
Seolah langit ikut berpihak, keinginan mama untuk makan malam bersama dan mengundang Bio akhirnya berjalan lancar tanpa ada kendala yang berarti. Dan alih-alih menolak, Bio tanpa pikir panjang mengamini perkataanku ketika aku menanyakan apakah dia sibuk malam minggu ini karena mama ingin mengundangnya turut serta untuk makan malam dirumah. Laki-laki itu begitu antusias dan datang lebih cepat dari yang dapat aku perkirakan sebelumnya. Mama menyambut kedatangan Bio dengan seronok dan mengenalkan papa dan mas Io dengan ramah, sementara aku yang kadung takut saat melihat bagaimana respon mas Io bahkan sebelum kedatangan Bio tak dapat berkata-kata sedikitpun. Ketika makan malam dimulai, dapat kurasakan situasi yang berbeda dari yang biasanya melingkupi makan malam kami, mungkin karena bertambahnya satu orang asing diteritori kami membuat suasana di meja makan terasa suram dan canggung disaat yang bersamaan.
"Maaf ya tante, jadi ngerepotin gini." suara Bio mengalun diantara denting sendok. Aku diam-diam mencuri pandang kearah Bio yang duduk tepat di sampingku, dari ekor mataku dapat kulihat Bio mengatur posisi duduknya menjadi lebih santai. Kupikir laki-laki itu juga merasakan hal yang sama denganku terlihat dari bagaimana gestur tubuhnya yang tidak luwes.
"Nggak apa-apa, kamu nggak usah khawatir. Lagian tante malah seneng ada kamu ditengah-tengah kami." ujar mama yang duduk diseberangku, disebelahnya ada mas Io sementara papa duduk di ujung meja.
"Kamu bisa bantu cuci piringnya kalau kamu mau." ujar mas Io sarkastik. Aku langsung memberinya pelototan tajam usai mas Io berkata begitu namun hanya ditanggapinya dengan sebelah alis yang naik keatas.
"Nyuci piring?" beo Bio pelan namun masih dapat didengar dengan jelas olehku.
"Bona gak seneng yo lak mas kasar ngonoi ngomonge, regani to kancaku seh teko adoh-adoh." (Bona nggak suka ya kalau mas kasar begitu ngomongnya, hargain dong temenku yang datang jauh-jauh kesini), selaku sembari menatap kearah mas Io dengan kesal. Disamping itu, aku jadi merasa tak enak dengan Bio saat melihat wajahnya yang mendadak berubah masam. Mengetahui bagaimana air mukanya usai mendengar perkataan Mas Io, kupikir laki-laki itu tidak pernah menyentuh piring kotor atau bahkan mencucinya. Sejauh yang aku tahu, Bio itu adalah anak dari seorang pebisnis properti sukses yang wajahnya sering berada di halaman depan majalah bisnis. Jadi aku memaklumi kekagetannya tanpa pikir panjang, "Jangan dipikirin, mas Io cuma bercanda kok." ujarku menepuk bahunya sembari mengulas senyum tipis. Aku mengambil piringnya yang sudah kosong tanpa permisi, kemudian menambahkan dua centong nasi ke atasnya lantas kembali meletakkannya di depan Bio. "Makan yang banyak ya, jangan sungkan kalau mau nambah."
"Makasih, Bon." ucap Bio membalas senyumku dengan tak kalah lebarnya sehingga membuat lesung pipinya yang manis itu tampak jelas menghiasi senyumnya. Sekonyong-konyong aku dapat merasakan aliran darah di wajahku membeku dan aku yakin betul hal itu berefek samping pada pipiku yang akan merona merah, "Kamu juga ya." imbuhnya lantas menambahkan gudeg keatas piringku.
"Udah ih, jangan banyak-banyak." ujarku segera menahan lengannya yang tergerak hendak mengambil satu sendok lagi gudeg untuk ditambahkan ke atas piringku. Bio mengangguk begitu saja lalu kembali melanjutkan makannya dengan lahap. Aku menggigit bibirku begitu sadar kalau aku baru saja melupakan keberadaan anggota keluargaku, ketika aku mendongak tak ayal aku mendapati wajah-wajah yang menatap bergantian kearahku dan Bio dengan berbagai ekspresi. Papa hanya menunjukkan ekspresi datarnya, mas Io nampak mengeraskan rahangnya sementara mama justru tersenyum penuh arti. "Mama kenapa sih? Kenapa kok ekspresinya kayak gitu?" sindirku terang-terangan yang membuat semua mata sontak menatap kearah mama karena penasaran.
Mama mengelak dengan hebatnya, "Nggak apa-apa kok, kayaknya mama cuma kecapekan aja." ujar mama, bahunya mengedik. "Maklum, kan, mama masak semua makanan ini sendirian." imbuh mama balas menyindirku, sementara aku langsung tersenyum meringis.
"Mama harus banyak istirahat." ujar papa.
Bio tiba-tiba berdeham sehingga menarik seluruh atensi kearahnya, membuatnya kontan tersenyum salah tingkah , "Gimana kalau setelah ini yang bantu nyuci piring aku sama Bona aja, tante?" tawarnya sembari menatap mama dengan tekad kuat, alhasil mama tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Mengalihkan pandangannya, Bio kemudian menatapku dan meminta pendapatku, "Iya kan, Bon?" tanyanya.
