
Usai Bio mengakhiri panggilannya tadi malam aku mengalami insomnia parah untuk yang pertama kalinya selama aku hidup. Carut-marut pikiranku yang terintimidasi dengan sosok misterius seorang perempuan yang diceritakan oleh laki-laki itu bahkan tidak menemukan jawaban apapun, yang mana usahaku untuk menebak-nebak siapa sosok perempuan tersebut malah berimbas pada aku yang sakit hati dan menangis tersedu-sedu sepanjang malam. Alhasil, pagi harinya aku tidak kaget lagi saat menemukan penampakan mataku yang sembab dan ada lingkaran hitam dibawahnya. Tampak menyedihkan dan jelek disaat yang bersamaan, aku berniat absen sebenarnya, namun teriakan mama yang menyuruhku untuk bergegas pergi kesekolah mengurungkan niat awalku. Meski dengan setengah hati, aku tetap pergi kesekolah pada akhirnya.
Sepanjang pelajaran aku tidak fokus sama sekali dengan materi yang dipaparkan oleh guru di atas mimbar kelas, aku banyak melamun dengan isi kepala yang ruwet dengan pertanyaan yang sama, siapa perempuan itu? Firasatku mengatakan jika perempuan itu pasti berada dilingkup yang sama dengan kami dan hipotesaku tersebut seolah diperkuat dengan penjelasan Bio yang kemarin mengatakan kalau perempuan itu sering menemaninya. Aku tahu benar lingkaran pertemanan Biotama Bernadus, terbilang hitungan jari teman perempuannya sebab laki-laki itu tipikal orang yang tertutup dan tak mudah berbicara dengan orang baru. Jadi jika mengecualikan klub eksternalnya yang mayoritas laki-laki, maka yang tersisa hanya aku, Cia, dan Fei yang sejauhnya ini berteman akrab dengannya. Aku tidak tahu diluar itu, misalnya saja dilingkungan perumahannya atau di tempat kursus bahasa inggrisnya. Namun jika melihat dari kepribadian Bio yang introvert aku segera menyisihkan kedua opsi tersebut.
Kelas cepat berakhir dan ditutup dengan pekerjaan rumah yang menumpuk menjelang midtest. Tanpa berpikir dua kali, aku langsung menyetujui ajakan Jo kekantin demi menghindari Bio yang kutahu sejak aku masuk kelas tidak melepaskan pandangannya untuk mengamati gerak-gerikku. Aku mengetahuinya karena Jo yang tak henti-hentinya menggodaku sebab mengira aku tengah merajuk dengan Bio. Cia dan Fei memutuskan untuk tidak kekantin karena membawa bekal masing-masing, oleh sebab itu hanya aku dan Jo yang kekantin kali ini. Karena aku dan Jo datang disaat kantin sedang sepi maka kami memilih meja yang paling pojok dan tepat berada di bawah kipas angin. Meski Jo adalah tipe laki-laki bermulut pedas, tapi dia memiliki tingkat kepekaan yang terbilang tinggi. Laki-laki itu seolah tahu benar kalau aku sedang dalam mood yang buruk dan dia dengan baik hatinya menawarkan diri untuk memesan makanan sementara aku diminta untuk menunggu, aku dengan senang hati mengangguk menyetujuinya.
Sembari menunggu makanan datang, aku memindai seisi kantin dengan bersendang dagu. Duduk di meja paling pojok membuatku mudah untuk mengamati sepanjang kantin tanpa terlihat mencolok. Menit demi menit berlalu, meja yang tadinya kosong kini mulai terisi satu-persatu, kantin yang semula sepi mulai membludak ramai seiring waktu yang terus berlalu. Mataku lalu terpaku pada Jo yang berjalan kearahku sambil membawa baki, belum sempat aku membalas senyum lima jarinya jantungku tiba-tiba saja berdetak tak karuan saat melihat dua orang familier yang nampak intim berada dibelakang Jo. Mereka itu tidak lain Bio dan Fei, agaknya mereka terlalu asyik berdua sampai tidak sadar kalau aku mengawasi dari mejaku.
