
Aku menatap nanar pada rintik hujan di hadapanku. Waktu kian menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit lagi. Ini gila. Sepuluh menit lagi aku akan menyaksikan gerbang sekolah tertutup.
Di halte ini hanya ada tiga orang. Wanita tua yang kini duduk dengan tas dipangkuannya. Lalu seorang gadis kecil dengan seragam SD yang duduk disampingnya. Dan terakhir aku yang berdiri gelisah memohon agar semesta berbaik hati mau menghentikan hujan untuk pagi ini.
"Loh Audy?" Aku menoleh. Bola mataku hendak bergulir ke aspal melihat sosok lelaki yang kini sibuk membenahkan seragam yang basahnya itu.
Dirga.
"Lo juga disini? Belum berangkat?"
Aku mengerjap di tempat. Merasa deja vu dengan keadaan ini. Lantas aku berdehem kecil mencoba menguasai diri.
"Hujan," jawabku singkat. Meski kini diam-diam dengan tidak tau diri jantungku mulai berdegup cepat ketika Dirga mendekati diriku lantas menarik tanganku untuk sedikit mundur.
"Jangan deket-deket hujan. Nanti seragam lo basah."
Oh Ya Tuhan. Tidak bisakah setiap saat aku menikmati iris mata berwarna cokelat terang yang begitu lembut menatapku itu?
Lagi-lagi hujan. Lagi-lagi hujan yang datang. Lagi-lagi hujan yang menjadi alasanku terjebak bersamanya.
Lelaki itu terlihat melirik arloji di pergelangan tangannya. "Bentar lagi bel masuk lagi. Ini hujan kenapa pagi-pagi udah turun segala sih?"
Dengan bodoh aku hanya tersenyum kecil seraya dalam hati bergumam lirih. Hujan datang untuk kembali mempertemukan aku dan kamu. Atau malah untuk mengawali kisahku bersama dirimu.. mungkin.. siapa yang tau?
"Maaf ya. Kali ini gue nggak bawa payung."
Mata itu begitu membuatku nyaman ketika menatapnya. Oh Tuhan. Mengapa kau harus mempertemukan diriku dengan laki-laki tampan ini?!
"Lo diem aja dari tadi."
"Ah? Eh, em," aku bergumam asal tak mengerti harus berkata apa, "nggak kok, gue nggak papa kok," jawabku asal seraya menggaruk leherku merasa canggung.
Jika tadi, sebelumnya aku mengumpat kesal seraya menggerutu karena hujan tak kunjung berhenti kini aku tersenyum dalam hati, diam-diam bersyukur dan berharap agar rintik hujan tak pernah berakhir. Aku ingin berada di dekat Dirga lebih lama lagi.
Namun nampaknya untuk pagi ini semesta tak memihakku. Hujan berhenti saat itu juga. Dirga tampak tersenyum lebar melihatnya sementara aku menghembuskan napas panjang dengan decakan kesal.
"Dy? Liat deh! Itu pelangi!"
Aku terdiam seketika. Bukan. Bukan terkejut karena ucapannya. Bukan tersenyum bahagia melihat lengkungan penuh warna yang lelaki itu tunjukkan dengan tangan kanannya. Aku terdiam, terperangah dengan mulut menganga. Aku tertegun melihat jemari kiri Dirga tak sengaja menyentuh jemariku. Menciptakan desiran aneh di dalam darahku
—.—.—
Aku dan Dirga sama-sama menghela napas gusar melihat gerbang tertutup rapat di hadapan kami. Aku melirik ke dalam sana. Halaman tampak sepi. Sepertinya pelajaran sudah dimulai.
"Pak, bukain deh Pak! Kita cuma telat sepuluh menit doang." Aku hanya terdiam mendengar Dirga yang sejak tadi mencoba bernego dengan pak satpam.
"Cuma sepuluh menit? Emang sepuluh menit itu kalian ngapain? Pacaran?"
Hah, PACAR? Doain aja deh ya, Pak. Hehe.
Aku mendengar Dirga mendengus kesal. Pandangannya menyapu halaman sana. "Yaudah-yaudah, catat aja deh nama kita di buku rekap, kasih ke guru BK, tapi kita harus masuk dan ikut pelajaran."
Aku tertegun mendengar ucapan pasrah Dirga. Ku pikir dia akan menyerah dan mengajakku membolos untuk hari ini, jalan-jalan mengitari kota bersama hingga kita berdua akan perlahan jatuh cinta seperti tokoh-tokoh novel badboy kebanyakan yang aku baca.
