LOVE TRIANGLE

LOVE TRIANGLE
Episode 17



" Udahlah Ndra intinya loe hari ini beda dari Indra biasanya. Yang tidak suka jajan sembarangan. Sekarang jam istirahatnya sudah selesai. Cepat loe lanjut kerja !" perintah Damar.


" Oke." jawab Indra.


Damar pun merasa kalau Indra sedang menyembunyikan sesuatu dari dia.


Setelah beberapa jam akhirnya jam pulang kantor tiba. Ini saatnya para pegawai pulang kantor atau bahkan ada yang lembur. Seperti biasanya Alya sebelum pulang selalu mampir ke kantin dahulu untuk mengambil dagangannya.


" Mbak Alya syukurlah kue habis mbak..." kata Ibu kantin.


" Benarkah Bu. Terimakasih ya Bu. Oiya ini ada sebagian uang buat Ibu" ucap Alya sambil memberikan uang terimakasih.


" Tidak usah mbak... Saya ikhlas mbak Alya menitipkan kuenya di sini" kata Ibu kantin.


" Tapi Bu..." sebelum meneruskan kata-katanya Ibu kantin bilang


" Sudah tidak apa-apa mbak" kata Ibu kantin.


" Terimakasih banyak Bu" ucap Alya.


Ibu kantin hanya tersenyum. Dan Alya pun pergi meninggalkan kantin. Alya pun tiba-tiba teringat kalau Handphonenya ketinggalan di ruangan. Alya masuk kembali ke ruangan untungnya ruangannya belom di kunci. Begitu Alya sudah menemukan Handphone. Alya kembali keluar. Tetapi naas pintu ruangan Alya terkunci.


" Haah... kenapa pintunya di kunci, siapa yang mengunci pintu ini." Alya mulai panik saat membuka gagang pintu yang terkunci tersebut.


Alya pun teriak-teriak dan menggedor pintunya. Berharap ada yang mendengar teriakannya.


"Aduh Alya... Tenang Alya jangan panik... Tenang..." gumam Alya sambil duduk di sebuah kursi.


Alya berdiam sebentar dan dia sekarang bisa berpikir dengan tenang. Lalu dia sadar. Kalau dia sekarang sedang memegang Handphonenya. Lalu dia ingin menghubungi Rafa atau Sarah. Sialnya Alya Handphone Alya lowbat. Seperti kebiasaan Alya selalu lupa untuk ngecharge Handphone.


" Sial banget sih loe hari ini Al..." Alya hanya bisa duduk terpaku.


Alya mencoba mencari charge di laci-laci pegawai tetapi tidak ada charge yang ketinggalan.


Alya duduk di kursinya. Dia meletakkan kepalanya di meja. Dan menangis karena dia takut kalau harus bermalam di kantor sendirian.


Alya pun kembali menggedor-nggedor pintunya kembali. Tidak ada respon sedikitpun. Dia ingat kalau di ruangannya ada CCTV lalu dia melambaikan tangannya ke arah CCTV berharap teknisi melihatnya.


" Aduh Al loe jangan panik terus donk Al... Loe nggak mikir dari tadi loe bisa telepon pos depan kan Al..." kata Alya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.


Alya pun menelpon Pos Depan dengan menggunakan telepon kantor. Sialnya pos depan sedang ada panggilan lain. Dia menelpon lagi dan lagi. Tetapi selalu sibuk nomernya.


"Ahh... Perusaahaan macam apa ini.. Masa Satpam di Perusahaan sebesar ini kerjanya tidak profesional. Masa tidak ada jam keliling. Dan ini juga... Telepon sibuk terus!!!" gerutu Alya.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah 8. Alya sudah bosan teriak-teriak dan menggedor-gedor pintu. Perut Alya pun juga sudah mulai lapar.


Saat bersamaan ternyata Damar belom pulang dari kantor. Di ruangannya dia masih sibuk dengan pekerjaannya. Damar sudah mulai mengantuk. Dia memutuskan untuk pulang sekarang. Karena sudah mulai malam juga.


Saat turun dengan lift pribadinya. Dia melewati lobi kantor. Dan tanpa sengaja dia mendengar teriakan.


Bulu kuduk Damar merinding. Dia cepat berjalan untuk keluar dari kantornya. Saat sudah di luar kantor dan memasuki mobilnya. Perasaannya tidak enak. Dia diam sejenak.


" Aduh Mar masa di kantor loe ada hantunya." gumam Damar.


Akhirnya Damar keluar dari mobilnya. Dan masuk ke dalam kantornya. Dia mencari sumber suaranya.


"Kenapa tidak ada suaranya lagi, apa mungkin tadi gue salah dengar ya" ucap Damar.


Alya yang masih di dalam ruangannya. Dia terdiam karena merasakan perutnya melilit karena lapar. Alya mulai menggedor-nggedor pintunya.


Saat Damar mulai berjalan keluar. Tiba-tiba dia mulai mendengar suara minta tolong tersebut dan pintu yang di gedor-gedor.


Damar mulai berlari menuju ruangan tersebut. Benar dugaan Damar suara tersebut dari dalam ruangan ini. Anehnya kunci di pintu tersebut masih menancap. Seperti ada yang sengaja menguncinya.


Damar pun langsung membuka pintu tersebut. Saat membuka pintu tersebut Damar kaget melihat seorang perempuan sedang duduk di lantai di bawah pintu.


Alya pun sadar kalau pintu sudah terbuka dan melihat ke atas.


" Kamu kan anak magang itu?" kata Damar kaget.


" Pak Damar terimakasih" ucap Alya sambil mulai berdiri.


Tapi apa daya tiba-tiba Alya terjatuh. Untungnya Damar sigap menangkap Alya. Mereka saling berpandangan.