Dari balik kacamataku, mataku enggan mengedip untuk melihat tingkah laku dua orang tersebut. Mulai dari cara menatap Bio yang terlihat berbeda sampai gerakan laki-laki itu yang mengusap puncak kepala Fei, semua itu tidak luput dari pandanganku. Aku benci mengakuinya, kalau Bio tidak pernah seperhatian itu padaku maupun Cia. Dan aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku iri, apalagi apa yang sedang kulihat sekarang itu tidaklah wajar untuk pertemanan diantara laki-laki dan perempuan, dimana tangan Bio sedang mengusap perut Fei.
Jadi ini jawabannya?
Rupanya Fei perempuan beruntung itu. Huh, bukankah ini adalah mimpi buruk yang nyata? Aku bahkan tidak bisa bersaing secara sehat sama Fei, perempuan yang ditilik dari sudut manapun akan tetap terlihat cantik. So, wajar saja jika para lelaki menaruh hati padanya. "Uwih biasa aja dong ngeliatinnya." ujar Jo tiba-tiba saja dengan tangan menyentil dahiku, membuatku kontan tersedak air liurku sendiri. "Nih, nih, minum." ujarnya menyodorkan teh poci ke hadapanku, aku menyambutnya dan menyeropotnya tak sabaran.
"Cemburu kok sama temen sendiri."
"Ih, apaan sih!" gerutuku tak terima mendapat pernyataan Jo yang seketika menyentil perasaanku. Aku sontak murung, "Ngapain juga cemburu, toh aku nggak pacaran kok sama Bio." jelasku yang tidak sesuai kenyataan. Dan aku yakin, Jo tahu benar aku mencoba membohonginya sekaligus membohongi diriku sendiri.
"Alah, nggak cemburu kok matanya nyaris menggelinding ngeliatinnya."
"Terserah deh." kataku tak mau memperpanjang masalah, "Oh ya–" aku mendadak teringat dengan perkataan Bio tadi malam. "Jo nanya dong, uhm, kamu pernah naksir cewek nggak sih?"
Aku menunjukkan tanda perdamaian menggunakan jemariku saat melihat Jo melotot begitu mendengar perkataanku. "Pertanyaan apa itu?" tanyanya agaknya tak habis pikir, tatapannya kemudian berubah jahil begitu berkata. "Ya, pernah lah. Emang kenapa? Jangan bilang diam-diam kamu naksir aku? Jangan lah, cari cowok lain aja. Tipe cewek yang kusuka udah selevel kayak Jennie soalnya. Kamu mah nggak ada apa-apanya."
"Resek banget sih kamu." seruku langsung memukul punggung tangannya yang bertengger di atas meja.
"Jadi, kamu mending mundur deh. Daripada entar malah sakit hati."
"Jooooo!"
Jo tertawa terpingkal-pingkal saat melihat wajahku yang tertekuk usai mendengar kelakarnya, "Bercanda sayang. Ngambekan banget sih!" ujarnya diikuti dengan tangannya menggeplak kepalaku. Aku jelas marah dan tak henti-hentinya mencibir kesal di depannya yang kembali tergelak.
Setelah menelan siomay yang ku kunyah, aku berdeham untuk kemudian bertanya lagi padanya. "Kamu kalau naksir cewek gimana sih? Pernah nggak ribet sendiri, kaya curhat sama temen? Minta pendapat sana-sini?" ujarku, agak ragu begitu mengatakannya.
"Nggak." jawab Jo sembari menggeleng, laki-laki itu menggeser mangkok bakso yang kosong melompong di depannya lalu menarik siomay disisi kirinya dan menyantapnya tanpa menghiraukan aku yang berdecak melihat porsi makannya. Jo menatapku sebentar lalu kembali menekuri piringnya. Ujarnya, "Lagian aneh-aneh aja kamu, Bon. Masa iya aku secupu itu pakai acara curhat segala, udah kayak cewek aja. Daripada curhat mending ngomong langsung, iya nggak?" Jo menatapku meminta persetujuan. Sementara aku menggaruk kulit kepalaku.
