LOVE TRIANGLE

LOVE TRIANGLE
Bertemu Dengannya



Aku masih berdiri kaku menatap Arka memakai helmnya dengan menunggangi motornya.


"Nih pake kalau nggak mau kena tilang," ucapnya lantas mengulurkan sebuah helm lainnya di hadapanku. Aku hanya berdecak kecil meraihnya.


"Kita mau kemana sih?" tanyaku seraya memakai helm di kepalaku.


Arka berdecak kecil. Perlahan tangannya terulur membantuku memakai helm. Kali ini aku terdiam kaku memerhatikan lekuk wajahnya yang tampan itu. Arka tampan. Arka baik. Arka sempurna. Tapi ia salah karena memilih diriku sebagai tempat berlabuhnya. Karena pada dasarnya aku tak pernah mau mengharapkannya tak lebih dari sahabat.


"Kemana aja asal sama elo gue seneng."


Jawaban itu terdengar begitu tulus disertai senyuman manis di wajahnya. Sangat manis. Sampai aku lupa cara untuk bernapas. Sampai aku lupa helm itu telah terpasang rapi di kepalaku.


"Udah yuk naik!"


Aku menghembuskan napas panjang mengakhiri lamunanku lalu perlahan menaiki motornya. "Jangan pulang malem-malem, nanti Bunda marah," ucapku mengingatkan.


Arka hanya mengangguk mengiyakan. "Pegangan!" Perintahnya sebelum menjalankan mesin. Aku hanya mengangguk kecil lalu memegang kedua bahunya.


"Gue bukan tukang ojek, Neng!"


Aku berdecak kesal. "Terus dimana? Banyak protes deh lo! Udah cepet jalan sana!"


Aku melihat hembusan napas kesalnya dari kaca spion namun itu hanya sesaat karena saat matanya bertemu dengan mataku, senyuman manis itu kembali terbit di wajahnya.


Aku langsung memalingkan wajahku pada objek lain bersamaan dengan melesatnya motor Arka keluar dari gerbang SMA kami.


.—.—.


Aku menghembuskan napas lelah membuntuti Pemuda yang berjalan mendahuluiku itu.


"Ka? Lo ngapain bawa gue ke Mall kek begini coba? Nggak ada tempat lain yang bagus gitu? Tau gini mending gue tadi nggak iyain aja deh," ucapku besungut langsung membuatnya menoleh dan membalikkan badan menatapku.


Senyuman kecil itu lagi-lagi tersungging di wajahnya bersamaan dengan jemarinya yang meraih jemariku. Perlahan ia menggandengku untuk berjalan disampingnya.


Aku memaku. Meski sentuhan itu tak berefek sangat bagiku namun aku cukup tertegun tak percaya. Sontak seluruh keluhan di benakku hilang begitu saja.


"Jalan lo lemot abis deh. Kalo jalan sama gue gini aja ya, biar nggak ketinggalan."


Alah-alah. Sok-sokkan begitu Ka. Langsung bilang aja kali kalau lo tuh pengen genggam-genggam tangan gue. Ya kan? Ya kan?


Aku masih diam menurut mengikutinya kemanapun. Sejak tadi aku belum mengerti arah tujuannya.


"Minggu depan Kak Freya Ulang tahun."


Owh! Aku mulai paham sekarang.


"Menurut lo gue mesti kasih apa? Jam tangan? Baju? Sepatu? Tas? Atau apa?"


Aku bergumam memikirkan sesuatu. "Kak Freya suka baca kan? Kenapa nggak coba di beliin buku aja?"


Mendengar ucapanku, langkah Arka terhenti. Ia menatapku dengan senyuman lebar. "Ah iya-iya! Pinter juga otak lo! Gak salah gue bawa lo Dy!"


Aku hanya mendengus kecil lantas memutar bola mataku malas ketika tangan lelaki itu naik mengacak-acak rambutku dengan kekehan kecil.


Aku menatapnya heran dan segera menyingkirkan tangannya di rambutku. Sejak kapan ia bertingkah seperti tokoh-tokoh di novel yang sering kubaca?


Arka memilih untuk pergi ke Gramedia terdekat, dan aku hanya mengangguk iya-iya saja. Toh di sini dia sopirnya. Aku ma apa atuh cuma penumpangnya.