" Maaf Pak. Terimakasih Bapak sudah menolong saya." kata Alya sambil melepaskan diri dari pelukan tersebut.


" Biar saya papah kamu, kelihatan sekali kamu sedang sakit" ucap Damar memegang kembali pundak Alya.


Mereka pun keluar kantor dan menaiki mobil Damar. Tidak lupa Damar mengklakson mobilnya di Pos Depan.


Di perjalanan Damar pun memberanikan diri untuk memulai pembicaraan dengan Alya.


" Namamu kalau tidak salah Alya kan?" tanya Damar.


" Iya Pak" Alya menjawabnya sambil memegangi perutnya yang melilit.


" Saya bawa kamu ke Rumah Sakit ya..." kata Damar.


" Tidak usah Pak... Tolong antarkan saya ke klinik terdekat saja." kata Alya.


" Tapi ...." sebelum melanjutkan perkataan Damar. Alya pun menyelanya.


" Tidak usah Pak... Saya tidak mau membuat orang tua saya khawatir." kata Alya.


" Baiklah" ucap Damar.


Setelah sampai klinik terdekat Alya diperiksa oleh Dokter jaga malam itu. Kata dokter asam lambung Alya naik. Sehingga membuat perut Alya melilit. Dokter tersebut memberikan resep kepada Alya. Kemudian Damar dan Alya keluar dari ruangan Dokter tersebut dan menebus resep obat Alya. Dan dia langsung minum obatnya.


" Sebelum pulang kita makan malam dulu ya" ajak Damar.


" Tidak usah repot-repot Pak. Jika saya ingin minta tolong ke Bapak boleh tidak?" jawab Alya.


Sebelum mereka naik ke mobil. Mereka duduk di kursi tunggu klinik.


" Apa Alya?" tanya Damar.


" Saya mau pinjam Handphone Pak Damar untuk telepon pacar saya Pak. Soalnya Handphone saya sedang lowbat" jawab Alya.


" Iya tapi kita makan terlebih dahulu. Saya tidak mau kalau perut kamu tambah sakit."


Akhirnya Alya menuruti kata-kata Damar. Mereka pun langsung masuk mobil. Di dalam perjalanan mereka hanya terdiam. Setelah tiba di sebuah restoran. Mereka langsung memesan makanan.


Di sana Alya merasa canggung. Damar pun mencairkan suasananya. Karena melihat Alya kurang nyaman bersama dia.


" Bagaimana Alya keadaan kamu sekarang?" tanya Damar.


" Sudah sedikit enakan Pak..." jawab Alya sambil menyendok makanannya.


" O iya ini Handphone saya Al, kamu bisa telepon pacar kamu" kata Damar sambil mengeluarkan Handphonenya dari saku celananya.


" Terimakasih Pak" ucap Alya.


Mereka pun terdiam lagi. Sesekali Damar mencuri pandang ke arah Alya. Tiba-tiba Alya...


" Pak Damar saya permisi telepon dulu ya... Boleh saya pinjem sekarang Handphonenya Pak?" Ijin Alya gugup.


" Silahkan Alya..." kata Damar.


" Tuuttt....tuuttt..." suara menelpon Rafa.


Sudah dua kali Alya menelpon Rafa. Dan belom diangkat juga.


Begitupun Rafa dia sengaja tidak mengangkat teleponnya karena dia enggan berbicara dengan Damar. Alya pun terus menelvon nomer Rafa dan berharap Rafa mengangkatnya. Rafa sudah mulai jengah dengan suara teleponnya. Dia pun mengangkatnya.


" Hallooo" kata Rafa dengan malas.


" Hallo Rafa... Ini Alya" kata Alya.


" Siapa???" jawab Rafa takut salah dengar.


" Alya... Sayang..." kata Alya.


" Kenapa kamu pakai nomer ini... Kamu dimana sekarang?" tanya Rafa panik kenapa Alya pakai nomernya Damar.


" Sayang... Aku mau minta tolong. Tolong jemput aku ya... Di sebuah Resto di Jalan Diponegoro" kata Alya.


" Sayang tolong jelaskan dulu kenapa kamu bisa pakai nomer ini? tanya Rafa mulai cemburu.


" Panjang ceritanya... Nanti saja aku ceritanya. Sudah ya bye..." jawab Alya mematikan teleponnya.


Damar mendengar Alya teleponan dengan Rafa tiba-tiba merasakan cemburu. Entah kenapa dia bisa memiliki rasa itu. Damar pun melamun...


" Pak Damar terimakasih sudah dipinjami Handphonenya" kata Alya sambil menyerahkan Handphone Damar.


Damar belom menjawabnya. Dia masih melamun.


" Pak Damar....." panggil Alya membuyarkan lamunannya.


" E... iya Alya kenapa?" jawab Damar panik.


" Terimakasih Pak" ucap Alya.


Damar pun mengambil Handphonenya kembali.


Setelah menunggu kurang lebih setengah jam. Rafa pun sampai di depan Resto. Kemudian masuk ke dalam Resto. Lalu dia celingak-celinguk mencari Alya. Hati Rafa tidak tenang kenapa Alya bisa dengan Damar dan sedang ada di Resto mewah ini.


Alya pun melihat Rafa.


" Pak Damar... Itu Rafa pacar saya Pak. Saya menghampiri Rafa dulu ya Pak" ijin Alya pada Damar.


Damar pun mengiyakan. Lalu Alya berjalan menghampiri Rafa.


" Sayang..." sapa Alya.


Tanpa membalas sapaan Alya. Rafa langsung memeluknya.


" Sayang kamu tidak apa-apa kan?" tanya Rafa khawatir.


****


CERITANYA MAKIN SERU YA GAEESS...


TUNGGUIN UPDATE SELANJUTNYA !!!