
Hai guys😊
Sorry banget baru bisa up sekarang soalnya ada beberapa hal yg ga bisa mimin tinggalkan di real life🙏 sorry banget ya
Dan sebagai permintaan maaf, mimin kasih dua chapter sekaligus buat kalian💖
Love you all
🐝
"Gimana kemarin? Sukses acaranya?"
Jo tiba-tiba datang dari arah berlawanan dan menahan langkahku diselasar sekolah. Aku menatapnya malas lantas melewatinya untuk kembali berjalan dengan bola mata berseliweran kesepenjuru sekolah, cemas jika Bio menemukan keberadaanku yang saat ini mencoba menghindarinya. Jo menyelaraskan langkah kami dan memandangku dari samping, "Kacau! Kamu kan tau sendiri gimana nyebelinnya mas Io selama ini. Jadinya, aku malu banget sama Bio." ujarku sambil merutuk memikirkan makan malam kemarin yang mendadak menjadi acara buka aib di depan Bio.
"Sudah kuduga." ujar Jo yang mana usai mengatakannya laki-laki itu terbahak-bahak sehingga membuat beberapa pasang mata yang berpapasan dengan kami disepanjang selasar sekolah melirik penasaran kearahnya.
Aku memberinya delikan tajam, "Nggak lucu, Joooo!" gerutuku diikuti dengan kepalan tanganku menyerang lengan atasnya. "Musnah, musnah, musnah!"
Jo terbahak semakin nyaring melihat bagaimana reaksi yang kuberikan, "Nggak heran kalau nggak ada cowok yang berani deketin kamu kalau pawangnya gitu." ujarnya usai tawanya reda, laki-laki itu berdecak sambil menggeleng heran. Yah, aku tahu kalau Jo tahu benar bagaimana karakter mas Io selama ini. Kata mama semenjak trauma yang dialaminya, mas Io semakin menunjukkan bentuk proteksinya padaku dari orang-orang yang ada disekitarku. Tidak heran jika tak ada yang berani mendekatiku karena kerasnya sikap mas Io dan disamping itu aku sendiri tidak bisa menyalahkan perilakunya, bagaimanapun juga apa yang terjadi selama ini karena ada hukum sebab akibat. "Tapi kalau aku jadi mas Iota pun pasti akan melakukan hal yang sama ke Joana. Itu namanya, insting melindungi." imbuh Jo sambil menunjuk pelipisnya menggunakan telunjuk.
Mataku bergulir malas mendengar pembelaan Jo, "Iya, iya, tau yang lagi ngebelain idolanya sendiri." ujarku mencibir kesal, sedangkan disebelahku senyum Jo tampak merekah. Sebenarnya, sudah menjadi rahasia umum kalau Jo adalah maniak mas Io sejak sekolah dasar dan seiring mas Io bergabung dengan angkatan militer, Jo semakin mengidolakan mas. Laki-laki itu bahkan memutuskan ingin mengikuti jejak mas Io menjadi seorang karbol. Aku tidak tahu penyebab pastinya, maksudku bagaimana bisa Jo begitu menitikberatkan hidupnya pada mas tapi aku pernah mendengar rumor yang beredar dari keluarga kalau Jo itu sebenarnya seorang gay dan sedang menjalani terapi. Yah, dari situ aku mulai menarik kesimpulan sendiri kalau Jo sebenarnya tertarik kepada mas Io sebagai pasangan alih-alih panutan, kendati aku tidak tahu kebenaran faktanya karena tidak pernah dikonfirmasi secara langsung olehnya. Setiap kali aku mencoba bertanya laki-laki itu justru marah-marah dan berakhir mendiamiku.
"Terus reaksinya gimana?"
"Bio?"
Jo mengangguk sebagai jawaban, membuat ingatanku kemudian tertarik kembali mengusut ulang kejadian makan malam itu, tepatnya setelah kami selesai mencuci piring.
"Bona, duduk disini." ujar mas Io sambil menepuk ruang kosong disampingnya begitu kami tiba di ruang tengah, dibawah tatapan mas Io yang tak ingin mendengar bantahan itu maka aku mengangguk pelan. Terlebih dahulu aku menyuruh Bio untuk duduk disofa untuk satu orang sebelum akhirnya melangkahkan kaki mendekati mas Io dan duduk disebelahnya. Aku menyengir kikuk pada Bio ketika tatapan kami tak sengaja bertemu.
