Lovesick Girls

Lovesick Girls
Lovesick: Dibawah Langit Biru



Masih betah ngga baca LSG? :v


🐝


"Sendirian aja nih?"


Mataku yang semula terpejam sontak membeliak terbuka ketika kudengar sebuah suara familiar terdengar menginterupsi ditengah-tengah aku bermeditasi. Diatas atap sekolah yang dijadikan sebagai tempat untuk meletakkan barang-barang tak terpakai, aku melihat karya Tuhan paling sempurna sedang melangkah mendekatiku dengan senyumnya yang membentuk lengkungan curva. Terlihat manis dan mematikan disaat yang bersamaan. Kencangnya angin dengan lancangnya menerpa helai rambutnya yang semula tertata rapi. Dengan gayanya yang memasukan telapak tangannya dikantong celana, laki-laki itu berhenti di depanku.


"Santer katanya disini banyak wewe gombel yang suka nyulik cewek cantik lho."


Secara naluriah mataku berpendar kesana-kemari, takut jika menemukan keberadaan makhluk astral tersebut disekitarku. Aku bergidik karena baru memikirkan kebenaran perkataan Bio barusan. "Jangan nakut-nakutin aku dong, Bi." pekikku dengan heboh yang langsung membuat tawanya pecah begitu saja. Aku berdecak disaat tersadar kalau baru saja dikerjai oleh si tengil Bio. Dan ngomong-ngomong, "Kamu kok tau aku ada disini?" tanyaku dengan sebelah alis naik menatapnya, sebab kupikir percuma saja aku berlari sejauh ini demi menghindari laki-laki di depanku itu jika pada akhirnya aku tetap ketahuan olehnya. Kemudian tanpa dapat kuprediksi Bio duduk bersila di depanku, yang mana membuat lutut kami mau tak mau saling bertabrakan. Sejenak aku menahan nafas dan menyugesti diri supaya tidak bersikap memalukan di depannya.


Bio mengedik, "Aku sempat searching digoogle dulu tadi, makanya tau." ujarnya diikuti dengan cengiran bodohnya.


Aku tak bisa menahan tawaku usai Bio berkata begitu, "Apaan sih! Nggak lucu tauuu." kataku disela-sela tawaku.


Bio juga ikut tertawa, "Nggak lucu tapi kok ketawa." ujarnya lantas mencubit ujung hidungku. Saat itu juga aku menyentak tangannya lalu mengusap-usap hidungku sendiri sambil bersungut-sungut kesal. Aku membenahi posisi dudukku kemudian dan semakin merapatkan punggungku dengan dinding pembatas, disaat yang bersamaan Bio nampak melepaskan blazernya dan meletakkannya untuk menutupi pahaku yang hanya mengenakan rok pendek. Aku menggigit bibir bawahku dengan gugup, sementara itu panasnya aliran darah dipermukaan wajahku seolah bersaing dengan teriknya matahari saat ini dan aku tahu benar kalau Bio pasti melihat dengan jelas bagaimana meronanya pipiku sekarang akibat perlakuannya yang kelewat manis padaku.


Aku berdeham singkat, "Kamu mau?" ujarku mencoba mengalihkan perhatiannya dengan mengangkat kotak bekal yang sengaja kubawa untuk makan siang kehadapannya.


Bio menaikkan alisnya, "Kamu bikin sendiri?"


Aku mengangguk antusias, "Iya dong. Mau nyoba nggak? Kata mama sih hambar dan pas aku cobain sendiri emang bener." ujarku terkekeh diakhir kalimatku kemudian membuka kotak bekal tersebut persis di depannya dan nasi goreng kecap sosis yang kubuat kontan menyita perhatian Bio sepenuhnya. Aku mengulum senyum geli ketika kulihat laki-laki itu menelan ludahnya dengan kasar.


"Pertama kali masak?"


"Kalau nasi goreng iya, kenapa emangnya?"


