-tiba memanas dengan beranjak mendahuluinya menuju kasir. Aku meletakkan buku yang hendak kubeli di meja kasir. "Ada kartu membernya dek?" aku mengangguk, mengambilnya dari dompetku lalu menyodorkannya pada penjaga kasir. Aku memutuskan membuat kartu member sejak setahun yang lalu mengingat aku suka memborong banyak buku setiap kali berbelanja.  Aku tipikal orang yang lebih suka membaca novel secara konvensional ketimbang membacanya melalui aplikasi ponsel. 


Tak lama Bio turut meletakkan buku diatas meja kasir, "Sekalian ini dihitung juga ya, mbak." ujar laki-laki itu sambil melempar senyum sopan pada penjaga kasir.


"Total 297.500, dek."


Bio menahan tanganku yang hendak mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetku. "Biar aku aja." ujarnya sambil mengangguk meyakinkanku. Tak ingin berdebat, akhirnya aku memilih mengalah dan kembali memasukan dompetku ke dalam tas sekolah yang kucangklong. Sambil menunggu Bio membayar, aku mengedarkan pandangan kesekeliling lalu memaku tatapan cukup lama keluar etalase ketika kulihat seseorang yang tak begitu asing bagiku berdiri menatap kearahku. "Bon?" aku menoleh kearah Bio dengan ekspresi penuh tanda tanya. "Aku panggil-panggil daritadi lho. Emang kamu ngeliatin apa sih?"


Mendengar perkataan Bio membuatku kembali memutar arah pandang dan menatap kearah yang sama dengan terakhir kali aku melihat sosok familier diingatanku. Namun sayangnya, begitu aku hendak memastikan kebenaran penglihatanku ternyata orang itu sudah tidak ada disana."Kita keluar sekarang atau ada yang mau kamu beli lagi?" tanya Bio membuat perhatianku tersedot kearahnya. Aku menggeleng cepat.


"Nanti aku balikin deh uangnya."


"Nggak usah."


Aku melirik Bio dari ekor mataku. "Emang kamu ikhlas? Dua ratus ribu nggak sedikit lho." tanyaku blak-blakkan begitu kami keluar dari toko buku. Dapat kudengar laki-laki disampingku itu mendengkus tertawa.


"Iya, ikhlas."


"Pokoknya nanti aku ganti."


"Aku cium nih kalau masih ngeyel mau ganti uangnya."


Aku refleks menoleh kearahnya, "Eh? Ng-nggak deh." ujarku gelalapan dan mencoba menjaga jarak darinya secara natural. Bio menyadari perubahanku tak lama kemudian dan berdecak tak habis pikir. Laki-laki itu menarik pergelangan tanganku sehingga mau tak mau kami berjalan berdampingan disepanjang pusat perbelanjaan.


"Hm, boleh deh."


"Mau makan apa?"


"Terserah."


"Nggak ada makanan terserah disini."


"Ya maksudnya kamu mau makan apa? Aku ngikut kamu."


"Aku juga ngikut kamu."


Bola mataku berputar jengah. "Huh, kalau kita begini terus kapan pulangnya?" ujarku bersungut-sungut mendengar respon Bio. Aku masuk lebih dulu kedalam kotak besi didepan kami ketika pintu lift terbuka sementara laki-laki itu mengekor dibelakangku. "Yaudah, kita ke KFC aja gimana? Aku tiba-tiba mau makan ayam nih."


Bio menarik rambut yang kuikat ekor kuda, "Kenapa nggak ngomong daritadi aja sih." ujarnya gemas. Aku menatapnya dengan kesal dan mendorong tubuh jangkungnya sampai terantuk kedinding lift kemudian memutuskan menyelinap diantara orang di dalam lift dan menekan tombol lantai tujuan kami. Tanpa banyak kendala kami tiba ditempat tujuan kami tak lama kemudian. Bio memesan diantara banyak antrian sementara aku dipintanya mencari meja untuk kami makan. Karena banyaknya pegunjung yang datang, aku jadi tidak bisa memilih meja yang kuinginkan. Alhasil, aku mengambil meja didekat pintu keluar masuk persis disebelah kaca pembatas ruangan karena hanya meja itu yang kosong saat ini.


Bio datang beberapa saat kemudian sambil membawa pesanan dikedua tangannya. Laki-laki itu duduk diseberangku dan mulai menyantap makanannya dengan tenang begitupun aku, "Kenapa kok dipisahin?" tanyanya. Aku sontak mengangkat wajahku menatapnya yang rupanya sedang memperhatikan tanganku yang sedang memisahkan antara kulit dan daging ayam.


Aku meringis malu, "Aku nggak bisa makan kulit."


"Kenapa?"


Aku meletakkan kulit ayam dipinggir piringku ketika berhasil memisahkannya. "Iya, nggak bisa nelen." jawabku seraya mengangguk, kemudian aku kembali teringat trauma yang pernah aku alami saat masih kecil dulu. "Aku pernah coba belajar buat makan kulit tapi ujung-ujungnya aku malah keselek. Dari situ aku mulai trauma makan kulit ayam atau apapun itu yang teksturnya kenyal."


"Lucu banget."


Aku mengernyit mendengar respon Bio, "Apanya yang lucu?" tanyaku melihatnya malah cengengesan sambil menatap kearahku.


Bio berdeham, "Itu, kulit ayamnya yang lucu." ujarnya dengan mata berseliweran tanpa menatapku. Sedangkan aku menggelengkan kepala, "Yaudah, daripada nggak dimakan kamu taruh di piringku aja." tambahnya lagi.


"Jangan!" selaku tanpa pikir panjang.


Bio menatapku dengan bingung, "Kenapa? Kan katanya kamu nggak suka?"


Aku menyengir kikuk, "Bekas tanganku soalnya." ujarku dengan suara memelan diakhir kalimat.


"Nggak apa-apa." Bio terkekeh geli, "Aku ambil ya?" katanya lagi tanpa menunggu jawabanku laki-laki itu mengambil alih kulit ayam yang ada dipiringku dan membawanya ke atas piringnya. Aku menatap kulit ayam yang diambilnya kemudian ke arah wajahnya dengan jantung berdegup kencang. Aku menunduk salah tingkah ketika Bio mengangkat wajahnya dan membuat mata kami saling mengontak. Sementara jauh dari lubuk hatiku, aku mengutuk sikap Bio yang kurang ajar padaku. Sebab selain mengambil kulit ayamku tanpa dia sadari ternyata dia juga mengambil alih hatiku, untuk yang kesekian kalinya.


[]


Padahal kulit ayam enak lho🤤 gimana sih kamu ini Bon, Bon ckckk


Duh, nggak bosen-bosen nih ngingetin buat jangan lupa dukungannya ya, karena berarti banget buat mimin✌


Your Bee