
Aku tidak menyangka akan berada disituasi 'paling menyedihkan' seperti sekarang. Penyebabnya hanya karena sopir keluarga yang selalu mengantar jemputku sekolah tidak bisa menjemputku seperti biasa karena mama tugaskan untuk menjemput papa di bandara dan keabsenannya kali ini justru berbuntut panjang pada kesialanku.
Awalnya mama menyarankan agar aku minta diantar Jo atau siapapun asal jangan memesan taksi online. Namun Jo menolakku bahkan sebelum aku sempat menyelesaikan perkataanku, parahnya dia justru melemparku pada Bio yang tanpa tendeng aling-aling mengiyakan perkataan Jo. Aku menolak kebaikannya secara alamiah dan bilang akan memesan taksi online saja tapi laki-laki itu tidak terima dan malah menarikku ke dalam mobilnya. Karena tidak ingin berdebat akhirnya aku menurunkan ego dan menunda mode menghindar darinya. Dan ketika aku benar-benar sudah mempersiapkan diri akan berduaan dengan Bio selama perjalanan pulang kerumah, tiba-tiba entitas Fei muncul diantara kami. Kedatangannya tak ayal memperburuk suasana hatiku, sebab perempuan itu turut menumpang di mobil Bio untuk pulang.
"Lho, kok malah lurus sih Bi? Rumahku kan di catur tunggal, harusnya pas lampu merah tinggal belok kanan aja tadi." ujarku seiring dengan kepalaku memutar menatap kearah Bio yang duduk dibelakang kemudi, tentu saja aku tidak terima karena, "Kalau gini kan kamu jadi muter-muter." dan bikin aku makan ati karena ngeliat keuwuan kalian, lanjutku dalam hati.
"Kita, nganterin Fei dulu ya, Bon? Kamu nggak apa-apa kan? Kasihan sama Fei, kayaknya dia perlu istirahat."
Aku melirik kesamping dimana Fei sedang bersandar di jendela mobil sembari memejamkan mata, sedangkan tangannya mengusap perut bawahnya. Kembali aku menoleh ke depan dan mengangguk pasrah, toh, sudah terlanjur juga dan tidak mungkin aku menolak disaat seperti ini, karena jika aku berani melakukannya maka aku akan dicap egois dan kekanak-kanakkan. "Oh, aku nggak apa-apa sih." sahutku.
"Lagian aku setelah ini mau kesekolah lagi. Ada latihan buat porseni nanti."
Fei tiba-tiba saja menepuk bahuku dan menatapku dengan binar jahil, "Jadi siapa cowok yang bareng kamu di klinik kemarin, ganteng banget lho, siapa kamu, Bon? Pacar ya? Cerita dong."
"Eh itu?" aku menggaruk kulit kepalaku yang tidak gatal, saat itu tanpa disengaja pandanganku dan Bio melalui spion tengah bersibobrok. Sedikit salah tingkah karena dipandang seintens itu, aku segera melarikan pandangan kearah Fei yang duduk disampingku. "Jangan salah paham dulu, dia bukan pacarku kok." ujarku, kemudian terkikik geli karena ternyata Fei menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang salah menduga hubunganku dan mas Io. Memang jika dilihat dari segi kulit kami benar-benar berbeda, mas Io memiliki skin tone yang cenderung gelap hal itu mungkin akibat ditempa matahari selama kurun tiga tahun lamanya sedangkan aku sendiri memiliki skin tone tipe kuning langsat. Namun jika diperhatikan lebih jeli lagi aku dan mas Io itu tak ubahnya kembar identik, wajah kami literally mirip. Hanya saja, aku versi perempuan dari mas Io dan begitupun sebaliknya. "Masa iya pacarku, ada-ada aja sih kamu. Lagian cowok lain diluar sana banyak."
Fei terpekik, "Duh, dipanggil mas dong, Bi. Terus, terus?" ujarnya dengan senyum penuh arti sementara kepalan tinjunya bersarang tepat di lengan atas Bio, membuat laki-laki itu pura-pura mengaduh. "Kalau bukan pacar apaan dong? Saudara kamu? Kalau saudara kayaknya jauh banget deh? Setuju nggak Bi?"
