Lovesick Girls

Lovesick Girls
Lovesick: 11:11



Refleks alam bawah sadarku membawaku kembali pada kenyataan begitu mendengar kikikan bayi yang terdengar amat menyeramkan. Sialan, nada panggilan itu membuatku kaget bukan kepalang, sampai membuat kepalaku berdenyut ngilu karena terpaksa bangun. Bodohnya, bagaimana bisa aku lupa mengubah ponselku menjadi mode pesawat? Aku yang tidur tengkurap refleks mengusap wajahku kasar, mengerjap beberapa kali untuk akhirnya sadar kalau ternyata aku ketiduran saat menonton drakor, buktinya laptop yang tadi kugunakan untuk menonton pun masih memutar tayangannya. Pantesan, lampu kamarku saja masih menyala. Begitu nada dering panggilan itu kembali berbunyi, aku kontan mendelik, itu dia biang keladinya. Sambil bersungut-sungut, aku meraih ponsel yang berada diujung kasur dan menyipitkan mata begitu melihat id caller Bio yang menelponku ditengah malam begini. Akhirnya semua kekesalan yang siap kusemburkan kembali kutelan mentah-mentah. Ngomong-ngomong, mau apa dia nelpon?


Begitu panggilan itu kuangkat, suara Bio yang terdengar antusias menyambutku dari balik sambungan. "Akhirnya diangkat juga, ngomong-ngomong kamu udah tidur ya?" tanyanya dengan pelafalan yang terbilang cepat.


Aku tak begitu mendengar apa yang diucapkannya karena konsentrasiku yang masih berantakan, namun sepertinya tidak sulit untuk menebak apa yang sedang ditanyakannya padaku ditengah malam begini, "Iyah." jawabku, serak.


"Ogeb, kalau udah, kamu nggak mungkin nyahut."


Bola mataku sontak berputar malas mendengar ucapannya. Dia yang nanya, dia sendiri yang ngejawab. "Itu tau sendiri, kenapa malah nanya? Nggak faedah banget." gerutuku sambil berguling untuk mengubah posisi tidurku menjadi telentang. Aku menguap dengan tatapan mata sepet kearah langit-langit kamarku. Begitu aku melirik jam beker di atas nakas, aku jadi gemas bukan main sama Bio. Sinting! Gimana nggak bikin orang refleks mengumpat coba, ini jam sebelas malam, jam enak-enaknya buat tidur. Lah dia malah nekat buat nelpon dan nanya pertanyaan nggak mutu kayak 'apa aku udah tidur?' sumpah, kalau nendang bisa virtual, sudah aku lakuin pas dia ngomong gitu.


"Bon?" panggil Bio setelah lama diam.


"Hm? Kenapa?"


"Aku video call aja gimana?"


"Hah? Jang-jangan." buru-buru aku mencegat niatnya diikuti dengan gelengan sebagai bentuk penolakan. Selang beberapa detik baru aku sadar kalau dia nggak bakal bisa ngelihat apa yang kulakukan sekarang, bodoh. "Kamu mau ngomong apa? Gercep, sebelum aku matiin nih." ujarku beralibi. Ya kali mau vc tengah malam begini, apalagi Bio itu jenis kelaminnya cowok. Dih, apa kabar muka kusut dan ngantukku, bisa muak kali dia pas natap. Maklum, aku kan nggak secantik The Goddess of Fei yang mau se-meme apapun wajahnya tetap good looking.


"Galak banget sih, pantes jomblo."


"Bi?!" seruku, kesal bukan main. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku jadi sensi tiap kali dilemparin guyonan 'pantes jomblo' sama teman-temanku. Seolah aku tidak laku saja, seolah aku tidak pantas untuk dimiliki oleh seseorang. Ya maksudku, sejauh ini aku memang nggak ada yang naksir bahkan nembak. Tapi setidaknya mereka sebagai teman dekatku harusnya bisa mengerti bagaimana posisiku, nggak semua yang mereka pikir lucu buat di bercandain bakal terdengar lucu menurut objek sasaran mereka. Payah, selera humor mereka benar-benar payah banget!


"Iya, sorry." ujar Bio masih terdengar kekehan renyahnya dibalik sambungan, wajahku seketika tertekuk masam. Kampret, apa aku bakal nggak lucu lagi kalau udah nggak jomblo? "Aku mau cerita, jangan ngetawain tapi." sambung Bio, membuatku makin menempelkan layar ponselku ketelinga. Ini aku nggak salah denger kan ya? Bio mau curhat? Aku nyaris menyemburkan tawa begitu suaranya kembali terdengar, "Janji dulu." ujarnya, membuatku menggigit pipi bagian dalam.


