
Alooohaaaa chingu-deulš¤
Btw baca cerita ini kayaknya asyik deh kalau sambil dengerin lagunya Devano yg menyimpan rasa. Ngena banget borš
š
"BONAAAAAAA?!"
Aku hendak menangis saat mendengar lolongan suara mas Io saat aku nyaris saja terlelap tidur. Seperti halnya peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga, selain gagal tidur siang, aku juga mencecap rasa pusing yang tiba-tiba melingkupi kepalaku. Serba salah banget pokoknya, mau ngelanjutin tidur udah tanggung, udah nggak ngantuk lagi tapi kalau mau melek jadinya menderita sendiri, soalnya pusing banget gara-gara dikagetin. Diluar sana, suara mas Io yang agak berat dan medok itu masih bersikeras memanggil namaku dengan lantangnya, semakin lama semakin nyaring saja dan tak berselang lama pintu kamarku yang semula tertutup terjeblak membuka. Dan dengan wajahnya yang menyebalkan, saudaraku itu muncul sambil berkacak pinggang.
"Duh, iki bocah sini kerjone trimo turu ae, tangi saiki!" mas Io berdecak tak habis pikir, "Bangun sekarang atau si bambang tak mutilasi. Piaraanmu itu berulah lagi tuh!" ujarnya dengan delikannya yang garang tertuju kearahku, aku yang masih rebahan sambil memijit pelipisku yang berdenyut menatapnya tanpa minat. *(Bocah ini kerjaannya tidur aja, bangun sekarang!)
Namun saat berhasil mencerna perkataan mas Io, aku kontan menghentikan gerakan tanganku. Aku langsung beringsutĀ bangun dengan hebohnya tapi karena rasa pusing yang menderaku, aku kontan duduk lagi sambil memegangi kepalaku. Parah, udah mau pecah ini kayaknya! "Cepetan dong! Entar kalau mama pulang bisa-bisa geger satu komplek gara-gara liat muntahan si bambang dikarpet kesayangannya." ujarnya melempar bom tepat diatas kepalaku, bikin aku panik bukan kepalang. Aku menatap tak percaya kearahnya yang memandangku dengan senyum mencibirnya. Begitu menanyakan titik tkp-nya sama mas Io, aku saat itu juga berlari tergopoh-gopoh keluar dari kamar.
Ketika aku tiba di ruang televisi seketika pusing yang kualami semakin bertambah berkali-kali lipat. Aku refleks berpegangan pada tepian sofa dan memijat pangkal hidungku. Masalahnya, muntahan yang dimaksud oleh mas Io beneran ada di karpet beludru mama yang baru dibeli sekitar satu bulan yang lalu. Helaan nafasku terasa berat saat aku mencium aroma yang menjijikan dari muntahan tersebut. Tak mau mengulur waktu lebih lama lagi sebelum mama pulang dari arisan di komplek sebelah, maka dengan setengah hati tak ikhlas aku lalu mengambil beberapa alat kebersihan di belakang rumah dan kembali lagi ke ruang televisi lantas membersihkan muntahan tersebut diiringi dengan ringisan jijik. Sumpah ini tuh ji to the jik banget! Kalau kita aja sering ngeri liat muntahan sendiri apalagi kalau liat muntahan hewan, dih, dijamin bakal overthinking setelahnya.
"Jangan sampai ninggalin jejak sedikitpun." suara mas Io tiba-tiba saja terdengar di belakangku. Ketika aku melirik kearahnya, laki-laki itu nampak duduk dengan satu kaki menopang diatas meja sambil mengotak-atik ponselnya dengan geram. Uh-huh, punya saudara cuma satu tapi kok sifatnya dakjal benar ya? Alih-alih membantu adiknya yang sedang kesusahan ini malah mabar. Kadang yanh menyebalkan dari mas Io itu adalah sikapnya yang bossy dan tidak menerima penolakan. "Tuh! Disitu jangan lupa juga di lap, awas yen ono seh kelewatan." imbuh mas Io dengan sifat otoriternya menunjuk ke bawah framing sofa. *(Awas jangan sampai ada yang kelewatan)
Nah, nah, kubilang juga apa kan?