"Eh? Gitu ya menurut cowok?" aku manggut-manggut memahami perkataannya. "Tapi kan ada nih cowok yang kayak gitu, curhat sama temennya, terus minta pendapatnya. Jadi menurut kamu itu nggak normal?"
"Normal sih normal. Kemungkinan ada sih yang begitu. Cuman ya, kebanyakan cowok itu lebih ke in act. Ngerti nggak sih? Kayak daripada curhat mending pdkt-in langsung, biar kamu sendiri tau feedback ceweknya gimana biar bisa mosisiin diri. Kalau nggak sesuai ekspektasi, ya, mending mundur. Sampai sini paham?"
"Oalah gitu ya?" gumamku lagi-lagi mengangguk. Aku menatap Jo sedikit enggan, namun karena pikiranku yang mendesak untuk bertanya sebab penasaran yang tidak ketulungan akhirnya aku mengalah dengan egoku sendiri. "Lalu menurut kamu nih sebagai cowok, kamu deket sama satu cewek dan naksir diam-diam sama dia tapi di sisi lain, kamu juga lagi deket sama cewek lain–you know, kamu jalan sama dia emang murni nggak ada maksud lain cuman pengen temenan aja– terus, kalian kayak punya banyak q-time satu sama lain, kayak apa-apa berdua gitu. Dan, kalau semisal cewek yang kedua malah baper sama kamu gimana respon kamu?"
Jo tersenyum geli usai aku menyelesaikan kalimatku. "Ini ceritanya kamu lagi curhat sama aku?" ujarnya retorik.
"Jooooo!"
"Ok, fine, serious time. Ngomong-ngomong jawabanku jangan dipukul rata ya, soalnya pribadi orang itu kan beda-beda. Jadi, kalau aku pasti tolak lah. Karena apa, pertama aku bakal jelasin kalau aku nggak punya rasa apa-apa sama dia. Baper itu manusiawi, tergantung bisa atau nggaknya ngontrol perasaan sendiri dan tentunya itu bukan salahku lho. Kedua, aku bakal bilang kalau aku udah suka sama cewek lain jadi jangan berharap lebih sama aku. Poinnya, jujur, saling terbuka aja. Nyakitin sih, tapi daripada malah berlarut-larut entar ujung-ujungnya malah dibilang php kan berabe."
"Itu berarti kamu tipe cowok yang bakal ngejauhin cewek itu seandainya tau dia punya rasa sama kamu?"
Aku mencondongkan tubuhku semakin merapat dengan meja, "Tergantung ap–" ucapanku terhenti ketika aku merasa ada angin yang menerpa telinga sebelah kananku. Awalnya aku mengabaikannya karena kupikir itu hanya angin biasa. Namun, aku jadi risih sendiri saat merasa angin tersebut berkali-kali menerpa telingaku sampai membuatku merinding. Aku menatap Jo dan memberi kode padanya melalui tatapan mata tapi laki-laki itu hanya mengulum senyum misterius. Untuk mengetahui jawabannya maka aku menoleh dan refleks aku memekik kaget saat melihat wajah Bio yang tepat berada sejengkal di depan wajahku. "Bi-bio, ngagetin aja sih kamu!" seruku segera memundurkan wajahku.
Bio menyengir, "Hayooo! Lagi ngomongin apa nih? Kok pada bisik-bisik?" ujarnya melirik kearahku dan Jo secara bergantian.
"Kepo deh!"
"Tau nih, tiba-tiba aja malah curhat."
Aku melihat kilat mata Bio berubah saat mendengar ucapan Jo, "Wih, kok tumben curhat sama Jo? Kenapa nggak sama–"
Dapat kutebak apa yang akan disampaikan oleh laki-laki disampingku, "Bi, kok kamu nggak pake jas?" sehingga aku langsung menyerobot perkataan Bio sebelum laki-laki itu mengakhiri kalimatnya yang aku yakin akan mengundang spekulasi baru dikepala cantiknya Jo.