Aku berdeham singkat, "Dulu, aku pernah cerita kan kalau aku punya mas? Kayaknya kalian udah pada lupa deh."
"Hah, serius? Kok aku nggak ingat ya?"
Aku tertawa renyah, "Wajar aja sih, aku juga jarang ngungkit." ujarku memaklumi, terlebih aku mengatakannya sambil lalu. Jadi wajar saja jika mereka tidak tahu apapun tentangku dan lebih baik begitu ketimbang mereka tahu kemudian illfeel dengan latar belakangku.
"Betul banget, Bon. Menurutku nih ya, diantara kita berlima, cuman kamu lho yang tertutup masalah keluarga. Kenapa kok kamu nggak bilang aja kalau punya mas ganteng gitu, ngerti nggak sih? Maksudku kayak 'hei, kalian tau nggak aku punya mas ganteng banget lho' gitu. Sumpah ya kamu, masa mearifan lokal begitu kok diumpetin dari dunia?"
Aku melirik sekilas kearah Bio begitu kudengar laki-laki itu mencibir kemudian menatap keluar jendela mobil. "Masa iya aku harus bikin pengumuman kayak gitu? Kan gabut banget jatohnya." gumamku.
"Iya sih." sahut Fei diikuti dengan ringisan, "Oh ya, kemarin nggak sempat kenalan nama, keburu kalian balik duluan. Namanya siapa?"
Kepalaku berputar dan menatap Fei sepenuhnya, "Namanya, Iota Agustinus." jawabku.
"Udah kerja ya sekarang?"
Aku menggeleng, "Mas Io karbol di akmil."
Awalnya Fei menatapku dengan bola mata bergulir malas, seolah-olah menjelaskan bahwa dia tidak percaya dengan jawabanku barusan namun ketika aku mengangguk diikuti dengan senyuman tipis, dia sontak melonjak girang dengan bola mata nyaris merangkak dari rongganya. "Hah, yang bener kamu? Gila, itu sih keren banget! Secara ini tuh karbol, susah lho tes masuknya." serunya membuatku otomatis mengusap dada karena kaget, yang benar saja dia sampai teriak-teriak begitu padahal posisiku ada di sampingnya. Aku hanya menggelengkan kepala karena kehabisan kata-kata, "Kapan-kapan boleh dong kami main kerumah kamu, Bon?"
Bio berdecak, lagi-lagi tatapan kami sempat bersitegang sebelum akhirnya laki-laki itu kembali fokus menyetir. "Nggak usah diladenin, Bon. Perkataan Fei itu udah kayak pribahasa, 'ada udang dibalik batu', menjurus, ujug-ujug mau pdkt sama mas kamu itu mah." ujarnya.
"Emang ada larangannya gitu? Lagian, Bona aja nggak masalah tuh. Iya nggak, Bon?"
"Jaga baik-baik mas kamu ya, Bon. Sekarang cewek jelalatan udah merajalela."
"Apaan sih, Bi. Lagian aku kan cuma bercanda aja. Kan kapan lagi bisa nanya gini, habisnya Bona tiap kali ditanyain masalah keluarga pasti ada aja alasan buat ngehindar."
Aku hanya mengulum senyum ketika mendengar perdebatan kecil diantara mereka yang justru terdengar menggemaskan menurutku, padahal jauh di dalam hatiku merasa miris karena mengetahui betapa bodohnya aku selama ini sehingga tidak tahu kalau ada yang berbeda dengan interaksi Bio dan Fei, hubungan mereka lebih kepada teman tapi mesra. Dan selama ini label teman yang melekat diantara kami membuatku malah tidak menyadari semua itu, ternyata benar pernyataan yang menyatakan bahwa tidak ada pertemanan antara perempuan dan laki-laki yang tidak melibatkan perasaan. "Udah turun gih." interupsi Bio sekonyong-konyong membuyarkan pikiranku. Aku refleks mengedarkan pandangan kesekeliling dan benar saja ternyata kami sudah berapa di depan pagar rumah Fei, mesin mobil juga sudah dimatikan.
"Wah, sudah sampai ya?"
"Ingat langsung istirahat habis ini." peringat Bio menatap Fei dengan ekspresinya yang tidak ingin dibantah. Fei sendiri nampak mengangguk sambil tersenyum manis.
