
Bio udah pergi beberapa saat yang lalu dengan senyum mematikannya yang enggan menyurut. Selepas kepergiannya, bahuku langsung meluruh lemas. Selain itu, satu hal yang langsung aku lakukan pas Bio udah nggak ada di depanku yaitu mereguk rakus udara segar yang ada disekitarku. Ku akui, saat dia ada didekatku aku seperti membatasi diri untuk melakukan apapun termasuk mengambil nafas. Kayak, gugup aja gitu, aku takut kalau apapun yang kulakukan bakal ngerusak image ku dimatanya Bio terus bikin dia keki dan nggak mau temenan sama aku lagi. Ok, abaikan saja, itu hanya ketakutanku yang berlebihan. Lagian sejauh aku kenal dan dekat dengannya, Bio nggak seperti itu kok orangnya. Huft, gini ya suka dukanya kalau naksir sama temen cowok sendiri, nano-nano rasanya, kadang ribet memposisikan diri, kadang merasa bersyukur juga karena selalu berada di satu teritori yang sama, ya gitu-gitu deh.
Gaduhnya suasana kelas di jamkos bagai pasir hisap yang serta merta menarikku kembali dari lamunanku. Saat itu perhatianku langsung memindai sekelilingku, kondisi kelas nampak mawut akibat tidak ada guru. Fyi, guru-guru SMAN 45 lagi persiapan buat program sekolah adiwiyata yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi, sehingga berimbas baik buat kami (baca: pesdik), karena nggak ada KBM atau apapun, hanya saja kami tetap dikasih tugas mandiri. Namun, siapa yang mau peduli? Hah, tak ada satupun. Contohnya saja teman-temanku, Fei misalnya, perempuan dengan visual mematikan itu sedang bersolek di mejanya tanpa terusik sama sekali. Sementara Cia dan Jo, masing-masing dari mereka tengah memelototi layar ponselnya sambil cengar-cengir tidak jelas.
Lalu aku sendiri? Dih, jangan harap akan mengerjakan tugas, itu sih namanya kerajinan! Sejatinya buku-buku yang kini ada diatas mejaku cuman kujadikan alasan buat sok sibuk di depannya Bio. Yang ada aku luarbiasa gabut, aku tidak melakukan hal yang berarti selain menatap kearah coretan-coretan abstrak yang aku buat. Aku menghelas nafas, bosan, aku melirik ke sekitarku yang sedang bergelut dengan dunianya masing-masing, lalu kembali menghela nafas lagi. Sepersekian detik setelahnya, tiba-tiba saja aku mendapatkan ide untuk mengusir suntuk, sambil mengulum senyum aku meraih bolpoin hitam di dalam kotak pensilku lalu menggoreskan sesuatu di belakang buku catatan milikku.
Tipe cowok idaman menurut Bona;
Saat dia memperhatikan hal-hal kecil yang aku katakan dan lakukan.
Saat dia mendengarkanku dengan seksama.
Saat dia menunjukkan perhatiannya padaku.
Saat dia berjalan disampingku.
Saat dia makan sisa makananku.
Aku cekikikan sendiri. Sumpah, semua yang kutulis ini menjurus banget ke satu orang yang sama. Jelas dong, aku saja menulisnya sambil membayangkan sikap doi selama ini sama aku yang kelihatannya emang remeh banget dan luput dari perhatian orang banyak tapi secara nggak langsung bikin jantungku melenting-lenting tidak karuan, yang secara harfiah bersifat positif. Tentunya siapa laki-laki yang aku maksud sudah tervisualisasikan secara gamblang dari bagaimana aku mendeskripsikan tipikal pria idamanku.
Kejadiannya begitu cepat ketika buku catatan yang ada diatas mejaku akhirnya berpindah ketangan jahil milik Bio. Begitu aku melihatnya meneliti tulisanku dengan alis terpaut serius, aku kontan terserang panik berlebih, segera aku meringsek maju kedepannya dan mencoba mengambil alih catatanku. Sialnya, tubuh jangkung Bio mengerdilkan aksiku. Aku tidak ada apa-apanya ketika dia mengangkat catatanku keatas, melewati kepalanya. Aku sudah bilang belum kalau Bio itu tingginya nyaris enam kaki? Ya, ya, dia tinggi banget untuk seukuran anak sekolah menengah, tinggiku bahkan cuman sebatas dadanya.
"Cowok idaman?" gumamnya sambil mengikik geli. Mata obsidiannya menyorot kearahku dengan jenaka, kepalanya menggeleng-geleng tak menyangka. "Gabut banget sih kamu, Bon? Muluk banget bikin list cowok idaman. Emang kalaupun ada, dia bakal naksir kamu apa?"
Mengabaikan ucapannya, aku tetap bersikeras meraih catatanku dari tangan Bio yang sengaja di angkatnya tinggi. "Bi, balikin catatan aku?!" ujarku, menggeram menahan emosi sekaligus rasa malu. Itu kalau Bio memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi, alias peka, maka dia pasti tahu dengan jelas laki-laki yang aku maksud siapa. Duh, malu-maluin banget sih kalau ketahuan orangnya. Bona, Bona, papa kalau tahu anak bontotnya mempermalukan nama belakangnya bisa-bisa auto dicoret engkau dari kartu keluarga. Aku menatapnya, memasang wajah melas yang kubuat semenyedihkan mungkin lalu mengatupkan telapak tanganku di depan dada. "Bio anak kesayangannya pak Hendra, balikin catatan aku, please?"