"Iya, janji. Ribet banget elah." kataku sembari menahan suara tawa agar tidak pecah.


Bio berdeham singkat. "Ini jangan bilang siapa-siapa loh ya. Sebenarnya, aku lagi naksir cewek."


Aku mendadak melek dong, kantuk yang semula menderaku kontan sirna mendengar ucapannya. Bio itu kalau naksir sama cewek nggak bakal serba salah gini, pakai curhat kayak cewek segala, itu bukan gayanya banget. Sejauh ini, kalau dia naksir sama cewek maka seminggu kemudian mereka pasti bakal jalan bareng. "Hm? Si-siapa ceweknya?" tanyaku hati-hati. Kalau dia naksir cewek dan minta jangan bilang sama siapa-siapa berarti dia beneran naksir? Maksudku, perasaannya nggak main-main dong? Eh buset, siapa ceweknya? Kok aku iri ya?


"Ada deh, akhir-akhir ini aku sering bareng dia." tutur Bio, dari suaranya aku yakin dia pas ngomong gitu lagi senyam-senyum nggak jelas. By the way, aku sih nggak mau kepedean, cuman cewek yang akhir-akhir ini bareng dia kan aku? Yang nemenin dia nge-gym, yang nemenin latihan skateboard, yang nemenin jalan, yang nemenin nelpon. Wtf, Bona pokoknya nggak boleh baper! Menepis itu semua, siapa tahu ada cewek lain yang dia maksud selain aku tentu saja. Cowok kan punya jurus seribu bayangan, sehabis bareng aku siapa tahu dia main lagi sama yang lain, siapa yang tahu kan? Lagipula kalau cewek itu adalah aku, nggak mungkin dia pakai curhat sama aku kan? Ya, ya itu alasan yang realistis. "Terus, aku baru ngeh sama perasaanku sendiri pas liat dia jalan sama cowok. Tiba-tiba aja ngerasa marah gitu. Anjim, jijik, aku kok tiba-tiba jadi mellow gini ya."


"Awas kalau kamu ngetawain!"


"Nggak lah."


Bio kembali berdeham, dari balik sambungan samar-samar aku dapat mendengar alunan lagu Kahitna-Andai Dia Tahu. Seolah sedang menggambarkan secara gamblang bagaimana perasaannya saat ini pada si perempuan beruntung itu, juga perasaanku sendiri yang tidak bersambut. Aku tersenyum miris, yaudah mau gimana lagi? Toh bukan salah hati yang berharap lebih, kenyatannya kita tahu bahwa perasaan itu sejatinya tidak bisa dikontrol untuk berlabuh kemana. Yang jelas setelah ini aku tahu harus melakukan apa, yaitu mengupayakan move on besar-besaran. "Jadi menurut kamu, aku harus gimana?" suara beratnya tiba-tiba menyeruak menembus gendang pendengaranku.


Aku menghela nafas, "Ya, ngomong sama dia." ujarku, muka dua banget padahal.


"Masalahnya, aku takut ditolak."


Aku tahu apa yang dikhawatirkannya. Begitu juga dilema yang kualami akhir-akhir ini. Namun, seenggaknya Bio adalah laki-laki sehingga wajar saja kalau dia mengungkapkan apa yang dirasakannya, bukankah laki-laki diciptakan untuk mengejar perempuan? "Kamu bahkan belum nyobain, Bi. Takut itu manusiawi kok tapi seenggaknya dicoba dulu karena kalau enggak, cewek itu bisa saja ditikung sama yang lain." ujarku setengah tak ikhlas memberi masukan. Ini kalau tiba-tiba minggu depan dia jadian sama perempuan berarti itu semua berkat saran munafik yang baru saja ku berikan.


"Iya sih, kamu kok tumben bijaksana gini. Biasanya kan suka sewot nggak jelas."


"Aku anggap itu pujian buatku."


Bio tergelak renyah, tawanya justru menular padaku yang ikut mengulum senyum. "Bon, jangan berubah ya." ujar Bio pada akhirnya, kemudian tanpa memberi kesempatan untukku menjawab laki-laki itu melanjutkan ucapannya lagi. "Yaudah, bobo gih. Aku tau kamu udah ngantuk banget." ujarnya sebelum mengakhiri panggilan kami malam itu.


Lama aku terpaku dengan kalimat yang baru saja diucapkannya, yang tak ayal membuat darahku seketika berdesir. Seharusnya itu kalimatku, seharusnya aku yang ngomong gitu ke dia.


Jangan berubah ya, Bi.


[]


Nah, nah, ada apa inih?


Pernah baper nggak digituin sama cowok?


Biuuu