Lovesick Girls

Lovesick Girls
Lovesick: Telepon Dari Perempuan Lain



Di malam jumat yang gerimis ini, seperti jelangkung yang datang tak diundang, Biotama Bernadus tiba-tiba bertandang ke rumahku tanpa memberi kabar apapun sebelumnya. Aku yang saat itu baru selesai mandi tergopoh-gopoh menghampirinya yang sudah lebih dulu mama jamu di ruang tamu. Dengan maksud kedatangannya yang mendadak, laki-laki itu bilang dia tidak punya teman yang bisa diajak pergi kemudian memilih mengajakku makan malam diluar.


Awalnya aku hendak menolak ajakannya karena sudah makan malam sebelumnya namun mama langsung menyerobot perkataanku dan menyuruhku bergegas supaya Bio tidak menungguku semakin lama. Dibawah sorot mata mengancam mama maka dengan terpaksa aku kembali ke kamarku dan mengambil sweater rajut dilemariku untuk melapisi piyama yang kukenakan. Kami pergi tak lama setelah aku turun dengan ultimatum mama pada Bio agar aku bisa diantar pulang sebelum jam sepuluh malam.


Bio tidak menjelaskan apapun tentang kemana tujuan kami kali ini, laki-laki itu hanya mengatakan kalau aku pasti akan menyukai destinasi pilihannya. Setelah itu Bio memilih membungkam mulutnya disepanjang perjalanan dengan aku yang masih meraba-raba kemana dia hendak membawaku pergi malam-malam begini. Setelah lama berkendara, fortuner Bio akhirnya berhenti di jalan Solo, aku menegakkan tubuhku dan mengerjap beberapa kali ketika melihat warung tenda yang tidak begitu asing diingatanku berada tak jauh dari tempat Bio memarkirkan mobilnya. Terang saja ada sebagian dari sudut dadaku yang berdenyut ngilu ketika otakku berhasil mengingat tempat itu. Leherku refleks berputar kearah Bio, "Kamu? Kamu kok tau tempat ini?" ujarku sambil meremas tanganku dengan erat. Laki-laki itu melepas seatbeltnya dan menaruh perhatiannya padaku.


Tanpa disuruh Bio melepaskan seatbeltku, "Pertanyaan kamu seolah kamu pernah kesini sebelumnya." ujarnya.


Aku menggigit bibir, "A-aku udah sering kesini." ujarku dengan suara perlahan memelan, aku menatap lurus kedepan tepatnya kearah warteg yang santer dikenal dengan nama Duta Rasa yang saat ini tengah ramai pembeli dengan helaan nafas yang terasa berat. "Udah dulu banget tapi." imbuhku tanpa mengalihkan tatapanku.


"A-pa? Sering ya."


Aku menoleh kearah Bio, "Semua tempat yang jual sate klatak pernah aku datangin." kelakarku kemudian terkekeh, tawa yang justru terdengar sumbang ditelingaku.


"Oh ya? Jadi nggak spesial dong makan malamnya kali ini." gumam Bio dengan suara yang terdengar putus asa. Aku tergelak melihat ekspresi cemberutnya dan menepuk pundaknya beberapa kali untuk menenangkannya.


"Tapi aku kaget lho kamu tau tempat ini."


Bio menatap kedepan sambil mencengkram erat roda kemudi, "Aku pernah kesini sama Fei. Dan dibandingkan tempat lain, sate disini lebih enak. Pas aku tau kamu suka sate klatak, aku punya rencana buat ngajak kamu kesini." jelas laki-laki itu terdengar antusias. Namun berbanding terbalik denganku yang justru terhenyak, rasanya jantungku baru saja jatuh keperut begitu mendengar ucapannya. Bagaimana tidak, aku yang awalnya merasa spesial karena dijemput langsung dari rumah untuk makan malam bareng kontan sadar kalau aku tak lebih spesial dari perempuan itu. "Tapi ternyata–"


Aku memutar bola mata dengan malas, "Tapi ternyata kamu malah banyak bicara dan bikin aku terancam mati kelaparan." selaku menyambar kata-katanya dengan jutek. Aku langsung membuka pintu mobil disampingku, melompat turun kemudian membanting pintu mobil tersebut dengan keras. Bio turun tak lama setelah aku, laki-laki itu menghampiriku dan berdiri di hadapanku sambil memasukan telapak tangannya dikantong celana.


"Kamu mau makan disini?"


"Kenapa enggak?"