Bio menatapku tertarik, "Wih, berarti masak yang lain udah sering. Pernah bikin apa aja coba?" ujarnya antusias.


Aku mengetuk-ngetukkan jemariku di dagu dan memikirkan pertanyaan yang baru saja diajukan oleh Bio padaku dengan serius. "Rebus air, masak mie goreng–ihh, Biioo! Kok malah ngetawain! Resek banget!" gerutuku ketika laki-laki itu malah menahan tawanya disaat aku bahkan belum menyelesaikan perkataanku. Karena kesal akhirnya aku mendaratkan pukulan bertubi-tubi di pahanya hingga sukses membuatnya menyemburkan tawa.


"Aku pikir kamu bakal bilang masak sop iga, entok slenget, sate klatak, kayak gitu-gitu. Lah taunya cuma masak itu doang."


Mataku bergulir malas mendengar perkataan Bio, "Jangan ngeremehin aku." ujarku kesal. Aku tersentak ketika Bio tiba-tiba saja mendaratkan tangannya dan mencubit kedua pipiku, "Awas! Jangan pegang-pegang!" tegurku sambil memberi tatapan membunuh dan laki-laki itu menarik tangannya segera setelah kuperingati.


"Habisnya situ gemesin! Pengen ku gigit."


"Jangan resek!" ujarku saat Bio malah menarik tanganku hendak memasukannya ke dalam mulut, sekonyong-konyong laki-laki itu terkekeh dan melepaskan tanganku begitu aku menepuk tangannya. "Udah ah, aku mau baca buku. Kalau kamu masih pengen disini jangan berisik ya." ujarku lalu berlagak sibuk membaca novel yang sengaja kubawa.


"Lah, kok aku dicuekin?" protes Bio tak terima. Merasa diabaikan laki-laki itu mencondongkan badannya kearahku dengan penasaran. "Emang lagi baca apaan sih?" ujarnya sembari mengintip buku yang ada ditanganku dan meneliti bacaannya, tak lama dia berdecak. "Dih, malah baca novel."


"Bi, aku bilang kan jangan berisik!"


"Iya, iya."


Aku mendesah lantas meletakkan novel yang kupegang keatas pangkuan, "Kamu kalau mau makan, makan aja." ujarku sambil melirik kearah kotak bekal yang dianggurkan begitu saja disamping tubuhku. Tatapanku kembali bergulir kearah Bio yang juga tengah menatapku, saat itu aku mengangguk demi meyakinkannya.


"Emang boleh?"


Aku lagi-lagi mengangguk, "Boleh." sahutku kemudian mengambil kotak bekal tersebut dan membuka tutupnya. Aku menyodorkannya pada Bio berikut sendoknya, sementara aku kembali membuka novel yang ada dipangkuanku. Sekilas aku meliriknya dari balik mataku dan aku mendapati pemandangan Bio dengan mulut penuh tengah mengunyah nasi goreng buatanku. Aku meringis dalam hati begitu melihat laki-laki makan dengan lahap padahal jelas sekali nasi goreng yang kubuat tidak ada rasanya.


Aku memutuskan menatap Bio dan tatapan kami seketika bersitegang, aku sempat membeliakkan mata kaget saat laki-laki itu menatapku berikut sebelah sudut bibir naik membentuk seringai. "Kamu nggak makan?" tanyanya, aku menggeleng dan mengalihkan tatapanku darinya. "Aaaa~" aku menoleh ketika Bio mendorong sendok berisi nasi goreng tepat ke depan wajahku.


"Nggak mau." kataku menutup mulutku menggunakan kedua tangan.


Aku menatap Bio dengan mata berbinar dan mengangguk antusias. "Boleh." kataku.


"80 dari 100."


Aku mencibir, "Dasar pembohong!"


"Serius, buat seorang pemula ini termasuk lumayan lho. Apalagi pas kamu tambahin bawang goreng gini."


