
Aku memaku pandangan pada coretan abstrak yang ada di halaman belakang buku catatanku ketika tiba-tiba saja Bio datang dari luar kelas sambil membawa baki ditangannya. Tatapan kami tak sengaja bersibobrok, dengan senyum mautnya, dia berjalan kearah mejaku tanpa memperdulikan godaan yang dilemparkan padanya. "Indomie goreng buat my Bonbon siap di eksekusi." ujarnya begitu meletakkan baki berisi indomie dan segelas teh poci ke atas mejaku. Aku beneran kehilangan kata-kata saat ini, nggak bisa berkomentar apapun, yang keluar dari mulutku cuman kata "Hah?" sambil natap bingung kearahnya yang nyengir padaku.
Jo yang duduk di belakangku bersiul, membuatku kewalahan menahan degup jantung. "Udah punya panggilan sayang nih yeee." godanya sambil menusuk-nusuk punggungku menggunakan bolpoin. Aku mengelaknya dengan memajukan badanku.
Aku menatap wajah Bio lalu kearah indomie goreng yang beraroma lezat di depanku lalu kembali lagi menatap Bio yang masih memperhatikanku, "Buat kamu." ujarnya menjelaskan kebingunganku. "Buruan dimakan, tadi katanya lagi kepengen." Aku mengangguk, lalu menggeleng, lalu mengangguk lagi, membuat Bio yang memaku pandangan padaku jadi terkekeh. Aku jadi bingung sendiri, tadi aku memang mengungkapkan keinginanku yang ngidam makan indomie tapi itu tadi sebelum moodku anjlok gara-gara nggak ada yang peduli sama aku. Tapi ternyata... Uhh, aku langsung mengalihkan padanganku dan diam-diam menggigit bibir bawahku sendiri agar tetap waras karena perlakuan laki-laki itu kepadaku. Pokoknya, Bona nggak boleh baper, kata mama papa nggak boleh pacaran.
Tapi, tapi ini uwu banget kan?
Tiba-tiba Cia yang duduk di depanku berbalik, "Cuman buat Bona aja nih? Buat aku mana?" ujarnya mengerling jahil kearah Bio yang berdiri di dekat mejaku. Bio hanya mengedik sebagai jawaban, "Oh, gitu ya sekarang. Mentang-mentang udah jadian, jadi yang diprioritasin cuman Bona ya. Cukup tau aku."
"Harusnya kita kebagian pj iyakan, Jo?" sahut Fei ikut serta menodong Bio. Jo yang disangkut pautkan membenarkan tanpa pikir panjang.
"Nggak ada pj, orang nggak ada yang jadian."
Aku menatap Bio merasa tak enak, "Padahal aku cuman bercanda loh, Bi." celetukku, membuatnya mengalihkan perhatiannya padaku. Laki-laki itu tersenyum, lalu menarik salah satu kursi kosong untuk diletakkan di dekat mejaku dan dia duduk disana. "Tapi, makasih banget lho udah dibeliin." ujarku kembali menambahkan.
"Iya dong, apa sih yang enggak buat kamu." ujarnya membuatku kesusahan menahan sudut-sudut bibirku yang nyaris tertarik, alhasil memutar bola mata adalah jalan tengahku agar tidak kelihatan kalau sedang salah tingkah. Nah, untuk mengabaikan kehadiran si tengil Bio, aku memilih untuk menyantap indomie tersebut secara perlahan. Enak sih, hanya saja aku agak risih sekaligus keki ketika ditatap oleh Bio sedemikian rupa. Dari ekor mataku, aku dapat melihat laki-laki itu tengah bersendang dagu sambil memasang tampang cengengesan padaku. Itu maksudnya apaan dah? Oh aku tahu, jangan-jangan dia lagi nunggu uang indomie yang kusantap ini, lah kalau iya, beneran bakal ku sledeng entar dia.