Aku melengos begitu saja dari hadapannya dan berjalan lebih dulu masuk ke dalam tenda yang cukup ramai kedatangan pembeli. Aku memilih meja kosong yang posisinya ada di pojok. "Kamu sering kesini? Kok aku nggak tau?" tanya Bio. Aku mendongak menatapnya yang sedang mengambil kursi tepat disampingku.


"Iya." sahutku masih dengan nada yang sama.


"Bong? Iyakan?"


Aku otomatis menoleh kearah sumber suara yang memanggil nama depanku yang sekonyong-konyong membuat kedua mataku sukses membeliak kaget ketika melihat sosok familier sedang menatapku dengan air muka yang campur aduk. Aku tahu, ketika aku menginjakkan kaki kembali ketempat ini lagi maka kemungkinan terbesar aku akan bertemu dengannya juga. Namun meski aku sudah mempersiapkan diri sedemikian rupa, aku tetap saja dibuat kaget ketika bersitatap dengannya untuk sekian lama. Aku menelan ludahku yang terasa seperti kerikil, "I-iya. Mas Dewa masih ingat aku to?" jawabku dengan gelalapan.


"Ingat lah. Masa lupa sama pelanggan setia sendiri." jawabnya tanpa menyembunyikan suaranya yang riang, "Gimana kabarnya, dek?"


Aku tersenyum kikuk, "Aku baik. Mas sendiri gimana? Makin laris aja kayaknya jualannya." ujarku mulai terbiasa dengan kehadirannya dihadapanku.


Aku dikenalkan dengan mas Dewa sekitar dua tahun lalu oleh seseorang. Sebenarnya mas Dewa adalah pengelola Duta Rasa ini. Bisnis warung tenda yang digelutinya ini menjual kuliner khas Yogyakarta dan sudah terbilang sukses hingga berhasil membuka beberapa cabang lainnya di luar daerah bahkan diluar kota seperti Kalimantan, tanah kelahiran mas Dewa sendiri. Makanan yang paling direkomendasikan disini sebenarnya sate klataknya tapi bukan berarti menu lainnya tidak enak. Hanya saja dibanding tempat lain, sate klatak disini jauh lebih enak. "Ya gitu lah." jawab mas Dewa sambil mengusap tengkuknya. "Kenapa baru mampir kesini, dek?"


Aku berdecak, "Biasa." jawabku diikuti dengan senyum masam. Mas Dewa paham maksudku dan tergelak seketika.


"Makin posesif aja ya?"


Aku mengangguk cepat, "Wah, aku kalau keluar sebentar aja. Pasti ditanyain sampai keakar-akar." ujarku cemberut begitu mengingat bagaimana wajah menyebalkannya mas Io ketika menginterogasiku.


"Tenang, dek. Kalau udah ketemu sama cewek yang cocok dia pasti berubah kok."


"Ya, semoga. Repot di aku kalau dia selamanya gitu." jawabku dan mengaminkan dalam hati perkataan yang dilontarkan oleh mas Dewa. Karena jika mas Io selalu bertingkah seperti itu padaku maka aku berani menjamin selain diapun tidak akan mendapatkan pasangan hidup dan akupun juga akan menerima tulahnya, mengingat seberapa posesif mas Io pada lingkup pergaulanku.


"Oh ya, keasyikan ngobrol sampai lupa nanya pesanan." kata mas Dewa sambil meringis tak enak, "Jadi kalian pesannya apa aja nih?"


Aku terkekeh mendengar perkataannya kemudian membaca menu makanan yang ada di atas meja setelah itu kembali menatap mas Dewa. "Aku yang biasa aja tapi jangan lupa bawang goreng diatas nasinya dibanyakin ya, mas." terangku. Aku baru tersadar dengan keberadaan Bio ketika melihat bola mata mas Dewa melirik tepat ke samping kananku. Aku menyenggol lengannya, "Kalau kamu pesen apa?"


"Samain aja kayak kamu."


Bio berdecak kesal, "Aku bilang samain aja kayak kamu." sahut Bio sambil meninggikan nada bicaranya, yang mana membuatku refleks menoleh kearahnya karena kaget mendengar tanggapannya yang baru kali ini kudengar.


Aku mengerjap beberapa kali begitu melihat rahang Bio nampak mengetat. "Oh iya." kataku lalu menggangguk. Kemudian aku kembali menoleh kearah mas Dewa sambil tersenyum meringis. "Kalau gitu minumnya es teh aja, semuanya disamain ya mas."


