Lovesick Girls

Lovesick Girls
Lovesick: Dia (Terlalu) Sempurna



Aku menoleh kearah pintu kamar rawat inapku yang diketuk beberapa kali. Tak lama berselang pintu terkuak membuka dan kemunculan Cia cs dibaliknya membuat mataku sontak membelalak kaget. "Kalian kesini lagi?" tanyaku. Jujur aku tak menyangka jika teman-temanku kembali datang untuk yang ketiga kalinya menjengukku di rumah sakit. Awalnya kupikir hari ini mereka tidak akan datang karena tak ada satupun yang mengabariku tapi ternyata aku salah. Aku memberi pembatas pada novel yang tengah ku baca dan kembali menatap satu-persatu kearah mereka yang melesakkan diri di sofa.


"Kenapa? Bosan liat muka kami?" tanya Bio melirikku sebentar. Laki-laki itu tidak duduk, dia hanya menaruh tas yang dicangklongnya keatas kursi. Aku hanya menganggukkan kepalaku ketika dia menoleh kearahku dengan salah satu sudut bibir tertarik ke atas, "Berarti itu derita kamu, soalnya kami bakal kesini tiap hari."


"Katanya Bio nggak tahan nggak liat kamu, Bon."


Aku mengerucutkan bibir, "Tapi besok aku udah dibolehin pulang." kataku lalu memeletkan lidah kearah Cia yang serta-merta menjulingkan matanya begitu melihat aksiku.


"Bagus dong, itu berarti kami punya alasan supaya bisa datang kerumah kamu."


Aku mengerjap beberapa kali saat mendengar jawaban Bio yang tak ayal membuatku merasakan ada puluhan kupu-kupu sedang mengepakkan sayapnya di dalam perutku. Aku menelan ludahku sedikit kasar, "Nggak bakal aku bukain pintu pokoknya." jawabku sambil menaikkan daguku.


Kulihat bibirnya sedikit berkedut sebelum berkata, "Sayangnya, tante udah ngasih tiket masuk sama kami." ujarnya tak mau kalah.


"Ap-apa?"


Aku menatap Bio yang mengedikkan bahunya kemudian laki-laki itu dengan acuhnya duduk disalah satu sofa yang kosong dan menyalakan siaran televisi. Lalu aku mengalihkan tatapanku kearah Fei ketika perempuan itu berdeham. "Aku nggak nyangka, Bon. Kalau nggak diceritain sama Jo mungkin sampai kiamat aku nggak bakal tau, kalau ternyata Bio udah diajak makan malam bareng keluarga besar kamu." celetuk Fei yang membuat sepasang mataku membeliak sementara rahangku terkatup rapat. Aku melirik Jo, hendak meminta penjelasannya tapi laki-laki tengah mengotak-atik ponselnya saat ini. Nampaknya dia tidak terusik sama-sekali ketika Fei membawa-bawa namanya. "Ternyata hubungan kalian sudah sejauh itu. Ya, ya, cukup tau." lanjutnya dan diangguki oleh Cia yang duduk persis di sampingnya.


Aku mendengkus, "Apaan deh." protesku tak terima. "Orang cuman makan malam."


Cia melipat tangannya di dada. "Pokoknya aku bakal jadi orang pertama yang ngehancurin pesta kalian kalau sampai kalian nggak ngundang aku pas nanti nikah." katanya berapi-api.


Aku memutar mata malas, "Masih lama kali."


Cia dan Fei saling menatap satu sama lain, "Cieeee!" goda mereka berbarengan sambil menatap kearahku. Mereka sama-sama tergelak menertawaiku meski aku tidak tahu letak lucunya dimana. Bahkan dari tempatku sekarang aku dapat melihat dengan kentara bagaimana merahnya wajah mereka karena tertawa. "Dia nggak ngelak kayak biasanya, Ci." kata Fei sambil melirikku disamping derai tawanya. Aku mencibir perkataan mereka dan mencuri pandang kearah Bio yang tidak terganggu sama sekali dengan celotehan halu Cia dan Fei.


"Bau-bau cinlok kayaknya." celetuk Jo tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel yang ada ditangannya.


