
The hardest thing to do is watch the one you love, loves someone else.
–Anonymous
🐝
Payah mungkin adalah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaanku saat ini.
Bagaimana tidak, baru beberapa menit pemanasan untuk pelajaran olahraga dimulai aku sudah mengalami disorientasi dan nyaris pingsan kalau saja Cia tidak menyadari kondisiku segera. Karena tidak mau repot jadi pada akhirnya Pak Hendra selaku penanggungjawab pelajaran olahraga melonggarkanku untuk mengambil istirahat di UKS. Akan tetapi aku menolaknya dan bersikukuh menunggu di pinggir lapangan saja supaya bisa memantau pelajaran meskipun dari jauh, mungkin karena tidak ingin membuang-buang waktu mengajarnya demi meladeniku, Pak Hendra mengiyakan permintaanku tanpa mendebat namun dengan catatan jika aku kenapa-napa beliau tidak akan bertanggung jawab.
Aku menghela nafas berat ketika kulihat Pak Hendra meniupkan peluit yang menandakan jika latihan telah dimulai. Ditengah bulan september yang panas ini, pekikan antusias mereka ditengah lapangan tampak membara sekaligus membakar semangat. Sementara disisi lain, aku hanya mampu tersenyum miris sambil menatap kearah mereka. Terlepas apa yang terjadi padaku sekarang aku memang tidak begitu berbakat dipelajaran olahraga, kategori apapun itu. Itulah mengapa aku terkadang iri ketika melihat Cia, meski dia tidak bisa dikatakan seorang pro ketika berolahraga tapi perempuan itu tidak bisa dianggap remeh. Berbanding terbalik denganku yang nob, sehingga Jo sering meledekku dan menyebut 'payah' adalah nama tengahku dalam bidang olahraga.
Aku tidak tahu berapa lama aku termenung sembari menatap rumput yang dipangkas rapi dibawah sepatuku. Ketika sadar, aku menemukan bayangan seseorang sedang berdiri di depanku. Awalnya aku mengernyit bingung dan ketika aku mendongak untuk melihat sosok pemilik siluet itu, mataku segera membola saat aku menemukan wajah pria itu yang nampak berkeringat, "Bio?" gumamku, menatapnya dengan linglung. Aku melirik ke balik tubuhnya kemudian kembali menatapnya sambil bertanya-tanya dalam hati.
Laki-laki itu berdecak, "Disini panas, Bon. Mending pindah ketempat yang lebih teduh gih."
"Kamu ngapain disini?"
Bio menggeleng-geleng. "Kamu ini gimana sih, malah nanya." Bio memilih mengabaikan pertanyaanku dan menarik pergelangan tanganku begitu saja lantas menuntunku duduk dibawah pohon yang lebih teduh. "Kamu mau minum nggak?" tanya Bio, aku menatapnya kemudian menggelengkan kepala dan tak lama mengangguk. Sementara itu, Bio terkekeh melihat kelabilanku, "Ada bawa air pas kesini?" tanyanya lagi, aku refleks menggeleng. "Yaudah, minum punyaku aja dulu, nggak apa-apa kan kalau bekas ku?" ujarnya lantas menyodorkan botol minumannya padaku.
Aku menatap botol yang disodorkannya lama sebelum akhirnya tanganku terulur menyambut pemberiannya, "Nggak apa-apa." ujarku lalu tersenyum lemah. "Makasih ya, minumannya." imbuhku sambil mengangkat botol miliknya.
"Udah makan?" tanyanya begitu aku selesai menegak minumannya yang menyisakan setengah botol. Pertanyaan yang diajukannya mengingatkanku kalau tadi pagi aku melewatkan sarapanku karena bangun kesiangan. Biasanya aku mengandalkan suara mama sebagai alarm bangun tidurku. Namun sama halnya denganku, pagi ini mama juga bangun kesiangan karena mendadak terserang flu. "Kayaknya belum deh, muka kamu aja pucat gitu." simpul laki-laki itu dengan tepat sasaran.
Aku menoleh kearahnya, "Hah?"
Bio mengacak-acak rambutku, "Makanya kalau tau ada pelajaran olahraga hari ini, usahain kamu bangun pagi-pagi buat sarapan dulu dirumah, biar nggak pingsan." ujarnya, laki-laki itu menarik pergelangan tanganku. "Yaudah, kalau gitu kita ke UKS aja yuk? Biar aku anterin." lanjutnya yang sekonyong-konyong membuatku menarik tanganku kembali ke sisi tubuhku.
"Nggak, lagian aku cuma pusing aja. Ini nggak parah kok." tolakku sambil menghindari tangannya yang hendak menggapai tanganku lagi.
Aku dapat mendengar helaan nafas Bio yang terdengar kasar. "Bandel banget kalau dibilangin." katanya membuatku mendongak menatapnya sambil tersenyum meringis. "Yaudah, kamu tunggu disini dulu ya." laki-laki itu menepuk bahuku sekali kemudian melangkahkan kaki tergopoh-gopoh diselasar sekolah.