"Ngomong-ngomong makasih ya udah dianterin." ujar Fei sembari memandang lekat kearah Bio. "Oh ya, satu lagi, jangan lupa janji kamu, Bi." imbuh Fei. Aku yang diam-diam memperhatikan interaksi mereka kontan tersentak, saat tiba-tiba saja melihat Fei mengerling genit pada Bio. "Udah ya, aku turun sekarang. Dan mumpung ada kesempatan begini sebaiknya kamu manfaatin baik-baik lho, Bi." katanya lagi kemudian terkikik membuat laki-laki itu terkekeh diikuti dengan jempol yang mengacung. Fei turun usai berpesan agar Bio menyetir dengan hati-hati dan meminta agar aku dapat diantar dengan selamat. Setelah itu, perempuan dengan visual mematikan itu memasuki pekarangan rumahnya dan menghilang dibalik pintu berpelitur.
Beberapa saat kemudian mobil yang kutumpangi melaju meninggalkan komplek perumahan Fei. Aku melirik Bio dari ekor mataku, nampak laki-laki itu sedang bersiul dan aku pikir dia tidak ingin berbicara apapun kali ini sementara aku juga sedang malas membuka topik setelah apa yang terjadi padaku belakangan ini. Aku lantas mengeluarkan ponselku dari saku blazer dan memilih untuk membuka aplikasi twitter, begitu aku menscroll timeline aku menemukan tweet Bio yang membuatku mendadak terpaku.
Biotama Bernadus @briotamatan . 4 jam
Gimana dia mau tau kalo sampek sekarangpun masih kamu pendam
Segamblang itu aku tahu apa yang dia maksud terlebih setelah mengetahui siapa sosok yang ku sebut 'perempuan beruntung' itu. Melalui cuitannya ini aku paham ketakutan terbesar Bio dan aku tahu bagaimana perasaannya. Posisinya tak ubahnya dihadapkan untuk makan buah simalakama, mengaku akan menghancurkan persahabatan tapi apabila dipendam menghancurkan diri sendiri. Seperti apa yang kualami, bahkan aku sendiri sering berandai jika saja waktu dapat diulang kembali maka aku tidak akan menjatuhkan perasaanku pada Bio atau kepada siapapun itu karena sejatinya aku tidak pernah siap untuk jatuh sejatuh-jatuhnya dengan rasa yang tidak bersambut.
"Asyik banget main hp-nya, sampai nggak sadar kalau udah di depan rumah kamu."
"Eh?" aku tersentak saat merasakan usapan lembut dipuncak kepalaku. Ketika aku memutar kepala, aku melihat Bio tersenyum lebar di depanku yang justru berefek sangat besar pada kesehatan jantungku. Belum sempat aku kembali dari rasa kaget akibat perbuatannya padaku, laki-laki itu sudah keluar dari mobil lantas membuka pintu disampingku dan dengan cekatan melepas seatbelt yang kugunakan. Dengan gugup aku melompat turun dari mobil, aku berdiri di depannya sambil meremas ujung ranselku.
"Padahal nggak usah repot-repot." ujarku menatapnya sekilas lalu memilih melarikan pandangan kebawah, kearah sepatu pantofelku untuk menyamarkan ekspresi salah tingkahku. Kampungan, kampungan banget pokoknya! "Ya-yaudah, makasih ya udah dianterin." imbuhku sesekali meliriknya.
Dan lagi-lagi Bio melempar senyum mematikannya padaku, "Santai aja kali." ujarnya.
"Dek? Karo sopo?"
Duh suara itu! Bona, kamu dalam masalah besar.
Aku enggan berbalik untuk melihat mama yang aku tebak duduk di teras rumah. Dapat aku rasakan perutku yang tiba-tiba terasa mulas, sementara itu kakiku terasa kebas untuk digerakan. Aku menatap Bio was-was dan berniat mengusirnya secara halus namun sebelum aku membuka suara laki-laki itu tanpa dapat aku cegah berjalan melewatiku dan dengan percaya dirinya menghampiri mama. "Siang, tante." sapanya, aku membalikkan badan dengan canggung. Begitu melihat Bio yang mencium punggung tangan mama seketika perasaanku semakin tak karuan.