Aku mengangguk ragu-ragu, "Eh? I-itu ide yang bagus." jawabku yang serta-merta membuat mas Io semakin menunjukkan dengan gamblang rasa tidak sukanya pada Bio.
"Gimana makanannya enak tidak?"
Bio mengangguk dengan mulutnya yang masih mengunyah, "Iya tante, apalagi sama gudegnya. Rasanya juara." ujarnya begitu selesai menelan makanan didalam mulutnya, laki-laki itu mengacungkan jempolnya. "Aku suka apapun asal itu masakan Yogyakarta, tante."
"Wah, kalau gitu kamu harus sering kesini. Biar nanti tante masakin." ujar mama tak kalah antusiasnya. Aku langsung mencibir ucapan mama sedangkan di seberangku mas Io tersedak air yang diminumnya. Mas Io memandangku dengan sebelah alis naik, ekspresinya seolah menyiratkan 'kamu sogok mama pakai apa sampai kesemsem begitu?' dan dapat kutebak kalau saudaraku itu tidak terima dengan pernyataan mama, aku hanya mengangkat bahu. Aku menyomot perkedel jagung dan memasukannya ke dalam mulut, kemudian melirik mas Io yang kedapatan tengah menatap tak suka kearah Bio dan mama yang sedang membahas tentang kuliner nusantara, yang sesekali ditimpali oleh papa.
"Kalau gitu kamu harus nyobain suket kapan-kapan." celetuk mas Io dengan wajahnya yang datar.
Bio manggut-manggut dengan binar muka penuh antusiasme, "Suk-suket? Boleh deh, mas. Emang belinya dimana mas?" ujarnya, semangatnya itu justru membuat kami semua terkecuali mas Io tergelak merasa terhibur dengan keluguan Bio. Sebenarnya aku kesal sama mas Io karena masih bersikukuh mengusili Bio meski sudah kuperingati sebelumnya, kendati demikian sebagian dari hatiku bersyukur karena berkatnya suasana makan malam kali ini tidak terasa mencekam seperti beberapa saat lalu. "Eh? Kok kalian pada ketawa?" tanya Bio kebingungan, laki-laki itu menatap kami satu persatu sambil mengusap tengkuknya.
"Nggak apa-apa." jawabku usai berhasil meredakan tawa. Aku mengusap sudut-sudut mataku yang berair kemudian memasang wajah garang ketika menatap kearah mas Io yang tengah menunduk menekuri makanannya dengan serius tanpa merasa terganggu dengan derai tawa kami. "Mas, ojo ngerjani anak'e wong to. De'e ora ngerti opo-opo." *(Jangan ngerjain anak orang dong. Dia mah nggak ngerti apa-apa), ujarku kembali memperingatkan mas Io, sedangkan orang yang diperingati tidak menatapku sama sekali namun aku yakin dibalik sikap acuh tak acuhnya itu dia masih bisa mendengar ucapanku dengan jelas.
Mama menggeleng-geleng melihat kelakuan mas Io yang tidak berubah meskipun usianya sudah menginjak dua puluhan, "Nggak usah diladenin lho omongannya mas Io ya, Bio. Dia memang suka bercanda orangnya." ujar mama seraya mengibaskan tangannya, "Sering-sering kesini makanya, biar nanti tante masakin kamu makanan kesukaannya Bona."
"Boleh tante?" tanya Bio memastikan, dari tempatku duduk aku dapat melihat ekor matanya sempat melirik kearahku. "Memangnya, Bona suka makan apa tante?"
"Ya, boleh dong. Nggak ada yang ngelarang kok." jawab mama ramah, "Bona itu suka makan apa aja, tapi dia paling suka sama sate klatak. Nanti tante bikinin kalau kamu mau."
Makan malam kemudian dilanjutkan dengan percakapan kami tentang sekolah, mama lebih banyak bertanya sementara papa sesekali menimpali dan dari percakapan itu akhirnya mama tahu kalau aku punya teman selain Bio yang selama ini tidak pernah kuungkit ketika dirumah. Mas Io lebih banyak diam namun dari sorot matanya yang tajam, aku tahu dia mengawasi semua pergerakanku. Setelah makan malam berakhir, yang lain terkecuali aku dan Bio berinisiatif, maksudku laki-laki itu dengan senyumnya yang merekah mengajukan diri mengambil alih tugas membersihkan meja makan sekaligus mencucinya, karena sungkan membiarkan Bio melakukannya sendiri maka aku membantunya. Aku bertugas menyabuni piring-piring kotor tersebut, sedangkan Bio yang kebagian membilas piringnya.
"Apaan deh, bahasanya udah kayak iklan aja." cibirku sambil meliriknya aku mengusap wajahku yang sebelumnya di cipratkan air oleh Bio dengan sikuku. Tiba-tiba aku teringat sesuatu dan memutuskan untuk menanyakannya langsung pada Bio, "Ngomong-ngomong, kamu nggak kapok kan?" tanyaku, sedikit banyak khawatir dengan jawaban yang akan dikeluarkannya.