"Doain aja." Aku refleks menoleh kearah Bio, d-doain apa? Diantara kebingunganku dapat kulihat sudut-sudut bibirnya sedikit tertarik dalam hitungan detik setelah wajahnya kembali berubah menjadi datar.


"Cieeee!" goda mereka lagi secara berbarengan yang kali ini sukses membuat pipiku memanas. Aku beringsut turun dari ranjangku sedikit tak sabaran namun tetap was-was, "Eh? Kamu mau kemana, Bon?" tanya Cia membuatku menoleh kearahnya sebentar kemudian kembali mengalihkan pandanganku dan memakai sandal yang sengaja mama belikan untukku.


"Mau kekamar mandi. Kenapa? Mau ikut?" ujarku ketus. Aku mendorong tiang infus bersamaku dan melewati mereka begitu saja menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar rawat inapku.


"Yaudah, ayo."


Aku menoleh kearah Bio ketika laki-laki itu menghampiriku dan membantuku mendorong tiang infus. Kemudian aku melirik sekilas kearah teman-temanku yang lain yang masih duduk anteng disofa ketika mereka bersorak heboh menggodaku dan Bio. Aku menghela nafas lelah dan menatap Bio sambil pura-pura memasang wajah jutek. "Apaan sih! Aku cuman bercanda tau!" ujarku galak hingga membuat Bio terkesiap dan spontan menarik tangannya dari tiang infus. Sedangkan aku secara taktis mengambil alih tiang infus dan melengos masuk ke dalam kamar mandi.


Aku menghembuskan nafas lega ketika berhasil masuk ke dalam kamar mandi. Aku bersandar dibalik pintu dan secara refleks aku mengusap dadaku yang berdegup kencang. "Jangan ngarep." gumamku sambil menggeleng-gelengkan kepala untuk mensugesti diri. Sebenarnya alih-alih buang hajat, pergi kekamar mandi hanya alibiku untuk melarikan diri dari bercandaan mereka. Ketahuilah kalau alasanku cukup berdasar kali ini karena jika sekarang aku masih disana dan meladeni guyonan mereka yang sama sekali tidak lucu maka aku yakin dua ratus persen perasaanku dapat mereka raba secara gamblang. Dan itu tandanya awal dari kehancuranku.


Dijauhi sama dengan kelemahanku.


Apalagi saat ini Bio sedang menaruh hati pada Fei. Dan apa kabar jika perempuan itu tahu kalau aku punya perasaan pada laki-laki itu? Aku yakin dia akan menolak pernyataan Bio jauh sebelum laki-laki itu berjuang. Dan apabila itu terjadi maka aku yakin betul kalau laki-laki itu akan menjauhiku atau paling tidak menaruh dendam kesumat padaku.


"Jangan jadi cewek gampangan." imbuhku lagi.


Lantas aku berjalan menuju wastafel dan menatap bayanganku yang ada disana. Tanpa sadar aku mendekatkan kepalaku ke cermin dan menatap lama kearah wajahku, lumayan cantik sebenarnya. Hanya saja kadar kecantikanku tidak mampu membuat para lelaki menoleh dua kali kearahku layaknya Fei. Jujur saja, Fei dengan kecantikannya saja sudah terlalu maruk menurutku tapi selain cantik hakiki ternyata dia juga punya perasaan selembut karpet impor milik mama yang seharga ratusan dolar. Tidakkah dia manusia paling serakah dimuka bumi ini? Itulah alasanku selama ini memilih menyerah–meski belum bisa dieksekusi secepatnya–pada perasaanku. Karena Fei tidak pantas untuk menjadi tandinganku, dia terlalu sempurna.


"Maaf kelamaan–" mataku berseliweran kesepenjuru ruangan ketika keluar dari kamar mandi dan tidak mendapati keberadaan yang lain selain Bio yang tengah duduk lesehan di meja kopi. "Lho? Kok kamu cuman sendiri disini? Yang lain pada kemana?" tanyaku pada satu-satunya orang yang ada dikamar rawat inapku itu.


"Keluar."


"Kemana? Kok nggak bilang-bilang sih?"


"Katanya mau nyari makan dulu."


