
Aku terdiam.
Arka menoleh. Ia memerhatikan diriku. Pandangannya begitu dalam menatap tepat pada manik mataku. Melihat tatapan itu, entah mengapa lagi dan lagi perasaan bersalah itu muncul di hatiku.
"Lo suka sama tuh cowok ya?"
Aku mencoba tertawa geli. "Ap—apaan sih lo? Ngaco nih anak kalau ngomong ya!" ucapku menggeleng pelan dan menertawai pertanyaannya. Seolah pertanyaan itu terdengar begitu lawak di telingaku. Padahal pertanyaan itu terdengar mengerikan bagiku.
Melihat Arka tak bereaksi apapun tawa garingku terhenti. Arka masih menatapku dalam kediamannya. Aku tertegun sesaat.
"Kalau suka bilang aja. Tatapan lo tadi bilang gitu kok." ucapan Arka terdengar ketus. Aku menghembuskan napas panjang.
"Ka. Udah deh gak usah bahas itu! Lagian itu cuma pandangan lo aja kan? Udah yuk beli buku buat Kak Freya." Aku mencoba mengalihkan topik tapi melihat wajah dingin lelaki itu membuatku hanya dapat menelan ludah sulit-sulit.
"Nggak Dy, gue nggak salah! Gue tau gimana pandangan lo ke Dirga. Mata lo bilang seolah lo menginginkannya." Lelaki itu menghembuskan napasnya gusar, lantas matanya menatapku lurus tajam seolah hendak menusuk mataku dalam-dalam. "Dan asal lo ngerti Dy. Gue hafal banget tatapan orang yang lagi jatuh cinta. Gue nemuin tatapan itu di mata lo, dan itu buat Dirga."
Kalimat terakhir itu berupa bisikan lirih yang tanpa Arka memberi tahunya pun aku tau jika telah tersirat sebuah luka di dalam kalimat itu.
Aku melihatnya. Melihat senyuman pahit itu di wajahnya.
"Udah yuk, kita masuk ke dalam." Arka masih saja menatapku lembut. Tersenyum tulus lantas meraih kembali jemari tanganku. Menggandengku mamasuki Gramedia itu.
Diam-diam dalam hatiku merutuki diri. Aku ini iblis macam apa yang setiap kali hanya bisa menyakiti hati sahabatnya? Aku ini sejahat apa yang setiap saat mematahkan harapannya?
Arka. Aku minta maaf.
Hanya kalimat itu yang sejak dulu mengubur dalam hatiku, yang sejak dulu memekik lantang ingin diutarakan, yang sejak dulu aku sembunyikan, yang sampai sekarang masih kusimpan, yang sampai sekarang tak mampu aku ucapkan.
.—.—.
Dalam hati aku tak mengerti dengan Arka. Jelas tadi ia terluka. Jelas tadi ia kecewa. Tapi ia masih saja peduli padaku. Ia masih saja berbicara hangat denganku.
Seolah tak pernah terjadi apa-apa. Seolah tak ada luka dalam hatinya. Padahal jelas aku dapat melihat rasa sakit itu dari tatap matanya.
"Kita mau kemana Ka?" aku mengernyit menyadari motor Arka melewati gang menuju rumahku begitu saja. Motor Arka tetap berjalan lurus.
"Kemanapun asal sama lo gue seneng."
"Maaf," lirihku. Sangat lirih dibandingkan hembusan angin. Dan aku yakin, Arka tak pernah dapat mendengarkannya.
Mataku menatap takjub ke arah semburat jingga di ufuk barat itu. Tak sadar bibirku terangkat melengkung seperti senyuman bulan.
"Setiap kali gue kesini, gue inget sama lo."
Aku menoleh mendengar ucapan Arka. Laki-laki yang sekarang tengah bersandar di motornya itu menatap lurus ke manik mataku.
Aku tak menyangka Arka akan membawaku ke tempat seperti ini. Tempat dimana aku bisa melihat matahari terbenam dan perlahan menghilangkan diri. Hembusan angin berulang kali menyentuh kulitku. Tempat ini begitu sempurna. Kanan kiri ada pepohonan dan satu-satunya penghubung antara ketenangan ini dengan kebisingan metropolitan adalah jalan setapak yang kini dipijak motor Arka.
Aku tersenyum tipis menatap lelaki disampingku itu. "Sejak kapan lo tau tempat romantis gini?"
"Jadi ini romantis buat lo?"
Aku mengangguk begitu saja. Karena hatiku berkata demikian. Arka tampak menyembunyikan senyuman kecilnya dengan memalingkan wajah dariku.
Entah mengapa rasanya senang setiap kali melihatnya salah tingkah karena diriku.
"Gue tau tempat ini udah lama banget kok. Tapi, tempat ini baru saja terlihat berharga disaat gue denger ada kata romantis di kalimat seseorang yang berharga...," Arka terdiam sesaat menatapku, "..dihidup gue."
Mulutku terkunci rapat. Kalimat Arka seperti sebuah panah yang menusuk tepat di relung hatiku. Apa maksudnya?
Oke aku tidak bodoh atau apapun itu. Aku tau kalimat itu ditujukan untuk diriku. Tapi untuk apa?
"Gue seneng bisa kenal dan deket sama lo Dy." ucapan Arka terdengar tulus. Entah apa yang sedang lelaki itu pikirkan. Ia menyilangkan tangannya didepan dada. tatapan teduhnya menatap lurus ke depan. Dan aku terdiam.
"Dan gue seneng punya sahabat baik kaya lo Ka," ucap gue tersenyum manis.
Arka menoleh. matanya memandangku diam. Ada sebuah luka terpendam disana, tapi ia sembunyikan.
"Makasih, udah mau jadi sahabat gue." Entah apa yang aku katakan. Aku seolah-olah menegaskan hubungan kita. Aku seolah menyadarkan batas diantara kita.
Lelaki itu hanya menghembuskan napas panjang lantas tersenyum. Bibir itu melengkung sempurna tepat dibalik semburat jingga. Sesaat aku tertegun melihatnya.
Meski sulit. Tapi harus aku akui. Arka terlihat jauh lebih tampan saat tersenyum di balik cahaya senja.