Mama tersenyum keibuan, "Siapa namanya? Ganteng banget." ucap mama sambil menatap kearah Bio dengan mata berbinar penuh kekaguman.
Tidak mau diam saja dan membiarkan mama yang kemungkinan akan bertanya macam-macam pada Bio maka aku bergegas mengayunkan langkah untuk menghampiri mereka meski dengan jantung yang naik satu ketukan lebih kencang tiap derap langkahku mendekat. "Bi, kenalin ini mama aku." ujarku sambil memasang senyum meringis.
Bio tersenyum lebar hingga menampakkan lesung pipi dikedua ujung bibirnya, "Bio, tante." ucapnya tanpa mengurangi rasa sopan.
Senyum tak luput dari bibir mama saat ini, pandangan mama lalu berpendar padaku, "Gandengan mu yo dek? Kok ra omong-omong wes due pacar?" ujar mama dengan nada menggoda, yang mana membuatku seketika itu menekuk wajah. Ok, aku sudah bilang kan dibercandain masalah cowok sama keluarga sendiri itu bikin keki banget? Ck, bukan main pokoknya.
"Awake dewe konconan ae. Karo adek ojo ngomong opo-opo seh ora-ora karo wong lio mengko." ujarku memilih memperingatkan mama menggunakan bahasa yang tidak dipahami oleh Bio, mama seketika terkikik nyaring usai mendengar jawabanku. Aku melipat tangan di dada dan mencibir mama yang tampak terhibur. *(Kita cuma temenan kok, ma. Dan adek mau mama jangan ngomong yang enggak-enggak sama yang lain nanti)
"Eman lho ora di gandeng, wonge ganteng ngene. Mengko disikan karo liane lho dek." sambung mama membuatku sontak membuang muka kesamping. *(Sayang lho nggak dipacarin, orangnya ganteng gini. Nanti keburu diambil sama yang lain dek). Mama menatap Bio dan tersenyum tak enak, "Bio, maaf ya, tante jadi nyuekin kamu gini. Oh ayo, mampir dulu yuk kedalam. Kamu udah makan belum? Biar sekalian aja sama Bona, kebetulan tante tadi juga masak banyak banget." ujar mama yang seketika membuatku bergerak gusar, aku menggigiti kukuku sambil memikirkan bagaimana cara mengusir Bio secara tidak langsung. Aku tidak bisa membiarkan Bio tinggal lebih lama lagi di sini atau mama akan semakin gencar bertanya ina-itu pada Bio lalu berujung pada laki-laki itu yang illfeel.
Bagaimanapun caranya, aku harus mengusir Bio pergi secepat yang aku bisa. Tunggu! Aku baru ingat, Bio tadi bilang jika dia hari ini ada latihan basket buat porseni bukan? Aku tanpa sadar menjentikkan jari, "Tapi–" ucapanku menggantung begitu saja ketika Bio menginterupsiku. "Emang boleh tan? Nanti malah ngerepotin kalau aku ikut makan." ujarnya membuat mataku kontan saja membeliak kaget.
"Oalah, nggak kok. Tante malah seneng ada yang makan masakan tante. Mari masuk, maaf ya kalau rumahnya berantakan." sahut mama yang justru menambah kadar kekagetanku. Aku hanya melongo kearah mereka yang berjalan meninggalkanku diteras sambil bercengkrama seperti kawan lama, "Hampir nggak pernah lho Bona ngajak temennya ke rumah, terakhir kali pas kelas sepuluh dan itupun cuman sekali. Makanya tante seneng banget lho pas liat kamu disini, sering-sering mampir ya." imbuh mama, aku masih dapat mendengar dengan jelas ucapan mama sampai akhirnya mereka masuk ke dalam rumah.
Bio tampak mengangguk antusias, "Boleh, tante."
[]
Anak rumahan apalagi yg gadis emg anti kalau temen cowoknya main kerumah 😪 valid! No debat.
Btw kalian kapalnya apaan dah?
Bio x Bona, Bio x Fei, atau Bona x Jo?
Pls teken 👍 (jempolnya) biar mimin semangat ngasih madunya eh maksudnya keuwuan BioxBon
Your Bee