"Kamu nungguin uang mie ya?" tanyaku sambil mencuri pandang kearahnya ditengah aku mengunyah mie. Masih dengan tampang yang sama laki-laki itu menggeleng sebagai responnya atas pertanyaanku. Aku menyipitkan mata curiga ketika menatapnya, "Tunggu, ini indomie gratis kan buat aku?"
"Yoi."
Lah terus "Ngapain kamu masih disini?"
Namun sayang seribu sayang, malu karena diperhatikan secara intens membuat aku tidak nafsu untuk makan, padahal sepanjang sejarah aku hidup nggak pernah tuh aku bisa sejaim ini makan di depan orang, huhu. Jadinya baru beberapa suap mie berhasil ku makan, aku langsung mendorong piring yang ada di depanku dengan tak berselera. Bio yang melihat itu langsung menegakkan tubuhnya, "Kenapa? Udah kenyang ya?" tanyanya begitu perhatian. Aku menundukkan wajah, menghirup nafas dalam-dalam kemudian mengangkat wajah buat menatap matanya. "Iya, udah kenyang banget." kataku mencoba bersikap santai seperti aku yang biasanya.
"Makan lagi, Bon, perasaan kamu makannya baru dikit aja deh." ujarnya membujukku, aku hanya menggeleng sebagai tanggapan. Mau dipaksa sedemikian rupa kalau aku makannya sambil diliatin sama dia tetap saja jatuhnya tidak akan nafsu. "Atau mau aku suapin nih, biar romantis kayak di film-film kesukaan kamu?"
"Ewh." tiba-tiba terdengar suara mendesis jijik dari Cia yang duduk di depan mejaku. Aku tahu benar kalau diam-diam dia mendengarkan dengan awas interaksi kami berdua dari kursinya. Begitupun dengan Jo dan Fei yang tiba-tiba saja terkikik tanpa alasan yang jelas usai Cia tiba-tiba bersuara. Memilih mengabaikan mereka, aku kembali memperhatikan Bio. "Nggak, Bi. Serius, aku udah kenyang banget nih." elakku sambil memasang wajah melas. Jujur, jawabanku sepenuhnya bohong, sebab saat sedang mendapatkan siklus bulanan begini entah bagaimana aku bisa doyan makan-makan. Ya gitu deh pokoknya, yang cewek pasti relate banget.
Beruntungnya Bio tidak memaksa keinginannya agar aku makan lagi. Hanya saja laki-laki itu malah menarik piring berisi indomie goreng yang masih tersisa setengah didepanku kehadapannya, "Kalau gitu, aku yang habisin ya?" ujarnya tanpa menunggu persetujuanku terlebih dahulu, laki-laki itu langsung melahap mie tersebut. Nampak bersemangat, entah memang karena kelaparan atau tidak ingin uangnya sia-sia kalau mie tersebut tidak dihabiskan.
Membuat aku mau tak mau kicep tanpa kata, soalnya laki-laki itu makan pakai sendok bekasku makan tadi. Menyamarkan diri supaya tidak terlihat sedang tersipu oleh Bio, aku memilih untuk menyeruput teh poci di depanku sambil menyugesti diri supaya tidak baper. Namun ketika aku mengangkat pandangan, Bio lagi natap aku lekat terus narik gelas didepanku kearahnya dan menyeruput teh poci tersebut dari sedotan yang sama dengan bekasku tadi. Ok, garis bawahi, sedotan bekasku! Jadi itu sama halnya seperti kami melakukan ciuman secara nggak langsung sebanyak dua kali dong. Duh, apa kabar hati? Masih kuat kah? "Lega banget." ujarnya sambil menyeka mulutnya menggunakan punggung tangan.
"Aku balikin piringnya dulu ya."
Aku hanya mengangguk dan menatap kepergiannya dengan jantung yang lagi-lagi berdetak kencang, untuk yang kesekian kalinya karena perlakuannya.
[]
Bintangnya jangan lupa dipencet, gratis kok, karena kalau bayar nggak bakal kusuruh dong. Wkwkk
Yg pernah naksir temen cowoknya pasti relate banget, iya nggak? Next masih dihari dan scene yang sama lho
Biuuu~