"Siap. Kalau gitu ditunggu ya, dek." ujar mas Dewa, setelahnya laki-laki itu pamit usai menyebutkan ulang pesanan kami.


"Kamu kenal?"


Aku menoleh kearah Bio kemudian mengangguk, "Iya, dikenalin sama temen." ujarku sambil menerawang mengingat-ingat pertemuan pertamaku dengan mas Dewa dua tahun yang lampau. Dan aku tidak menyangka ternyata waktu berlalu begitu cepat.


"Dia kerja disini? Diwarteg kecil begini?"


Aku nyaris mengetuk kepalanya saat mendengar nada meremehkan dari suaranya, "Jangan sala–"


"Akrab banget ngobrolnya sampai lupa kalau masih ada aku disini." sela Bio tiba-tiba begitu aku hendak menjelaskan kalau sebenarnya mas Dewa itu adalah pemilik tempat ini bahkan tergolong sebagai pengusaha sukses. Namun karena melihat wajah masam Bio, aku tidak jadi mendebatnya dan memilih membiarkannya larut dengan kesalahpahamannya tentang mas Dewa.


Aku meneleng menatapnya, "Kamu kenapa sih? Perasaan tadi nggak gini deh?" tanyaku yang sontak membuatnya membuang muka kearah lain begitu aku memperhatikan wajahnya.


"Tanya aja sama diri kamu sendiri."


"Aku?" tanyaku tanpa sadar menunjuk diriku sendiri. Aku menghela nafas lelah, daripada kami berakhir bertengkar di tengah keramaian begini akhirnya aku memilih menurunkan ego, "Yaudah, aku minta maaf kalau gitu."


"Buat apa? Emang kamu salah apa?"


"Iya apalagi kalau bukan karena ngacuhin kamu kan? Emang ada yang lain?"


"Susah ya ngomong sama kamu."


"Bio–" aku menipiskan bibir seketika begitu ponsel Bio berdering disaat-saat seperti ini. Aku sempat melirik sekilas kearah ponselnya yang ada di atas meja dan mendapati panggilan masuk–yang tidak aku duga–dari Fei sebelum pada akhirnya laki-laki itu meraih ponselnya dengan cepat dan menggeser kursi yang didudukinya. "Aku keluar dulu." katanya kemudian melengos begitu saja keluar tenda. Aku menatap punggungnya dengan jantung mencelos sakit.


Seseorang berdeham, "Ini yang baru ya, dek? Pantes udah nggak bareng Keen lagi." tanya mas Dewa membuatku menoleh kearahnya yang dengan tangan cekatan menata makanan yang kami pesanan di atas meja.


Awalnya aku mengernyit kebingungan saat mendengar ucapannya namun begitu berhasil mencerna maksudnya seketika aku mendengkus tertawa. "Kami cuman teman kok, mas." kataku sambil menggelengkan kepala.


Mas Dewa mengulum senyum penuh arti, "Yaudah, ini pesanannya." ujarnya. "Satu porsi sate lagi buat nambah." sambungnya lagi begitu aku hendak protes saat melihat ada tiga porsi sate di atas mejaku. "Dan itu gratis kok."


"Ih, bukan itu." aku mengibaskan tangan didepan dada, mas Dewa menggeleng telak begitu aku hendak mendorongnya kembali agar dibawa dari atas meja yang kutempati. "Yaudah, makasih banyak kalau gitu, mas." lanjutku sambil tersenyum tak enak pada mas Dewa.


"Makan yang banyak ya." ujar mas Dewa dan akupun mengangguk.


Bersamaan dengan mas Dewa pamit melayani pelanggan lain, Bio datang dan melesatkan bokongnya dikursi tepat disampingku. Aku menoleh kearahnya yang tanpa banyak bicara langsung menyantap makanan di depannya. "Siapa yang nelpon?" tanyaku setelah lama menimbang-nimbang. Aku menggigit bibir bawahku ketika melihat responnya yang mendadak menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyuap makanan kemulut begitu aku memutuskan bertanya.


Bio tidak sekalipun menoleh kearahku, "Nyokap." ujarnya dingin dan kembali melanjutkan makan. Sementara jawabannya itu sontak membuatku menelan kekecewaan dalam diam.


[]


🙃🙃


Aku mau bikin klimaks cerita yang jahat entar tapi takut digampar mas Io :'(


Biuuuu~