
" Papa sudah tidak tau harus gimana lagi melihat kelakuan Rafa mah..." jawab Papa Rafa.
Mama Rafa berlari mengejar Rafa keluar. Tetapi sia-sia karena Rafa sudah pergi tidak tahu kemana.
Akhirnya mereka menghubungi Damar untuk mencari adiknya. Bagaimanapun juga mereka sangat menyayangi Rafa seperti rasa sayangnya kepada Damar. Meskipun Rafa selalu menganggap mereka pilih kasih.
" Tuut...tuttt..." suara mama Rafa telepon Damar.
" Pah.. Damar tidak diangkat teleponnya. Dia kemana ya?" tanya mama Rafa.
" Sudahlah mah, mungkin Damar sedang sibuk" jawab papa Rafa sambil berjalan ke kamar.
Mama Rafa mencoba lagi untuk telepon nomernya Damar. Tetapi tidak diangkat lagi. Akhirnya mama Rafa menyerah. Dan kembali ke dapur untuk mempersiapkan makan malam. Dia berharap Rafa nanti malam kembali ke rumah.
Sedangkan Rafa mengendarai mobil sportnya dengan kencang. Dia tidak tau mau kemana. Karena dia sedang emosi sekarang. Dia ingin sekali menemui Alya kembali. Pengen mengajak Alya jalan jalan keluar. Untuk sekedar mengilangkan penat. Tetapi dia ingat kalau Alya sekarang sedang tidak enak badan.
" Ahhhh !!!" Rafa berteriak sambil memukul setirnya sendiri.
Rafa tidak peduli. Dia tetap ingin menemui Alya. Meskipun hanya ngobrol diteras rumah. Dia sudah bahagia.
Mobil Rafa sudah sampai di depan rumah Bu Endang.
" Tok tok tok" Rafa mengetuk pintu.
Pintu tersebut dibuka oleh Bu Endang sendiri.
" Den Rafa.." Sapa Bu Endang
" Iya bu. Ada Alya buk? Saya ingin ketemu." kata Rafa
" Ada den.. Tetapi dari tadi non Alya di dalam kamar terus. Sebentar ya den saya panggilkan. Den Rafa silahkan masuk dulu" kata Bu Endang.
" Iya buk... Terimakasih" kata Rafa sambil masuk ke rumah.
" Tok..tok.. Nak Alya... Nak... dicari den Rafa." kata Bu endang.
Alya yang sedari tadi di dalam kamar. Tiba-tiba kaget mendengar kalau Rafa datang menemuinya.
" Aduh ngapain sih Rafa tiba-tiba datang kesini.. terus ini gimana aku mau nutupin kalau aku abis nangis. Mataku kan masih bengkak gak bisa langsung hilang" gerutu Alya.
" Nak Alya... Nak Alya tidak apa-apa kan didalam?" tanya Bu Endang khawatir.
Rafa pun beranjak dari kursinya untuk menghampiri pintu kamar Alya.
" Sayang... tok..tok...tok.. Sayang kamu gak apa apa kan? Kenapa kamu diam saja" tanya Rafa khawatir.
" Bu Endang gimana kalau pintu ini saya dobrak.. Saya khawatir dengan Alya yang diam saja dari tadi" tanya Rafa.
" Iya gak apa apa den" jawab Bu Endang.
Rafa pun akan mendobrak pintu kamar Alya. Tiba-tiba Alya membuka pintunya dengan sendirinya. Rafa pun kaget. Untung belum sempat mendorong pintunya.
" Aduh sayang... Bagaimana tadi kalau sampai aku mendorong kamu" tanya Rafa.
" Maaf ya sayang... Aku tadi ketiduran. Jadi tidak dengar ketukan pintu dan suara kalian. Maaf ya Bu Endang..??" kata Alya.
" Iya nak.. Maafkan ibu juga" jawab Bu Endang.
Mereka bertiga lalu duduk bersama di kursi ruang tamu Bu Endang.
" Sayang bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Rafa kepada Alya.
" Udah baikan og..." jawab singkat Alya.
" Kamu kenapa sayang? Coba sini lihat aku !!" tegas Rafa pada Alya.
Rafa curiga kalau Alya sedang tidak baik-baik saja. Lalu Rafa memegang pundak Alya dua-duanya dan merubah duduknya. Sedangkan Alya hanya menunduk. Tangan Rafa memegang dagu Alya.
" Sayang... jawab jujur pertanyaanku, kamu kenapa? kamu habis nangis ya? kamu gak habis tidurkan?" tanya Rafa.
" Aku tidak apa-apa..." jawab Alya sambil menahan air matanya.
" Oke kalau kamu tidak mau cerita disini. Ayo kita keluar. Biar kamu bebas cerita sama aku. Tolong sayang jangan buat aku khawatir ya ! " tegas Rafa.
Alya hanya menganggukkan kepalanya.
" Iya den... Saya habis ini juga mau keluar. O iya bila nanti Ibu belum pulang nak Alya ambil kunci rumahnya di bawah pot bunga di teras ya nak..." kata Bu Endang.