Aku mencibir semua perkataannya, meski begitu aku tetap menuruti perintahnya dengan calar-balar pikiran yang berotasi mengungkit semua keburukan saudaraku itu. "Mas, mending mas bantuin Bona deh daripada nyuruh-nyuruh gitu, biar cepet selesai." ucapku sambil melirik kearah mas Io.
"Nggak mau ya, bersihin aja sendiri. Biar kamu kapok punya piaraan kayak si bambang itu. Dibilangin dibuang aja biar nggak bikin repot, lah kamu malah ngeyel miara itu guguk satu."
Aku berdecak kesal, "Ihh, dia punya nama lho, mas. Namanya Pou, coba ulangi?" ujarku dengan sebelah alis naik menunggu sahutannya yang aku yakin takkan diamini oleh mas Io, si kepala batu, dengan mudah.
"Nggak mau." sahut mas Io sembari bergidik ngeri, sedangkan aku terkikik geli mendengar tanggapannya yang sudah aku duga sebelumnya. Pou sendiri adalah nama cavapoo yang diberikan oleh papa untukku saat aku berulang tahun yang ketujuh belas, tepatnya tahun lalu. Sejak kedatangan Pou kala itu, mas Io menjadi orang yang paling sensitif dirumah, saudara laki-lakiku itu benar-benar antipati dengan entitas Pou di rumah ini berikut mama, terlebih saat aku memberinya identitas sehingga membuat mas Io semakin memupuk kebencian sama Pou tanpa alasan yang jelas. "Najis, mboten puron kulo nyebut asmane." *(Tidak sudi aku nyebut namanya)
Aku geleng-geleng kepala, "Nggak boleh gitu ngomongnya, mas. Pou bisa denger lho, nanti kalau Pou sakit hati gimana? Emang mas mau tanggung jawab?" ujarku sambil mengusap pelipisku yang berkeringat. Usai mengepel, aku lalu ikut bergabung di sebelah mas Io dengan helaan nafas lega.
"Tanggung jawab gundulmu!"
Ngomong-ngomong soal Pou, cavapoo kesayanganku itu tidak menyentuh dog food sama sekali begitu aku memeriksa kandangnya tadi, "Maaas?" panggilku dengan pikiran berkecamuk mikirin keadaan cavapoo-ku yang belum mengkonsumsi apapun terlebih kini isi perutnya sudah dimuntahkan. Melihat tak ada sahutan sama sekali dari mas Io, aku memutuskan untuk memanggilnya lagi. "Mas, Bona doain tuli lho kalau nggak mau nyahut."
Mas Io bersungut-sungut, "Ganggu tenan sampean. Hah, kenapa?"
Aku menatap mas Io dengan frustasi, "Ini Pou kenapa ya, mas? Kok dia bisa muntah-muntah gini? Biasanya juga enggak." ujarku, sembari mengingat-ingat bagaimana bisa cavapoo kesayanganku itu bisa menderita begini, sebab, baru kali ini aku mmendapatinya demikian, seperti memuntahkan isi perutnya dengan frekuensi yang lebih sering dan menurutku itu nggak normal sama sekali.
Mas Io menggumam, "Tanda-tanda itu paling." ucapnya disaat yang sama laki-laki itu mengerang sambil menyerapah nyaring, membuatku terbeliak kaget mendengarnya. Mentang-mentang lagi pesiar, puas banget kayaknya mau berekspresi sampai nggak liat kalau masih ada anak kecil di sebelahnya. Untungnya nggak ada orang dirumah, seandainya bonyok mendengarnya bisa saja mas Io didaftarkan menjadi seorang samanera [1] alih-alih perwira TNI yang berkarisma. Yah, 'seandainya' hanyalah angan-anganku karena kalau bonyok ada di rumah jangankan mengumpat seperti tadi, tutur kata mas Io bahkan berubah seratus delapan puluh derajat saat ngomong sama bonyok.
Aku menatap mas Io, mengernyit kebingungan. "Tanda-tanda apa?" tanyaku, menggumam sambil menggaruk kulit kepalaku yang secara harfiah tidak gatal sama sekali.
"Tanda mau mati lah apalagi."