Sementara aku tanpa sadar menatap kepergiannya, "Eh? Kamu mau kemana?!" tanyaku meninggikan suara begitu sadar punggungnya perlahan mengecil dari pandanganku. Namun kurasa lengkingan suaraku tidak akan menjangkau indera pendengarannya sama sekali dan hal itu terbukti benar dari semakin jauhnya siluet tubuhnya diujung selasar sekolah. Aku mendesah kemudian mengalihkan tatapan kembali menuju rerumputan yang ada dibawah kakiku sembari memikirkan sikap Bio padaku selama ini. Seandainya aku tidak tahu kalau laki-laki itu menaruh hati pada Fei kemungkinan aku akan semakin percaya diri kalau laki-laki itu membalas perasaan sepihakku, mengingat bagaimana intensnya perhatian yang ditunjukkannya padaku. Beruntungnya Tuhan masih menyayangiku dan memperingatkanku sebelum aku benar-benar jatuh semakin dalam kedalam kubangan perasaanku pada Bio dengan mengetahui perasaan terpendam laki-laki itu pada perempuan lain, yang dalam sekejap membuatku tahu diri dan menyingkir lebih dulu sebelum terusir.
Tak lama berselang kepergiannya, laki-laki itu kembali muncul dihadapanku sambil membawa kotak sterofoam dan botol minuman di kedua tangannya. "Nih, aku beliin kamu makan." ujarnya lalu meletakkan barang yang dibawanya di celah kosong diantara kursi yang kami duduki. "Kamu suka bubur ayam nggak?"
Aku mengangguk pelan. "Aku suka apa aja."
"Dimakan kalau gitu."
"Nanti aja, nungguin kamu selesai makan dulu."
Memilih tidak menghiraukan keberadaannya maka aku kembali menyantap bubur ayam yang kupangku. "Ih, aku masih lama nih. Nanti Pak Hendra marah-marah lho." ujarku tanpa mengalihkan tatapan dari bubur ayam yang sedang kuaduk. Aku menatap kearah lapangan kemudian melanjutkan kata-kataku lagi, "Lagian nanti apa kata yang lain pas lihat kamu malah enak-enaknya neduh disini sementara mereka kepanasan."
Bio menyodorkan botol minuman mineral yang sudah dibuka tutupnya padaku, aku menerimanya dengan senang hati kemudian minum melalui sedotan yang dibawa laki-laki itu. "Kamu nggak usah ngekhawatirin apapun. Cukup pikirin diri sendiri aja dan kalau pun nanti Pak Hendra marah, aku pastiin Pak Hendra marahnya cuman ke aku." ujar Bio sementara tatapannya bergulir kearah lapangan.
"Uh-tapi–"
Buru-buru Bio menginterupsi perkataanku, "Udah, dilanjutin tuh makannya." ujarnya. Aku mengangguk dan melanjutkan makan dalam diam. Disela aku makan, kudengar laki-laki itu tertawa geli, begitu aku meliriknya dari sudut mataku dapat kulihat laki-laki itu tengah menatap kearah lapangan. Karena penasaran maka aku mengikuti arah pandangnya dan yang tidak kusangka ternyata objek yang diperhatikannya adalah Fei, saat ini perempuan itu mendapat giliran melakukan servis. Berkali-kali perempuan itu berusaha menyervis namun sayang bola yang diberikannya selalu berakhir sangkut di tali net. Dan yang tidak perempuan itu ketahui bahwa sepanjang gilirannya itu pula, Bio tidak mengalihkan tatapan darinya.
Aku menunduk sedih sedangkan tanganku sibuk mengaduk-aduk bubur yang kupegang. Sebenarnya jauh didalam hati aku mengutuk diri sendiri sebab hanya karena rasa nyaman, aku sampai lupa kalau diantara aku dan Bio hanya sebatas teman. Dan aku merasa malu pada diriku karena mencemburui Fei yang notabenenya tidak tahu apa-apa. "Kok cuman dipelototin buburnya? Udah kenyang?" tanya Bio yang membuatku mengangguk sembari menggenggam dengan erat sendok yang ada ditanganku.
"Makasih ya, nanti aku ganti deh uangnya."
"Nggak usah."
"Bi, ayolah? Kamu tau, aku nggak mau terlalu bergantung sama orang lain."
"Kalau gitu aku bakal bikin kamu ketergantungan sama aku."
Otomatis aku menoleh kearah Bio. "Kamu bilang apa barusan?" tanyaku tidak mempercayai apa yang baru saja kudengar.
Bio menggeleng dengan senyum misteriusnya, aku semakin dibuat bingung tanpa penjelasannya. "Kalau gitu–" tanpa mengalihkan tatapannya dariku, laki-laki itu menunjuk kearah lapangan menggunakan jempolnya. "Aku gabung sama yang lain dulu ya." sambungnya kemudian berdiri. Masih dengan pikiran yang bercalar-balar, aku mengangguk berikut senyuman kecil untuknya yang saat itu juga melenggang pergi ketengah lapangan.
Laki-laki itu membalikkan badannya ketika aku berteriak memanggil namanya, "Semangat ya latihannya!" pekikku nyaring diiringi dengan tangan terkepal keudara.
[]
Ulalaaaa :v
Sampai sini ketebak nggak si alur nya?
Kalau iya, yaudah, baca aja terus
Dan jangan lupa di teken jempolnya 👍
Biuuu~