
"Dy? Lo tau nggak, bentar lagi bakalan ada persami di puncak?"
Aku segera mengangkat wajahku menatap Arka. Lelaki di depanku itu tampak begitu antusias. Alisku bergerak naik mendengar ucapannya. Dia kata apa? Persami?
"Iya. Bener banget tuh. Gue juga denger-denger gitu dari Osis," imbuh Rina menambahi. Aku beralih menatap gadis kucir kuda yang kini duduk di sampingku itu. Ia tersenyum lebar sama halnya seperti Arka.
Aku menatap mereka berdua bergantian lantas menyeruput es teh di hadapanku.
"Owh."
"Dari sekian banyaknya suku kata lo cuma bilang itu doang? Dy? Yang kita bahas ini persami loh, di puncak lagi."
Dahiku mengernyit menatap Arka. "Ya terus, gue mesti gimana? Teriak alay gitu? Hemm?" ucapku menampilkan senyuman lebarku seraya menarik turunkan kedua alisku.
Sontak Arka terdiam. Dia begitu terpaku melihatku. "Gak perlu, lo senyum aja udah."
Kini aku yang membeku. Tertegun sesaat. Aku menelan ludah begitu sulit dan segera melenyapkan senyuman di wajahku lantas mengalihkan pandanganku pada objek lain.
Arka, kita teman Ka! Jangan kaya gini dong! Jangan berharap lebih dari ini!
Rina berdehem kecil merasa canggung berada di antara aku dan Arka. Aku meliriknya sekilas lantas menghembuskan napas panjang. "Eh jadi gimana-gimana? Persaminya di puncak gitu? Kita kesana atau gimana?" tanyaku sengaja mencari bahan pembicaraan.
"Ya, gitu," jawab Rina singkat. Lantas gadis itu melanjutkan makan nasi gorengnya. Aku hanya mengangguk asal, namun seketika saja tubuhku memaku saat menyadari manik mata hitam pekat milik Arka lurus memerhatikan diriku.
Aku menggigit bibir bawahku merasa kikuk. Mengapa Arka harus seperti ini?!
Aku meliriknya. Ia masih saja mengunci pandangan ke arah diriku. Tatapan teduhnya masih sama saja, tak berubah secuil pun.
"Dy? Hari ini lo sibuk enggak?"
"Hah?" Mataku bergerak kesana-kemari. Aku bingung harus menanggapi pertanyaan Arka seperti apa, sedangkan Rina ikut terdiam. Gadis itu saat ini menatap ke arahku.
"Kenapa tanya gitu?" cicitku lirih seraya mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Kenapa jawaban lo gitu? Lo nggak suka gue tanya hal itu?"
Aku menghembuskan napas panjang lantas melengkungkan senyuman tipis. "Hari ini gue nggak sibuk kok," jawabku.
"Sama Rina juga kan?" tanyaku hati-hati.
Mendengar pertanyaanku sontak membuat pandangannya meredup. Aku melihat itu.
Lelaki tersebut tampak menggaruk tengkuknya. Ia menggigit bibir bawahnya. "Ya, enggak gitu sih. Kali ini gue ngajak elo aja."
"Kok gitu? Kita kan apapun bertiga. Masa kita pergi berdua Rina nggak diajak. Kaya orang pacaran aja." Sungguh kalimat itu mencelos begitu saja dari mulutku. Arka menatap lurus ke arahku. Pandangannya sayu dengan helaan napas panjang. Meski samar, aku masih dapat melihat senyuman getir di sudut bibirnya.
Sontak perasaan bersalah kian menyelubungi hatiku. Ini yang sejak dulu aku takutkan. Aku takut menyakiti persahabatan di antara kami bertiga hanya karena sebuah rasa yang berlabuh pada hati yang salah. Dan aku tak pernah mau Arka menjadikanku pelabuhannya.
"Nggak papa kok. Lagian gue nanti juga ada janji sama temen."
Mendengar ucapan Rina membuatku mengernyit sesaat. "Temen? Siapa?" Setahuku kecuali aku dan Arka, Rina tak pernah begitu dekat dengan orang lain.
"Kalo gue jawab Saka pasti lo berdua nggak percaya." Rina mendengus kecil. Wajahnya datar.
Aku dan Arka sontak melebarkan mata saat itu juga. Rina membicarakan Saka? Lelaki yang sejak kelas sepuluh itu Rina kagumi? Bagaimana bisa?
"Lo ngaco ya?" tanya Arka terkekeh pelan tak percaya. Aku pun begitu. Hanya geleng-geleng menatapnya.
"Tuh kan, emang kalian tuh nggak akan percaya kalau gue ngasih tau yang sebenarnya. Terserah kalian deh, mau nganggap gue bohong apa enggak.
"Oke deh. Berarti lo nanti sibuk kan ya?"
"Iya lah!" jawab Rina spontan menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan gerakan angkuh.
"Berarti lo nggak masalah kan ya kalau gue sama Audy jalan berdua tanpa elo?" Aku terpekur melihat sudut mata Arka melirik ke arahku dengan senyuman miring di wajahnya.
Rina berdecak kecil. "Lo mau kencan berdua aja, gue juga nggak masalah kok."
Dan aku terdiam. Memaku di tempat dengan diam seribu bahasa. Sebagai tanda kekalahan aku hanya menghembuskan napas panjang.
Diam-diam benakku bertanya.
Sampai kapan hal ini bertahan? Sampai kapan Arka menyembunyikan perasaan dengan topeng persahabatan? Sampai kapan aku bertahan untuk tak memberinya kesempatan?