
Aku tidak tahu berapa lama aku tak sadarkan diri. Yang jelas ketika aku bangun, aku sudah berada di ruangan serba putih yang aku yakini adalah rumah sakit. Menyadari keadaanku saat ini, membuatku seketika teringat dengan jelas kalau beberapa saat lalu aku sempat terlibat kecelakaan di jalan raya. Kemudian ketika aku tahu belum memberi kabar apapun pada mama, sontak aku panik bukan main dan mencoba untuk bangkit dari bangsal hendak mencari tas yang masih kubawa saat kecelakaan menimpaku. Tapi niatku urung begitu saja saat kepalaku mendadak berdenyut sakit, refleks tanganku cepat bergerak hendak meraba kepalaku yang sempoyongan, terasa hendak pecah dan sayangnya aksiku lagi-lagi urung karena tanganku terasa ngilu ketika coba kuangkat.
Aku menggeser kepalaku dengan hati-hati ketika pintu kamar yang kutempati terkuak membuka. Dan bola mataku nyaris melompat dari rongganya saat melihat mama berjalan di belakang salah seorang dokter yang cukup muda. Mama melompat girang begitu melihat aku sudah siuman dan memelukku sambil memberi ciuman dipermukaan wajahku. Sementara dokter yang tadi ikut masuk ke ruanganku hanya mengulum senyum dan bertanya bagaimana kondisiku pasca siuman, kemudian dokter menjelaskan kalau luka yang aku alami didahiku tidak berakibat fatal. Dokter juga menambahkan kalau aku mengalami hanya mengalami patah tulang tidak lengkap atau hanya retak saja, sebenarnya tidak terlalu parah meski begitu aku tetap terancam tidak bisa menggunakan tangan kananku untuk beraktivitas seperti biasa untuk sementara waktu. Selebihnya, dokter bilang aku baik-baik saja.
Sembari dokter memasang gips ditangan kananku, mama yang berdiri ditepi matras yang kutempati tak henti-hentinya bercoletah panjang lebar tentang kepanikannya ketika mendapat kabar dari kepolisian kalau aku mengalami kecelakaan, kekhawatirannya kemudian memudar berubah jadi memarahiku karena bisa-bisanya aku bepergiaan sendirian tanpa diantar sopir keluarga yang selalu standby di rumah. Aku hanya menghela nafas dan menebalkan telingaku sendiri. Jujur saja aku tidak bisa melakukan apapun saat mama memulai aksinya mengomeliku sekalipun itu di depan dokter muda yang tengah memasang dengan hati-hati gips ditanganku. Tapi tindakan yang kulakukan rasanya sudah benar, karena jika sedikit saja aku berani menyahut, aku yakin mama akan menambah durasi omelannya sampai berjam-jam lamanya dan pastinya itu akan membuat sakit di kepalaku bertambah parah.
Begitu dokter yang menanganiku pamit keluar, aku memaku tatapan pada tanganku yang sudah dipasang gips. "Padahal ini tuh nggak parah, kenapa harus pakai gips sih." ujarku lebih kepada menggerutu.
Mama berdecak sebal, "Udah nurut aja apa kata dokternya. Kamu toh nggak ngerti apa-apa." ujar mama melempar tatapan tajam untukku. Mama menatapku menyelidik, "Mama mau nanya, emangnya kamu dari mana kok bisa sampai ditabrak begini?"
Aku menghindari manik mata mama yang setajam silet, "Kejadiannya cepet banget, pas Bona mau nyebrang tiba-tiba aja ada sepeda motor lewat udah gitu kenceng lagi, mau ngehindar kan nggak sempat soalnya udah sama-sama kaget. Lagian kan namanya musibah siapa yang bisa tau, kalau Bona tau sih pasti udah ngehindar." jawabku panjang lebar, tidak sepenuhnya bohong memang. Hanya saja aku menutupi kejadian lengkapnya demi kemashlatan bersama. Karena jika mama tahu, aku yakin saat ini juga wanita paruh baya itu akan syok dan menelpon baik itu papa maupun mas Io untuk memberitahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Dan kemungkinan terburuk dari itu semua, maka aku akan terkekang dengan larangan-larangan baru yang mereka buat.
"Kalau gitu siapa yang nabrak kamu? Mama harus bikin perhitungan sama dia."
Mataku melotot saat mendengar jawaban mama. "Ih jangan dong, ma. Kasihan tau, yang nabrak kan juga lecet-lecet sama kayak Bona. Dan asal mama tau, ini tuh murni kesalahan Bona karna nggak hati-hati pas tadi nyebrang." ujarku tak serta-merta menerima. Apalagi semua kejadian yang terjadi sekarang bermula dari kecerobohanku. "Daripada mama cerewet gini mending kita pulang yuk, ma? Aku nggak betah disini." imbuhku mempermanisnya menggunakan puppy eyes andalanku.