"Keluarga kami ya cuma segini, nak Bio. Kalau keluarga besar semuanya ada di Ngawi sama Medan. Jadi rumah itu berasa sekali sepinya apalagi sejak masnya Bona mendaftar taruna dan keterima. Tante sering ditinggal sendirian dirumah, kamu kan tau Bona sekolah sementara papa nya Bona ngurus kerjaan dan pulangnya nggak nentu." ujar mama panjang lebar, mama tampak mengulum senyum begitu akan melanjutkan perkataannya, "Makanya tante ngusulin sama papanya Bona kalau setelah lulus sekolah nanti dia dinikahin aja langsung kalau nggak sama pacarnya sendiri atau sama anak temen bisnis papanya, kan lumayan nanti tante ada yang nemenin dirumah. Lucunya yang nolak itu malah masnya bukan orangnya langsung. Tante masih ingat katanya gini 'hah, awas aja ya kalau sampai adek di nikahin, mas pastiin calonnya bakal ditemuin tewas di got'."
Semua orang tergelak terkecuali aku dan mas Io tentu saja. Mas Io sendiri langsung mendengkus begitu mama selesai bercerita, sementara aku menatap dengan geram mas Io. "Serius? Mas bilang gitu sama mama?" ujarku dengan nada tidak suka yang terdengar kentara, aku dengan sabar menunggu jawaban mama yang mencoba mengontrol tawanya.
Mama mengangguk, "Iya, habis itu mas kamu ngambek lho dek."
Mas Io menepuk-nepuk puncak kepalaku, "Alah yang mau dinikahin aja masih kecil gini. Nggak akan ada cowok yang mau sama dia kalau tau Bona itu masih suka pipis dikasur pas tidur." ujarnya diakhiri dengan tangan terulur mencubit pipiku lumayan keras, yang sekonyong-konyong membuatku meringis kesakitan.
Sontak mataku melotot mendengar kebohongan yang diucapkan oleh mas Io, "Eh, nggak ada ya! Mas jangan ngada-ngada deh." protesku tak serta-merta terima dituduh. Reaksi Bio nampak terhibur ketika diam-diam aku meliriknya dari ujung mataku. Jauh dilubuk hatiku, jujur saja aku malu bukan main, terlebih disini ada entitas Bio yang notabenenya adalah orang asing. Laki-laki itu mungkin akan berpikir apa yang dikatakan mas Io adalah benar adanya, mengingat saudaraku itu mengatakannya dengan raut wajah yang serius. Kemudian untuk melampiaskan rasa kesal dengan perkataan mas Io yang hanya isapan jempol semata, maka aku memberikan pukulan bertubi-tubi pada lengan mas Io yang duduk disampingku tapi kupikir upayaku berujung sia-sia karena alih-alih mengaduh mas Io justru tertawa lepas. Merasa percuma, aku lantas memilih untuk membuang muka kesamping dengan helaan nafas kasar.
"Sampai umur setua ini masih aja gitu."
Aku kembali menoleh kearah mas Io dan menatapnya seolah meremehkan, "Buktinya apa? Mas jangan asal nuduh dong kalau nggak ada bukti." sahutku kemudian aku menjulurkan lidah. "Dan, Bona cuman mau bilang kalau taktik mas Io kali ini nggak bakalan mempan, percaya deh."
Nampak mas Io mengedik, "Disini sih nggak ada tapi kalau di kamar kamu pasti ada." kata mas Io sambil memberi kode keatas tepat dimana kamarku berada menggunakan dagunya.
Aku mencibir, "Maaa, mas Io nih nyebelin banget." kataku lalu menoleh kearah mama yang geleng-geleng kepala.
"Mas, kasihan tuh adeknya di jahilin mulu."
Mas Io mengangguk meyakinkan, "Ini emang bener, ma. Coba deh liat ke kamarnya, bau pesing." ujarnya seraya mengibaskan tangan didepan wajah, berlagak seolah sedang mencium bau yang tidak sedap. "Pokoknya adek itu jorok banget. Dan ada lagi, mama pasti nggak tau kan kalau selama ini adek suka makan di atas kasur sampai ketiduran."
Aku melotot mendengar satu lagi ucapan mas Io yang membuatku yakin kalau wajahku sekarang memerah karena memendam amarah, "Nggak kok, ma. Pokoknya mama sama papa nggak boleh percaya sama omongannya mas. Soalnya itu cuma akal-akalannya mas." ujarku mengalihkan tatapanku dari mas Io kemudian menatap mama yang duduk tepat diseberangku, aku mengangguk berusaha meyakinkan mama.
"Dia juga jarang mandi makanya jerawatnya banyak tuh."
Aku nyaris menangis ketika mas Io kembali menyerangku dengan fakta yang tidak bisa aku elak. Tapi, oh ayolah, bukankah normal jika perempuan akan mendapat beberapa jerawat ketika sedang mengalami siklus bulanan? "Maaa, mas Io nih dikasih tau biar nggak gangguin Bona terus." aduku karena tak bisa membela diri lagi. Namun dengan santainya mas Io malah memberiku usapan dipuncak kepala berikut seringai kemenangannya.