Aku melotot mendengar jawaban asal dari mas Io, meski aku yakin saudaraku itu tak bersungguh-sungguh dengan ucapannya tetap saja agak ngeri kalau tiba-tiba saja kata-katanya itu terkabul menjadi kenyataan, bukankah ucapan itu adalah doa? "Omongane elek tenan, mas." gerutuku sambil melayangkan tatapan kesal kearahnya. Yang diberi protes hanya mendengkus tanpa mengalihkan tatapannya sama sekali dari layar ponselnya. Aku menghela nafas, "Yaudah, kalau gitu sekarang temenin Bona ke klinik hewan yuk, mas?"
"Nggak. Aku sibuk."
"Alah, sibuk apaan cuman main hp gitu."
Aku mendekatinya, merapat duduk disebelahnya lantas menggoyang-goyangkan badannya, "Maaas?" ujarku, dengan nada merengek manjaājurus andalanku saat berhadapan dengan si keras kepala Iota Agustinus, saudarakuāyang amat-sangat dibencinya.
"Nanti aja kalau udah gabut."
"Mas, ke kliniknya sekarang lah. Nanti Pou sakitnya makin parah gimana dong?" ujarku mengernyit ngeri memikirkan jika saja cavapoo kesayanganku itu sekarat. Dih, amit-amit jabang bayi. Mataku kembali menyorot tingkah laku mas Io yang mengumpat pada layar ponselnya yang memampangkan game PUBG. Kehabisan akal, aku lalu menoel-noel pipinya yang terdapat beberapa noda hitam bekas jerawat, "Maaas? Mau ya?" panggilku lagi, masih dengan nada dan ekspresi yang sama.
Mas Io menggeram, membuatku tersenyum kemenangan. Usai mengantongi ponselnya ke dalam saku celana, dia menatapku dengan wajah geregetan lalu menepuk bahuku pelan, "Iya, iya. Kita berangkat sekarang ya Bona unyu." ujarnya mendesis didekat telingaku, dengan senyum yang nampak seperti orang yang sedang menahan sembelit mas Io lantas meninggalkanku yang masih duduk ditempat semula. "Telat lima menit aja, nggak jadi dianter." serunya, yang aku yakin saat mas Io mengatakannya laki-laki itu sedang mengulas senyum culas, membuatku mau tak mau kalang-kabut mencari keberadaan Pou yang menghilang entah kemana.
Akhirnya kami pergi ke salah satu klinik hewan yang tidak jauh dari kompleks perumahanku, itupun masih berbekal dengan peta petunjuk arah yang mengantarkan kami ke jalan Pamularsih. Tak banyak pengunjung begitu kami datang, hanya dua sampai tiga orang yang masih menganteri menunggu giliran peliharaannya diinspeksi. Begitu giliran cavapoo kesayanganku, aku berderap mengikuti langkah seorang perawat ke dalam sebuah ruangan, dan kedatanganku langsung disambut hangat oleh seorang dokter muda yang mengenalkan namanya sebagai dokter Natasha. Cavapoo kesayangan-ku itu nampak ringkih saat dibaringkan di bed, Pou tidak rewel ketika diperiksa oleh dokter Natasha. Sembari menatap mata lugu Pou, aku menjawab satu-persatu pertanyaan dari dokter Natasha dan betapa terpukulnya aku ketika dokter Natasha menjelaskan kalau Pou mengalami alergi, kemungkinan besar terhadap ikan, karena aku ingat dengan jelas dog food yang aku beli bulan lalu itu mengandung bahan ikan tuna. Kata dokter Natasha, beruntung aku sigap membawa Pou ke klinik karena jika aku telat sedikit saja mungkin Pou tidak akan terselamatkan.
"Pantesan kok Pou muntah-muntah gitu. Ternyata dia alergi to." ujarku setelah keluar dari ruangan dokter Natasha. Mas Io yang sedari tadi mengintiliku nampak tak berkutik, aku tak dapat meraba isi kepala laki-laki itu begitu dia mendengar penuturan dokter Natasha sebab wajah mas Io nampak datar dan tak menunjukkan raut prihatin pada Pou.