"Kasih aja sih, Bi." sahut Cia yang menatap penuh minat kearahku dan Bio. Perempuan itu dengan ekspresi terhibur miliknya kemudian berkata, "Kasihan tuh si Bona. Wajahnya udah merah banget pengen nangis."
Bio menatap kearahku kemudian mendengkus tertawa begitu mendapati kalau benar mukaku merah padam. Sumpah, ini aku malu banget karena kepergok sama orangnya langsung, "Aku disini sebagai teman mau membuka matanya Ci, dia itu harus melihat dunia nyata. Kalau pasangan itu bukan melihat kelebihan masing-masing tapi bagaimana kekurangan yang ada di diri mereka lalu di jadiin cara untuk saling melengkapi. Gitu, kamu jangan kebanyakan nonton drama deh Bon. Halu kan jatuhnya." tukas Bio panjang lebar yang seketika menyentil egoku. Separuh hatiku membenarkan, namun separuhnya lagi mencoba mengelak kata-kata yang ditodongkannya kepadaku.
Fei terdengar berdecak, perempuan itu meletakkan cermin yang dipegangnya lalu menatap kearahku dan Bio. "How poor are you, Bon, diceramahin sama Bio menurutku malesin banget deh." gerutu perempuan itu dengan gayanya yang dramatis, Cia yang duduk disebelahnya hanya terkikik. "Eh, tapi apa yang dibilang Bio barusan ada benernya juga, Bon. Kalau drakor itu toxic parah, apalagi buat abg-abg yang nggak ada gandengan." imbuhnya lagi membuatnya tertawa begitu mengakhiri kalimatnya, menular pada Cia dan Bio yang turut tergelak merasa terhibur.
"Ogah, aku mau nempel nih catatan di mading biar orang-orang tuh pada tau tipe idealnya Bona si anak pengusaha pertambangan batu bara, siapa tahu setelah ini kamu nggak jomblo lagi kan?"
Aku ternganga tak menyangka mendengar perkataannya. Gimana? Gimana? "Ihh, jahat banget sih!" pekikku, kesal setengah mati. Aish, sakarepmu lah Bi! Bio yang mendengar teriakanku sontak membelalakan matanya kaget.
"Duh, duh. Bisa nggak sih kalian berdua jangan berisik." tegur Jo menginterupsi perdebatan kami. Sontak aku dan juga Bio menoleh kebelakang, kearah Jo yang sedang melirik sinis kearah kami. Kemudian laki-laki yang mengaku fans beratnya Blackpink itu menambahkan, "Elaaah, balikin aja udah, Bi. Ribet banget, lama-lama bisa pecah gendang telingaku denger teriakannya si Bona yang nggak seksi samsek, udah kayak kloningannya si LL aja."
Aku menggerutu mendengar nyinyiran Jo yang menurutku agak-agak nyebelin buat didenger. Dasar laki-laki dan mulut licinnya. "Yeee, nyinyir aja kamu! Dasar kutil kuda." cibirku asal, yang mana usai aku menyelesaikan perkataanku Jo langsung melempar bolpoinnya kearahku. Edan, untung meleset, seandainya kena wajahku, aku pastikan Jo bakal nangis kejer karena kutendang bokongnya. Jo menyengir begitu mendapat pelototan Bio usai laki-laki itu melempar bolpoinnya, Bio mengambil bolpoin tersebut dan menyerahkannya kembali ke Jo.
"Baik-baik, bro." ujar Bio yang masih dapat kudengar dengan jelas. Laki-laki itu menepuk pundak Jo selepas berkata demikian, sementara Jo malah melirik kearahku sebelum mengangguk membalas ucapan Bio.
Kembali lagi pada permasalahan kami, begitu kulihat Bio lengah, aku langsung melompat kearahnya untuk mengambil catatanku, yang sialnya langsung disembunyikannya dibalik punggungnya. Tak mau menyerah, aku mengambil gerakan memerangkap tubuhnya untuk mengambil catatanku namun Bio dengan mudahnya malah mendorong tubuhku hingga mundur. "Bi, bandel banget sih kalau dibilangin. Balikin. Catatan. Aku. Sekarang. Juga." ucapku sambil mendesis menekan kata-kataku. Sedangkan mataku mengerling tajam menatapnya.
Bio tersenyum penuh arti, "Imbalannya apa?"
"Nggak ada imbalan!"
"Yaudah, kalau gitu catatannya aku bawa dulu." sahut Bio enteng seraya mengedikkan bahunya. Dengan gayanya yang tengil laki-laki itu melesat keluar kelas sebelum berkata, "Jangan nangis kalau tiba-tiba aja kamu liat ccatatanya ada dimading."
"Biiiiioooo?!"
[]
Hiyaaa hiyaaaaa😂
Oh ya, next part bakal ada Kokohnya Bona lho
Biuuu~