Tapi, tiba-tiba saja langkah kakiku terhenti, membuat Arka yang menggandengku mau tak mau ikut terhenti. Lelaki itu menatap ke arahku kebingungan. Sedangkan aku terdiam melihat sosok yang kini berdiri tepat di depanku.


Dia. Dia ada disini.


Laki-laki dengan manik mata warna cokelat terang itu ada disini. Laki-laki yang pernah berdua dengan diriku dibawah payung merah itu turut memandangku. Laki-laki yang menggenggam jemariku di tengah hujan itu tersenyum ke arahku.


Aku tertegun sesaat. Sudut bibirku hendak tertarik namun terhenti kala melihat sosok gadis di sampingnya. Sosok gadis yang ia genggam erat tangannya.


Aku memaku di tempat. Memerhatikan genggaman erat itu. Sontak hal itu membuatku terbayang-bayang oleh kejadian waktu ia menggandeng tanganku. Jadi, aku bukan satu-satunya gadis spesial yang pernah ia genggam jemarinya?


Aku berpikiran demikian seolah aku melupakan kenyataan jika jemariku sekarang tengah di genggam pula oleh orang lain. Arka.


Tatapanku beralih pada Arka. Dan baru sadar jika ternyata lelaki itu sejak tadi menatap lurus diriku. Pandangannya seolah bertanya-tanya ada apa dengan diriku?


Aku kembali menatap lelaki di depanku. Dirga namanya. Ya. Ia lelaki di hujan deras sore itu yang menawarkan diri mengantar pulang diriku. Yang tanpa aba-aba menggenggam erat jemarinya. Yang tanpa suara, tanpa kata, tanpa aksara mampu meluluhkan hatiku untuk yang pertama kalinya.


"Audy? Ada disini juga?"


Lamunanku buyar. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, mencoba mengambil alih kesadaranku.


"Loh itu sama pacarnya juga?"


Sontak aku mengernyit mendengarnya. Mataku melebar sempurna. Pandanganku menatap Arka. Lelaki itu juga sama menatap ke arahku.


Aku segera menggeleng kuat. "Bukan! Bukan pacar!" jawabku ketus. Meski tak melihatnya secara langsung namun aku dapat merasakan bahwa detik itu juga Arka tersenyum pahit menutupi lukanya.


Maaf.


Selain tak ingin Dirga salah paham. Aku melakukan ini tak lain sebagai penegasan pada Arka jika aku tak mau memberinya harapan yang selama ini ia tunggu kesempatan. Aku ingin aku dan Arka hanya terikat dalam hubungan persahabatan. Aku pun tak ingin Arka terus menerus terjebak oleh perasaan.


"Oh, bukan ya," ucap Dirga tampak canggung.


Aku masih saja terdiam. Diam-diam mengamati gadis yang ia genggam jemari tangannya. Yang diam-diam membuat hatiku memekik tidak terima. Dia siapa? Kekasihnya?!


Gadis itu memiliki tubuh kecil mungil, mungkin tak sampai dengan tinggi tubuhku. Kulitnya putih bersih, tapi terkesan pucat. Memakai sweater warna hijau tosca. Panas-panas seperti ini memakai sweater buat apaan coba?


Tak sadar, tatapanku beralih sinis menatapnya. Aku beralih memerhatikan Dirga yang kini tersenyum manis ke arahku. Baru saja aku hendak membuka suara namun sentakan Arka menarik tanganku membuatku mau tak mau tertarik mengikutinya.


Aku berdecak kesal. Lantas mencoba melepaskan jemariku di genggaman Arka. Kami berhenti. Aku menatapnya tajam.


Aku menoleh ke belakang lalu meringis kecil saat melihat Dirga sudah berjalan menjauh.


"Lo apa-apaan sih tarik sembarangan gitu aja?! Gue mau ngomong sama Dirga dulu tadi!" kesalku menyilangkan kedua tangan di depan dada. Namun Arka masih saja diam.


Lelaki itu saat ini menyembunyikan kedua tangannya ke dalam saku celana. Pandangannya menatap objek lain. Ku perhatikan wajahnya terlihat datar tak seperti biasanya.


"Emang Dirga siapa lo? Pacar? Gebetan?" tanya Arka dengan mata masih enggan menoleh pada diriku. Ia menghembuskan napas gusar. Senyuman getir itu tampak jelas di wajahnya


Aku terdiam.