" Iya Bu..." jawab Alya.
Setelah Rafa dan Alya berpamitan dengan Bu Endang, mereka masuk mobil. Dan mobil itu melaju dengan kencang.
Sementara di kantor Damar.
Damar yang sejak tadi meeting untuk tander yang dia incar sehingga membuat dia lupa kalau HP nya ketinggalan di kantor. Kebetulan dia meeting di sebuah resto terkenal di kota itu. Dia ingat HP nya saat setelah selesei meeting. Dia ingin menghubungi mamanya, kalau dia tidak pulang ke rumah lagi. Karena malam ini ada acara pesta keluarga Adijaya.
" Aduh sial HP ku ketinggalan...!" gerutu Damar sambil masuk ke mobilnya.
Dia melihat arloji mewahnya menunjukkan jam 6. Dan kalau dia ke kantor dulu ambil Hp nya dia pasti akan terlambat ke pesta keluarga Adijaya. Dan dia tidak mau terlihat seperti orang yang tidak disiplin. Terlambat datang ke acara penting itu. Bagaimanapun dia sangat menghargai Pak Ammar.
Dirumah keluarga Rafa.
" Pah sudah jam segini Rafa dan Damar belum bisa dihubungi." kata mama Rafa cemas.
" Sudahlah mereka sudah besar mah, jangan terlalu khawatir dengan mereka. Papa yakin mereka baik-baik saja. Mending sekarang mama dandan yang cantik. Malam ini kita akan menghadiri pesta ulang tahun pernikahan sahabat kita" Kata papa Rafa sambil mengelus pundak istrinya.
" Iya... betul kata papa. Ya sudah kita siap - siap dulu" kata mama Rafa.
Setelah selesai bersiap mereka langsung mengendarai mobilnya untuk meluncur ke tempat acara keluarga Adijaya.
Sementara di mobil Rafa... Alya terdiam sejak tadi. Mereka akan menuju tempat favorit mereka selama ini yaitu sebuah cofee shop.
Mobil mereka sudah masuk halaman parkir cofee shop. Rafa buru-buru turun membukakan pintu princesnya.
" Ayo sayang" ajak Rafa.
" Makasih sayang" jawab Alya.
Mereka langsung menuju lantai 2 tidak lupa mereka memesan coffe favorit mereka. Dan memilih duduk di pojok dengan view kota yang sangat indah.
" Sayang cerita sama aku sekarang. Jangan ada sesuatu yang kamu tutupi. Aku tidak mau kamu sedih seperti ini." kata Rafa sambil memegang tangan Alya.
" Sebenarnya ini masalah keluargaku sayang. Aku tidak mau kamu ikut dimasalah ini" kata Alya sambil menahan air mata.
" Lihat aku... Aku akan bantu masalah kamu ini sampai selesai." tegas Rafa.
" Okey... aku cerita semuanya sama kamu. Hari ini adalah hari pernikahan papa dan mama." kata Alya
" Lalu kenapa kamu sedih sayang...???" tanya Rafa heran.
" Hari ini keluargaku menggelar acara yang lumayan besar. Tetapi aku gak boleh hadir di sana. Papaku sendiri yang langsung bilang ke aku. Kalau aku tidak boleh di sana." kata Alya sambil meneteskan air matanya.
" Sayang kamu jangan sedih. Mungkin papa kamu ada alasan lain melarang kamu hadir disana" kata Rafa menenangkan sang pujaan hatinya.
Belum sempat dijawab Alya. Ada pelayan yang mengantar kopi mereka.
" Ini mbak mas kopinya" kata pelayan cofee shop
" Iya makasih mbak" balas Rafa.
" Benar papa punya alasan. Tetapi aku ya pengen ada tengah-tengah acara mereka." Alya berkata sambil menangis.
Karena memang selama ini setiap tahun orang tua Alya selalu membuat acara saat ada momen - momen tertentu. Maklum kali ini lebih spesial. Di karenakan papanya baru memenangkan tender pulau Berlina yang banyak mengandung komponen emas dalam tanahnya. Dan Papa alya mengundang semua relasi bisnisnya dan para sahabatnya.
" Oke... Daripada aku melihat princesku nangis kaya gini. Ayo aku anterin ke acara papa kamu sekarang." ajak Rafa.
" Beneran kamu mau anterin aku kesana. Kamu tidak takut nanti papa marah-marah sama kamu kaya kemarin itu?" tanya Alya.
" Sejak kapan aku takut kalau itu tentang kamu. Dan itu hal yang benar" tegas Rafa.
Alya melihat jam nya dan sudah menunjukkan jam setengah tujuh malam.
" Oke kita berangkat sekarang. Acaranya jam tujuh malam sayang. Jangan sampai kita terlambat." kata Alya bersemangat sambil minum kopinya sampai habis.
Melihat pujaan hatinya ceria lagi Rafa pun senang dan menggandeng tangan pujaan hatinya. Tidak lupa membayar pesanannya. Dan masuk ke mobil.
Akhirnya aku bisa update lagi satu episode hari ini.
Lanjut besok lagi ya guys...