"Kamu nggak ikut?" tanyaku basa-basi. Aku berjalan kearah ranjangku sambil mendorong tiang infus di tangan kiriku. Aku menatap lurus kearah Bio ketika berhasil duduk diatas ranjang, nampaknya laki-laki itu terlalu fokus sampai-sampai tidak mendengar pertanyaanku padanya. "Kamu–um, lagi ngapain sih? Sibuk banget kayaknya."


Bio mengangkat pandangannya sebentar kearahku, "Ngerjain exam buat bimbel nanti sore." sahutnya lalu kembali berkutat pada lembaran kertas di depannya dengan dahi berkerut.


Aku hanya ber-oh ria mendengar jawabannya. "Aku kira bimbel kamu setiap hari senin sampai rabu, atau aku yang salah denger ya?"


"Awalnya gitu tapi baru-baru ini aku  kurangin jadwalnya jadi hari kamis sama jumat aja, soalnya ujian udah sebentar lagi." jawab Bio tanpa mengalihkan tatapannya dari kertas yang ada dihadapannya. Mendengar responnya yang seperti ogah-ogahan saat menjawab pertanyaanku membuatku enggan bertanya lebih lanjut padanya. Apalagi ketika melihat raut wajah laki-laki itu nampak serius ketika membaca kertas yang dipegangnya semakin meyakinkan aku kalau laki-laki itu tidak mau diganggu olehku.


Alhasil aku memilih tiduran sambil mengotak-atik ponselku. Awalnya aku hendak bermain game arcade yang iseng ku download mumpung ada wifi gratis tapi begitu aku ingat kalau tangan kananku sedang digips aku mengurungkan niat itu dan memilih membuka aplikasi twitter. Rasanya sudah lama sekali sejak aku mengalami kecelakaan dan baru kali ini aku sempat membuka akunku. Aku melirik kearah Bio sebentar hanya untuk memastikan kalau laki-laki itu sedang sibuk dengan tugasnya lalu kembali menatap layar ponselku dan mengetikkan user laki-laki itu dipencarian. Karena Bio tipe orang yang aktif di jejaring twitter, aku jadi penasaran tweet apa saja yang laki-laki itu buat beberapa hari terakhir ini.


Tidak ada pembaharuan terbaru ketika aku membuka tweetnya. Namun, aku seketika terpaku begitu melihat tweet terakhirnya.


Biotama Bernadus @briotamatan . 4 hari


Sekali-kali egonya diturunin biar nggak menderita


Biotama Bernadus @briotamatan . 3 hari


Kamu baik-baik aja kan? @bongbong


Aku refleks melirik kearah Bio. Ketika kulihat, rupanya laki-laki itu sedang merebahkan kepalanya diatas meja dengan wajah menghadap kearahku, sementara itu matanya memejam sempurna, helaan nafasnya juga nampak teratur. Aku tidak tahu sejak kapan Bio tidur tapi kalau aku tidak salah menduga sepertinya laki-laki itu kelelahan dan tidak sengaja ketiduran. Aku menunggu beberapa menit sebelum akhirnya bangun dan turun dari ranjang tanpa menimbulkan suara sedikitpun.


Aku mengambil resiko dengan menghampiri Bio yang tengah ketiduran. Aku berjongkok didepannya dan menatapnya sambil mengulum senyum simpul. Jika wajah Bio terlihat manis ketika dia tersenyum maka percayalah ketika Bio tertidur laki-laki itu nampak seperti seorang bayi, terlihat polos dan tak berdosa sama sekali. Justru menariknya, kadar ketampanannya semakin meningkat saat dia dalam keadaan seperti ini. Membuatku semakin jatuh saja.


Aku terkesiap ketika melihat Bio tiba-tiba saja membuka matanya dan membuat pandangan kami mengadu, "Bi-o? Kamu bangun?" tanyaku gelagapan sambil menjaga jarak darinya.


"Lebih tepatnya aku nggak tidur sama sekali."


"Hah?"


[]


🤣🤣


Nah, nah kepergok dong. Kamu sih Bon, naughty. Ya moso nyari kesempatan dalam kesempitan pas orang lagi tidur :v


Biuuuu~