"Nggak." ujarnya sambil mengulum senyum penuh arti, aku mengangguk kemudian memilih melanjutkan aktivitasku menyabuni piring. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Bio tentang mas Io dan perlakuannya yang tak bersahabat sepanjang makan malam, tetapi ketika kulihat Bio nampak tak mempersalahkannya, aku merasa beban besar yang menghimpit dadaku sejak tadi perlahan sirna tergantikan dengan rasa lega. Memang sikap mas Io kali ini tidak begitu parah jika dibandingkan dengan perlakuannya pada teman-temanku dulu dan kupikir dia menahannya karena keberadaan mama dan papa. Bio kembali bertanya, "Oh ya, aku masih bingung kalian kok tadi pada ketawa, emangnya ada yang lucu?" katanya, membuatku menoleh lagi kearahnya dengan sudut-sudut bibir yang tidak tahan untuk tidak tertarik membentuk senyuman geli saat teringat bagaimana wajah lugu Bio tadi, yang sangking lucunya membuatku tanpa sadar semakin gemas padanya.
"Suket itu rumput liar." jelasku.
"Asem, jadi aku dikerjain."
Aku menatapnya semakin merasa bersalah, "Iya, maaf ya. Mas Io emang suka gitu sama temen-temen aku yang datang kesini." ujarku dan pada akhirnya memilih fokus menyabuni piring dibanding menatapnya yang kutahu saat ini sedang memperhatikanku sepenuhnya. "Dia emang suka jahil gitu tapi baik kok sebenarnya." ujarku menambahkan, sekilas aku meliriknya dari ekor mataku.
Alis Bio terlihat menaut ketika mendengar perkataanku, "Yang lain sering kesini?" tanyanya.
"Nggak, tapi temen pas di SMP." sahutku seraya menggeleng, "Makanya aku kapok ngajak temen ke rumah." imbuhku menoleh kearahnya sambil tersenyum miris membayangkan masa-masa dulu yang terasa menyedihkan ketika kuingat, tidak punya teman dan dijauhi, rasanya seperti neraka dibawah kakiku kala itu. Dan belajar dari masalalu yang buruk, makanya aku merahasiakan eksistensi teman-temanku dari keluargaku termasuk mas Io sendiri. "Dulu aku bahkan nggak punya temen."
"Kenapa?" tanya Bio yang kuyakini semakin penasaran, "Tapi, bukannya Jo temen kamu ya di SMP bahkan kalian juga temenan sampai sekarang, iya kan?"
Aku terkekeh sembari membenarkan dalam hati, "Iya sih, tapi dia itu pengecualian." jawabku, merasa lucu sendiri karena melupakan kalau ternyata Jo masih menjadi temanku bahkan hingga sekarang dan tak banyak yang tahu siapa dia bagiku selama ini.
"Pengecualian?"
"Jo itu sepupuku." jawabku.
"Kok aku baru tau?"
"Emang nggak ada yang tau. Kami emang sengaja buat nggak bilang ke siapa-siapa. Nggak penting juga buat di bahas."
"Kamu itu kaya misteri, Bon." ujar Bio menyeka tangannya dengan kain kering, begitu selesai tanpa basa-basi laki-laki itu mendekatiku. "Itu, uhm, kamu–" aku menggigit bibir bawahku dengan kalut ketika kulihat Bio justru meletakkan tangannya di kedua sisi tubuhku, membuatku terkurung. Khawatir yang aku alami semakin bertambah berkali-kali lipat ketika tiba-tiba gemuruh didadaku menghentak dengan kuat. Dengan jarakku yang semakin menipis dengan Bio, membuatku takut jika seandainya laki-laki itu mendengar bagaimana berisiknya jantungku saat ini. Kemudian tanpa dapat kuprediksi sebelumnya, aku spontan menutup mata ketika Bio menundukkan wajahnya. "Masih banyak hal tentang kamu yang aku nggak tau. Dan sangking penasarannya, aku jadi pengen masuk ke duniamu lebih dalam lagi." ujarnya berbisik, dapat kurasakan nafasnya terasa panas ketika menerpa daun telingaku.
Ketika kudengar seseorang berdeham, aku spontan membuka mata dan mendapati mas Io bersandar di meja bar sambil bersedekap. "Dek, nanti ke ruang tengah ya." ujar mas Io dengan tatapannya yang tajam dan mengintimidasi. Begitu aku mengangguk, mas Io melengos pergi bersama dengan kedua tangan yang mengepal sisi tubuhnya.
Aku menghela nafas dan mengalihkan tatapanku pada Bio, "Bio?" panggilku dan laki-laki itu menoleh kearahku, "Kamu kalau nanti ditanya macam-macam nggak usah dijawab ya, biar aku aja yang jawab."
[]
Mwehehehh kebayang nggak auranya mas Io itu gimana? Duh kalau aku sih nggak bisa ngebayangin doi aslinya kayak apa.
Aku masih nyari visualnya mas Io tapi nggak ada yang cocok lho, gimana dong?
Biuuu~