Tapi kini aku sadar. Dirga bukan badboy, ia goodboy, ia perfect boy, ia prince carming.
"Nama?!"
"Narendra Dirgantara kelas 11 IPA 1."
"Satu lagi?!"
"Eh? em, aku Audya Maheswari. kelas 11 IPA 3," ucapku masih tampak canggung.
—.—.—
Aku dan Dirga hanya terpaut beberapa jarak. Dirga mengepel lantai dan aku mengelap wastafel. Tapi, seraya itu aku melakukan hal bodoh. Dan hal bodoh apalagi selain memandang sosok Dirga melalui cermin di hadapanku.
Aku melihat Dirga menggulung celana abu-abunya hingga naik selutut. Aku melihat Dirga membuka kancing kemejanya paling atas. Aku melihat peluh Dirga mengucur deras di wajahnya. Aku menggigit bibir bawahku gemas. Rasanya tak rela membiarkan toilet ini bersih begitu cepatnya.
"Dy? Sorry ya?"
Aku mengerjap tak mengerti. Maaf untuk apa?
"Sorry gue gak bisa hindari hukuman Bu Sri, jadi kita malah berakhir di sini. Lo kalau udah capek duluan aja ke kelas, nanti gue bilang Bu Sri kalau elo udah selesai."
Aku tertegun mendengar ucapan Dirga, diam-diam merasakan sesuatu hangat menyelinap masuk dalam hatiku.
Aku tersenyum tulus ke arahnya. "Apaansih? Lo gak perlu minta maaf gitu kali Dir. Gue telat bukan salah elo. Ini kan gara-gara hujan tadi," ucapku.
"Hm, sekarang gue berpikir untuk sedia payung kemana aja deh. Hujan nggak kira-kira gitu. Tiba-tiba jatuh tiba-tiba berhenti."
Aku hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Dirga lantas mengalihkan tatapanku dari dirinya, namun sontak senyumanku memudar. Aku terpekur di tempat melihat Arka telah berdiri tak jauh dari diriku.
Lelaki dengan iris mata gelap itu menyilangkan kedua tangan di depan dada. Tubuhnya menyender ke dinding seraya menatap dingin antara aku dan Dirga bergantian.
Aku kebingungan. Tak tau harus berkata apa, terutama ketika gerakan Arka mulai mendekat ke arah diriku.
"Ngapain lo di sini?"
Aku hanya menggumam tak jelas. Arka memandangku dengan tatapan intimidasinya. Membuat diriku hanya dapat menelan ludah sulit-sulit.
"Itu tadi telat terus dihukum," jawabku mencoba dengan kalimat santai. Aku memalingkan wajah darinya mencoba fokus membersihkan wastafel.
"Kenapa bisa telat?"
Pertanyaan dingin itu membuatku menghela napas panjang. "Lo nggak liat tadi pagi hujan?"
"Kenapa nggak hubungi gue aja? Gue bisa jemput lo. Gue bisa bawain payung buat lo."
Aku hanya dapat merapatkan bibirku. Di belakang Arka, Dirga tampak menatapku dengan tatapan tanya, dahinya mengernyit tak mengerti.
"Ka, udah deh, udah terlanjur juga. Gue tadi nggak kepikiran sampai situ," jawabku sedikit kesal.
"Terus kenapa mesti berdua sama cowok itu?!"
Aku menghentikan pergerakanku lantas menatapnya dengan sorot mata dingin. Lama-lama merasa dongkol juga harus menjawab semua pertanyaannya.
"Ya biarin gue, suka-suka gue. Kenapa lo repot sih?! Udah lo pergi aja sana, belajar sana!"
Aku melihat sorot sendu di mata Arka. Aku diam menghembuskan napas merasa frustasi. Perasaan segala kata yang aku ucapkan selalu saja membuatnya terluka. Lantas hal apa yang bisa membuatnya menjadi jatuh cinta?!
"Oh, ini pacarnya Audy ya?"
Aku semakin menggeram kesal beralih menatap Dirga. Ini sudah kedua kalinya lelaki itu berpikir demikian.
"Bukan! Gue bilang bukan ya bukan! Gue gak punya pacar!"
Entah mengapa kalimat itu meluncur begitu saja lewat mulutku. Tak sadar bila hal itu menjadi alasan Arka pergi dari hadapanku, langkahnya dengan santai keluar dari kawasan toilet. Tanpa sepatah kata ia pergi begitu saja.
Lagi-lagi aku menggeram kesal.
Bodoamat Ka! Terserah lo mau ngambek kek apa! Siapa suruh jatuh cinta? Resiko lo yang tanggung lo!