Belakangan mama menengahi kami dan memperingati agar tidak bersikap seperti itu lagi terlebih di depan tamu undangannya. Aku yang baru sadar dengan keberadaan Bio, segera melarikan pandangan kearahnya. Laki-laki itu terlihat tak nyaman karena sekarang perhatian berpusat padanya. "Maklum ya, Bio. Mereka itu kalau ketemu pasti adu mulut. Nggak ada habisnya, tante saja pusing dengerinnya gimana kamu ya." ujar mama yang mana membuatku refleks memberengut. Bio menanggapinya dengan santai, laki-laki itu bilang kalau dia malah iri dengan kedekatanku dan mas Io karena dia tidak bisa seperti itu, satu lagi fakta yang baru kuketahui tentangnya bahwa ternyata laki-laki itu adalah anak sematawayang.
Kulihat Bio menggelengkan kepalanya, "Oh, nggak kok om. Aku pindahan dari Balikpapan." jawabnya sopan.
"Wah, jauh ya. Keluarga kamu juga disini?"
"Iya, sama keluarga."
"Udah berapa tahun disini?"
Dari tempatku duduk, dapat kulihat Bio mengernyit sambil menghitung menggunakan jemarinya. Tak lama laki-laki itu mengangkat pandangannya menatap papa, "Nggak lama banget kayaknya, om. Mulai aku jaman-jaman SMP, sekitar lima atau enam tahun." jawabnya terdengar tak yakin.
Mama mengangguk sambil beroh-ria, "Oh, lumayan lama itu." timpal mama tak mau ketinggalan.
"Ada rencana mau kuliah kah kalau udah lulus sekolah nanti?" tanya papa, kulihat Bio mengangguk memberi tanggapan. "Ngambil bidang apa?"
"Dari kecil aku udah punya cita-cita jadi dokter, om, tante."
Aku tersenyum dan mengacungkan dua jempolku ketika pandangan Bio tertuju kepadaku, "Wih, keren banget kan, pa?" ujarku menaik-turunkan alisku yang tak ayal membuat papa terkekeh jadinya. "Dan asal papa tau, Bio itu pinter banget lho. Juara umum disekolahnya Bona. Kebayang nggak gimana kerennya?"
Mas Io berdecak sinis, "Itu kata orang yang IQ nya dibawah seratus." gumam mas Io yang berhasil menyita perhatianku, aku menoleh kearahnya dan melayangkan tatapan tajam.
"Siapa?"
"Kamu."
"Yang nanya!"
"Asem, pancen bocah nakal."
Mama memperingati kami segera sebelum mas Io berhasil menggeplak kepalaku. Membuatku dan mas Io kompak menundukkan kepala segan. "Bagus banget kalau udah tau minatnya kemana. Kalau Bona bahkan masih nggak tau minatnya apa, malah dia bilangnya nggak mau kuliah pas udah lulus sekolah. Bikin saya pusing sendiri mikirin gimana masa depannya nanti." ujar papa kemudian yang mampu membuatku mengangkat pandangan menatap kearah papa. Aku tersenyum meringis pada papa yang menatapku.
"Adek emang bagusnya nggak usah dikuliahin, pa. Biarin aja dia dirumah nemenin mama."
Aku menoleh kearah mas Io yang tengah menyeringai, "Mulai malam ini Bona berubah pikiran." kataku sambil menatapnya tak kalah sengit. "Bona mau kuliah juga." lanjutku seiring kepalaku berputar menatap papa dan mama dengan tekat bulat.
"Alah kamu ngabisin duit papa aja, kamu bukannya mau kuliah buat belajar tapi mau ngecengin cowok-cowok, iyakan?" sela mas Io lagi, membuatku mencibir perkataannya. "Udah, Bona nggak kuliah itu udah paling bener, Pa."
"Emang adek udah tau minatnya kemana kalau mau kuliah?"
Aku mendadak terserang panik ketika papa menatap kearahku dengan dahi berkerut, ketika mataku tak sengaja melirik kearah Bio tiba-tiba aku mendapat sebuah ide. "Pera-perawat kayaknya menarik?" ujarku sedikit tergagap.
"Idih, disuntik aja teriakannya kedengeran sampai monas. Gimana mau nyuntik orang."
[]
Aku juga pusying mikirin anak, om.
Mas Io: Bona nggak kuliah kayaknya udah paling bener.
Author: Setuju!
Bio:😏 #smirk
Bona: Fix kalian jahara!😠
Your Bee