"Nggak, kamu disini aja dulu sampai kamu benar-benar dibolehin pulang."
Aku memejamkan mata ketika merasa kepalaku pening. Seharusnya sejak awal aku tidak meladeni mama karena aku tidak akan pernah menang melawan mama, in fact jika aku saja keras kepala maka mama akan lebih keras dariku. Aku menghela nafas lelah, "Tapi udah bosan, ma. Lagian kan besok Bona juga musti ke sekolah." ujarku memasang wajah melas sebagai usaha terakhir membujuk mama.
Mama duduk ditepi ranjangku dan menatapku nanar, "Heh, ngapain sekolah kalau sakit begini?" kata mama sambil merapikan anak rambut di sekitar pipiku. "Kamu nggak denger dokter tadi bilang apa? Untuk beberapa hari ke depan kamu tetap disini biar bisa dipantau."
Daguku terangkat pongah, "Siapa bilang sakit?"
Mama menghadiahi cubitan gemas di ujung hidungku. "Kepala sampai di perban dan tangan di gips itu apa namanya kalau nggak sakit? Hm?" ujar mama dan untuk pertama kalinya sepanjang aku hidup melihat mama memutar mata di hadapanku. Kontan aku tertawa kecil.
"Ma, jangan lebay deh."
"Bona, mama itu khawatir sama kamu." kata mama lagi, kali ini mama menatapku serius.
Mama menggeleng sebagai jawaban telak, "Kamu boleh pulang kalau udah lepas gips." kata mama dengan sorot mata tak mau dibantah.
Aku seketika mendesah kecewa, "Yaaah, itu kan lama banget terus sekolah Bona gimana? Lagian kata dokternya Bona cuma patah tangan kok."
Mama tertawa getir, "Cuma patah tangan kamu bilang?" ujar mama menatapku sambil menggeleng tak percaya.
Aku mengangguk dengan wajah tanpa dosa, "Bona masih bisa pakai tangan kiri buat ngapa-ngapain." ujarku sambil mengangkat tangan kiriku yang terpasang jarum infus dan sedikit meringis ketika menggerakan tanganku hendak menangkup punggung tangan mama untuk membuktikan ucapanku. "Mama lihat sendiri kan?"
"Tetep aja nggak boleh. Sekali nggak boleh tetap nggak boleh. Kalau kamu masih ngeyel nanti mama bilangin papa, biar kamu tahu rasa dimarahin papa habis-habisan."
Aku meringis ngeri mendengar ancaman mama. Namun, apa yang diucapkan mama tidak bisa dianggap remeh karena mama tipikal yang tidak bisa ditebak jalan pikirannya, orang bilang berpacu pada mood. Jujur saja, marahnya papa itu adalah hal kesekian yang tidak ingin ketemui karena selain bisa membuat umur berkurang, marahnya papa benar-benar bisa membuat jantung hendak jatuh ke dengkul, mengerikan, dan langsung membuat jera. Dan aku pernah menemukan amarah papa karena sesuatu yang tidak bisa kusebutkan dan itupun dulu sekali dan cuma satu kali. Kendati demikian begitu membekas di dalam ingatan. Atensiku buyar ketika mama mengusap pipiku, aku sontak menatap mama dan menghela nafas untuk kesekian kalinya. "Bona kan cuman patah tangan aja. Bukannya gegar otak, ma." kataku masih berusaha keras.
"Kamu ini nyahut aja omongan mamanya."
"Tapi–" aku menggantungkan kalimat protesku ketika mama beringsut turun dari ranjang dan berdiri dihadapanku dengan garang.
Sambil berkacak pinggang, mama berdecak nyaring, "Nggak ada bantahan! Emang kamu mau papa marah? Emang kamu mau mas kamu khawatir lihat kamu gini?" tanya mama yang saat itu juga membuatku kicep tanpa banyak kata karena mendengar ucapan mama yang diam-diam kubenarkan dalam hati. Aku menatap kepergian mama saat mama pergi tanpa memberitahu tujuannya kemudian mengalihkan pandangan dan menatap kearah langit-langit kamar inapku.
Lagian ada baiknya juga aku disini, jadi tidak perlu repot berlagak baik-baik saja ketika melihat interaksi Bio dan Fei. "Mulai saat ini aku bakalan coba move on." gumamku pelan dan tekadku pun sudah bulat.
[]
Next nggak? 😏
Kasih reward dong gais buat mimin
Cukup tekan jempolnya aja kok. Gampang banget kan? Iya, makanya, soalnya sumbangsih jempol kalian itu berarti banget tau🙏