"Kamu sebagai emaknya kok bisa-bisanya lalai." sahut mas Io disela langkah kami meninggalkan klinik, aku meliriknya sekilas lalu kembali menatap kedepan. "Untung ora sampek lungo, yen lungo tambah untung." sambungnya lagi dengan gelak tawa yang menimbulkan percikan api amarah dariku. *(Untung tidak sampai mati, kalau beneran mati malah untung)
"Ih, tega banget ngomong gitu." ujarku menggerutu tak rela sembari mengusap dadaku dramatis, mas Io hanya memutar bola mata jengah dengan kelakuanku. "Tapi,Ā Bona kan mana ngerti yang begituan." imbuhku kemudian, "Kata dokternya kalau dog punya alergi itu udah biasa kok, yang pentingkan sekarang Bona udah tau dia nggak boleh makan apa aja, Bona juga udah dapat kartu nama dokternya jadi kapan-kapan bisa nanya-nanya."
Terdengar mas Io berdecak begitu mendapati jawabanku, "Kalau nggak becus jagainnya mending kamu titipin di shelter aja. Praktis." ujarnya enteng sekali.
Membuat aku serta merta menghentikan langkah kakiku di depan pintu masuk klinik, diikuti oleh mas Io. Dengan geram aku menatapnya yang kentara sekali tidak memikirkan bagaimana perasaanku kedepannya andai dipisahkan dengan cavapoo kesayanganku itu. Sebab, Pou itu udah kayak separuh aku dan mas Io tahu pasti itu. Ya, ya, dan kuakui satu rahasia penting lainya yang tidak diketahui orang lain, meski ini agak cringe sih, sebenarnya Pou itu udah kujadikan teman ngobrol dikala aku kesepian dan dia juga jadi tempat curhatku yang paling setia tiap-tiap aku lagi nge-galauin masalah hidup, pokoknya dia bener-bener makhluk Tuhan paling berarti untukku, se-urgen itu eksistensinya dihidupku. Dan sebagai manusia yang memanfaatkan entitasnya, sudah selayaknya aku menjaga dan merawatnya bukan? Itulah yang dinamakan simbiosis mutualisme.
Aku lantas memberi mas Io tatapan protes yang disambutnya malas, "Nggak, sekali enggak berarti enggak." ujarku bersikukuh, dengan tangan merengkuh Pou semakin erat di dekapanku, berusaha memberikannya perlindungan.
"Lah dibilangin juga."
"Mas, jangaā"
"Bona?"
Aku terperanjat saat mendengar suara yang terdengar begitu familiar memanggil namaku, ketika aku menolehkan kepala ternyata Bio sudah berdiri di hadapanku dengan tatapannya yang bersahabat, aku tersenyum kikuk saat menyapanya, "O-hai, Bi? Kok kamu bisa ada disini sih?" tanyaku gugup, sesekali melirik mas Io dari ekor mataku, saudaraku itu, seperti biasanya memasang wajah datar dengan tatapan mata yang menyelidik kearah Bio.
Rupanya Bio sadar saat ini aku sedang tidak sendirian, laki-laki itu lantas melirik kearah mas Io dengan air muka penasaran, "Sama siapa?" tanyanya, pelan, namun tak ayal dari nada bicaranya terdengar menuntut jawaban dariku. Laki-laki itu menatap mataku dengan tatapan memicing tajam.
Aku menggigit bibir bawahku saat tiba-tiba saja perutku mulas akibat terserang panik. Namun, beberapa saat kemudian aku lalu tersadar, bagaimana bisa aku gugup tidak pada tempatnya begini? Lagian nih ya, Bio itu bukan siapa-siapaku. Kami hanya teman, ingat itu. Lalu kenapa aku harus khawatir dengan amukan mas Io yang ada di dalam khayalanku? Nggak mutu banget. Bona, Bona, jangan salah memberi label dong. Ingat Bio itu cuma temanmu, temanmu! Hiks, menyebalkan, aku baru saja di bungkam oleh kenyataan pilu. Ckck, aku menepuk jidatku sendiri tak habis pikir. Aku lalu melirik lagi kearah mas Io yang dalam keadaan seperti ini entah bagaimana bisa bersikap dingin dan sinis, "Oh i-iniā"
"Loh, Bona, kamu disini juga?"
"Fei?"
[]
[1] Samanera; seorang calon bhikkhu dalam konteks Buddhis.
Punten, wes iki lanangku Bio mau numpang lewat :v
Panjang ya? Suka yang panjang-panjang nggak? Kalau suka bilang to, biar tak kasih. Ohya, Anyway, aku mau ngasih pic nya Pou sama kalian tapi entar deh kapan-kapan, kalau aku ingat mweheheh
Your Bee