Bio menatapku lama, sebelum akhirnya dia mengamati baju yang dipakainya. "Iya nih." ujarnya lalu mengangguk. Laki-laki itu kembali menatapku sambil menyengir sedangkan sebelah tangannya terulur mengusap tengkuknya, "Tadi dipakai buat nutupin roknya Fei yang tembus."
"Lah terus, sekarang orangnya kemana?" sahut Jo mengabaikan aku yang tiba-tiba saja kelu mendengar jawaban dari pertanyaan asalku untuk mengalihkan perhatian Bio.
"Di UKS lah, katanya sakit perut."
Mengabaikan perasaan tak nyaman begitu mendengar bentuk perhatian Bio pada Fei, aku memutuskan berdiri setelah menaruh uang di atas meja. "Kalau gitu aku samperin deh. Kebetulan aku bawa pembalut, siapa tau dia perlu." ujarku hendak melompat dari kursiku. Namun belum sempat aku melakukannya tanganku ditahan oleh Bio. Aku menatapnya heran, "Kenapa sih?"
"Udah aku beliin kok tadi di koperasi." ujarnya membuatku membulatkan bibir membentuk o yang simetris. Bio menarik-narik pergelangan tanganku dengan lembut, "Mending disini, lanjutin curhatnya. Siapa tau aku punya solusi lebih bagus ketimbang Jo."
Menolaknya tawarannya maka aku menggelengkan kepala, "Kayaknya aku tetep harus ke UKS deh. Beliin kiranti buat Fei, biar sakit perutnya reda." ujarku lalu mengedarkan pandanganku kesembarang arah, yang penting aku tidak menatap ke dalam obsidian sepekat jelaga itu lebih lama atau aku akan luluh.
"Sudah aku beliin kok tadi sekalian sama pembalutnya. Aku juga udah beliin teh hangat biar dia lebih baik. Apalagi yang kamu khawatirin? Makan? Dia juga tadi udah makan."
Aku refleks menoleh kearahnya, perpaduan antara kaget dan iri membuatku tak bisa berkata-kata, "Oh ya?" Adalah kata-kata yang mampu aku ucapkan.
Bio tersenyum, laki-laki itu memainkan jemariku, aku lagi-lagi membuang pandangan. "Disini aja ya, temenin aku makan. Kayaknya, kamu juga harus makan lagi deh. Siomay buat maksi nggak bakal bikin perut kenyang lho." ujarnya masih bersikeras. Diam-diam aku meliriknya yang memanggil kang Edo–yang jual bakso dikantin–sambil meremas ujung rok sekolahku. "Aku yang bayarin deh, kamu mau makan bakso atau apa? Bakso aja ya? Biar sekalian disamain aja."
Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya aku mengangguk. Membuat Bio serta merta tersenyum senang, aku lantas duduk kembali dikursiku semula. "Kalau gitu, aku duluan ke kelas." ucap Jo membuatku mendongak kearahnya yang sudah berdiri dari kursinya. Aku melihatnya menatap jahil kearah tangan kananku yang ada diatas meja, rupanya yang membuat Jo mengulum senyum adalah jemariku yang entah bagaimana bisa saling bertautan dengan jemari Bio. Aku refleks menarik tanganku dan menyimpannya diatas paha.
"Ke-kenapa malah ke kelas sih? Kan di traktir Bio." ujarku menyembunyikan kegugupanku dengan jemari yang saling meremas. Jo tersenyum padaku lalu matanya melirik kearah Bio, aku ikut menatap kearah Bio yang begitu aku menoleh laki-laki itu langsung memalingkan wajahnya sambil bersiul. Aku balik lagi menatap Jo tapi laki-laki itu kembali menggeleng.
"Udah nggak muat nih perut." ujarnya sambil mengusap perutnya yang rata.
"Laaah, kok gitu sih?"
"Alah kamu kayak sama siapa aja sih, Bon."
[]
Gewla gewlaa....
Gimana mau mopon kalau yang nyuri hatinya bon berkeliaran!
Your bee