Aku pura-pura berseru antusias sambil bertepuk tangan, "Wah, makasih banyak pujiannya, chef–" kata-kataku menggantung begitu Bio mendaratkan satu suapan nasi goreng ke dalam mulutku. Aku menatap Bio hendak protes tapi laki-laki itu menyengir dan melanjutkan makan tanpa rasa bersalah.


"Yaudah, kalau gitu besok bikin lagi."


"Tuuuuh kan, ternyata oh ternyata ada maunya." ujarku menatapnya malas, tapi setelah kupikir-pikir "Boleh juga sih saran kamu, lumayan bisa hemat uang jajan."


Bio mengangguk, "Nah, itu tau." kata Bio dengan mulut penuh, "Buka lagi mulutnya?" aku membuka mulut ketika laki-laki itu kembali menyodorkan satu sendok nasi goreng ke depan mulutku. "Dasar bocah, makan aja sampai belepotan gini." ujarnya lalu tanpa sungkan menyeka sudut bibirku. Aksinya tersebut tak ayal membuatku kaget bukan kepalang karena mendapatkan serangan mendadak. Otomatis aku menunduk, berlagak sibuk membolak-balik halaman novel.


"Kamu bawa hp nggak?"


Aku menggeleng tanpa mengalihkan pandanganku dari novel yang ada ditanganku, "En-nggak." jawabku seadanya.


"Bagus deh. Aku juga nggak bawa, jadi nggak akan ada yang ganggu kita disini sampai bel pulang."


Aku terpaksa mendongak, "Lah, kamu mau disini sampai bel pulang? Bukannya kita ada satu mata pelajaran lagi setelah ini?" ujarku menatapnya heran. Laki-laki itu menyimpan kotak bekal milikku yang sudah melompong habis kedalam mini bag kemudian mengangkat pandangannya sambil tersenyum tipis.


"Bolos aja, cuman bahasa Indonesia. Nggak penting-penting amat kok."


Aku memutar bola mata jengah, "Nggak penting palalu peyang." seruku tak terima. "Kamu sih enak, nggak belajar aja bisa juara umum. Sedangkan aku? Boro-boro, kalau belajar aja termasuk rangking sepuluh terakhir apalagi kalau nggak belajar."


Mendengar Bio tertawa renyah usai aku bersuara seketika saja membuatku menekuk wajah masam, "Kasiaaaan." ujarnya dengan tangan terulur mengacak-acak rambutku. "Lagian kamu nggak pintar juga nggak apa-apa."


Aku menatapnya garang, "Biar aku bisa dibodohin kamu terus, gitu kan?"


Bio menggelengkan kepala seraya bibir mengulum senyum penuh arti. "Kalau gitu, nanti aku ajarin kamu sampai pintar deh." ujarnya.


"Aku nggak mau diajarin sama kamu."


"Yaudah kalau nggak mau."


"Yaudah."


"Ngapain masih disini?"


"Ya ngapain lagi selain nemenin kamu biar nggak hilang diculik wewe gombel." ujarku berlagak ketus lalu melengoskan wajah kesamping. Aku kaget ketika tiba-tiba jemari hangat Bio menarik pergelangan tanganku, "Ngapain–shh." dan usahaku hendak mengajukan protes tertahan begitu saja ketika aku merasakan jemariku tiba-tiba digigit oleh laki-laki di depanku. "Kamu? Kamu tadi gigit aku ya?" tanyaku mencari-cari netranya yang sepekat jelaga itu. Aku lemas bukan main saat laki-laki itu justru menggenggam jemariku makin erat ketika aku hendak menarik tanganku.


Matanya berkilat jahil bersamaan dengan sebelah sudut bibirnya tertarik membentuk seringai, "Gemes banget, jadi pengen dimasukin ke kantong." ujarnya kemudian tergelak nyaring melihat aku pura-pura pingsan.


[]


đŸ€ȘđŸ€Ș


Uwu kagak? Kalau nggak, yowes lah aku pamit :v


Your Bee